Wednesday, May 31, 2017

Contoh Cerpen tentang Wirausaha Sukses

Contoh cerpen tentang wirausaha yang sukses berikut ini merupakan karya motivasi yang akan membakar semangat pembaca dalam berkarya dan meraih kesuksesan. Karya ini sederhana sekali baik dari segi bahasa maupun dari segi alur ceritanya. Meski begitu kisah seperti ini masih jarang dibagikan.

cerpen tentang wirausaha

Dengan tambahan satu tema cerpen ini lagi maka tema-tema cerpen yang ada akan semakin beragam dan banyak pilihan. Dengan begitu, rekan pembaca bisa lebih leluasa mencari bahan bacaan yang dikehendaki dan dibutuhkan. Supaya tidak penasaran, kita langsung ke cerita selengkapnya di bawah ini.

Wirausaha Seorang Yatim Piatu
Cerpen tentang Wirausaha

“Jangan pernah menjadikan kekurangan atau kelemahan kamu sebagai alasan untuk tidak berkarya.” Karim tidak pernah melupakan perkataan kakek-nya waktu masih hidup. Sejak kecil Karim memang sudah ditinggal orang tuanya.

Ayah Karim meninggal karena penyakit jantung. Sedangkan sang ibu, tidak usah dibahas panjang lebar, kakek nenek Karim sendiri pun tidak tahu dimana putrinya itu berada. Di usia yang masih belia, Karim menyandang predikat anak yatim.

Pada usia anak-anak, ia melengkapi predikat itu menjadi “yatim piatu”. Kini, di usia-nya yang masih muda, kurang dari 20 tahun, ia harus hidup sendiri, sebatang kara tanpa siapa-siapa lagi.

Menempati rumah semi permanen peninggalan kakeknya, Karim kini berusaha mengubah nasib. Meski sebatang kara, Karim masih beruntung karena tidak perlu memikirkan dan menanggung hidup orang lain selain dirinya sendiri.

Kalau dari hak milik warisan, Karim sebenarnya cukup berada. Rumah yang ia tinggali saja tanahnya cukup luas. Belum lagi sang kakek juga mewarisi Karim dengan satu hektar tanah perladangan yang tak jauh dari rumahnya. Meski begitu, Karim tidak sekolah. Ia tidak memiliki kemampuan apapun selain bertani. Ia menggantungkan hidupnya dari bertani dan beternak seadanya.

***

Udara dingin menusuk tulang. Jam 4 pagi, Karim beranjak dari ranjang bambu, menuju ke sumur. Kedua tangannya ia basuh dengan gayung dan menuju pancuran untuk membersihkan muka. Berbekal senter ia segera masuk lagi ke dalam rumah dan menuju ke dapur.

Kepalanya menoleh ke tempat tumpukan kayu bakar. Tangannya kemudian dengan terampil mengambil beberapa kayu kering dan dimasukkan ke dalam tungku. Ia mulai menghidupkan api dan memasak air.

Sembari menunggu air mendidih, Karim beranjak ke sisi lain dapur. Di kupasnya beberapa potong ubi kayu yang kemarin sore ia bawa dari kebun. Selesai itu, Karim segera menyiapkan segelas kopi. Mulutnya mulai meniup pelan kopi panas tersebut, menyeruputnya beberapa seruputan kemudian melanjutkan aktivitas paginya memasak.

Di sela memasak, ia segera menunaikan sholat ketika azan subuh berkumandang di Masjid. Sarapan. Karim mulai menyiapkan peralatan untuk ke kebun. Rutinitas pagi Karim begitu padat. Sebelum ke lading, keringatnya sudah banyak menetes.

Setengah enam pagi, hari Rabu itu Karim sudah bergegas ke ladang. Ia tidak sendiri, di perjalanan juga banyak para petani yang sudah mulai menuju kantor mereka masing-masing.

“Santai saja Rim, ladang kamu enggak bakal ke mana-mana….”
“Iya nih Jo, lagi semangat!”
“Ya, memang harus begitu… Eh, besok kamu jadi ikutan acara di balai desa tidak?”
“Acara apa sih Jo, paling – paling tarikan uang…”
“Wah… kamu ini, gimana mau maju kalau kurang informasi gitu. Besok kan ada penyuluh pertanian dari kecamatan… mau ada penyuluhan untuk warga kampong kita…”
“Penyuluhan apa Jo, penting banget sepertinya?”
“Ya aku juga enggak tahu. Tapi kata pak bayan semua harus hadir…”
“Ya sudah besok samperin aku ya…takut lupa…”
“Iya, tenang aja…”
“Ya sudah… mampir dulu sini Jo…”
“Ah… ogah, kerjaan aku aja masih banyak…”

Sesampainya di kebun Karim, Paijo segera melanjutkan perjalanan menuju kebun-nya yang terletak tak jauh dari kebun Karim. Paijo dan Karim memang sahabat sejak kecil. Nasib Paijo lebih beruntung, ia pernah merasakan sekolah walau tidak tamat. Ia juga tergolong pemuda yang cukup pandai bertani. Di tangannya, sawah dan ladang orang tuanya selalu panen dengan bagus.

Keesokan harinya, Karim juga menjalani rutinitas yang sama. Setelah sibuk menyiapkan makanan di pagi buta ia segera mengangkat cangkul dan bekalnya untuk menuju ke kebun. Tak ada yang berbeda. Seperti biasa Karim merawat tanamannya dengan penuh cinta kasih dan kesabaran. Sampai ketika sedang asyik membersihkan rumput, tiba-tiba ia mendengarkan suara teriakan memanggil namanya…

“Rim… Karim…!”
“Oi….”
“Pulang…. Jadi ikut ke kelurahan enggak?”
“Oh… iya…tunggu…”

Karim baru ingat bahwa hari itu ia sudah berjanji pada Paijo untuk ikut ke kelurahan. Ia segera beranjak mengambil bekal minum yang dibawa dan menuju ke rumah.

“Kamu ini… sudah dibilang mau penyuluhan masih saja ke kebun…”

“Aku lupa Jo… lagian lumayan Jo dapat sedikit…”

“Ya sudah, kamu mau mandi dulu enggak…”
“Enggak usah, aku cuci kaki dan tangan aja, takut kamu nunggu kelamaan…”

Karim dan Paijo akhirnya menuju ke kantor kelurahan. Sesampainya disana, masih sedikit orang yang berkumpul. Ia kemudian berbincang-bincang dengan warga lain.

“Kira-kira mau ada apaya?”
“Ah, paling-paling seperti dulu… penyuluhan suruh nanam serai katanya harganya bagus ya dibiarkan begitu saja…”
“Iya… paling juga cuma sekali dua kali saja…”
“Saya dengar enggak pak, katanya kali ini programnya lain. Kita akan didampingi sampai sukses”
“Mimpi kali Jo… siapa yang mau mendampingi petani bodoh seperti di kampung kita?”
“Yo jangan begitu pak, siapa tahu saja nasib kita bisa berubah…”
“Amin…”

Satu jam masyarakat berkumpul. Akhirnya bapak-bapak penyuluh dari kecamatan hadir. Mereka kemudian memaparkan program penyuluhan dan apa-apa yang akan dikerjakan di desa itu. Ternyata, di desa itu akan diadakan penyuluhan sampai tuntas. Masyarakat tani di sana akan diberdayakan untuk menenam beberapa produk yang nantinya akan dipandu sampai ke pemasaran.

Setidaknya ada dua rekomendasi dari penyuluh untuk desa itu yaitu berkebun sayur dan bertani buah. Setelah diberikan penjelasan dan arahan, seluruh petani diminta untuk membuat kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 orang yang lahannya berdekatan. Setelah itu mereka diminta untuk memilih dari dua jenis tanaman yang akan dikembangkan. “Lusa, kami akan datang ke lahan bapak-bapak semua dan mengecek langsung apakah lahan itu cocok untuk tanaman yang akan dikembangkan”

***

Pertemuan di balai desa itu memberikan harapan tersendiri bagi Karim dan Paijo. Setelah selesai dari kelurahan Paijo tak langsung pulang melainkan duduk mengobrol di rumah Karim.

