Saturday, May 27, 2017

Contoh Cerita tentang 7 Hari Mencintaiku

Cerita tentang 7 hari mencintaiku berikut ini dipersembahkan oleh seseorang yang hatinya sedang luka. Sedih mengingat seorang kekasih yang kini telah pergi jauh meninggalkan hidupnya. Mendengar cerita ini mungkin saja rekan pembaca akan menangis, meratapi kepiluan cinta yang terjadi.

7 hari mencintaiku

Bayangkan bagaimana perihnya jika seorang kekasih hanya memiliki waktu 7 hari saja untuk mencintai orang yang disayangi. Jika tahu, tentu dunia seisi-nya akan rela diberikan untuk sang kekasih. Tapi bagaimana jika tidak tahu?

Kalau dibaca dari judulnya, hal yang bisa dibayangkan pertama kali adalah penyakit mematikan yang merenggut nyawa seseorang. Tapi ini tidak. Ini bukan karena sebuah penyakit yang memisahkan dua orang kekasih. Ini adalah sebuah kejadian yang tak disangka dan tak diduga sebelumnya, sebuah kecelakaan tragis yang memilukan. Seperti apa, simak langsung!

Dia yang Hanya 7 Hari Mencintaiku
Cerita Cinta Mengharukan

Indah dunia tak seindah cerita cinta yang ku alami. Pertemuan yang tak terduga, cinta yang tumbuh begitu saja dan akhir yang menyayat hati. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang pria yang mampu meruntuhkan tembok keangkuhan cintaku.

Pertemuanku dengan pria itu terbilang cukup sederhana dan tidak begitu istimewa. Waktu itu, aku dan dua sahabatku Jini dan Tata sedang santai di sebuah café. Seperti layaknya gadis lain, kami seru-seruan di sana. Saat kami sedang asyik, tiba-tiba datang seorang pemuda sendirian.

Bukan niat, tapi mataku tak sengaja melihat sinar matanya yang liar, seperti ada bara api-nya gitu. Hal yang tidak biasa bagiku, ketika dia sudah mengambil tempat duduk aku beberapa kali berusaha mencuri pandang.

Ternyata, wajah pemuda itu cukup tampan. Apalagi postur tubuhnya juga ideal. Kalau dilihat dari wajahnya, dia seperti perawakan orang india gitu. “Uh, ganteng juga tuh cowok…” tak sadar aku bergumam sendiri.

Kedua temanku juga merasakan yang sama. Tapi aku cenderung lebih bisa menahan diri. Aku secepat mungkin mencoba menyembuyikan apa yang ada di otak kotorku… takut ketahuan. Tak di sangka, setelah beberapa kali menerima lambaian tangan dan kedipan mata dari kedua temanku, pria itu bangkit dari tempat duduknya.

Eh, tahu tidak, ternyata… bukan Jini atau Tata yang ia dekati pertama kali tapi aku. Tentu saja aku tersipu malu ketika dia menatap mataku dalam. “Hai… boleh gabung…”, ucap pria itu sambil menatap ke arahku. Aku hanya diam, menunduk. Jini dan Tata yang langsung merespon dan mempersilahkan dia bergabung.

Entahlah, kalau menceritakan dia, hatiku masih saja teriris sakit. Perih. Frustrasi rasanya kalau ingat bagaimana ia pergi begitu saja setelah merampas sebagian hidupku. Air mataku juga tak bisa berhenti mengalir kalau aku ingat detik-detik terakhir aku melepasnya.

Suparman. Ya, kamu pasti akan tertawa kalau mendengar namanya itu disebut. Tapi pasti kamu tidak akan percaya bagaimana penampilan fisiknya. Teman-temanku memanggilnya “man”, sama seperti ketika kamu mengucapkan nama pahlawan super dari amerika “superman” atau “ironman”. Btw, fisiknya memang cocok untuk menjadi manusia super.

Meski sedikit pendiam, Parman cukup usil ketika pertama kali bertemu denganku. Ia tak segan menjabat tanganku dengan erat dan juga meminta nomor kontak. Tutur katanya yang sopan dan bahasanya yang lemah lembut itu yang membuat aku tak bisa berkutik. Bahkan, dengan baik waktu itu ia sudi mengantar kami pulang satu persatu.

Awalnya biasa, tapi setelah tiga bulan ia mengatakan tak bisa lagi menolak dan mengabaikan perasaan. “Jatuh cinta pada pandangan pertama”, ia mengaku sempat mengingkari kata hatinya. Ia juga mengaku menyesal dan berkali-kali meminta maaf karena hatinya telah tak berdaya denganku.

