Thursday, July 20, 2017

Cerpen Jomblo Sampai Halal

Cerpen Jomblo Sampai Halal - Sungguh malam minggu yang indah, ku habiskan di masjid untuk membaca al-quran dan juga meminta kemudahan dalam menjalani hidup. Di kota yang begitu sibuk dan juga begitu padat ini yang dipenuhi dengan kehidupan yang penuh gemerlapan aku merasa menjadi manusia yang sangat aneh.

Cerpen Jomblo Sampai Halal
Cerpen  Bahasa Inggris Jomblo Sampai Halal

Karena aku harus melakukan apa yang tidak aku lakukan, sementara itu orang lain selalu menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, di kala usia remaja yang katanya hanya satu kali dan tidak pernah akan kita dapatkan lagi. 

Untuk itu mereka menghabiskannya untuk bersenang-senang dengan para pasangannya masing-masing.

Tetapi meski aku bertindak tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan, karena malam minggu aku memilih untuk menghabiskan waktuku di masjid, tetap ada kebahagiaan yang tidak tergantikan. 

Karena di sini aku merasakan ketenangan mendengarkan lantunan suara AL-Quran dan membacakannya untuk diriku sendiri dan orang lain yang ada ikut menghabiskan malam minggunya denganku di masjid.

Dari orang-orang yang datang ke masjid terlihat di situlah aku yang paling muda, maka tidak tentu menjadi pemandangan yang langka di kota metropolitan ini ada gadis yang menghabiskan malam minggunya di masjid untuk membaca al-quran bersama dan mendapatkan siraman rohani.

Malam masih begitu panjang, karena ini masih jam delapan, dan belum ada separuh dari malam yang akan berjalan. 

Sementara aku baru saja menyelesaikan satu jus membaca ayat al-quran. Kini tiba saatnya pak ustad yang menyampaikan ceramahnya untuk kami semua jamaah yang datang ke masjid.

Tidak banyak jamaah yang datang ke masjid, hingga inilah yang menjadi kecemasan pak ustad yang dia sampaikan di dalam ceramahnya. 

Jaman yang sudah modern menggantikan iman di hati sehingga masjid menjadi sepi dan tidak ada lagi yang mau datang ke masjid.

Tetapi beruntung meski hanya dua puluh orang jamaah yang datang, dan akulah yang paling muda, semuanya antusias mendengarkan ceramah dan membaca al-quran bersama.

Tak lama kemudian ada ibu-ibu yang baru datang, dia masuk lewat pintu belakang khusus perempuan. Ibu-ibu tua tersebut selanjutnya berdiri mengambil barisan di sampingku.

"Assalamulaikaum, - Memperlihatkan wajah penuh senyum dan belum duduk- Maaf bapak-bapak, dan ibu-ibu sekalian, saya telat".

"Iya tidak apa-apa ibu – Ungkap Pak ustad – Silahkan duduk ibu,".

Ibu tua kemudian duduk di sampingku sambil menatap senyum ramah kepadaku. Sedikit raut wajah heran ketika dia melihatku," Adek salut masih muda rajin ke masjid", duduk sambil meletakan tangannya di lantai.

"Iya ibu, bingung di rumah enggak ada kegiatan jadi ikut pengajian rutin setiap malam minggu – Ungkapku sedikit tersipu malu dengan sang ibu tua – ibu tinggal dimana..?".

"Aku tinggal tidak jauh dari masjid dekat toko sparepart motor, kau tinggal dimana anak cantik..?", ungkapnya dengan suara sangat lembut.

"Aku tinggal di seberang jalan menuju rumah sakit Welas Asih bu – Ungkapku sambil memperlihatkan sedikit gigi depanku – ibu namanya siapa..?".

"Aku ibu Mayang, mampir ke rumah anak cantik ke tempat ibu – ungkap ramahnya – namamu siapa anak cantik".

"Aku Lestari ibu, ya kalau ada waktu pasti Lestari mampir buk", ungkapku kepada ibu Mayang.

"Kau tidak main, dan kekasihmu tidak datang malam ini, ini kan malam minggu, malanya para anak muda", ungkap ibu Mayang.

"Hehehe – Senyum tersipu – Aku tidak punya pacar ibu".
"Masa gadis cantik sepertimu tidak punya pacar –Ungkapnya tidak percaya dengan ungkapanku".

"Ya mungkin aku belum dipertemukan dengan jodohku ibu, lagi pula aku juga ingin mencari orang yang tepat yang bisa benar-benar ku jadikan imamku besok", ungkapku dengan sang ibu.

"Ya mudah-mudahan kau cepat mendapatkan jodoh ya nak – Mendoakan dengan sangat tulus ".
"Amin ibu".

Kami saling diam dan satu sama lain memperhatikan pak ustad yang sedari tadi kami tidak perhatikan karena kami terlalu asyik mengobrol. 

Tetapi setidaknya ibu Mayang ini adalah ibu yang sangat menjiwai sekali menjadi ibu dan aku merasa seperti mengobrol dengan ibuku sendiri.

Tak lama setelah kami kembali fokus menyimak ceramah dari pak ustad, ceramah telah usai, hingga sedikit ada rasa penyesalan karena tidak mendengarkan ceramah dengan baik. Tetapi ya sudahlah lain waktu tentu aku masih bisa mendengarkan ceramah dari pak ustad.

Acara pengajian usai, sementara para jamaah sibuk berjalan dengan sedikit berdesakan, tetapi tidak lama karena jumlah jamaah yang tidak terlalu banyak.

Sementara itu ibu Mayang menepuk pundakku "Kau mau mampir tempat ibu tidak..?", tanyanya sambil berjalan maju menuju pintu keluar.

"Iya ibu terimakasih, ini sudah malam, mungkin lain waktu aku akan main ke rumah ibu – Jawabku dengan sedikit senyum yang dibuat".