“Gimana nih Rim, menurut kamu tanah kita lebih cocok untuk apa?”
“Dua-duanya cocok kayaknya, kata almarhum kakek juga begitu…?”
“Iya benar. Terus kita mau nanam apa?”
“Nanti malam kita kumpul aja di tempat Pakde Parto. Kita ajak yang lain ke sana untuk membahas ini…”
“Oh, iya benar. Kalau begitu kita ke kebun abis zuhur nanti dan langsung kasih kabar ke yang lain.”

Dengan semangat Paijo dan Karim siap merubah hidup mereka menjadi petani sukses. Malam itu, setelah berdebat panjang akhirnya, atas inisiatif Paijo mereka memutuskan untuk menanam sayuran. Alasannya kebun dan ladang mereka cukup dekat dengan rumah sehingga lebih mudah.

Waktu berlalu. Paijo dan Karim serta anggota kelompok lain terus berusaha dan menerapkan setiap ilmu yang didapat dari penyuluh pertanian. Mereka pun tak segan-segan untuk berbagi modal agar semua anggota kelompok bisa menanam sayuran sesuai saran dari petugas PPL.

Karim dengan segala keterbatasannya pun harus sana sini mencari pinjaman modal. Ia pun terpaksa menjual kambing dan ayam miliknya. Ia pun bahkan sempat putus asa dan hamper menyerah.

“Susah juga ya Jo. Tak kira didampingi PPL akan lebih mudah, ternyata modalnya sama saja… modal dengkul”
“Ya iya lah Rim… sukses kan enggak gampang. Lagian kamu harusnya bersyukur masih punya dengkul untuk modal… coba kalau enggak punya…”
“Bisa aja kamu Jo…”

Paijo, Karim dan banyak anggota kelompok lain terus berjuang. Banyak juga anggota lain yang akhirnya menyerah dan kembali bertani seperti biasanya dulu. Beberapa musim tanam berlalu, di kelompok Karim tersisa tiga orang anggota yang masih bertahan.

Akhirnya petugas PPL pun terpaksa melepas mereka. Karim, Paijo dan Mamat dipersilahkan untuk datang ke rumah Pak Madi untuk berdialog tentang masalah apapun yang dihadapi. Tiga pemuda itu tak mau selesai di tengah jalan. Mereka bertekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

Tahun kedua hampir habis, yang mereka dapat hanya ilmu, tak ada untung. Namun mereka masih konsisten menanam sayuran. Hingga akhirnya, pelan tapi pasti panen mereka mulai menunjukkan hasil yang lumayan. Masing-masing dari mereka mulai peka dengan setiap jenis sayuran yang ditanam.

Roda berputar, rugi berbalik untung. Tiga pemuda itu mulai merasakan hasil kerja keras dan ketekunan mereka. Keyakinan mereka membawa sebuah peluang yang cukup besar menuju kesuksesan sebagai petani sayur.

---oOo---

Tuesday, May 30, 2017

Cerita Cerpen tentang Wartawan Indonesia Inggris

Cerpen tentang wartawan berikut ini panjangnya sekitar 770 kata, sekitar 2 lembar kertas kurang. Cerpen ini cocok untuk bahan bacaan santai saat senggang, misalnya di sore hari sambil belajar di teras rumah. Ya namanya juga pelajar kegiatan utamanya ya hanya belajar, apa lagi coba? Tapi yang ini mudah-mudahan tidak menyesal karena cerita yang diangkat cukup unik.

cerpen tentang wartawan

Pasti sebelumnya masih sangat sedikit karya fiksi seperti cerpen yang membahas mengenai kehidupan seorang wartawan. Kebetulan, tema yang diangkat pada karya sederhana berikut ini mengenai perjalanan kesuksesan seseorang yang pekerjaannya sebagai wartawan.

Mungkin jauh dari sempurna dan mungkin juga tak layak untuk dikatakan sebagai karya cerpen. Namun begitu karangan berikut ini dapat dijadikan bahan acuan untuk belajar membuat karangan. Rencananya, karya ini akan dimuat dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia. Tapi, pertama-tama mari kita nikmati dulu versi aslinya berikut!

Angan Jurnalisme Julian
Cerpen tentang Wartawan

“Pa… besok kalau sudah besar aku boleh jadi wartawan ya?” “Ha… wartawan. Apa enggak ada yang lain?” “Enggak, aku ingin jadi wartawan pokoknya…!” “Ya, yang penting pintar dan jujur” Percakapan itu pernah terjadi beberapa puluh tahun lalu. Ketika Julian masih kecil dan belum menjadi orang.

Ya, begitulah sekarang orang menyebut Julian. “Bangga ya Pak, Julian sekarang sudah jadi orang”. Kalimat tersebut sudah sangat sering terdengar di telinga kedua orang tua Julian. Istilah “jadi orang” digunakan oleh orang dari desa untuk menunjukkan bahwa seseorang sudah sukses dan mapan.

Julian kecil memang bisa dikatakan anak yang cukup beruntung. Lahir di keluarga yang berprofesi sebagai guru, Julian kecil mendobrak tatanan kebiasaan dan angan orang tua. Alih-alih menuruti keinginan orang tuanya yang ingin ia menjadi PNS, Julian justru memilih jalan terjal berliku.

“Mau jadi apa kamu nanti…!”
“Mau jadi orang sukses. Bapak bisa lihat sendiri nanti…!”
“Profesi wartawan itu sangat melelahkan Julian. Belum lagi resiko hidup di jalan setiap hari. Gaji-nya juga tidak seberapa”
“Itu kan kata bapak…”

Pernah terjadi perdebatan sengit antara bapak dan anak mengenai profesi yang akan digeluti oleh Julian. Julian muda bersikeras ingin bebas dan melakukan sesuatu yang ia sukai dan nikmati. Seperti pemuda yang belum berpengalaman lainnya, ia tidak memikirkan betapa keras jalan yang harus ditempuh.

Benar saja. Setengah tahun pertama menjalani pekerjaannya, Julian sudah pontang panting untuk mencukupi modal yang ia gunakan untuk mencari berita. Maklum, wartawan amatir, belum mahir dan belum tahu seluk beluk dunia jusnalisme.

Julian muda terus menempa kerasnya batu kehidupan. Bahkan ia sempat berpindah beberapa kali dari perusahaan surat kabar yang dinaunginya. Sampai suatu ketika, Julian mendapatkan ujian pertamanya yang menguji konsistensi dan idealism-nya.

Ia mulai beberapa kali menerima imbalan jasa atas berita-berita yang dimuat. Sampai akhirnya ia mendapatkan berita yang sangat penting dan pasti akan menghebohkan publik. Saat itulah ia mengetahui bahwa wartawan bisa juga menghadapi ujian suap dari orang yang tidak ingin kasus-nya terbongkar dan karir-nya rusak.

“Saya akan berikan berapapun yang kamu minta…” Kalimat itu menggantung di angan Julian, sampai tak sadar sang ayah dari tadi mendengarkan percakapannya di telepon. Sebelum Julian terjerembab dalam lembah yang tak mungkin ia hindari, sang ayah segera bertindak.

Kali ini sang ayah bertindak dengan cara berbeda. Ia melakukan pendekatan khusus untuk menyampaikan pesan sesegera mungkin kepada anaknya bahwa tidak benar apa yang sudah ditawarkan orang itu kepada dirinya.

“Jadi wartawan itu harus benar dan harus jujur nak. Karena berita kamu itu menjadi rujukan banyak orang. Masih ingat pesan bapak dulu ketika kamu masih kecil?”

Lain dari biasanya, kali ini Julian tertunduk. “Kalau kau ingin jadi orang, berpegang teguhlah pada kebenaran. Jangan lupa ada Tuhan yang memperhatikan semua hal. Bapak yakin, kelak kamu akan jadi orang yang sukses. Bukan sekedar jadi kuli berita seperti itu”

Darah muda Julian mendidih. Semangatnya untuk berkarya begitu membara. Ia tak lagi memikirkan keuntungan atau pun uang semata. Ia memandang jauh ke depan. Ia melihat jelas bagaimana ia ingin menggapai masa depan hidupnya.

