Thursday, August 17, 2017

Cerita Bahasa Inggris Singkat Padat dan Jelas

Cerita bahasa inggris singkat padat dan jelas – yang ingin mencari hiburan dengan cerita-cerita yang menarik silahkan mengikuti cerita kali ini. Pada kesempatan ini akan diberikan dua buah cerita sekaligus sebagai bahan bacaan dan sekaligus sebagai bahan belajar untuk rekan pelajar. Tidak perlu pergi mencari ke situs lain, rekan semua akan mendapatkan banyak koleksi cerita menarik disini.

Cerita Bahasa Inggris Singkat Padat dan Jelas

Sebelum rekan semua membaca lebih jauh mengenai kisah ini, mari kita bahas sedikit tentang teks tersebut. Yang pertama harus dicatat adalah bahwa teks yang nanti akan rekan baca adalah teks cerita yang ditulis dalam bahasa Inggris. Untuk rekan yang kebetulan tidak mencari cerita dalam bentuk bahasa Inggris maka silahkan cari cerita yang diinginkan pada kotak penelusuran situs.

Kedua, cerita yang akan kita nikmati berikut ini bukan sebuah karya dari penulis professional. Cerita berikut merupakan hasil karya belajar dalam membuat karangan dalam bentuk yang sangat sederhana sekali. Bisa dikatakan, semuanya sederhana mulai dari kisah yang diangkat, pilihan kata dan susunan kalimatnya. 

Cerita berikut ini masuk dalam kategori fiksi tetapi kurang cocok jika disebut dengan cerpen. Alasannya adalah karena ceritanya sangat singkat sekali. Mungkin akan lebih tepat jika disebut dengan karangan tentang pengalaman atau lainnya. Seperti apa, mari kita lihat langsung cerita pertama berikut.

A Gift
Story by Siti

Seventeen of August is the day when I was born. Yes, it was miracle, for me and also for my families. My mother was very happy, not because I was born in Indonesia Independent Day but because I was born perfectly. 

I have two great black eyes. I have perfect hands, foots and other organs. A healt and perfect baby boy was born from not perfect mother. Again and again, my mother thank God that she had given a baby boy. It was a gift from God. 

“Thanks Gods, you have given me a beautiful gift”she always told me how thankfull she was. On my first birthday she made “among-among” with one boiled egg for about seven childrent. She had not given me a gift. Among-among is a small traditional party to express one thank to God.

The next birthday she made two boiled eggs with no gift for me. Those happened until I was ten. Since I was ten, my mother always gives me a special gift. Each gift was very special and I loved them.

The seventeen birthdays was the greatest birthday for me. On that birthday I was given two gifts. The first gift was from my mother and the second was come from celebratin of Independent day of Indonesia. 

The End

Cerita berjudul “a gift” di atas menggambarkan tentang ungkapan terima kasih atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Seorang ibu menganggap anaknya sebagai hadiah dari Tuhan, karena itu ia selalu bersyukur atas pemberian tersebut. 

Rasa syukur tersebut diungkapkan dengan membuat acara syukuran sederhana untuk memperingati kelahiran anaknya. 

Untuk mengingat bentuk pemberian dari Tuhan tersebut ia juga tak lupa selalu memberikan hadiah untuk anaknya di hari ulang tahunnya. Awalnya, ketika masih bayi sang ibu membuatkan “among-among” untuk memperingati kelahiran anaknya tersebut. Satu telur rebus dipotong-potong untuk dibagikan ke anak yang ikut among-among tersebut.

Hal seperti itu terus ia lakukan sampai di usia anaknya menginjak ke-17. Di ulang tahunnya yang ke tujuh belas itulah pertama kalinya sang ibu memberikan hadiah untuk anaknya. 

Pada usia tersebut ia mulai dikenal karena memiliki hari ulang tahun sama dengan hari kemerdekaan RI sehingga selain mendapatkan hadiah dari ibunya ia pun selalu mendapatkan hadiah khusus dari panitia peringatan HUTRI di tempatnya. 

Meski sederhana ternyata kisahnya unik dan lucu juga bukan? Masih ada lagi yang tak kalahsederhana dan singkat, yaitu cerita kedua berikut ini. Yang kedua ini cukup berbeda dari tema yang pertama. Temanya sangat cocok dan sangat disukai oleh remaja yaitu masalah cinta dan persahabatan. Silahkan dibaca juga ya.

Nothing Ever Happen
Story by Siti

They walked together, side by side. Hand in hand they went to the campus. They seem harmonious like a couple. No they were not a couple. They were friend, only friend. Nothing ever happen between the two of them eventhough far deep inside their heart there was love. 

Sometimes they looked at each other, smiling. “Todays will become the very busy day”, Handrian said to his best friends. 

“Yeah, do not worry; I will be with you…” Nita was smiling. 
“Ya, you should because if you not I will not give you my warm hug!” Handrian replied.

Together, they have experienced many things, bad, good, even worst. They first meet at cavetaria when they entered university. 

It has been two years since their first meeting and they were getting closer. They did their home work together. They also had spended the spare time together. 

A year before, Handrian has a girl friend. Two months later they were separated. Handrian decided to end his relationship because his girl friend can not understand him well. “It is better for us to go at our own path” he said to his girl friend.

Nita also had the same experience. She had ever a boy friend but only two weeks. She had said to her boy friend that it was better to have best friend then a boy friend. 