Hingga tak lama kedua orang tuaku yang berada di barisan lain menghampiriku yang sedang berjalan keluar,"Hey Lestari tunggu ibu nak – ungkap ibuku memanggilku menahanku untuk menghentikan langkah".

"Iya ibu, ayo – Aku menghentikan langkah dan mengajak kedua orang tuaku berjalan bersama".

Sementara ibu Mayang melihat ibuku yang memanggilku dengan sedikit tersenyum dan kemudian berkata,"Bu – tersenyum tanpa mempelihatkan gigi".

Ibukupun membalas senyum dari ibu Mayang dan kemudian berkata,"Mari bu duluan – Ungkap ibuku berjalan dengan ayah dan aku mendahului ibu Mayang".

"Iya ibu" – Ungkap ibu Mayang berjalan berlainan arah denganku dan orangtuaku.

Hati terasa lega bisa bermunajat banyak hal kepada sang pencipta malam ini. Sementara itu jalan kecilku dan orang tuaku di warnai keceriaan saling bercanda tawa dan memamerkan harmonisnya keluarga kami kepada orang-orang yang duduk di pinggir jalan.

Kami tidak memperdulikan muda-mudi yang kami lewati yang asyik dengan tawa lepas tanpa adab, yang juga terlihat saling memadu kasih di pinggir jalan di bawah atap warung makan yang tidak terlalu besar tetapi sangat ramai.

Ya bukan barang yang langka sekali di sekitar tempat tinggal kami anak-anak muda yang menghabiskan malam minggunya dengan pasangannya. 

Karena pada malam inipun kami mendapati anak perawan yang menggunakan pakaian ketat jalan dengan kekasihnya sambil berpelukan padahal mereka belum muhrim.

Tetapi beruntung ayah dan ibuku selalu mengajar dan mendidik aku dengan baik sesuai dengan nilai-nilai agama. 

Hingga tumbuhnya aku menjadi dewasa nilai-nilai agama yang ditanamkan oleh orangtuaku telah mendarah daging di dalam diriku. Karena ajaran orang tuaku itulah hingga akhirnya selalu berusaha melewati jalan yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai agama.

Tidak terkecuali dengan pacaran, yang belum pernah aku merasakan pacaran, karena memang tidak ada keinginan untuk pacaran sebagai mana para muda-mudi yang lain. 

Bahkan aku berani berkata dengan lantang kepada pemuda yang menyukaiku dengan ungkapan,"Kalau memang suka temui orang tuaku", tetapi hingga saat ini belum ada pemuda yang ku kenal berani menemui orang tuaku. 

Maka tak heran hingga saat ini pun aku belum dipertemukan dengan jodohku. Tetapi aku akan tetap bersabar dan akan menjaga setatus jombloku sampai halal. (Arif Purwanto)

Wednesday, July 19, 2017

Cerpen Mimpiku Dengan Ayah dalam Bahasa Indonesia

Kedekatan anak dan orang tua tentu tidak perlu diragukan lagi. Keduanya, baik ayah maupun ibu tentu sangat berharga. Nah, kali ini kita akan mengangkat sebuah cerpen tentang seorang bapak atau ayah. Cerita pendek berikut ini berjudul "mimpiku dengan ayah". Seperti apakah ceritanya?

Cerpen Mimpiku Dengan Ayah dalam Bahasa Indonesia

Ya kalau ingin tahu ceritanya seperti apa ya harus baca. Atau bisa juga, kalau tidak mau baca bisa tanya langsung sama penulisnya. He... he... he... bercanda kok. Yang jelas ceritanya adalah tentang pengalaman kedekatan seorang anak dengan sang ayah. Tentu, kalau melihat judulnya mungkin suasananya bahagia, tapi mungkin juga tidak.

Dilihat dari panjang cerpen tersebut, cerita ini termasuk singkat, hanya berkisar sekitar 100 kata, kurang lebih 1 halaman kertas. Kalau hanya satu lembar kertas kan tidak terlalu panjang ya, tidak akan membosankan juga. Ya sudah, lebih baik kita langsung ke cerpen ayah tersebut.

Cerpen Mimpiku Dengan Ayah
Cerita Oleh Arif Purwanto

Pagi ini aku begitu bahagia karena ayah akan mengajaku ke sebuah tempat yang indah untuk kita bersenang-senang. Tetapi ayahpun belum mengatakan kemana kita hendak pergi. 

Katanya, ini adalah kejutan dan hadiah karena keberhasilanku mendapatkan juara satu di kelas sekolah dasar. Hatiku bertanya-tanya dan fikiranku selalu membayangkan tentang bagaimana suasana tempat yang akan ditunjukan kepadaku.

Mobil kami sudah berjalan hilir kendaraan juga tidak terelakan karena ini adalah jalanan umum. Sementara aku, ayah, dan ibu diam sejenak tanpa obrolan karena otak sedang begitu fokus dengan perjalanan yang kami lalui.

Aku dan keluargaku menikmati huru-hara suara nyanyian kendaraan yang melintas di samping kami. Kami juga mendengar jeritan telakson mobil dan motor yang secara tidak sabar ingin mendahului kami. Tetapi untunglah tidak terjadi apa-apa dari begitu cepatnya mobil yang menyalip kami.

Ayah,"Sebentar lagi kita sampai di tempat tujuan".
Aku,"Wah yang benar, berapa jauh lagi".
Ayah,"Gak jauh paling 500 meter".

Sampailah kami di tempat yang dimaksud oleh ayahku, ternyata tempat tersebut adalah tempat taman bermain air terbesar di kota kami. Aku segera membuka pintu kiriku dan tidak sabar ingin cepat-cepat masuk ke dalamnya.