Pelan tapi pasti, Julian tumbuh menjadi pemuda yang memiliki prinsip dan integritas. Namanya mulai sering disebut-sebut sebagai salah satu wartawan yang cukup disegani. Lima tahun ia menjalani profesinya menjadi wartawan sampai akhirnya suatu hari ia mendapatkan tawaran yang lebih menggiurkan.

Di salah satu surat kabar nasional, Julian mulai mendirikan pondasi karir yang kokoh. Pelan, ia terus merangkak dari satu jabatan ke jabatan lain yang lebih tinggi. Sampai akhirnya di usia-nya yang menginjak 40 tahun, Julian dewasa telah memiliki nama yang cukup dikenal banyak kalangan.

Di usia tersebut, Julian mulai mendapatkan banyak tawaran posisi dan pekerjaan yang lebih tinggi. Tapi jiwanya adalah jiwa seorang jurnalis. Ia tidak bisa meninggalkan dunia itu hingga akhirnya ia menetapkan pilihan pada sebuah surat kabar lokal yang meminangnya.

Ia meninggalkan gaji yang lebih besar dengan posisi yang lebih tinggi namun penghasilan yang lebih kecil. Oleh seorang politikus terkemuka, ia diberi kepercayaan untuk merintis dan mengembangkan sebuah media berita yang masih bau kencur.

Ditangannya, nasib media itu dipertaruhkan. Banyak karyawan yang bertantung pada Julian untuk mengembangkan perusahaan tersebut.

Waktu terus bergulir. Cobaan demi cobaan Julian hadapi dengan gagah berani. Godaan tak pernah melunturkan prinsip-nya dalam menjalankan tugas dan wewenang. Darah dan jiwa wartawan yang berintegritas terus menjadi tameng dalam hidupnya.

Ia tak pernah mengambil jalan pintas. Ia terus, jalan lurus meski harus mendaki dan terjal. Bahkan sering kali ia mengabaikan kehidupan pribadinya, mendahulukan kepentingan perusahaan yang menghidupi banyak sekali karyawan.

Satu per satu anak cabang surat kabar itu muncul ke permukaan. Namanya mulai sering disebut di banyak kalangan pejabat tinggi Negara. Apalagi setelah ia sukses membawa media Koran lokal itu menjadi salah satu media terbesar nasional yang memiliki jaringan sangat luas. Hingga akhirnya, Julian dewasa jadi orang.

---oOo---

Maaf sebelumnya, sedikit tidak sesuai dengan judul karena saat ini cerita di atas belum bisa dilengkapi langsung dalam dua versi. Sebagai gantinya, bagi anda yang membutuhkan versi bahasa Inggris bisa menggunakan terjemahan google saja.

Hasilnya sama saja, sekalian bisa digunakan sebagai bahan untuk belajar menerjemahkan teks bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Lain waktu, nanti bisa disediakan juga tautan untuk download cerita versi keduanya. Jadi nanti bila ada yang membutuhkan terjemahannya bisa langsung download ceritanya dengan satu klik.

Harap maklum. Banyak sekali kendala yang harus dihadapi oleh pengelola situs. Keterbatasan waktu dan sumber daya masih menjadi poin yang terus diupayakan solusinya. Meski begitu, apapun yang kami sajikan di situs ini semoga saja bisa menjadi tambahan referensi dan informasi serta bahan belajar bagi rekan pengunjung semua. Itu saja, salam hangat dari kami.

Monday, May 29, 2017

Cerita 3 Idiot Salman Salmin Salmun

Cerita 3 idiot tentang Salman, Salmin dan Salmun ini merupakan cerita humor candaan yang super lucu dan gokil, pasti bikin ngakak kalau membaca kisah tentang mereka bertiga. Tapi yang namanya bahan bacaan tentu berbeda dengan jika kita melihat langsung bagaimana kejadiannya. Karena kadang menceritakannya tidak bisa sedetial mungkin.

cerpen lucu 3 idiot

Meski begitu, cerita berikut ini layak juga sih untuk bahan hiburan kalau sedang santai. Apalagi jika rekan semua adalah penikmat atau hobi membaca kisah-kisah seru yang unik, menarik dan lucu. Cerita ini tentu akan menjadi pelengkap kisah-kisah yang sudah ada. Seperti apa, langsung saja disimak ya.

Salman, Salmin dan Salmun
Cerita 3 Idiot

Ini adalah cerita tentang 3 orang sahabat. Sebut saja namanya Salman Salmin Salmun. Mereka bertiga ini seperti tiga serangkai. Tak terpisahkan. Dimana ada Salman, pasti ada Salmin dan Salmun. Dimana ada Salmun, pasti ada Salman dan Salmin. Begitu seterusnya, mereka saling melilit erat satu sama lain.

Untungnya, aku tak ikut dalam lilitan benang kusut mereka bertiga, kecuali kepepet. Aku kenal mereka. Cukup dekat tapi tak segila mereka. Polos, lugu, apa adanya dan sedikit pintar, banyak bego-nya. Kalau melihat tingkah mereka bertiga aku pasti selalu menahan tawa.

Pernah, suatu ketika motor yang mereka naiki bocor. Entah dari mana. Mereka mendorong motor itu bertiga hampir 1 kilo, katanya. Mereka berhenti di rumahku. Meminta peralatan tambal dan berbagai kunci motor.

“Aneh kalian itu. Motor bocor bukannya di tembal malah di dorong sampai ke sini…”
“Iya, abisnya…”
“Apa yang abis Min… emang dompet kamu gak pernah ada isinya!”
“Bukan itu maksudku Man… lagian kamu juga sih…”
“Ah kalian ini bego emang. Sudah basah kuyup mandi keringat gini mau rebut-ribut lagi.. sudah ditambal aja gih…”

Layaknya tukang tambal profesional, mereka bertiga beraksi. Salman segera memasang standar tengah. Ia segera menyiapkan alat tambal. “Min… kamu buka tu ban…”, perintah Salman pada Salmin. “Aku ngapain Man?”, tanya Salmun merasa tak berguna. “Kamu pijitin punggungku aja Mun, biar cepat…”, jawab Salman. “Oke…”, jawab Salmun.

Geli aku melihat adegan mereka bertiga. Pada bego-bego semua. Salmun ya nurut aja disuruh mijat punggung si Salman. Sudah kayak tukang pijat di emperan jalan aja. Setelah sibuk dengan motornya, mereka bertiga sudah tak menghiraukan aku lagi yang duduk di depan pintu rumah. Bahkan mereka seperti sedang di rumah sendiri. Mondar mandir, keluar masuk rumah tanpa permisi lagi.

Sepuluh menit berlalu. Salman sudah selesai menyiapkan tambalan. “Min, mana ban-nya yang bocor, buruan bawa sini…”, ucap Salman. “Buruan Min, lama amat sih, Salman sudah menunggu nih…”, timpal Salmun.

“Sabar, ni dikit lagi…”, jawab Salmin. “Uh, begitu aja lama amat. Sini aku bantu…”, Salmun langsung menghampiri Salim yang kesusahan melepas ban dalam sepeda motor.
“Apanya sih yang susah Min…”
“Enggak ada, cuma ini… gimana bawanya. Masih nyangkut…  Oh, dilepas aja semua ban-nya ya…”
“Alah… ngapain repot-repot sih Min… ini ada gunting…”
“Ha… gunting… oh iya…”

Tangan kiri Salmin kemudian memegang ban dalam motor. Tangan kanan-nya siap dengan gunting. “Eh… Min… mau dia…”, belum selesai aku berkata, Salim sudah selesai dengan niatnya. Ia memotong ban dalam motor tersebut lalu menarik keluar bannya.

Gunting segera diletakkan. Potongan ban di tangan kirinya dipegang ujungnya. Tangan kanannya memasukkan potongan ban lainnya. Ia kemudian bangkit dan meletakkan ban tersebut di dekat Salman. “Nih, sudah siap di tambal…”, ucap Salmin.