Nita was more confortable with Handrian anda Handrian also feel the same thing. Finally they were happy as best friends.

The End

Tidak ada yang pernah terjadi diantara dua orang yang sangat dekat. Cerita berjudul “nothing ever happen” di atas bagi kami cukup bagus dan sangat menarik. Ada satu hal yang sangat mengundang penasaran yaitu bagaimana perasaan cinta tumbuh dalam hati dan tersimpan rapi dalam sebuah ikatan persahabatan.

Ya, ceritanya, konon ada dua orang remaja yang sangat dekat yaitu laki-laki dan perempuan. Yang pria bernama Handrian sedangkan yang wanita bernama Nita. Mereka berdua sangat dekat, bahkan mungkin lebih dekat dari sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. 

Ceritanya, mereka berdua sudah dekat cukup lama. Mereka sudah mengarungi banyak liku-liku, banyak suka duka yang sudah mereka alami. Mereka berkenalan pertama kali sejak mereka masuk ke perguruan tinggi. Sejak itu mereka saling kenal dan semakin dekat. 

Kedekatan mereka tak terpisahkan, bahkan oleh urusan cinta sekalipun. Beberapa waktu sebelumnya, saat mereka sudah cukup dekat, Handrian sebenarnya pernah memiliki kekasih. Namun Handrian dan kekasihnya itu tidak bisa bertahan lama. Akhirnya karena merasa tidak cocok dan tidak sesuai dengan harapan maka ia melepaskan sang kekasih tersebut.

Begitu juga dengan Nita. Ia juga pernah punya pacar tetapi dalam waktu yang sangat singkat. Ia memutuskan pacarnya karena menurutnya lebih menyenangkan memiliki sahabat dari pada memiliki pacar. Akhirnya mereka berdua pun lebih dekat lagi.

Sebuah persahabatan yang erat didasari dengan rasa cinta kasih dan sayang yang begitu dalam didalam hati. Itulah yang tergambar dalam persahabatan antara mereka berdua. Jauh didalam lubuk hati mereka masing-masing sebenarnya ada cinta yang besar. Perasaan cnta tersebut sangat besar namun mereka tak pernah sama sekali mengungkapkannya.

Meski sebenarnya mereka berdua menyadari apa yang mereka rasakan tetapi mereka tetap kukuh, tidak mengganti status persahabatan mereka menjadi hubungan cinta. Entah sampai kapan, yang jelas mereka berdua bahagia bersama-sama satu sama lain.

Begitulah sedikit alur cerita untuk cerpen sederhana yang kedua di atas. Cukup bagus bukan, lumayan lah untuk sekedar menambah bahan bacaan kita. Sekarang, saatnya bagi rekan semua untuk mengambil manfaat yang lebih banyak dari kedua teks bahasa Inggris tersebut. Silahkan digunakan untuk tambahan bahan belajar mandiri di rumah.

Tuesday, July 25, 2017

Cerpen Mimpiku Pergi ke Pantai Parang Tritis

Cerpen Mimpiku Pergi ke Pantai Parang Tritis - Seminggu sudah aku hanya menatap indah Parang Tritis lewat sebuah komputer melalui akses internet nir-kabel. Nampak indah untuk dilihat tanpa aku bisa membayangkan bagaimana bila aku bermain pasir, air, di sana.


Karena mungkin belum sekalipun aku bisa ke sana sehingga bayangan tentang seperti apa rasanya berlibur di sana belum ada. 

Tetapi bila di pandang dari sebuah foto yang aku dapat dari internet, Parang Tritis adalah pantai yang indah, pasirnya putih, dan lautnya bersih. Sungguh bahagia bila aku bisa menghabiskan waktuku di sana.

Gaya manja terus ku perlihatkan kepada orang tuaku, bahwa itulah sifatku ketika aku mempunyai sebuah keinginan. 

Aku ingin sekali orang tuaku mengerti bahwa Parang Tritislah tempat yang sangat ingin aku jumpai. Sehingga kalimat pujian, tutur kata santun terus ku lontarkan kepada ibu dan ayahku untuk meluluhkan hati mereka agar aku diberi izin dan diantarkannya ke sana.

Tetapi memang tidak mudah membujuk dan merayu ayah dan ibuku terlebih mereka sudah termakan dengan cerita kisah mengerikan yang tersimpan dalam pantai Parang Tritis. 

Konon di sana bersemayam seorang siluman berwujud wanita cantik, yang siap membawa siapa saja yang memakai baju hijau ke alamnya. Tetapi aku tidak percaya dengan hal itu, karena tidak bisa diserap oleh akal logikaku. 

Tetapi kepercayaan yang kolot orang tuaku yang diajarkannya secara turun-temurun membuatku tidak diberikan ijin ke sana.

Langit termendung seolah dia tahu kesedihanku tidak diberikan ijin untuk kepergianku ke Parang Tritis. Tetapi dalam hati hanya bisa berkata tidak perlulah langit bersedih melihatku seperti ini. 

Toh kesedihan langit tidak ada artinya bagiku, tetap saja aku hanya bisa di dalam kamar tanpa bisa pergi ke Parang Tristis di masa liburan ini. Mungkin liburan ini adalah liburan yang sangat jahat untukku, tidak seperti liburan kemarin keinginanku terpenuhi pada liburan kemarin.

Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, itulah benakku berbicara, sehingga Parang Tritis yang kuinginan harus bisa aku dapatkan. 