Sementara itu ibuku juga turun dari pintu kiri, sedangkan ayah keluar dari pintu kanan. Karena letak tempatnya di seberang jalan maka kami harus terlebih dahulu menyeberang, di lalu lintas kendaraan yang tidak terlalu padat tetapi begitu banyak kendaraan melintas dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Aku di gandeng oleh ibuku sementara ayahku berjalan sendiri mendahului kami menyeberang. Belum sempat aku melangkahkan kaki, aku sudah melihat ayahku tergeletak di tengah jalan dalam keadaan darah yang mengalir deras di bagian kepala. 

Mobil dengan kecepatan tinggi telah tega pergi tanpa bertanggung jawab usai menabrak ayahku. Aku dan ibuku segera berlari saja ke tengah jalan dan langsung berusaha menolongnya. Sementara wajah ibuku sudah terpenuhi dengan air mata serta suara tangis marah yang terus keluar.

"Ayah, bangun ayah", ungkap ibuku yang memeluk sang ayah yang sudah pingsan dengan berlumuran darah di kepala.

Sementara aku juga menggoyang – goyangkan tangan ayah untuk membangunkannya dengan wajah yang juga dipenuhi dengan air mata.

Tak lama masyarakat datang dan mengankat ayah membawanya ke mobil kami dan kemudian menuju ke rumah sakit. 

Tangis terus mengiringi pengantaran ayahku ke rumah sakit, sesampainya ayahku sudah mendapatkan penanganan ibuku dan aku belum kuat untuk menahan air mata kesedihan ini.

Gelisah menyelimuti wajah aku dan ibuku, ibuku terus saja memeluku sambil terus berselimutkan kesedihan menunggu jawaban dokter dari upaya menolong ayahku. Hingga lma menit berselang sang dokter keluar dengan keadaan wajah yang sudah begitu datar tanpa senyum.

Ibuku berlari dan mendekati dokter berkata,"Bagaimana dengan keadaan suami saya dokter".

Sang dokter tidak langsung menjawab semacam berfikir dari kata apa dia hendak mengucap untuk menerangkan kenyataan yang telah dia lihat. "Bagaimana dokkter keadaan suami saya", ungkap ibuku terus mendesak sang dokter.

Sang dokter berbicara dengan nada yang sedikit sungkan,"Suami ibu sudah berpulang kepada yang maha kuasa, kami sudah berusaha sekuat tenaga tetapi tidak bisa membuat suami ibu tertolong", berbicara dan kemudian pergi.

Sementara hatiku begitu hancur ditinggal oleh seorang ayah yang begitu aku sayangi dan aku cintai. Baru saja aku hendak menikmati kebahagiaan dalam kebersamaan dengan sang ayah tetapi malah maut yang kemudian yang menggantikannya.

Ini sungguh hal yang berat untukku, sangat berat untuk anak seusiaku, aku masih begitu butuh kasih sayang ayah, tetapi mau yang merusak semua itu hingga kasih sayang ayah tidak sampai kepadaku.

Jasad ayah langsung di bawa ke rumah dan kemudian dimandikan dan setelah itu di kubur. Seperti aku ibupun belum begitu kuat menerima kenyataan bahwa ayah telah pergi dari dunia ini meninggalkan kami. 

Dengungan suara tangis dari mulutnya dan membeludaknya air mata dari matanya menjadi pertanda bahwa memang berat ditinggal oleh seorang yang memang dia cintai.

Usai tanah sudah membungkus jasad ayah, dan kini hanya kenangan ayah yang bisa aku lihat dan tidak untuk jasad, dengan berat hati aku meninggalkan kuburan ayahku. Aku hanya meminta kepada tuhan agar ayahku diberikan tempat yang layak di sisi tuhan, karena aku tahu ayahku adalah orang yang baik.

Malam menjelang, inilah kali pertamaku melewati malam tanpa ayah, sementara ibuku masih berselimutkan tangis membaca lantunan surat Yasin. Tubuh ini begitu lelah karena malam sudah begitu larut, dan akupun melihat ibuku sudah tertidur setelah selesai membaca al-quran.

Mulai ku memjamkan mata dengan mebaringkan tubuh di kasur yang tidak seberapa empuk, seketika aku lupa dengan dunia.

"Hey Rendi", suara seorang laki-laki sambil menepuk pundaku.

Seperti ku kenal dengan suara ini otaku berfikir keras tentang siapa yang menepuk pundaku dan memanggilku. Aku teringat dengan suara ayah, yah aku yakin itu adalah suara ayahku.

Aku berbalik badan dan ternyata benar itu adalah ayahku,"Ayah masih hidup", langsung saja aku memeluknya.

"Ya ayah masih hidup sayang, ayah ingin mengajakmu ke tempat yang sangat indah", ungkap ayahku dengan wajah yang berbinar-binar.

"Kemana ayah", senyum wah datar karena penasaran kemana ayah akan mengajaku.

Ayah menggendongku dan membawaku berjalan di permukaan lantai yang putih, tiada warna lantai yang lain selain dari pada putih. 

Selain itu aku juga melihat atap dan dinding yang juga mempunyai warna yang sama dengan lantaia, semuanya putih. Aku semakin penasaran dimanakah aku.

Di sini tidak ada pepohonan seperti halnya yang biasa ku lihat ketika di rumahku. Hingga ayah membawaku ke satu pintu, di situlah kemudian pintu itu di buka nampak di situ sungai yang mengalir deras, hutan yang begitu hijau, dan banyak hewan yang bernyanyi menyambut kami.

"Ayah ingin main denganmu di sungai ini", ungkap ayahku dengan tersenyum.
"Tentu ayah, aku juga ingin bermain dengan ayah".

Aku dan berjalan dengan ayah masuk ke dalam air yang begitu jernih itu dan sambil melempar-lempar percikan air satu sama lain. Aku begitu bahagia bisa bertemu dengan ayah dan bermain dengan ayah.