“Mun, ambil pompa itu Mun… ban-nya di pompa dulu biar ketahuan mana yang bocor…”, perintah Salman. “Oke…”, jawab Salmun sigap. Mereka bertiga seolah benar-benar tidak sadar dan tidak tahu yang sedang dilakukan. Entah bego, telmi atau apa, aku sampai tak bisa menahan tawa melihat mereka bertiga…

“Apaan sih Mad kamu ini, bukannya bantu malah ketawa-ketiwi aja…”
“Enggak… enggak… lanjutin aja deh… aku ke dalam dulu…”

Aku pura-pura masuk ke dalam rumah. Aku kemudian duduk di belakang pintu sambil terus mengamati adegan konyol dan bodoh tiga sahabat ku itu. Salmun dengan gagah perkaya mempompa ban yang sudah terpotong tersebut.

“Man… Man…”
“Apaan sih Mun…”
“Perasaan kok… sudah dipompa dari tadi kok…”
“Eh… iya…”
“Lah… iya, kenapa ya, jangan –jangan ada yang sobek lagi ban motornya?”

Salim kemudian memeriksa ban motor tersebut. Sampailah tangannya pada potongan ban yang berkerut-kerut.

“Min… apaan ini, la kok…”
“Ya itu tadi… di potong. Kan susah enggak bisa di bawa ke sini ban-nya kalau enggak dilepas semua…”
“Aduh Min… tapi kenapa di potong sih Min…”
“Lah… memang kenapa, kan mau ditambal…”
“Ya iya Min… tapi kalau begini ya gimana?”
“Ah kamu ini Man, bego amat sih. Tinggal itu ditambal dulu. Habis itu dipompa dan dicari yang bocor…”
“Oh, iya benar juga ya…”

Geli aku melihat kepolosan mereka. Masa ban motor bisa dipotong jadi dua. Aneh-aneh deh pokoknya. Akhirnya, sampai jam 5 sore mereka menyambung ban tersebut. Selesai disambung mereka kemudian memompa ban tersebut. Tetap tidak bisa masuk.

“Mad, ban ini di pompa dari tadi kok tetap enggak bisa ya Mad?”
“Ah, terang aja enggak bisa Min… la wong ban sudah rusak begini, bocor dimana-mana…”
“La terus gimana?”
“Lem biru…!”
“Ya udah… kenapa enggak ngomong dari tadi si Mad. Bawa sini lem-nya…”
“Bukan lem bego… lempar beli yang baru. Ban ini sudah tidak bisa ditambal lagi bodo”

Dengan ekspresi kecewa, Salman kemudian menoyor kepala Salmin diikuti dengan Salmun. Mereka kemudian duduk lesehan di emperan rumah dengan muka seperti anak ilang. Salman, Salmin, Salmun, tiga bocah idiot itu memang kompak kalau masalah kebodohan.

***

Salman, Salmin dan Salmun, tiga sahabat yang selalu membuat perutku mau pecah. Aku masih ingat, dulu ketika aku dan mereka masih sering main di sungai pernah ada satu kejadian sederhana yang super jorok.

Waktu itu, kami berempat memancing di sebuah sungai di dekat sawah di kampung kami. Sesampainya di sungai, aku segera mencari tempat yang paling bagus. Aku melihat batu besar di atasnya ada spot mancing yang keren. Aku segera melangkah ke sana.

Di belakangku, Salim mengikuti dengan membawa joran pancing yang panjang. Ia segera melompat ke batu kecil di sebelah batu yang cukup besar. Ia segera meletakkan pakan dan kail di batu besar itu. Bukannya memasang umpam, Salmin terlihat mau melepas celana.

“Min… ngapain kamu…?”
“Mo boker…”

Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan Salmin. Aku kemudian melihat ke arah bawah. Di bagian bawah, Salman terlihat sudah telanjang dada. “Man… ngapain?”, tanyaku penasaran. “Mandi dulu… kayaknya airnya segar…” jawab Salman.

Buset dah, mancing kalau sama mereka memang tidak beres jadinya. Belum hilang rasa kesalku dengan mereka berdua terdengar Salmun melemparkan kain ke sungai tepat di bawah tempat Salman mandi.

“Woi, gila semua loe ya… di atas Salmun boker, di tengah Salman malah mandi, eh kamu Min malah mancing tepat di bawahnya… bego semua kalian ini…!”
“Ya biarin aja sih Mad… Salmun boker kok kamu yang sewot…!”
“Bukan sewot bego… tu tai Salmun ke kamu Man… Kamu juga Min, mana ada ikan di bawah situ orang di atasnya udah diobok-obok sama Salman…”

Mendengar aku teriak-teriak, kepala Salmun menyembul dari balik batu besar. “Ngapain sih kamu orang sibut-ribut. Ganggu orang be’ol aja…!”, ucap Salmun dengan polos.

Bisa gila sendiri aku kalau sama mereka terus. Aku akhirnya meninggalkan mereka mencari spot yang lebih jauh. Ketika aku melangkah pergi, Salman tetap asyik mandi sementara Salmun melanjutkan jongkok di balik batu besar. “Sebentar lagi Salmin pasti dapat ikan besar tuh, warnanya kuning…”, pikirku kesal sambil meninggalkan mereka.

---oOo---

Sunday, May 28, 2017

Contoh Cerita Cinta Mengharukan Bikin Nangis

Contoh cerita cinta mengharukan bikin nangis, kira-kira seperti apa ya? Kalau sesuai tema, tentu saja kisah yang disuguhkan akan mampu membuat air mata kita mengalir. Dari tema yang dijudul di atas jelas sekali ada kepedihan dan kesedihan yang mendalam dalam kisah cerpen berikut.

cerita cinta yang mengharukan

Judulnya “kebahagiaanmu lebih berarti”. Nuansa dari judul cerpen itu sepertinya menyiratkan sebuah pengorbanan yang begitu besar. Ada suatu pertentangan yang begitu besar antara dua sisi kehidupan atau mungkin kebutuhan dan cinta. Penasaran, kalau hanya membaca judulnya tidak akan cukup.

Kehabagiaanmu Lebih Berarti
Cerita Cinta Mengharukan

“Ya Alloh… kenapa ini terjadi…” Sari duduk di sisi ranjang dengan meremas jari-jemari tangan. Gelisah. Air bening mengalir di pipi. Batinnya menjerit pilu. Kedua bibirnya terkatup kuat. Bola matanya merah, perih.

Malam semakin larut. Mata Sari masih terbuka lebar. Siksa batin tak bisa melelapkan matanya. Dilema yang ia alami begitu kuat. Angin malam menyelinap dari sela jendela. Membelai rambutnya yang hitam. Tak berarti.

Jangkrik malam bernyanyi. Burung hantu mendendangkan lagu asmara. Cicit hewan malam mencoba mengalihkan perhatian Sari. Tak mampu. Sari terkubur dalam diam. Kebimbangan dan kegelisahan menggerogoti hati. Rasa cinta menusuk-nusuk jiwa. Hampir semalaman, Sari tak sedetikpun terpejam.

Fajar mulai menjelang. Suara kokok ayam menembus dinding rumah yang tinggi. Mengusik kesadaran Sari yang diselimuti letih tak tidur semalaman.

“Bu… Ibu… sudah siang… ibu enggak ngantor?” “Hem…” “Tumben Ibu jam segini kok belum bangun… Apa ibu sedang libur ya?” Wulan bergegas ke dapur. Ia segera menyiapkan sarapan. Menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah.

“Hem… kamu sudah masak nak…”
“Iya bu… sarapan sudah siap. Sudah beres semua. Ibu baru bangun, enggak ngantor tah bu. Ibu enggak enak badan ya?”
“Iya… ibu sedikit gak enak badan nak…”
“Lo… ibu kenapa, mata ibu bengkak. Merah… ibu habis nangis… ada apa bu…”
“Enggak nak, ibu ngantuk aja tadi malam susah tidur…”
“Ya sudah, ibu sarapan dulu aja. Habis itu istirahat. Apa perlu aku panggilkan dokter bu?”
“Enggak usah nak… ibu istirahat aja. Nanti juga enakan… kamu enggak ke kampus?”
“Nanti agak siang bu… Cuma ada satu mata kuliah…”

Sari segera membersihkan diri dan mengambil sarapan. Wulan meneruskan aktivitasnya. Jam 10, Wulan sudah santai di depan tv sambil membaca sebuah buku yang cukup tebal. Tak henti-hentinya ia membolak-balik lembaran buku berwarna biru tersebut.