Sebuah cara tentu aku fikirkan keras dalam otaku yang hanya mempunyai ukuran beberapa senti saja. Aku belum tahu cara apa, benar atau salah, bagus atau baik, efektif ataupun tidak efektif cara yang akan ku temukan dalam otaku ini. 

Yah lampu berpijar terang dalam otakku, tanda aku mendapatkan sebuah ide untuk bisa sampai ke Parang Tritis.

Mungkin hanya pergi dengan secara diam-diam itulah cara untuk bisa sampai ke Parang Tritis. Kebetulan setahun yang lalu sampai dengan sekarang aku selalu rajin menyisihkan uang jajanku di perut ayam yang terbuat dari tanah liat itu. 

Mungkin aku bisa menghancurkan tubuh ayam itu untuk mendapatkan uangku untuk bekal perjalananku ke sana. Prak Prak – pukulan palu mengenai celengan ayam – wah ini uangnya banyak. 

Aku mengambil uangku dan menghitungnya. Terdapat jumlah keseluruhan uangku adalah 500 ribu. Ini sangat cukup untuk perjalanan dan makan ketika kepergianku ke Parang Tritis.

Mengingat Parang Tritis hanya bisa ditempuh dua setengah jam dari rumahku. Dekat sebenarnnya tetapi orang tuaku selalu enggan untuk mengantarkanku ke tempat tersebut. 

Maka dengan terpaksa aku harus pergi sendiri secara diam-diam karena aku begitu menginginkan untuk pergi ke parang tristis. Terlebih benaku sudah berkata apa yang aku inginkan selalu aku dapatkan, mungkin inilah cara menjawab kicauan benak yang selalu datang ketika keinginan hati hampir tidak terpenuhi.

Aku berdiri di samping jalan nan ramai, masih pagi tetapi cuaca sudah mendung, aku tidak tahu mendungnya langit karena tersedih melihatku atau justru ada karena secara alami. 

Kalau mendungnya langit karena tersedih tentu kurang masuk akal, seharusnya langit saat ini bergembira melihatku hendak pergi ke Parang Tritis. Tetapi kenyataannya langit masih termenung mendung tanpa ada keceriaan di wajah hingga bosan ku melihatmya.

Ya biarlah saja langit termenung memperlihatkan murung wajah yang sangat tidak enak untuk dipandang, jangankan memberikan senyum kepadaku melihatku saja sudah enggan. Sekali saja terserah kau langit, aku tidak peduli, aku hanya ingin pergi ke Parang Tritis saat ini. 

Makiku dalam hati melihat langit dengan muka jeleknya seoalah tidak suka dengan kepergianku. Langit menangis, ribuan air tertumpah turun ke bumi, debu sarang penyakit beterbangan, sementara aku berlari ke sebuah kios untuk berteduh.

Memang sulit sekali menenangkan langit yang tersedih, bagai anak kecil yang kehilangan dotnya, bahkan ku rasakan lebih sulit dari itu. 

Anak kecil bisa tenang hanya bila diberi dot, tetapi langit, bagaimana langit bisa tenang dan harus diberi apa biar langit bisa tenang. 

Itulah pertanyaan bodoh yang membuatku merasa larut dalam rasa bersalah, seolah-olah akulah penyebab kesedihan langit yang mengakibatkan ribuan bahkan jutaan liter air tertumpah ke bumi.

Kesedihan langit tambah menjadi-jadi dia berteriak-teriak lebih keras dari pada bayi, suaranya menggelegar dan menghasilkan aliran listri yang cukup besar. Tentu tubuhku akan gosong bila terkena guntur yang menyambar-nyambar tanpa melihat-lihat itu. 

Langit sungguh keparat dia berusaha mencegah kepergianku untuk ke Parang Tritis. Ya gara-gara sikap kekanak-kanakannya aku hanya bisa berwisata di kios buntut dengan cat pudar di bagian temboknya, tidak bisa ku melihat pantai dengan pasir putih bersih dan air laut yang jernih.

Hancur semua rencanaku karena hujan ini telah menghentikan aktivitas kota, dari transportasi hingga ekonomi. Saat ini aku hanya bisa dikepung oleh para bala tentara pasukan air dari langit, sedang di sana ada angin kencang yang mengendalikan air turun ke bumi. 

Yang lebih mengerikan lagi senjata maha canggih listrik dengan kapasitas daya yang sangat tinggi yang bisa merenggut nyawaku bila terkena tubuhku.

Aku bagai pecundang yang sudah tidak punya kekuatan apa-apapun, tidak punya pasukan, tidak punya senjata, tetapi menolak untuk menyerah dan bersembunyi di kios buntut. Sementara di sana musuhku langit terus melancarkan guntur-gunturnya yang mematikan itu. 

Suaraku yang lantang memaki sang langit tidak ada lagi, diganti dengan suara ketakutan melihat guntur yang mampu membungkam nyaliku. Sudah menyesal itu pasti karena ku sudah mengejek muka langit yang jelek hingga langit berubah menjadi liar dan tak terkendali.

Biarlah mimpiku ke Parang Tritis hanya sekedar mimpi, karena aku tidak berdaya melawan langit dengan ribuan bala tentarannya. Yang mungkin ini adalah pertarungan yang sangat tidak sebanding bila memang dinilai oleh wasit itupun bila ada wasitnya. 