Dan mata terbuka, ternyata itu hanyalah bunga tidur yang timbul karena kerinduanku kepada ayah. Ku ucapkan kalimat istighfar, untuk memohon ampun atas hati dan fikiran yang belum bisa mengikhlaskan kepergian orang tuaku. 

Aku hanya bisa berharap  bahwa aku kelak akan bertemu dengan ayah di surga, dan bisa bermain bersama di sungai yang mengalir yang ada di surga sana. (Arif Purwanto)


--- Tamat ---

Sebenarnya cerita pendek tentang ayah di atas akan dibuat atau dibagikan dalam dua versi bahasa yaitu bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris. Tetapi karena keterbatasan waktu maka kita siapkan yang Indonesia terlebih dahulu. Rekan yang membutuhkan versi Inggris bisa download versi terjemahan dari tautan yang disediakan.

Tuesday, July 18, 2017

Cerita Bahasa Inggris, Kesepian di Yogyakarta

Untuk yang hobi membaca cerita, kali ini kita akan membuat cerita bahasa Inggris dari sebuah cerpen yang cukup menarik. Cerpen ini tentang sebuah perjalanan hidup seseorang yang merasa sepi padahal ia tinggal di kota besar. Yogyakarta kan kota besar, benar tidak, kok bisa kesepian?


Ya, niatnya nanti cerita yang aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia ini akan dialihkan ke bahasa Inggris. Namun begitu, sangat sayang jika kita melewatkan naskah aslinya seperti apa. Nanti kan kalau sudah dirubah bisa saja berbeda arti, benar tidak? 

Maka dari itu pertama kita akan membaca cerita ini dalam versi asli. Setelah itu, khusus untuk yang mencari cerpen bahasa Inggris, atau yang ingin membaca cerita dalam bahasa Inggris bisa mengunduh dan menerjemahkan teks ceritanya sendiri. Yuk, kita lihat seperti apa kisahnya.

Kesepian di Yogyakarta
Cerita Oleh Arif Purwanto

Minggu yang begitu ramai, jalanan, tempat wisata, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, semuanya dipenuhi oleh muda-mudi yang yang saling bergandengan satu sama lain. Sementara itu aku tidak bergandengan dengan siapapun, jangankan bersama pacar, sama teman saja tidak. 

Kalau hanya teman memang aku punya teman di Jogja ini, tetapi bicara pacar, sudah satu tahun lebih aku berada di Jogja belum jua mendapatkan seorang kekasih.

Aku bekerja sebagai oficce boy, di sebuah tempat perbelanjaan di Jogja. Tugasku sangat mulia membersihkan yang kotor, dan mengenyahkan yang kotor-kotor dari muka bumi ini. Tetapi di sisi lain orang lain memandang pekerjaan sebagai office boy adalah pekerjaan rendahan. 

Ya biarlah orang berkata apa tentang pekerjaanku ini, yang terpenting aku mengerjakannya dengan bahagia karena aku bekerja dengan niat hati tulus dan tidak mencuri.

Pelanggan yang datang ke sebuah pusat perbelanjaan hari ini memang cuku padat, sedangkan areal kekuasaanku menjadi lalu lalang yang ingin membuang hajat. Ya ini salah satu yang tidak ku suka dari pekerjaan office boy, aku bisa melihat orang datang menemuiku ditempat kekuasaanku hanya bila ada orang yang ingin buang hajat. 

Sedangkan orang yang tidak mempunyai keinginan untuk buang hajat tidak ada niatan untuk melintasi kekuasaanku dan melihat kegiatanku.

Itupun terasa gundah di hati, yang mana tidak ada perhatian dari orang-orang yang aku lihat berlalu lalang melintasi tempat kekuasaanku. Sedang di sana aku selalu mengerti mereka, dan melayani mereka dengan sepenuh hati. 

Tetapi seiring berjalannya waktu aku sangat sadar bahwa memang aku sedang menjalankan tugas yang sangat mulai, sehingga bisa atau tidak bisa sanggup atau tidak sanggup aku harus tetap bertahan. Lagi pula mau kerja apa lagi selai office boy di Jogja ini.

Terlebih aku bukan asli Jogja, hanya saja aku memiliki saudara di Jogja, sehingga merekalah yang sedikit banyaknya menghilangkan rasa kesepianku di wilayah orang ini. 

Sementara itu asalku adalah Lampung, tetapi ibu dan bapakku adalah orang Jawa yang memang berasal dari Jogja. Kini aku kembali ke tanah lahir orang tuaku, untuk mencari dan mengadu nasib baik.

Istirahat siang sudah datang waktu, tidak lama hanya satu jam, aku habiskan untuk makan dan menutup mata sejenak. Sementara itu sisa waktunya aku gunakan untuk sholat menunaikan kewajiban, menyeru dan bermunajat kepada tuhan agar jalanku dipermudah, serta diberi ridho.

Satu jam berlalu aku juga harus melanjutkan pekerjaanku, hingga nanti sampai jam tiga sore. Beruntung kerja hanya delapan jam, tetapi upah UMK, ya meski terkadang juga masih kurang tetapi aku selalu mensyukurinya. 

Ini adalah akhir pekan dimana muda-mudi banyak menghabiskan masa liburannya. Aku ingin berjalan-jalan berkeliling Jogja ke destinasi yang indah untuk membuat fikiranku lebih tenang.

Mulai ku hubungi semua temanku untuk ku ajak berlibur, dan ternyata tidak ada satupun teman yang bisa ikut denganku karena sudah mempunyai kesibukan lain. 