Tak berapa lama ia meraih ponsel dan menuliskan pesan singkat. “Mas, sore nanti jalan-jalan yuk…”, ia segera mengirim pesan itu ke nomor Lerian.

Tak lama, segera ada balasan ke ponsel Wulan. Wulan tersenyum-senyum simpul membaca pesan singkat itu. Ia kemudian menutup buku di tangannya dan segera pergi ke kamar. Siap-siap berangkat kuliah.

“Bu… aku berangkat kuliah ya Bu… Ibu istirahat aja di rumah…”
“Iya nak…”

Setelah berpamitan dengan sang Ibu, Wulan menuju kampus menggunakan taxi. Ia keluar dengan hati berbunga-bunga. Hari itu ia akan jalan-jalan dengan pria yang ia cintai. Semakin hari, Wulan memang sudah semakin cinta pada Lerian. Padahal sebenarnya belum ada ikatan apapun diantara mereka. Bahkan Lerian pun tak pernah mengungkapkan perasaannya pada Wulan. Sebaliknya, Wulan menganggap itu hanya masalah waktu. Meski Lerian belum menyatakan cinta namun sikapnya yang hangat dan pengertian sudah pasti “sesuatu”.

Jam lima sore, sepulang Lerian dari kantor, ia segera menjemput Wulan di kampus dan membawanya jalan-jalan sore. Mereka tampak begitu serasi, bahagia. Wulan begitu sumringah. Bahagia, lupa segala hal lain.

***

Surya mulai tenggelam. Anak gadisnya belum juga pulang. Sari mulai gelisah, takut ada apa-apa dengan anak semata wayang peninggalan suaminya dahulu. Ia beranjak ke ruang tamu. Menatap tajam jam yang tergantung di dinding, “kemana ini anak, jam segini kok belum pulang…”

Ia segera meraih ponsel. “Wulan… kamu dimana nak, kok belum pulang…”, tanya Sari. “Iya bu… maaf lupa ngasih tahu, Wulan lagi nonton sama Lerian…”, jawab Wulan di seberang telepon.

Ada perasaan lega sekaligus teriris di hati Sari. Lega karena ia tahu benar bahwa Lerian adalah sosok lelaki yang bertanggungjawab dan tidak neko-neko. Sakit dan teriris manakala ia mengetahui putrinya sedang bersama pria yang ia cintai.

Sari melangkah ke depan. Menutup pintu yang sedari tadi terbuka. Ia kemudian ke ruang tengah dan menghidupkan televisi. Beberapa kali remote di pencet. Ia pun rebahan lemas di sofa.

***

“Sampai di sini aja mas…” Wulan meminta Lerian untuk menghentikan motornya. “Kenapa Wulan, kenapa enggak sampai rumah sekalian…?”, tanya Lerian. “Enggak usah mas, nanti mas Lerian kemalaman…”, jawab Wulan. “Kenapa sih, memang enggak pantas ya mas Lerian bertemu orang tua kamu…?”, tanya Lerian.

“Bukan enggak pantas mas, tapi belum saatnya, nanti aja…”
“Nanti, nanti kapan…?”
“Nanti… nanti kalau mas Lerian sudah menyatakan cinta sama Wulan…”

Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Wulan segera berlari kecil meninggalkan Lerian. Jantungnya berdetak begitu kencang. Ada perasaan takut dan juga bahagia menyelimuti hati Wulan. Ia pun bergegas menuju rumah. Baru menjejakkan kaki di pintu, ponsel Wulan berbunyi.

“Halo…”
“Udah nyampe rumah…?”
“Udah mas, kenapa?”
“Enggak… khawatir aja kamu jalan sendirian…”
“Enggak ada apa-apa kok mas, ini udah di dalam rumah…”
“Ya sudah kalau begitu ya…”
“Iya mas…”

Wulan segera masuk ke kamar, tidak menyadari keberadaan ibunya di ruang tengah yang sedang berbaring di sofa. Melihat anak perempuannya pulang dengan selamat, tak kurang satu apapun, Sari segera beranjak mengunci pintu depan. Sebelum menuju ke kamar, Sari sempat melihat putrinya sedang tersenyum – senyum sambil bernyanyi kecil di kamarnya. Ia pun membiarkan Wulan dan langsung masuk ke kamar.

***

Hari bergulir begitu saja. Tanpa terasa kedekatan Wulan dan Lerian semakin nyata. Sari semakin menyadari bahwa putrinya benar-benar menaruh hati pada sosok Lerian. Ia pun memberanikan diri mengambil keputusan paling pahit dalam hidupnya.

Pagi, seperti biasa ia berangkat ke kantor. Menjalankan rutinitas sehari-hari untuk bertahan hidup. Di sela-sela waktu, beberapa kali Lerian mencoba mencari celah untuk ngobrol berdua. Sari mencoba menghindar sebisa mungkin. Sampai sore, ketika jam kerja usai…

“Sar… tunggu…”
“Iya mas… ada apa?”
“Beberapa minggu ini kita sibuk sendiri-sendiri, gimana kalau makan malam di luar…?”
“Ah mas, aku sudah ditunggu di rumah…”
“Ah tidak apa-apa, sebentar saja… yuk…”

Lerian segera menggandeng tangan Sari. Tak berdaya. Merasakan pegangan tangan Lerian yang hangat, Sari menurut bak kerbau. Ia melangkah disamping Lerian. Menuju tempat makan biasa yang mereka datangi.

“Sar… kapan aku ke rumah. Aku sudah tidak sabar ingin mengenal Tri… kamu kan sudah janji…”
“Iya mas… maaf…”
“Loh, memang kenapa sih…?”
“Iya mas… aku ingin bicara serius sama kamu…”

“Kenapa sih Sar, kamu jangan bikin aku takut ya…”
“Mas… sepertinya hubungan kita hanya bisa sampai di sini. Aku tidak bisa mas…”
“Loh… kenapa… kenapa tiba-tiba kamu seperti itu sari. Ada apa sayang?”
“Tidak mas… aku tidak bisa… bukan karena ada orang lain, atau ada cinta lain selain kamu tapi aku punya kewajiban untuk mengurus putriku yang semata wayang… aku tidak bisa mas…”

Sambil berderai air mata, Sari berlari meninggalkan Lerian yang tak bisa berkata sepatah katapun. Ia terus berlari dan terus berlari hingga ditelan malam. “Maaf mas, sekali lagi maafkan aku…”

---oOo---

Saturday, May 27, 2017

Contoh Cerita tentang 7 Hari Mencintaiku

Cerita tentang 7 hari mencintaiku berikut ini dipersembahkan oleh seseorang yang hatinya sedang luka. Sedih mengingat seorang kekasih yang kini telah pergi jauh meninggalkan hidupnya. Mendengar cerita ini mungkin saja rekan pembaca akan menangis, meratapi kepiluan cinta yang terjadi.

7 hari mencintaiku

Bayangkan bagaimana perihnya jika seorang kekasih hanya memiliki waktu 7 hari saja untuk mencintai orang yang disayangi. Jika tahu, tentu dunia seisi-nya akan rela diberikan untuk sang kekasih. Tapi bagaimana jika tidak tahu?

Kalau dibaca dari judulnya, hal yang bisa dibayangkan pertama kali adalah penyakit mematikan yang merenggut nyawa seseorang. Tapi ini tidak. Ini bukan karena sebuah penyakit yang memisahkan dua orang kekasih. Ini adalah sebuah kejadian yang tak disangka dan tak diduga sebelumnya, sebuah kecelakaan tragis yang memilukan. Seperti apa, simak langsung!

Dia yang Hanya 7 Hari Mencintaiku
Cerita Cinta Mengharukan

Indah dunia tak seindah cerita cinta yang ku alami. Pertemuan yang tak terduga, cinta yang tumbuh begitu saja dan akhir yang menyayat hati. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang pria yang mampu meruntuhkan tembok keangkuhan cintaku.