Tetapi ini adalah pertarungan liar tanpa wasit dan tanpa peraturan, yang kuat boleh sesuka menindas yang lemah, seperti kaum kapitalis menindas para kaum proletar, tangis tidak berdaya proletar tidak sedikitpun merubah pikiran kapitalis untuk terus menindas. (Arif Purwanto)

Monday, July 24, 2017

Cerpen Pengalaman, Ceritaku di Cianjur

Cerpen Pengalaman, Ceritaku di Cianjur - Semilir hawa angin yang telah terkontaminasi dengan panas dari paparan sinar matahari, saling bergulat panas dan dingin hingga tidak cukup untuk membuatku sejuk bagai di sebuah gundukan salju.


Buku saku pun tidak luput dari genggaman dan kemudian difungsikan sebagai penambah angin untuk menyegarkan suasana dan mendinginkan tubuhku.

Sementara keadaan lalu lintas kota selalu menadapatkan puncaknya setiap hari, tidak terkecuali dengan hari ini. Dua jam lebih kami terjebak macet tanpa ada hal lain menarik yang bisa dilakukan selain dari pada mendengarkan musik di tengah panasnya Jakarta.

Pendingin mobil kami kebetulan sedang dalam keadaan rusak karena belum sempat untuk diperbaiki, sehingga kami harus menahan begitu saja rasa panas ini.

Kami bertiga hendak melakukan perjalanan ke sebuah air terjun yang ada di Cianjur, di sana kami akan berlibur untuk kurang lebih tiga hari. Sembari mendinginkan fikiran, mendinginkan tubuh, dan mendinginkan segala-segala masalah yang ada di benak kami.

Kota Jakarta yang panas, padat, dan sibuk tentulah membuat siapa saja yang tinggal di Jakarta akan muda bosan.

Karena di Jakarta tidak didapati sebuah pepohonan yang begitu hijau, sungai yang mengalir indah hingga menyejukan mata dan fikiran. Dan burung-burung-burung menyanyi yang menenangkan hati dan telinga.

"Kita sudah dua jam lebih ini di dalam mobil", ungkapku sambil mengelap kening dengan sehelai tisu dan kemudian menggulungnya serta membuangnya ke luar mobil.

"Iya ini, mau sampai kapan si", sahut Roni sambil mengkipas wajahnya yang sudah terbasuh keringat bercucuran.

"Ya sabar aja, emang lagi macet mau bagaiman lagi, masa iya kita mau terbang hehe", ucap Rian sambil tersenyum untuk mencairkan suasana, dengan posisi tangan diatas lingkaran setir.

"Argghhh", Ungkap Roni buang muka ke kanan.

Tak lama kemudian lalu lintas dapat bergerak, dan kami bisa berjalan kembali, keceriaan sedikit terlimpah kepada kami. Meskipun sedikit keceriaan tetapi hati berharap agar keceriaan ini terus berlanjut. Dan lalu lintas berhenti lagi,"Aduh, baru aja jalan udah berhenti lagi, gerah ini", ungkapku marah dengan lalu lintas yang tak kunjung jalan.

"Sabar Bima – Masih tersenyum melihatku – Pasti lalu lintasnya jalan kembali".
"Tu kan – Lalu lintas sudah mulai bergerak dengan sangat perlahan dan berhenti lagi – Bikin sabar aja lama-lama kan bisa sampai kalau terus jalan".

"Ya terserah kau sajalah Roni, aku benar-benar muak dengan jalan raya ini yang penuh mobil, mungkin bila ku kaya, ku punya kekuasaan aku enggan melintasi jalan ini – Ratap nasib tersiksa kepanasan – Aku tentu sudah memakai helikopter, lebih cepat sampai dan aman dari kemacetan".

"Ya ku doakan kau cepat kaya – Masih dengan sikap dewasa yang selalu menjadi penyejuk kemarahanku dikala kemacetan yang begitu lama ini terjadi – kan sekarang sudah jalan lagi kan".

Mobil kami mulai berjalan dengan lancar kembali, sementara itu jendela mobil kami terus dalam keadaan terbuka untuk memungkinkan udara masuk ke dalam mobil kami dan menyapu bersih rasa panas kami.

Empat jam sudah kami berjalan menggunakan perjalan darat, hingga sampailah mobil kami di tempat penginapan. Di sini adalah tempat penginapan yang akan kami gunakan untuk tinggal sementara di sini, sementara air terjunnya sudah cukup dekat dengan penginapan kami, yang dapat ditempuh perjalanan kaki selama setengah jam.

Kami mulai menurunkan tubuhku dari mobil yang benar-benar panas ini – Akhirnya, sampai juga kita – sambil mengangkat kedua tangan mengencangkan seluruh anggota tubuh, nampak suara urat yang tertarik.

Sementara itu suasana di sekitar penginapan tidaklah panas seperti ruangan di dalam mobil kami yang pengap dengan sedikit bau bahan bakar dan juga panas. Di sini nampak begitu segar hingga membuatku terpejam untuk sejenak menikmati suasana di Cianjur ini.

"Oh ini, ini enak sekali nampak ku temukan energi yang tidak pernah ku temukan di kota hingga nampak energi itu membuatku menjadi lebih nyaman – Sambil mengangkat kedua tangan bagai pemain filim kapal Titanic, hanya saja tanpa lawan pasangan yang berada di depan".

Sementara itu teman-temanku sudah masuk semua ke dalam kamar penginapan – Hey ayok masuk – Mengeluarkan kepalanya keluar pintu melihatku dan kemudian masuk ke dalam".