Kadang benak berfikir apakah ini yang dinamakan teman, sedang aku selalu ada untuk mereka tetapi mereka tidak selalu ada untuku. Ya tetapi ya sudahlah hati mencoba tegar mengihlaskan yang sudah terjadi, yang terpenting mereka semua masih mau mengakuiku sebagai teman.

Aku bisa pergi sendiri untuk menikmati hari mingguku, ya meski tidak dengan siapapun, tetapi yakin pasti aku tetap bahagia.

Malam sudah datang malam yang sangat jahat bagi para jomblo ya maka dari itu malam minggu aku habiskan untuk berbaring menunggu tidur di kamarku. Rencana pagi esok adalah Kalibiru di sanalah tempat yang asri, indah serta jauh dari hiruk pikuk dunia yang sibuk. 

Yang ada adalah orang yang berbahagian menjalani liburan dengan pasangan, keluarga, dan saudar, atau juga teman. Biarlah aku sendiri dari pada menghabiskan minggu di dalam kamarku ini.

Perlahan tapi pasti mata ini mulai berat, hingga secara tidak sengaja mata ini terpejam hingga ingatan lupa segalanya. 

Angin yang berhembus sili berganti ada yang tenang ada yang kuat dan ada yang setengah tenang dan setengah kuat. Terlebih bila waktu sudah masuk jam malam angin tenangpun begitu terasa menusuk tulangku.

Pagi menjelang begitu singkat ku rasakan aku bangun dari ranjangku dan mulai mandi untuk segera bersiap-siap. Setelah mandi aku berkumpul dengan saudaraku yang merupakan paman dan bibiku. Mereka nampak begitu bahagia hari minggun ini di sana berkumpul di meja makan.

"Paman, bibi, hari ini aku mau pergi berjalan-jalan ke kalibiru, kemungkinan pulang sore" ucapku berpamitan kepada paman dan bibiku.

"Iya Za, yang terpenting kau berhati-hati ketika dijalan jangan ngebut-ngebut" ucap bibi dan pamanku.

Usai sarapan pagi aku mulai berangkat menggunakan sepeda motorku. Hari yang cerah menambah semangat kepergianku untuk menikmati alam Jogja pagi ini. 

Sementara itu lalu lintas sedikit tenang karena tidak ada aktivitas produksi di perusahaan-perusahaan, yang ada muda-mudi yang berbahagia ria berjalan berpasang-pasangan.

Sesampainya aku di Kalibiru, aku duduk di bawah pohon yang rindang di sana pemandangan desa begitu jelas terlihat dari ketinggian. Di sisi lain udara juga masih begitu asri dan sangat memanjakan nafas. Mata juga ikut dilayani dengan baik dari berupa hamparan tanaman hijau yang berjejer secara tidak beraturan.

Aku memesan sebuah es kelapa muda dengan diberi susu kental manis dan madu, ini semakin menygarkanku di sini. Ini indah sekali anda aku bisa terbang aku bisa lebih menikmati segala keindahan dari ketinggian yang jauh lebih dekat dengan apa yang ingin ku lihat. 

Termasuk desa kecil yang hanya beberapa rumah di sana. Aku ingin melihatnya tepat dari atas, tetapi memang takdir tidak memberikanku sayanp untuk bisa terbang.

Ya sukuri apa yang ada saja, ini sudah cukup membuatku bahagia dari pada hanya sekedar menatap kamar mandi yang selalu ku bersihkan setiap hari. 

Ini lebih indah bagiku, belum lagi kelapa muda ini begitu segar hingga mengobati dahagaku. Sedang di bawah aku lihat banyak orang yang juga berjalan untuk menikmati permainan yang disediakan oleh penyedia tempat ini.

Permaianannya berupa rumah pohon, dan masih banyak lagi, di sana kita bisa melihat pemandangan dari yang kita inginkan. Sehingga dengan menaiki rumah-rumah pohon yang disediakan kita bisa lebih banyak melihat objek pemandangan yang ada di Kalibiru ini. 

Terlebih cuaca hari ini begitu cerah sangat memanjakan para pengunjung dan aku khususnya untuk tetap berlama-lama di sini mengambil gambar dari objek pemandangan yang indah, dan menakjubkan ini. Mudah-mudahan suatu saat aku bisa kembali lagi di sini dengan membawa pasanganku.(Arif Purwanto)

Monday, July 17, 2017

Cerpen Sahabat Telah Pergi bahasa Indonesia dan Terjemahan

Menyambung dari pembahasan sebelumnya yang masih banyak belum memiliki kesempatan belajar bahasa Inggris, kali ini kita akan lewat media cerita. Cerita yang dimaksud adalah cerpen persahabatan dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. 


Namun, sebelum membaca cerita pendek ini, kami ingatkan bahwa cerita yang akan dimuat adalah versi asli yaitu yang dalam bentuk bahasa Indonesia. Bagi rekan yang ingin membaca atau membutuhkan cerita ini dalam bahasa lain silahkan donwload terjemahan yang dibutuhkan.

Kali ini nuansa yang akan dirasakan adalah sedih dan haru. Pasalnya kisah yang diangkat adalah tentang kepergian seorang sahabat kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kehilangan sahabat yang meninggal dunia, bagaimana rasanya coba, pasti sedih bukan?

Sahabat Telah Pergi ke Sisi-Nya
Cerpen oleh Arif Purwanto

Satu untuk semua dan semua untuk satu persahabatan kami sudah mengurat di dalam urat nadi mengalir bersama darah melalui nadi-nadi yang tersimpan di dalam tubuh kami. Di saat rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk kami. 

Saat sekolah menjadi siksaan yang amat pedih bagi kami, dan di saat kami tak dihargai oleh masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar kami, di saat itulah sahabat terus ada untuk menemani.