Pertemuanku dengan pria itu terbilang cukup sederhana dan tidak begitu istimewa. Waktu itu, aku dan dua sahabatku Jini dan Tata sedang santai di sebuah café. Seperti layaknya gadis lain, kami seru-seruan di sana. Saat kami sedang asyik, tiba-tiba datang seorang pemuda sendirian.

Bukan niat, tapi mataku tak sengaja melihat sinar matanya yang liar, seperti ada bara api-nya gitu. Hal yang tidak biasa bagiku, ketika dia sudah mengambil tempat duduk aku beberapa kali berusaha mencuri pandang.

Ternyata, wajah pemuda itu cukup tampan. Apalagi postur tubuhnya juga ideal. Kalau dilihat dari wajahnya, dia seperti perawakan orang india gitu. “Uh, ganteng juga tuh cowok…” tak sadar aku bergumam sendiri.

Kedua temanku juga merasakan yang sama. Tapi aku cenderung lebih bisa menahan diri. Aku secepat mungkin mencoba menyembuyikan apa yang ada di otak kotorku… takut ketahuan. Tak di sangka, setelah beberapa kali menerima lambaian tangan dan kedipan mata dari kedua temanku, pria itu bangkit dari tempat duduknya.

Eh, tahu tidak, ternyata… bukan Jini atau Tata yang ia dekati pertama kali tapi aku. Tentu saja aku tersipu malu ketika dia menatap mataku dalam. “Hai… boleh gabung…”, ucap pria itu sambil menatap ke arahku. Aku hanya diam, menunduk. Jini dan Tata yang langsung merespon dan mempersilahkan dia bergabung.

Entahlah, kalau menceritakan dia, hatiku masih saja teriris sakit. Perih. Frustrasi rasanya kalau ingat bagaimana ia pergi begitu saja setelah merampas sebagian hidupku. Air mataku juga tak bisa berhenti mengalir kalau aku ingat detik-detik terakhir aku melepasnya.

Suparman. Ya, kamu pasti akan tertawa kalau mendengar namanya itu disebut. Tapi pasti kamu tidak akan percaya bagaimana penampilan fisiknya. Teman-temanku memanggilnya “man”, sama seperti ketika kamu mengucapkan nama pahlawan super dari amerika “superman” atau “ironman”. Btw, fisiknya memang cocok untuk menjadi manusia super.

Meski sedikit pendiam, Parman cukup usil ketika pertama kali bertemu denganku. Ia tak segan menjabat tanganku dengan erat dan juga meminta nomor kontak. Tutur katanya yang sopan dan bahasanya yang lemah lembut itu yang membuat aku tak bisa berkutik. Bahkan, dengan baik waktu itu ia sudi mengantar kami pulang satu persatu.

Awalnya biasa, tapi setelah tiga bulan ia mengatakan tak bisa lagi menolak dan mengabaikan perasaan. “Jatuh cinta pada pandangan pertama”, ia mengaku sempat mengingkari kata hatinya. Ia juga mengaku menyesal dan berkali-kali meminta maaf karena hatinya telah tak berdaya denganku.

“Ah, dia sungguh – sungguh pria yang tahu bagaimana membuat wanita tersenyum.” Awalnya aku hampir mati penasaran karena ia tidak mengatakan siapa gadis yang mengganggu hatinya. Sampai akhirnya, di malam minggu yang sedikit mendung, dengan memegang sekuntum mawar putih, ia menyatakan cinta padaku.

“Rin… aku tidak bisa berbohong lagi. Sejak aku kenal kamu, bayanganmu selalu menghantui malam-malamku. Aku selalu memimpikanmu, bahkan mulai merindukanmu. Maafkan aku Airin, aku cinta kamu… Maukah kamu menerima cintaku yang tak sempurna ini?”

Entah waktu itu mulutnya habis dipoles dengan apa, aku tak tahu. Yang jelas, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu indah, romantis. Aku tidak bisa berkata-kata selain mengangguk. Pelan.

Saat itu, aku adalah wanita paling bahagia. Saat berjalan beriringan di tepi jalan, ia langsung berada di sisi kanan melindungiku dari kendaraan. Menyiapkan kursi ketika aku akan duduk. Memberikan bunga yang indah. Aku benar-benar seperti seorang putri, bahkan nyamuk pun tak ada yang berani mengigitku saat ada dia.

Malangnya aku, malangnya Suparman. Kebahagiaan itu hanya sekejab. Ia hanya bisa 7 hari mencintaiku. Kecelakaan itu merebut kebahagiaan kami, kebahagiaanku. Semua impian dan cintaku terkubur bersama jasad kekasihku itu.

Tujuh hari sejak dia menyatakan cinta, adalah masa-masa paling indah dalam hidupku. Hari-hari setelahnya menjadi neraka dunia bagi kehidupanku.

Sore itu, kami berniat pulang setelah menghabiskan akhir pekan di puncak. Kondisi badan kami memang sedikit letih. Mungkin konsentrasi kami kurang, apalagi kami mengendarai motor. Aku tidak begitu ingat persis bagaimana awalnya. Kala itu kami sedang bercanda dan tertawa ketika tiba-tiba motor oleng dan menabrak.

Detik berikutnya ketika aku sadar, aku sudah di rumah sakit dengan kaki kanan yang tak bisa dirasakan. Kekasihku tidak bisa diselamatkan, sementara aku harus puas dan bersyukur dengan kaki kanan yang hancur.

Kini, sisa hidupku hanya berisi sesal dan tangis. Meski kondisiku sudah pulih, aku harus berjalan dengan satu kaki. Kekasihku Parman yang telah pergi pun tak kan bisa kembali lagi. Aku sendiri tak ingat sudah berapa drum air mata yang pernah ku tangiskan. Aku juga tak tahu berapa tisu yang ku habiskan.

“Rin… maaf kan aku ya sayang jika cintaku tak bisa sempurna…”, banyak kata-katanya yang selalu muncul di mimpiku. “Bahkan sampai nafas ini terhenti, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu sayang…”

Banyak kata manis dan mesra yang masih segar dalam ingatanku. Tapi kini semua kata itu tak lagi membuat aku bahagia. Sebaliknya. Kenangan manis bersama dia membuat luka ini semakin perih. Entah bagaimana aku akan melewatkan sisa hidupku yang seperti ini.

Menjadi gadis cacat tidak aku sesali, kehilangan kekasih dengan cara yang tragis seperti itu yang selalu aku tangisi. Bukan aku sendiri, keluargaku, saudaraku, semua tak henti mendukung dan memberikan semangat. Tapi jujur, separuh jiwaku telah mati bersama Suparman.

Jika mungkin, aku lebih rela menunggu seribu tahun agar bisa bersamanya yang dilahirkan kembali. Mungkinkah semua itu terjadi padaku? Mungkinkah Parman akan menjelma menjadi sosok yang memelukku kembali?

---oOo---

Friday, May 26, 2017

Contoh Cerpen tentang Waktu yang Hilang

Contoh cerpen tentang waktu yang hilang berikut ini sedianya akan ditulis dalam bahasa Inggris. Tetapi karena keterbatasan maka kita dahulukan dulu yang menggunakan bahasa Indonesia agar bisa langsung dinikmati oleh rekan semua. Bagus kok, tidak membosankan, kisahnya cukup memberikan inspirasi.

cerpen waktu

Dari kisah dalam cerpen ini kita bisa belajar dan mengetahui bahwa masa muda memang masa yang sangat penting. Apalagi kita tahu bahwa waktu tidak bisa diputar ulang. Semua yang terlewat tidak bisa diulangi lagi. Kesempatan yang terbuang tidak akan bisa diraih lagi. Itulah sebabnya sejak kecil kita sudah harus belajar segala hal untuk masa depan.

Waktu yang Berlalu
Cerpen tentang Waktu

Yuli duduk terpaku seorang diri. Matanya sendu, menatap jalan yang ada tepat di depan rumahnya. Beberapa mobil fuso berderet menghalangi tatapannya yang tembus pandang. Ia hanya bisa merenung, mengingat segala peringatan, nasehat dan saran yang pernah sampai di telinganya.