Sedikit terkejut, langsung saja ku menghentikan dramaku menikmati suasana maha sejuk di Cianjur ini,"Iya" – Aku berjalan masuk ke dalam penginapan.

Sementara ku lihat Roni sedang mengeluarkan isi tasnya dan kemudian menata pakaiannya di dalam lemari yang sudah disediakan. Sementara itu Rian juga melakukan hal yang sama.

Kamar yang kami pesan tidak terlalu mewah, hanya saja ini sudah cukup nyaman, dengan kasur Sprimbet dengan tiga bantal, satu buah lemari, satu televisi dan satu kamar mandi dengan pintu transparan buram.

Aku tidak tahu apakah temanku bisa melihatku ketika ku sedang bertelanjang mandi di dalam kamar mandi. Yang pasti lampu akan selalu ku matikan ketika aku mandi.

Aku mulai mengeluarkan pakaianku dari tasku – ah tidak aku melupakan baju kesayanganku – Tekejut setelah mendapati baju kesayangan tidak ada di tas.

Roni dan Rian melihatku sambil terpanah heran – Yang terpenting kan kau membawa pakaian – Ungkap Rian sambil memasukan baju ke gantungan baju kawat.

Tanpa berkata-kata dengan wajah gelisah, tetapi ya sudahlah hati coba mengihklaskan. Dan mulaiku menata baju-bajuku di lemari menggunakan gantungan pakaian. Sementara Roni dan Rian sudah duduk di atas kasur yang tidak seberapa empuknya itu sambil menonton televisi.

Hari masih siang, karena merasa begitu bosan di penginapan maka kami putuskan untuk pergi ke air terjun yang menjadi tujuan awal kami.

Kami berjalan dengan membawa perlengkapan kebutuhan saja, dan ala kadarnya saja. Tidak terlalu berlebihan, mulaiku melintasi medan-medan mennurun serta menanjak.

Di sini sudah ada jalur khusus untuk bisa sampai ke air terjun tujuan kami, sehingga kami hanya perlu mengikuti jalurnya saja untuk bisa sampai ke air terjun. Setelah menaiki tangga yang cukup curam dan melelahkan kami harus melewati turunan yang sama berbahayannya karena curam.

Sehingga kami perlu berhati-hati untuk bisa sampai ke air terjun secara selamat. Sementara itu suara air yang terjatuh secara bersamaan dari air terjun sudah nampak menyambut kami. Di sana nampak banyak orang yang juga sedang berenang di sekitar perairan air terjun.

Dan kami menjadi tidak sengaja, langsung saja kami berlari setelah melintasi turunan yang begitu curam dan tanpa berfikir panjang meletakan tas dan juga melepas baju dan kemudian masuk ke dalam air. Air ini begitu menyejukan, tetapi aku belum puas begitu saja, aku berjalan ke tengah tepat di bawah air terjun.

Dan nampak kepala ini seperti dipukul dengan benda keras, karena jumlah air yang mengenai kepalaku yang terlalu banyak. Sehingga sakit bila terkena kepala. (Arif Purwanto)

Sunday, July 23, 2017

Cerpen tentang Hadiah Valentine dari Pacar

Cerpen tentang Hadiah Valentine dari Pacar - Ramainya kota sedikit membuat kupingku berdengung kencang, sementara udara kotor berhamburan kemana-mana merasuk ke paru-paruku. Nampak sesak laju nafasku, seperti tidak ada pelumas di dalam rongga tenggorokannku.

Cerpen Hadiah Valentine dari Pacar

Sayang, panas ya..? – Tanyaku melihat kekasihku bercucuran keringat – Dengan lembut aku mengelap keringat yang berada di wajahnya.

Hmm – Tersenyum sangat sedikit seolah begitu pelit terhadap senyum. Tetapi setidaknya dia mau tersenyum kepadaku ketika aku meletakan perhatian dalam padanya. Aku mau kasih hadiah untukmu. 

Sambil meletakan tangan di belakang badan seperti ada yang di sembunyikan. Ini adalah hadiah sepesial valentine untukmu, tapi kau harus pejamkan mata. Terpanah sambil berkaca dalam bola mataku.

Tanpa banyak komentar aku memejamkan mata. Kau mau memberiku apa..? – memejam sambil membuka telapak tangan ke atas. Kau diamlah dulu nanti juga tahu – ungkapnya menambah penasaran hatiku.

Di letakanlah sebuah benda berbentuk kubus di telapak tanganku, tidak terlalu besar hanya berukuran satu jengkal anak remaja. Sekarang kau boleh membuka matamu – tersenyum dengan begitu tampannya. 

Aku membuka mataku dan aku tidak sanggup berkata-kata. Apa ini..? – tanyaku begitu terkejut dia seromantis ini. 

Aku mulai membukannya. Wah, kau membelikanku sebuah boneka beruang yang sangat cantik – merangkulnya dan melemparkan ciuman di pipinya – Terimakasih sayang aku begitu senang.

Usai diberi hadiah berupa kado, yang menurutku tempatnya kurang bagus untuk momen ini. Tetapi meski tempatnya kurang mendukung, perhatian dan kadonya sangat cukup membuatku bahagia. Selanjutnya kami berjalan pulang ke rumahku, menggunakan mobil kekasihku.