Setiap malam kami berkumpul bersama tertawa bersama, mengutarakan pendapat-pendapat gila. Ini konyol bagi orang lain, tetapi ini sangat menarik bagi kami bagi kebahagiaan kami dan bagi kehidupan kami. Inilah yang menjadi kami lebih berarti di bumi sebagai manusia yang tidak dihargai sama sekali bagai sampah kota.

Berbicara keluarga aku mempunyai keluarga yang sudah hancur berantakan, ibuku berselingkuh dan menjual tubuhnya kepada pengusaha, sementara ayahku suka main judi, dan main janda setiap malam. 

Karena tidak ada persamaan paham dan rasa cinta itulah hingga akhirnya pengadilan memutuskan keputusan perceraian mereka setelah terlebih dahulu sebelumnya ayahku telah mentalak tiga ibuku.

Setelah mereka bercerai mereka tidak lagi peduli dengaku, bahkan tidak sekalipun memberikan kabar kepadaku yang merupakan darah daging mereka. Hingga pada suatu ketika aku bertemu dengan kawan-kawan yang mempunyai nasib serupa dengaku kami sering berkumpul di perempatan kota yang terfasilitasi tempat duduk umum. 

Di situlah tempat mengeluh, dan tempat pelarian semua permasalahan-permasalahanku. Keasyikan dari para teman-temanku yang setiap malamnya duduk di perempatan kota itu membuatku lupa bahwa aku pernah mempunyai keluarga yang bercerai. 

Tetapi itu bukan masalah bagiku dan tidak menjadi beban fikiran untukku, karena kedua orang tuakupun tidak sedikitpun memikirkanku.

Selain perempatan jalan yang berada di tengah kota, kami juga mempunyai tempat berkumpul lain yaitu di sebuah gudang tua yang tidak jauh dari perempatan kota. Di sana kami lebih bebas untuk berteriak sekencang-kencangnya menghilangkan segala permasalahan yang menempel di kepala. 

Setelah tertawa lepas dan berteriak-teriak layaknya orang gila kata orang hatiku dan temanku merasa sangat puas. 

"Jar pinjem korek dong" ucap Rizki temanku sambil menepuk pundak dengan mengemut rokok yang belum dibakar.

Aku memberikan korekku kepada Rizki, dan Rizki menggunakannya untuk menghidupkan rokok yang sudah Rizki emut. Sementara itu aku duduk bersama tiga orang teman yang lainnya yang mereka saling mengobrol satu sama lain begitu asyik. 

Aku akrab dengan ketiga temanku yang lain tetapi tidak sedekat seperti halnya dengan Rizki yang sudah aku anggap sebagai saudara kandungku sendiri. Bercerita, mengeluh, bercurhat, bagiku dialah orang yang sangat bisa dipercaya untuk menjaga semua ceritaku. 

Sebenarnya ada teman kami yang malam ini tidak ikut berkumpul dengan kami namanya Evan, entah dimana dia malam ini hingga tidak datang menemui kami.

Sementara raut wajah gelisah mulai menyelimuti aku tidak tahu menahu apa yang sedang aku pikirkan, hingga otaku berfikiran hal-hal yang tidak menentu. 

Sementara itu Rizki dan beberapa temanku melihatiku dengan terheran-heran sepertinya memang mereka mengetahui bahwa memang aku mempunyai masalah. 

Tidak mau membuat mereka khawatir aku menenggak segelas arag untuk membuat pikiranku lebih segar lagi. Dan ini sangat nikmat, otakku tidak sesakit sebelumnya, kegelisahanku juga tidak segila sebelumnya, rasanya hati ingin selalu tertawa.

Sedang di sana temanku juga sudah dalam keadaan mabok, bicara tidak menentu tidak bisa dicerna dengan akal logika, tetapi mereka semua bahagia.

"Kita ke tempat Evan yok" ucapku mengajak teman-temanku ke tempat Evan, yang merupakan teman kami tetapi malam ini tidak ikut ngumpul dengan kami.

Sedang di sana Agus yang sudah dalam keadaan mabok berkata,"Mau ngapain di sana, mau minta duit..? gak bakal di kasih, orang dia aja susah kok" jawabnya karena mengira hendak meminta uang mengingat arag yang kami sajikan sudah hampir habis.

"Bukan itu, ya kita main saja ke sana, biar kita tahu kenapa malam ini dia gak keluar dari rumahnya" ucapku kepada semua temannku.

Kami mulai berdiri berjalan secara sempoyongan ke kiri dan ke kanan, serta ke depan dan belakang. Kami berjalan seperti tertiup angin kencang berusaha menahan tetapi hingga akhirnya terbawa oleh hembusan angin. 

Meski demikian kami bisa mengendalikan diri kami ketika kami sedang mabuk. Hingga difikiran kami yang sudah dipengaruhi oleh pengaruh alkohol ini masih mengingat jalan yang hendak ke rumah Evan.

Sementara ketika kami berjalan di jalan yang luas nan panjang tetapi sepi kami melihat segerombolan geng motor sedang memukuli orang dengan secara keroyokan. Kejadian itu berada di dua ratus meter dari kami berdiri. 

Kami menghampiri para geng motor tersebut dengan jalan sedikit cepat namun dengan posisi jalan yang masih sempoyongan dan hampir jatuh.

"Woy" teriaku kepada para geng motor tetapi tidak jua dihiraukan, akupun dan keempat temanku mendekatinya. Dan menderai pertikaian tersebut. Aku melihat seorang pemuda di sana dipukuli hingg hampir tak sadarkan diri, tubuhnya dilumuri darah. 

Aku melihatnya dari kedekatan, dan di sana ternyata Evan, aku coba melihatnya lebih dekat lagi, dan benar itu adalah Evan.

"Evan..!, jangan biarkan mereka lolos hajar mereka" teman-temanku bertarung satu lawan satu dengan geng motor tersebut.