“Nanti kamu menyesal Yul. Kamu harus sekolah. Setidaknya sampai SMA”
“Malas… untuk apa sekolah. Kakak aja sekolah jadi buruh. Buang-buang uang saja!”
“Kamu tidak boleh begitu Nak. Sekolah itu untuk masa depan kamu sendiri. Bukan untuk apa-apa, supaya kamu pintar”
“Pintar juga paling-paling jadi koruptor”

Kala itu, Yuli kecil menolak dengan keras anjuran ibu dan kakak-kakaknya untuk sekolah. Untung saja, setelah berdebat dan dirayu oleh sang ibu, Yuli akhirnya mau bersekolah SMA.

Tapi bagaimanapun sesal merasuki pikirannya setiap waktu. Bukan karena tak sekolah tapi karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Ibunya yang janda telah bersusah payah membiayai ia sekolah tapi ia tidak pernah serius.

Teman-temannya banyak yang kini sukses. Mereka yang rajin belajar dan menuntut ilmu sungguh-sungguh, pandai atau tidak banyak dari mereka yang sudah bekerja dengan gaji lumayan.

Sesekali matanya berkaca-kaca mengingat semua petuah yang ia abaikan. Tak sering, hanya sesekali saja ia sadar akan apa yang sudah hilang. Kala tak ada anak yang main di rumah. Kala ia duduk sendiri di sore itu, ia sering melamun dan menyesali apa yang sudah lewat.

“Sore-sore melamun, nanti disambar setan kamu Yul…”
“Eh… kamu Jo, ngagetin aja kamu ini!”
“Lagian kamu juga, mentang-mentang sendiri bawaannya melamun…”
“Parjo… Parjo… ya namanya sendiri ya melamun. Habisnya mau ngobrol sama siapa coba, setan?”

Untung saja ada Parjo, Yuli jadi sedikit terhibur, tak terlalu mengingat batin yang terganggu. Parjo kemudian mengeluarkan ponsel dari kantongnya. Ia kemudian menghidupkan lagu dari ponsel miliknya. Sore menjadi lebih sendu berbalut debu…

“Lama-lama bosan juga ya seperti ini terus…”
“Kenapa memang, bosan ya nikah aja…”
“Nikah paleloe…! Mau di kasih makan apa tuh anak orang”
“Nasi lah… memang makan rumput…!”

Yuli terdiam mendengar perkataan Parjo sahabatnya. Ia kemudian memandang ke arah sahabatnya dengan tatapan serius, “mbok ya bantu kawan mu ini Jo, cariin pekerjaan kek yang gajinya 5 juta…”
“Weh… aku aja gaji 2 juta habis di jalan mau cariin kamu gaji 5 juta… mending buat aku sendiri…” Parjo kemudian membenarkan posisi duduknya. “Sabar Yul, nanti kalau di kantor ada lowongan aku kasih tahu…”

Suasana kembali hening. Parjo tak melanjutkan perkataannya. Ia tahu jika diteruskan nanti suasana sore itu jadi tidak karuan. Ia memilih untuk mengalihkan perhatian Yuli pada hal lain. Cewek, apa lagi yang menarik selain hal itu untuk anak muda?

Dengan adanya Parjo, sore itu Yuli sedikit terhibur. Ia tidak terlalu terbebani dengan beban masa depan yang semakin nyata di depan mata. Setidaknya, dengan sahabat ia bisa kembali bernyanyi menghibur hati yang gundah.

***

Waktu berlalu. Dua minggu kemudian Yuli mendapat kabar baik. Di kantor Parjo bekerja ada lowongan. Parjo pun segera memberitahu Yuli dan menyuruh dia untuk melamar posisi di kantor tersebut.

“Ada kerjaan Yul… mau enggak kamu?”
“Kerjaan, serius kamu Jo!”
“Iya benar. Kemarin ada kawan dari personalia kasih kabar ada bukaan”
“Posisi apa Jo, aku mau daftar lah…”
“Staff admin… butuh 3 orang”
“Waduh, tugasnya apaan itu Jo? Kamu kan tahu aku bodoh”
“Admin ya surat menyurat, laporan segala macam Yul… Pokoknya kerjaan komputer gitu…”
“Ah, coba dulu waktu sekolah aku serius ya Jo. Aku kan enggak bisa komputer Jo…”
“Sudah, lamar-lamar aja Yul… siapa tahu diterima. Aku juga gak bisa bantu diterima enggak-nya…”
“Ya sudah, aku besok ngajuin lamaran lah…”

Yuli bersemangat. Setelah mendapatkan kabar dari Parjo ia langsung menyiapkan segala berkas lamaran yang diberitahukan sahabatnya. Tak menunggu lama, esok harinya Yuli langsung datang ke kantor Parjo dan melamar pekerjaan.

Setelah memasukkan berkas lamaran, Yuli diminta menunggu pihak perusahaan yang akan menghubunginya. Satu minggu berlalu, Jum’at siang, Yuli mendapat telepon dari kantor bahwa hari Senin depan ia harus mengikuti interview. Ia pun segera sibuk. Ia langsung ke rumah sahabatnya Parjo untuk bertanya mengenai proses interview di kantornya.

Sore hari, ia ke rumah Parjo, “Jo, Senin aku interview, gimana ya?”, tanya Yuli. “Gimana apanya Yul?”, tanya Parjo. “Ya, nanti waktu interview bagaimana?”, tanya Yuli. “Mengalir aja Yul, aku juga enggak tahu materinya apa apa. Pokoknya nanti kan kamu ditanya-tanya seputar pekerjaan dan lain-lain…”, terang Parjo.

Sampai larut, Yuli mencoba mengorek pengalaman sebanyak mungkin. Tampak di matanya bahwa ia sangat berharap bisa bekerja di kantor tempat Parjo bekerja. Dengan begitu, ia tak akan lagi menjadi bahan ejekan dan cemoohan orang-orang di sekitar rumahnya.

***

Hari yang ditunggu pun tiba. Pagi, Yuli sudah berdandan rapi layaknya pegawai kantoran yang mau berangkat kerja. Sepatu hitam, kemeja putih, celana hitam dengan tas kulit berisi beberapa berkas yang mungkin akan dibutuhkan.

Yuli keluar dari rumah dengan wajah sumringah. Ia mengendarai motor legenda tua miliknya dengan santai. “Mari Pak… Bu…”, Yuli begitu ramah menyapa semua orang yang ia temui. Hari itu ada rasa bangga ketika ia memakai pakaian rapi.

Sampai di kantor, ia segera mengelap keringat di pipinya. Ia merapikan pakaian. Dengan senyum simpul ia kemudian memasuki kantor di depannya.

Satu jam kemudian, pintu kaca di dorong dari dalam. Yuli keluar dengan kepala menunduk. Sambil berjalan ia melonggarkan dasi hitam yang terikat di kemeja yang ia pakai. Ia menenteng tas hitam dengan lemas. Tanpa gairah dan penuh rasa putus asa. Ia menghidupkan motornya, berlalu menuju taman kota.

“Sial… sial… kenapa nasibku seperti ini ya. Kapan aku bisa diterima bekerja seperti teman-teman lain…” Yuli menghela nafas dalam. Seribu perasaan berkecamuk di hatinya. “Belajar itu yang rajin Dek. Nanti kamu kalau enggak punya skill bakal susah cari kerja Dek…”

Tiba-tiba ia teringat nasehat ayuk-nya ketika masih sekolah. Saat itu sang ayuk memperingatkan dia untuk tekun dan rajin belajar. Ia harus sekolah dengan sungguh-sungguh. Meski hanya sma tapi kalau rajin dan bersungguh-sungguh pasti dapat ilmu yang bermanfaat.

Semua kini terbukti tapi waktu telah berlalu. Yuli tak bisa berbuat banyak selain memeluk perih. Andai saja ia rajin seperti teman lain, ia tentu bisa komputer dan bisa diterima bekerja di kantor Parjo. Nasi sudah menjadi bubur, waktu telah berlalu, Yuli harus tetap menjalani kehidupan yang sulit itu.

---oOo---

Thursday, May 25, 2017

My Name is Johny Isnanda, Teks Introduction Bahasa Inggris

Melengkapi pembahasan-pembahsan yang sudah ada terutama berbagai kisah cerita menarik, kali ini kita akan bercerita tentang sebuah pengalaman memperkenalkan diri (introduction) dalam bahasa Inggris. Ceritanya kita akan belajar berkenalan atau mengenalkan lebih jauh siapa diri kita kepada beberapa orang baru yang kita temui.