Hari ini aku begitu bahagia kau mau meluankan waktumu untukku untuk sekedar menikmati pemandangan kota yang penuh debu dan panas ini. Tuturnya dengan begitu pelan penuh kasih sayang, sambil memutar-mutar setir hendak berbalik arah untuk menyebrang jalan.

Ya aku juga mengucapkan terimakasih kepadamu, karena kau juga telah memberikan hadiah kepadaku, dan bersikap sangat romantis padaku. 

Begitu terharu dengan sikap romantis yang dimilikinya. Kau tahu bukan, bahwa wanita memang sangat senang dimengerti diberi momen-momen romantis. Tuturku sambil sedikit mencanda.

Aku tahu itu, tetapi aku romantis bukan karena kau wanita. Lalu..? untuk apa kau melakukan ini. Sahutku. 

Aku melakukan semua ini karena memang aku mencintaimu. Lagi-lagi dia melelehkan hatiku, dan wajahku merah tidak sanggup berkata apa-apa. Jantungku memompa lebih cepat dari sebelumnya, kata-katanya sungguh membuatku tidak berdaya.

Tetapi aku berusaha meenangkan diriku sendiri, sebisa mungkin untuk bisa tenang seperti tidak ada apa-apa. 

Tetapi semakin aku mencoba dan berusaha untuk tenang perasaan gugup malam menjadi-jadi. Rasa gugupmu memang telah menguasai seluruh kendali dalam tubuhku.

Sebenarnnya nanti malam aku ingin mengajakmu menonton sebuah derama komedi di bioskop, filmnya seru lo, My Stupied Bos. Oh iya – Melihatnya dan tidak menyangka ternyata kejutan dan momen romantis yang dia berikan kepadaku belum habis –.

Iya – kembali berbicara sambil menyetir – kira-kira kau ada waktu tidak nanti malam..?

Emmmm – pura-pura mikir padahal ini adalah momen yang ditunggu-tunggu. Ayolah sayang. Cetusnya memintaku menemaninya menonton film. 

Aku masih menahan aktingku untuk membuatnya semakin gelisah menunggu jawabanku. Maaf sayang. Maaf apa..? kamu gak ada waktu ya – ungkapnya dengan wajah penuh kekecewaan – bukan itu, maaf aku gak bisa nolak jalanin keromantisan lagi denganmu hehe.

Hahh – tertawa girang tidak memperdulikan keselamatan – eh sayang hati-hati dong entar nabrak gimana. Ingatkannya dengan wajah yang sangat cemas. Iya maaf sayang kan lagi bahagia. Jawabnya sambil terus menyetir tanpa mengurangi kecepatan. Ya sudah nanti malam aku jemput pukul 19:00 ya.

Hmm – sambil mengangguk tersenyum dan tidak berkata-kata lagi. 

Hingga tak lama kemudian aku smapai di pengkolan dekat rumahku. Mobil kami langsung meluncur dan melewatinya hingga akhirnya aku dan kekasihku benar-benar sampai di rumahku. 

Aku mulai membuka pintu mobilnya dan kekasihku juga membuka pintunya sendiri. Kau mau mampir dulu..?. menawarkannya. Aku langsung saja pulang nanti malam aku ke sini. Ungkapnya masih dengan sedikit senyumnya.

Ya sudah aku tunggu nanti malam. Tersenyum memandang bola matanya yang bulat. Iya – masih dengan sedikit senyum – berjalan masuk ke mobil dan menghidupnkannya. Mulailah tangannya melanbai dan mobilnya melaju keluar dari halaman rumahku.

Dari mana kamu Viona. Suara tanya dengan nada datar ibuku. Hmm – memperlihatkan senyuamn lucu untuk mencairkan suasana – habis keluar jalan-jalan ma. Itu tadi siapa, pacarmu..? tanya mamaku tanpa sedikitpun tersenyum. 

Aku hanya diam tersenyum dan tersipu. Mengapa kau tidak suruh mampir itu pacarmu, aku ingin mengobrol. Ungkap ibuku. Ah mama ini iya lain kali suruh mampir. Masuk ke dalam rumah tanpa tertarik lagi dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh mamaku.

Aku masuk ke kamar dan memandangi boneka beruang putih dengan pita cantik di kelapanya. Boneka ini akan mengabadikan momen indah kenangan keromantisan kekasihku kepadaku. Tubuh ini begitu lelah, sementara hari masih panjang, karena ini baru jam dua siang. 

Mulailah ku baringkan tubuhku di ranjang untuk sejenak merajut mimpi indah yang belum tahu bagaiman mimpi itu berjalan dan bagaimana ceritannya. Yang pasti mimpiku akan seindah hariku saat ini. 

Hemm aku masih sanggup merasa tetapi aku tidak sanggup melihat, semuanya gelap. Tetapi kulitku dan otaku masih bisa meraskaan keadaan di sekitar. Juga masih bisa merasakan hembusan nafasku.

Hey Viona bangun nak, ini sudah sore waktunya kau mandi. Panggil ibuku dua jam kemudian terhitung sejak aku berbaring. Iya ma – menjawab dengan terpejam. Mulai pelan-pelan aku membuka mataku dan ku lihati jendela di sana ada matahari yang sudah hampir pulang. Tinggal sedikit sinar yang terlihat oleh mataku.

Ketika matahari hendak pulang tiba-tiba bayang Herkules kekasihku muncul dalam benak. Tubuh yang tadinya lemas karena kekurang cairan karena kehilangan banyak cairan ketika tidur seketika menjadi bugar. Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi cantik dan mempersiapkan semuanya untuk nanti malam.