Sementara Evan sudah begitu sulit untuk berbicara, karena memang lukanya begitu parah, terlebih pertunya terkena tusukan dari para geng motor tersebut.

"Hidupku tidak lama lagi Jar, aku minta tolong kepadamu agar hubungan persahabatan kalian jangan pernah pu.. tus.. – menghembuskan nafas terakhir – Evan telah pergi meninggalkan kami.

Aku berdiri dengan hati diselimuti kemarahan dendam atas meninggalnya sahabatku, aku langsung menyerang para pasukan geng motor tersebut. 

Di situlah sangat di sayangkan geng motor berhasil kabur. Sementara itu aku masih tidak rela dengan kematian Evan ini, aku ingin menuntut balas dengan geng motor yang telah membunuh Evan.

Aku dan temanku membawa jasad Evan ke rumahnya, sesampainya di rumah Evan ari mata orang tuanya tidak terbendung. 

Kami menjadi merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi Evan, tetapi aku bersumpah atas nama jasad Evan aku akan menuntut balas. Entah bagaimana caranya, dan menggunakan cara apapun aku harus bisa menuntut balas kepada geng motor tersebut.

Jasad Evan dibersihkan, dan kemudian diurus untuk kemudian memasuki proses pemakaman. Pemakaman akan dilakukan esok hari, sedang untuk malam ini jasad Evan tetap di rumahnya. 

Di sisi lain para tetangga-tetangga Evan banyak yang berdatangan untuk melihat ataupun berta'ziah. Mereka semua datang dengan wajah yang duka karena merasa kehilangan dari sosok Evan. 

Aku dan kelima temanku masih duduk di sebelah jasad Evan, seketika aku bangun dari ketidaksadaranku menjadi sadar. Tidak ada pengaruh alkohol lagi ketika aku duduk di samping jasad Evan. (Arif Purwanto)

Sunday, July 16, 2017

Artikel Bahasa Inggris tentang Pariwisata dan Terjemahan

Contoh Artikel Bahasa Inggris tentang Pariwisata – kali ini saya akan mengajak adik-adik semua untuk kembali lagi belajar bersama untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Yang akan kita pelajari ini bisa dikatakan termasuk pelajaran membaca (reading) dimana kita akan mengupas sebuah artikel sesuai tema yang dipilih.


Tema yang akan kita ambil kali ini adalah tentang pariwisata dimana kita sudah menyiapkan sebuah artikel yang khusus berbicara mengenai dunia wisata atau liburan. Ceritanya, dalam artikel tersebut dibahas ada beberapa buah pulau di Indonesia yang sekarang cukup terkenal. 

Pulau-pulau tersebut adalah di Gorontalo. Sebelum kita bahas lebih jauh, kita perjelas terlebih dahulu mengenai artikel yang akan kita kupas tersebut. Perlu diketahui, artikel yang akan dibahas kali ini adalah sebuah artikel dari koran online yaitu thejakartapost.com. 

Adik-adik semua mungkin sudah sering membuka situs berita yang satu ini kan? Ya, thejakartapost adalah salah satu media berita online yang sudah cukup lama. Media ini seperti pada namanya, menyajikan berbagai berita dalam bahasa Inggris. Thejakartapost juga sudah termasuk memiliki banyak pengunjung, karena itu kita pilih artikel dari situs tersebut.

Artikel pilihan kali ini berjudul “Tourists pretend Gorontalo’s islands are Gilligan’s Island”. Artikel berita tersebut terdiri 9 paragraf dengan jumlah kata sebanyak kurang lebih 330 kata. Sebelum kita bahas lebih jauh mengenai apa yang ada dalam berita tersebut, mari kita pahami dulu judul artikel-nya terlebih dahulu.

Kita pecah kata per kata, kata “tourists” artinya wisatawan atau pelancong. Kata tersebut berbentuk jamak jadi bisa diartikan menjadi “para wisatawan”. Kemudian kata kedua adalah “pretend”. Kata “pretend” artinya menganggap, berpura-pura atau juga bisa diartikan berlaku. 

Berikutnya ada “Gorontalo’s Islands”. Gorontalo adalah nama daerah sedangkan kata “islands” artinya pulau. Imbuhan “…’s” pada kata Gorontalo menandakan milik sedangkan “…s” pada kata “island” artinya jamak. Maka, “Gorontalo’s Islands” artinya “pulau-pulau Gorontalo” atau “pulau yang ada di Gorontalo”.

Berikutnya ada kata “are” yang merupakan “tobe” yang artinya “adalah” dan yang terakhir adalah kata “Gilligan’s Island”. Kata terakhir ini kalau ditelusuri di internet ternyata merupakan sebuah acara televisi, semacam film kalau tidak salah. Gilligan’s Island ini sendiri mengutip laman wikipedia, adalah sebuah sitkom yang dibuat oleh Sherwood Schwartz. 

Acara ini sendiri mulai dirilis tahun 1964 sampai 1967. Sederhananya, Gilligan’s Island ini adalah sebuah pulau misterius yang bahkan tidak ada didalam peta. Jadi, yang terdampar di pulau tersebut harus bisa bertahan hidup dengan apa yang ada disana. 

Secara keseluruhan, judul artikel ini kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia mungkin kurang lebih yaitu “Para turis menganggap pulau-pulau Gorontalo sebagai pulau Gilligan”. Nah, itu tadi kalau dari sisi judul artikel berita tersebut. Lalu bagaimana isinya?

Untuk mengetahui isinya, mari kita baca langsung paragraf pertama dari teks terebut yang berbunyi, “Three white-sand islands in northern Gorontalo, which faces the Pacific Ocean, have become popular with foreign tourists who make Popaya, Mas and Raja islands into their imaginary Gilligan’s Island fantasy.” (Sumber: thejakartapost)

Paragraf pertama dalam berita bahasa Inggris tersebut terdiri dari satu kalimat. Mari kita artikan, “Three white-sand islands” artinya “tiga pulau berpasir putih”. Kata “in” artinya “di” sedangkan kata “northern Gorontalo” artinya “Gorontalo bagian utara”. Kemudian, “which faces the Pacific Ocean” artinya “yang menghadap samudra pasifik”.