Teks Introduction Bahasa Inggris
My Name is Johny Isnanda, Teks Introduction Bahasa Inggris

Biasanya, perkenalan seperti ini dilakukan oleh para siswa atau mahasiswa atau kelas – kelas lain yang berhubungan dengan bahasa Inggris. 

Misalnya, dalam pelajaran bahasa Inggris kita akan dilatih untuk menceritakan siapa diri kita. Di kampus juga seperti itu. Untuk mahasiswa jurusan bahasa Inggris atau sastra inggris, perkenalan biasanya dilakukan saat mata kuliah speaking. Beberapa yang banyak di butuhkan antara lain sebagai berikut!

1) Memperkenalkan diri dalam bahasa inggris lengkap
2) Perkenalan diri dalam bahasa inggris saat interview
3) Perkenalan diri dalam bahasa inggris di depan kelas
4) Perkenalan diri dalam bahasa inggris untuk mahasiswa
5) Contoh perkenalan diri dan keluarga dalam bahasa inggris
6) Perkenalan diri bahasa inggris panjang
7) Perkenalan diri dalam bahasa inggris lengkap

Teks cerita di bawah ini hanya sebagai bahan belajar dan gambaran saja. Istilahnya sebagai contoh. Jadi, anggap saja ada seorang pria yang bernama Johny Isnandar yang akan memperkenalkan siapa dirinya.

Dalam perkenalan tersebut ia akan memberitahu siapa namanya, siapa ayah dan ibunya dan juga mengenai saudara-saudaranya. Selain keluarga, akan dijelaskan juga mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan hobi. Ada banyak, nanti akan diceritakan satu per satu mulai dari olahraga, makanan, minat dan seterusnya. Lebih jelas, mari langsung kita baca.

My Name is Johny Isnanda
Perkenalan dalam Bahasa Inggris Singkat

Hi all. On this occasion I will introduce my self. We may have met before. But I'm sure we haven't been acquainted. My name is Johny Isnanda. You guys can call me Johny or Isnanda. I was the oldest of five children.

I come from a small village. I come from a family of farmers. Before arriving at this place, I usually spend my time in the rice fields or in the garden.

My dad is Tarjo. He was a hard worker. He is working from morning until late at night. Everyday my father works at farm field. He is also working on rice fields and farms. Our family has quite a lot of cattle. We maintain a cow, camp and also chicken.

Every day, after work in the rice fields, my father went looking for fresh grass for the cattle. He does not work on his own. Mother always helps him work. Early morning, mother prepares breakfast. After that, she joins my father to rice fields. In addition to helping fathers, mothers also take care of the cattle, goats and chickens. He also never tired of taking care of the kids at home.

My mother’s name is Marni. She is very pretty. He was also very patient and affectionate with her children.

In the House, besides mom and dad there are my brothers and sisters. They named the Diamon, Luki, Resi and Grace. Diamon and Luki were able to help families while Resi and Grace are still small. We are living in the village happily. We don't lack anything.

Now, let's talk a little bit about hobbies and so forth. Different from most people, I love volley ball. I do not like football. The reason is simple; I think that football inspires people to have gambling. Beside voly ball, I also love chess. For me, chess is a means to train intelligence and strategy.

In addition, I also really enjoy cycling. I used to bike around the village. On weekends, I often spend time going by bike. Not only healthy, cycling is also great fun.

Besode sports, I also like eating. My favorite foods are meatballs. Yes, not unique but eat meatballs for me is so much fun. In addition I also love dogfruit. Do you know dogfruit?

I don't like instant food but I really like the noodles. Noodles only, others it is not for me. Speaking of food, I was very happy when lebaran, idul fitri. All kinds of foods there, you can imagine, one large table contains the full range of food.

The most interesting food for me is the brightly colored. Yes, I really love the bright colors such as red, yellow and green. My favorite color is yellow, the second is red.

Oh yes, how about music and movies? My favorite movie is science fiction. Nothing else, just science fiction films that I like. Comedy, no; I don't like comedy. And for music, I love romantic.

Romantic music is awesome. They can soften the soul and soothe the mind. I also love traditional music from various regions. How about you, do you like traditional music?

Actually, I have a lot of hobbies. But if I tell you here, two days will not be finished. So, let's talk about other things. Oh yes, I also love traveling and photography. Having a vacation to a new place is a great adventure for me. Capture the natural scenery in the cell phone becomes an unavoidable thing that I do.

---oOo---

These Are My Hobies

Talk about your favorite music is of course highly subjective. Each person will have their own favorites, so do I. I was the one who like soft. I don't like noisy music with fast tempo. I prefer the kind of music that could make people dreaming, thinking.

Since childhood, my favorite music type does not change. Since starting to like the music, I really enjoy the slow rock in 2009. This may be related to my personal characteristic. 

In contrast to characteristics, I like the songs that sharp and touched many themes. I don't only like love songs. I enjoy lot of songs with themes of life. Songs about politics for example, I really like it.

Other than that, I really enjoyed the songs that tell about social isues. Religious, I also love these songs.

For music, I like the song not only from within the country but also abroad. One of the local songs that I like is a song titled "samar bayangan" sung by Nicky Astrea. The song was very touched my heart, I really like and play them often.

If that from abroad, there is a song that often become my friend. That song is a song entitled "25 minutes" by MTLR. The song tells the story of a love that is very tragic. You certainly know the song isn't it?

I also sometimes observed the development of music. In the recent times, I began to doubt the quality of young musicians at this time. Many of them are “karbitan”, can not continue to work. They only appear for a moment and then disappear in the thrash. Is it true? What do you think?

Who doesn't like movie? Most people like movie. I also love movie. Science fiction became one of the genres that I like. I do not like the drama especially about love.

In my spare time, I often watch movies in theaters. Even sometimes I go to the theater alone, sometimes with a friend. The movie is important thing to me. It's not just sheer entertainment, it also gives a lesson. We can learn morality, learn ethics and so forth.

There is one movie that has always been interesting to me, that movie is “the lord of the rings”. This one for me was amazing. 

There is a series of science fiction film which I love most. There are lots of superhero movie of Marvels that I liked especially related to science. When talking about movie with friends, it's usually not enough of one or two hours. This is realistic because I really love to watch movies.

But don't get wrong of me. Although watching movie is my hobbies, I am one of those who do not like naruto and others. Somehow, I don't even know for sure why I don't like this type of movie. That's a little bit about my hobbies.

Now, I think you're a little closer to me, isn't it? That’s my entire introduction. Now it's your turn to tell me who you are.

---oOo---

Contoh di atas hanya sebagai pemanasan saja. Ke depan nanti akan diberikan lebih banyak teks bahasa Inggris lain yang sering dibutuhkan. Nanti pelan-pelan kita akan belajar berbagai hal menggunakan artikel-artikel pendek bahasa Inggris mengenai berbagai tema. 

Lain waktu kita akan membahas lebih detail mengenai berbagai macam hobi. Misalnya saja untuk yang hobi sepak bola nanti akan kita buat artikel tentang sepak bola, yang hobi jalan-jalan pun demikian dan seterusnya. 

Satu persatu akan kita lengkapi. Dengan begitu kita akan mendapatkan banyak sekali bahan bacaan dan juga bahan belajar dari sini. Kami sangat berharap rekan pembaca semua bisa terbantu dalam mendalami bahasa Inggris. 

Agar tidak ketinggalan berbagai kisah menarik yang ada maka ada baiknya rekan semua mencatat alamat situs ini. Ingat ya, situsnya dicatat agar mudah mencari teks bahasa Inggris yang dibutuhkan. Ya sudah, kali ini itu saja dulu. Silahkan dilanjutkan ke beberapa cerita dan contoh lain yang sudah disiapkan. 

Kalau mau mencari yang lebih sesuai silahkan gunakan kotak pencarian ya, di sisi kanan situs. Kalau yang mirip dengan yang di atas bisa dilihat langsung dibagian bawah. Paling tidak ada lima judul lain yang bisa langsung dinikmati.