Malam datang sementara itu aku sudah sangat siap pergi menonton malam ini dengan kekasihku. Ting tung... ting tung – suara bel rumah – wah sepertinya Herkules tu. Aku langsung bergegas keluar. 

Eh bibi biar saya aja yang buka pintu. Mencegah pembantuku membukakan pintu. Eh si enon, iya non, bahagia banged si kayaknya siapa si non. Tutur katanya meledek.

Ah bibi mau tau aja udah ke belakang. Iya non dan berjalan ke belakang. Baru kemudian aku membukakan pintu dan ternyata memang benar dia Herkules. 

Halo sayang, langsung saja yuk udah malem. Ungkapku ajak kekasihku pergi tanpa menawarinya duduk di rumahku. Ayo – ungkapnya dan kemudian kami berjalan menuju mobilnya bersama.

Sepanjang jalan, langit malam seolah terikat tidak ada daya untuk bisa berbuat apa-apa. Jangankan mengeluarkan sinar memberikan pendapat tentang kemesraan kami saja tidak bisa. 

Bagai seorang pembicara yang sudah kehilangan gagasan di dalam otaknya karena sudah mati gaya. Sehingga jangankan untuk bisa memberikan wawasan kepada pendengar tersenyum saja tidak berani.

Pendapat langit bagiku tidak penting yang terpenting malam ini aku akan menikmati malam panjang dengannya sesuka hatiku dan sesuka hantinya. Tak peduli langit dan bumi membisu melihat kemesraan kami, yang terpenting bagi kami adalah kebahagiaan kami sendiri. (Arif Purwanto)

Saturday, July 22, 2017

Cerpen tentang Sahabat Pemberi Semangat

Cerpen tentang Sahabat Pemberi Semangat - Entah mengapa aku tidak merasakan ketakutan yang banyak orang rasakan ketika melihat hal-hal, tindakan-tindakan berbau kekerasan. Ya memang sedari kecil aku sudah dididik kuat oleh orang tuaku.

Contoh Cerpen tentang Sahabat

Orang tuaku adalah seorang guru karate, ya meski tubuhnya kecil dia pernah mengalahkan 5 orang yang mempunyai tubuh setengah lebih besar dari padanya. Ayahku mahir menyerang bagian vital pada organ manusia, maka tidak heran bila lawan yang lebih besar darinya bisa dikalahkannya.

Sedari kecil pus-up 100 kali adalah sarapan pagiku, dan pada siang hari aku harus mengambil air yang melewati bukit terjal, yang cukup sulit untuk dilewati dengan berjalan kaki tanpa barang bawaan apapun, dan lebih sulit bila harus membawa dua ember cukup besar menaikinya dan menuruninnya.

Sedangkan untuk sore hari, ayahku selalu mengajarkanku jurus-jurus dalam bela diri karate yang semua gerakannya didominasi dengan pernapasan. 

Terlihat di dalam gerakan karate berbeda dengan halnya gerakan di pencak silat yang mendominasikan silat dengan seni. Sehingga jurus-jurus dalam pencak silat banyak gerakan-gerakan indah seperti halnya menari.

Tetapi lain halnya di karate yang jurusnya kurang didominasi dengan seni yang berlebihan, namun yang lebih diutamakan adalah kekuatan otot ketika memukul menendang ataupun menahan. Dan kunci dari keberhasilan tersebut adalah dengan pernapasan. 

Ayahku juga mengajariku cara melemahkan lawan dengan menyerang organ-organ vital, dan juga dengan kuncian. Cara ini sangat evektif untuk melumpuhkan lawan terlebih ketika kita berhadapan dengan lawan yang cukup besar tubuhnya dari pada kita.

Selain dari pada mengajariku tehnik kuncian dan menyerang di kala menghantarkan matahari pada sore hari, ayahku juga selalu membiarkanku dengan posisi kuda-kuda selama hampir dua jam lebih. 

Dia meninggalkanku begitu saja, tetapi dia bisa tahu ketika aku hendak berdiri tegak, "Jaga posisi kuda-kudamu" – Aku tidak tahu dia dimana tetapi suara ayahku nampak begitu dekat – terpaksa aku harus menahan posisi kuda-kudaku sampai ayah membiarkanku berdiri tegak kembali.

Dan penderitaanku belum selesai, ketika malam hari aku belum diperbolehkan untuk tidur sebelum jam 11 malam. Aku diajari untuk bermiditasi belajar berkonsentrasi, karena menurut ayahku sendiri ini adalah hal yang sangat penting bagi seorang petarung. 

Karena kunci kemenangan adalah konsentrasi. Tetapi tidak terkadang meditasi dengan duduk bersila kaki kanan berada di atas kaki kiri, dan kaki kiri berada di atas kaki kanan membuatku secara tidak sadar tertidur. 

Tetapi itu tidak lama karena sang ayah langsung memanggilku. Irwan..! konsentrasi. Akupun langsung terbangun dan kembali meneruskan meditasiku serta berusaha untuk berkonsentrasi.

Setelah jam 11 malam tubuh ini merasa begitu gembira karena bisa mendapatkan kasurnya sebagai pasangan di kala malam yang tidak bisa dipisahkan. 