Selanjutnya, “have become popular with foreign tourists” artinya “telah menjadi terkenal dikalangan turis luar negeri”. Kemudian “who make Popaya, Mas and Raja islands into their imaginary Gilligan’s Island fantasy” artinya kurang lebih “yang membuat pulau Popaya, Mas dan Raja menjadi pulau imajinasi seperti Gilligan’s Island.

Inti cerita atau inti berita yang ada dalam paragraf pertama tersebut adalah bahwa di Gorontalo bagian utara ada tiga buah pulau yang sangat dikenal di kalangan turis asing. Tiga pulau tersebut adalah Pulau Popaya, Pulau Mas dan Pulau Raja. 

Ketika pulau tersebut menghadap ke Samudra Pasifik. Pulau tersebut memiliki pasir yang putih. Tiga pula tersebut terkenal karena oleh para turis dianggap sebagai pulau Gilligan. Pulau Gilligan itu sendiri adalah pulau khayalan atau fantasi yang ada dalam sebuah acara sitkom yang mulai terbit tahun 1964 yang silam.

Dalam satu kalimat saja sudah ada banyak informasi dan berita yang bisa ditangkap oleh pembaca. Ya, dari paragraf awal tersebut jelas sekali bahwa isi artikel berita ini cukup menarik sekali. Lalu, seperti apa berikutnya?

Paragraf berikutnya terdiri dari satu kalimat tapi cukup lumayan panjang. Dalam kalimat tersebut disebutkan bahwa menurut penduduk lokal yang banyak berkunjung ke pulau tersebut adalah turis asal Australia, Amerika dan Eropa.

Dalam kalimat tersebut juga disebutkan bahwa mereka (para turis) akan tinggal di pulau konservasi selama berminggu-minggu. Bahkan bukan hanya itu, para turis akan menolak berbagai pelayanan yang diberikan termasuk pelayanan untuk makanan.

Dari paragraf kedua ini mulai tampak bahwa memang turis asing sengaja berkunjung ke pulau tersebut untuk merasakan sensasi berada di pulau terpencil dimana mereka harus bertahan hidup dengan apa yang ada disana.

Paragraf berikutnya, disertakan sebuah kutipan pendapat atau informasi dari sang penjaga pulau. Penjaga tersebut mengatakan bahwa para turis yang datang berpura-pura menjadi orang yang kapalnya karam dan terdampar di sebuah pulau di lautan lepas. 

Di paragraf berikutnya dalam artikel tersebut akan dipaparkan lebih jauh mengenai bagaimana para turis tersebut akan bertahan hidup. Wah, benar-benar imajinasi yang cukup berani ya? Ya bayangkan saja, tinggal di sebuah pulau ditengah laut dan harus bertahan hidup tanpa suplai makanan sedikitpun.

Pada paragraf tersebut disebutkan bahwa para turis akan bertahan hidup dengan mencari ikan dan buah-buahan yang ada di sana. Untuk tinggal, mereka akan tinggal di gubuk yang sudah disiapkan oleh penjaga pulau.

Masih di paragraf yang sama, menurut penjaga pulau, tiga pulau tersebut mendapatkan pengunjung hampir setiap bulan. Pulau Raja yang merupakan pulau terbesar adalah pulau yang paling terkenal diantara ketiga pulau tersebut. 

Lebih lanjut, para pengunjung menghabiskan waktu mulai dari satu sampai 3 minggu, ada yang sendirian, dan ada juga yang bersama teman. 

Pada paragraf berikutnya ada satu kutipan dari penjaga pantai yang kurang lebih berisi informasi bahwa pemandu wisata dan sang penjaga pulau biasanya menemani dan menjaga mereka di dekat pulau tersebut.

Artikel ini juga menjelaskan dimana lokasi atau letak dari pulau-pulau yang dimaksud. Di paragraf berikutnya dijelaskan bahwa ketiga pulau itu berlokasi 20 menit perjalanan dengan kapal bot dari desa Dunu.

Jelas bahwa berita bahasa Inggris dari thejakartapost ini tidak hanya menjelaskan hal menarik yang ada di pulau itu tetapi juga memberikan informasi dimana lokasinya berada. Dijelaskan juga bahwa desa Dunu di Gorontalo Utara tersebut dapat dijangkau dengan berkendara selama 2 jam dari ibu kota propinsi. 

Bukan hanya itu, dari artikel juga bisa diketahui bahwa pulau-pulau tersebut merupakan rumah untuk tiga jenis kura-kura laut yang menetaskan telur-telurnya disana. Pada paragraf berikutnya juga dijelaskan nama-nama dari kura-kura laut tersebut.

Di paragraf berikutnya disampaikan penjelasan Ismail sang penjaga pulau bahwa selama ini mereka tidak menemukan masalah dengan para turis yang berkunjung karena para turis tersebut datang untuk menikmati survival tourisme dan tidak mengganggu binatang yang ada disana.

Kemudian, pada bagian akhir artikel berita ini juga disampaikan bahwa mulai dikenalnya area konservasi tersebut membuat Kabupaten Gorontalo Utara meminta perubahan pada status area yaitu menjadi area wisata alam. 

Itulah tadi gambaran mengenai isi dari artikel tentang pariwisata dari situs thejakartapost.com. bagi rekan pelajar atau mahasiswa yang ingin mengetahui dan mempelajari langsung artikel berita tersebut bisa langsung menuju ke situs jakartapost pada bagian kutipan.