“Ah, dia sungguh – sungguh pria yang tahu bagaimana membuat wanita tersenyum.” Awalnya aku hampir mati penasaran karena ia tidak mengatakan siapa gadis yang mengganggu hatinya. Sampai akhirnya, di malam minggu yang sedikit mendung, dengan memegang sekuntum mawar putih, ia menyatakan cinta padaku.

“Rin… aku tidak bisa berbohong lagi. Sejak aku kenal kamu, bayanganmu selalu menghantui malam-malamku. Aku selalu memimpikanmu, bahkan mulai merindukanmu. Maafkan aku Airin, aku cinta kamu… Maukah kamu menerima cintaku yang tak sempurna ini?”

Entah waktu itu mulutnya habis dipoles dengan apa, aku tak tahu. Yang jelas, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu indah, romantis. Aku tidak bisa berkata-kata selain mengangguk. Pelan.

Saat itu, aku adalah wanita paling bahagia. Saat berjalan beriringan di tepi jalan, ia langsung berada di sisi kanan melindungiku dari kendaraan. Menyiapkan kursi ketika aku akan duduk. Memberikan bunga yang indah. Aku benar-benar seperti seorang putri, bahkan nyamuk pun tak ada yang berani mengigitku saat ada dia.

Malangnya aku, malangnya Suparman. Kebahagiaan itu hanya sekejab. Ia hanya bisa 7 hari mencintaiku. Kecelakaan itu merebut kebahagiaan kami, kebahagiaanku. Semua impian dan cintaku terkubur bersama jasad kekasihku itu.

Tujuh hari sejak dia menyatakan cinta, adalah masa-masa paling indah dalam hidupku. Hari-hari setelahnya menjadi neraka dunia bagi kehidupanku.

Sore itu, kami berniat pulang setelah menghabiskan akhir pekan di puncak. Kondisi badan kami memang sedikit letih. Mungkin konsentrasi kami kurang, apalagi kami mengendarai motor. Aku tidak begitu ingat persis bagaimana awalnya. Kala itu kami sedang bercanda dan tertawa ketika tiba-tiba motor oleng dan menabrak.

Detik berikutnya ketika aku sadar, aku sudah di rumah sakit dengan kaki kanan yang tak bisa dirasakan. Kekasihku tidak bisa diselamatkan, sementara aku harus puas dan bersyukur dengan kaki kanan yang hancur.

Kini, sisa hidupku hanya berisi sesal dan tangis. Meski kondisiku sudah pulih, aku harus berjalan dengan satu kaki. Kekasihku Parman yang telah pergi pun tak kan bisa kembali lagi. Aku sendiri tak ingat sudah berapa drum air mata yang pernah ku tangiskan. Aku juga tak tahu berapa tisu yang ku habiskan.

“Rin… maaf kan aku ya sayang jika cintaku tak bisa sempurna…”, banyak kata-katanya yang selalu muncul di mimpiku. “Bahkan sampai nafas ini terhenti, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu sayang…”

Banyak kata manis dan mesra yang masih segar dalam ingatanku. Tapi kini semua kata itu tak lagi membuat aku bahagia. Sebaliknya. Kenangan manis bersama dia membuat luka ini semakin perih. Entah bagaimana aku akan melewatkan sisa hidupku yang seperti ini.

Menjadi gadis cacat tidak aku sesali, kehilangan kekasih dengan cara yang tragis seperti itu yang selalu aku tangisi. Bukan aku sendiri, keluargaku, saudaraku, semua tak henti mendukung dan memberikan semangat. Tapi jujur, separuh jiwaku telah mati bersama Suparman.

Jika mungkin, aku lebih rela menunggu seribu tahun agar bisa bersamanya yang dilahirkan kembali. Mungkinkah semua itu terjadi padaku? Mungkinkah Parman akan menjelma menjadi sosok yang memelukku kembali?

---oOo---

Friday, May 26, 2017

Contoh Cerpen tentang Waktu yang Hilang

Contoh cerpen tentang waktu yang hilang berikut ini sedianya akan ditulis dalam bahasa Inggris. Tetapi karena keterbatasan maka kita dahulukan dulu yang menggunakan bahasa Indonesia agar bisa langsung dinikmati oleh rekan semua. Bagus kok, tidak membosankan, kisahnya cukup memberikan inspirasi.

cerpen waktu

Dari kisah dalam cerpen ini kita bisa belajar dan mengetahui bahwa masa muda memang masa yang sangat penting. Apalagi kita tahu bahwa waktu tidak bisa diputar ulang. Semua yang terlewat tidak bisa diulangi lagi. Kesempatan yang terbuang tidak akan bisa diraih lagi. Itulah sebabnya sejak kecil kita sudah harus belajar segala hal untuk masa depan.