Pada pagi harinya pun aku harus mengulangi apa yang pagi kemarin lakukan. Itulah makanan sehari-hariku ketika aku masih kecil dan duduk dibangku sekolah dasar.

Tetapi meski orang tuaku mengajariku untuk menjadi seorang laki-laki yang tangguh, orang tuaku juga mengajariku untuk menggunakan ilmu bela diri di jalan yang benar. 

Yaitu untuk menolong orang yang kesulitan, dan menjaga diri. Orang tuaku melarang keras menggunakan ilmu bela diri yang sudah kupelajari untuk menyakiti orang lain ataupun untuk berbuat keonaran ketika di sekolah.

Berbuat keonaran di kelas pernah aku lakukan, karena aku merasa hebat dari pada teman-temanku. 

Aku menantang satu-satu dari teman kelasku dari yang mempunyai ukuran tubuh sama denganku hingga yang mempunyai ukuran tubuh lebih besarku. 

Semua dapat kukalahkan hanya dalam satu kali pukul, tetapi karena perbuatanku itu orang tuaku di panggil ke sekolah dan diberi surat peringatan.

Belum selesai sesampainya di rumah ayahku menghukumku dengan hukuman yang sangat keras dan berat menurutku. 

Karena aku harus melakukan tidur dengan posisi menggantung dan di bawah tubuhku ada besi yang sangat panas, sehingga bila tubuhku kebawa sedikit saja maka tubuhku akan meleleh terkena besi panas tersebut. 

Sehingga aku harus menahan tidur secara menggantung dan hanya kepala dan kaki saja yang boleh bersandar sementara tubuhku menahan posisi menggantung agar tidak terkena besi panas yang ada di bawahku. Hal itu aku lakukan selama satu malam suntuk.

Hasilnya sedikit goresan besi panas di pinggangku karena begitu lelah menahan posisi tidur yang tidak biasa. 

Dari situlah hingga akhirnya aku sadar bahwa ilmu bela diri bukanlah untuk digunakan sebagai alat penindas, tetapi sebagai alat penolong dan penjaga diri. Di situ pula sifatku sudah berubah, aku tidak lagi memamerkan kepiawaianku dalam hal bela diri.

Di usiaku yang sangat muda itu akupun sudah didukung oleh orang tuaku untuk mengikuti kejuaraan bela diri tinkat kabupaten maupun nasional. Karena didikan yang sangat baik aku sering sekali mendapatkan kemenangan dan keluar menjadi juara pertama dalam sebuah kejuaraan.

Itulah kisah yang tidak biasa yang datang dari masa kecilku, yang tidak semua anak ataupun orang merasakan apa yang aku rasakan. 

Awalnya didikan yang diberikan oleh orang tuaku kurasakan sangat menyakitkan dan sangat tidak berkemanusiaan, tetapi di sisi lain aku sangat berterimakasih dengan ayah karena sudah mendidiku menjadi orang yang sangat kuat.

Di usiaku yang sudah 23 tahun ini, aku sudah menjuarai kejuaraan MMA tingkat nasional, dan internasional. 

Terakhir lawan yang bertarung denganku adalah petarung asal Amerika yang bernama Robert. Tubuhnya kekar besar, dan bahkan lebih tinggi dariku 20 cm. Aku nyaris putus asa mengalahkannya karena berulang kali aku memukulnya tidak berarti apa-apa.

Tetapi berkat dukungan dari sahabat, orang tua, dan juga kekasih, aku mempunyai semangat bertarung tinggi hingga aku sanggup mengalahkan si besar tinggi Robert dari Amerika. 

Dukungan sahabat memang menjadi dorongan penyemangat tersendiri bagiku terutama ketika di arena pertandingan. Tanpa mereka aku tidak tahu, apakah aku masih menang atau justru malah kalah.

Di usiaku yang sudah dewasa ini aku juga masih menjalankan apa yang ayahku ajarkan dahulu ketika aku masih kecil. 

Yaitu tentang tanggung jawab, dan tidak boleh untuk menyerah. Itulah yang selalu aku ingat, hingga akhirnya tanggung jawab untuk memberikan kemenangan kepada sahabatku dan pendukungku selalu timbul ketika aku di arena pertandingan.

Dan tanggung jawab itu hanya bisa ditopang dengan semangat pantang menyerah. Itulah pelajaran yang sangat berharga yang ayah ajarkan kepadaku yang sampai saat ini pun masih aku jalankan dengan baik hingga kemenangan demi kemenangan aku raih, sehingga tanggung jawabku memberikan kemenangan kepada para pendukungku bisa aku laksanakan dengan baik.

Minggu depan aku hendak bertarung kembali dalam kejuaraan MMA internasional. Kali ini lawanku bukanlah lawan yang mempunyai tubuh tinggi besar, dan tidak mempan dengan pukulan, melainkan lawan yang akan kuhadapi adalah si gesit dari China. 

Ukuran dan berat tubuhnya sama denganku, namun dalam pertandingan bela diri yang pernah dia ikuti dia belum pernah kalah. 

Akupun sedikit hati-hati dengannya, terlebih dia juga sama denganku yang sedari kecil sudah didik keras, hanya saja aliran beladirinya yang berbeda, dia kungfu, sedangkan aku karate.

Aku hanya bisa berharap dukungan sahabatku masih ada, karena lawan yang akan ku hadapi bagiku adalah lawan yang sangat berat. Tanpa dukungan sahabat aku kurang yakin bila harus mengalahkannya. (Arif purwanto)