Waktu yang Berlalu
Cerpen tentang Waktu

Yuli duduk terpaku seorang diri. Matanya sendu, menatap jalan yang ada tepat di depan rumahnya. Beberapa mobil fuso berderet menghalangi tatapannya yang tembus pandang. Ia hanya bisa merenung, mengingat segala peringatan, nasehat dan saran yang pernah sampai di telinganya.

“Nanti kamu menyesal Yul. Kamu harus sekolah. Setidaknya sampai SMA”
“Malas… untuk apa sekolah. Kakak aja sekolah jadi buruh. Buang-buang uang saja!”
“Kamu tidak boleh begitu Nak. Sekolah itu untuk masa depan kamu sendiri. Bukan untuk apa-apa, supaya kamu pintar”
“Pintar juga paling-paling jadi koruptor”

Kala itu, Yuli kecil menolak dengan keras anjuran ibu dan kakak-kakaknya untuk sekolah. Untung saja, setelah berdebat dan dirayu oleh sang ibu, Yuli akhirnya mau bersekolah SMA.

Tapi bagaimanapun sesal merasuki pikirannya setiap waktu. Bukan karena tak sekolah tapi karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Ibunya yang janda telah bersusah payah membiayai ia sekolah tapi ia tidak pernah serius.

Teman-temannya banyak yang kini sukses. Mereka yang rajin belajar dan menuntut ilmu sungguh-sungguh, pandai atau tidak banyak dari mereka yang sudah bekerja dengan gaji lumayan.

Sesekali matanya berkaca-kaca mengingat semua petuah yang ia abaikan. Tak sering, hanya sesekali saja ia sadar akan apa yang sudah hilang. Kala tak ada anak yang main di rumah. Kala ia duduk sendiri di sore itu, ia sering melamun dan menyesali apa yang sudah lewat.

“Sore-sore melamun, nanti disambar setan kamu Yul…”
“Eh… kamu Jo, ngagetin aja kamu ini!”
“Lagian kamu juga, mentang-mentang sendiri bawaannya melamun…”
“Parjo… Parjo… ya namanya sendiri ya melamun. Habisnya mau ngobrol sama siapa coba, setan?”

Untung saja ada Parjo, Yuli jadi sedikit terhibur, tak terlalu mengingat batin yang terganggu. Parjo kemudian mengeluarkan ponsel dari kantongnya. Ia kemudian menghidupkan lagu dari ponsel miliknya. Sore menjadi lebih sendu berbalut debu…

“Lama-lama bosan juga ya seperti ini terus…”
“Kenapa memang, bosan ya nikah aja…”
“Nikah paleloe…! Mau di kasih makan apa tuh anak orang”
“Nasi lah… memang makan rumput…!”

Yuli terdiam mendengar perkataan Parjo sahabatnya. Ia kemudian memandang ke arah sahabatnya dengan tatapan serius, “mbok ya bantu kawan mu ini Jo, cariin pekerjaan kek yang gajinya 5 juta…”
“Weh… aku aja gaji 2 juta habis di jalan mau cariin kamu gaji 5 juta… mending buat aku sendiri…” Parjo kemudian membenarkan posisi duduknya. “Sabar Yul, nanti kalau di kantor ada lowongan aku kasih tahu…”

Suasana kembali hening. Parjo tak melanjutkan perkataannya. Ia tahu jika diteruskan nanti suasana sore itu jadi tidak karuan. Ia memilih untuk mengalihkan perhatian Yuli pada hal lain. Cewek, apa lagi yang menarik selain hal itu untuk anak muda?

Dengan adanya Parjo, sore itu Yuli sedikit terhibur. Ia tidak terlalu terbebani dengan beban masa depan yang semakin nyata di depan mata. Setidaknya, dengan sahabat ia bisa kembali bernyanyi menghibur hati yang gundah.

***

Waktu berlalu. Dua minggu kemudian Yuli mendapat kabar baik. Di kantor Parjo bekerja ada lowongan. Parjo pun segera memberitahu Yuli dan menyuruh dia untuk melamar posisi di kantor tersebut.

“Ada kerjaan Yul… mau enggak kamu?”
“Kerjaan, serius kamu Jo!”
“Iya benar. Kemarin ada kawan dari personalia kasih kabar ada bukaan”
“Posisi apa Jo, aku mau daftar lah…”
“Staff admin… butuh 3 orang”
“Waduh, tugasnya apaan itu Jo? Kamu kan tahu aku bodoh”
“Admin ya surat menyurat, laporan segala macam Yul… Pokoknya kerjaan komputer gitu…”
“Ah, coba dulu waktu sekolah aku serius ya Jo. Aku kan enggak bisa komputer Jo…”
“Sudah, lamar-lamar aja Yul… siapa tahu diterima. Aku juga gak bisa bantu diterima enggak-nya…”
“Ya sudah, aku besok ngajuin lamaran lah…”

Yuli bersemangat. Setelah mendapatkan kabar dari Parjo ia langsung menyiapkan segala berkas lamaran yang diberitahukan sahabatnya. Tak menunggu lama, esok harinya Yuli langsung datang ke kantor Parjo dan melamar pekerjaan.

Setelah memasukkan berkas lamaran, Yuli diminta menunggu pihak perusahaan yang akan menghubunginya. Satu minggu berlalu, Jum’at siang, Yuli mendapat telepon dari kantor bahwa hari Senin depan ia harus mengikuti interview. Ia pun segera sibuk. Ia langsung ke rumah sahabatnya Parjo untuk bertanya mengenai proses interview di kantornya.

Sore hari, ia ke rumah Parjo, “Jo, Senin aku interview, gimana ya?”, tanya Yuli. “Gimana apanya Yul?”, tanya Parjo. “Ya, nanti waktu interview bagaimana?”, tanya Yuli. “Mengalir aja Yul, aku juga enggak tahu materinya apa apa. Pokoknya nanti kan kamu ditanya-tanya seputar pekerjaan dan lain-lain…”, terang Parjo.

Sampai larut, Yuli mencoba mengorek pengalaman sebanyak mungkin. Tampak di matanya bahwa ia sangat berharap bisa bekerja di kantor tempat Parjo bekerja. Dengan begitu, ia tak akan lagi menjadi bahan ejekan dan cemoohan orang-orang di sekitar rumahnya.

***

Hari yang ditunggu pun tiba. Pagi, Yuli sudah berdandan rapi layaknya pegawai kantoran yang mau berangkat kerja. Sepatu hitam, kemeja putih, celana hitam dengan tas kulit berisi beberapa berkas yang mungkin akan dibutuhkan.

Yuli keluar dari rumah dengan wajah sumringah. Ia mengendarai motor legenda tua miliknya dengan santai. “Mari Pak… Bu…”, Yuli begitu ramah menyapa semua orang yang ia temui. Hari itu ada rasa bangga ketika ia memakai pakaian rapi.

Sampai di kantor, ia segera mengelap keringat di pipinya. Ia merapikan pakaian. Dengan senyum simpul ia kemudian memasuki kantor di depannya.

Satu jam kemudian, pintu kaca di dorong dari dalam. Yuli keluar dengan kepala menunduk. Sambil berjalan ia melonggarkan dasi hitam yang terikat di kemeja yang ia pakai. Ia menenteng tas hitam dengan lemas. Tanpa gairah dan penuh rasa putus asa. Ia menghidupkan motornya, berlalu menuju taman kota.

“Sial… sial… kenapa nasibku seperti ini ya. Kapan aku bisa diterima bekerja seperti teman-teman lain…” Yuli menghela nafas dalam. Seribu perasaan berkecamuk di hatinya. “Belajar itu yang rajin Dek. Nanti kamu kalau enggak punya skill bakal susah cari kerja Dek…”

Tiba-tiba ia teringat nasehat ayuk-nya ketika masih sekolah. Saat itu sang ayuk memperingatkan dia untuk tekun dan rajin belajar. Ia harus sekolah dengan sungguh-sungguh. Meski hanya sma tapi kalau rajin dan bersungguh-sungguh pasti dapat ilmu yang bermanfaat.

Semua kini terbukti tapi waktu telah berlalu. Yuli tak bisa berbuat banyak selain memeluk perih. Andai saja ia rajin seperti teman lain, ia tentu bisa komputer dan bisa diterima bekerja di kantor Parjo. Nasi sudah menjadi bubur, waktu telah berlalu, Yuli harus tetap menjalani kehidupan yang sulit itu.

---oOo---

Thursday, May 25, 2017

My Name is Johny Isnanda, Teks Introduction Bahasa Inggris

Melengkapi pembahasan-pembahsan yang sudah ada terutama berbagai kisah cerita menarik, kali ini kita akan bercerita tentang sebuah pengalaman memperkenalkan diri (introduction) dalam bahasa Inggris. Ceritanya kita akan belajar berkenalan atau mengenalkan lebih jauh siapa diri kita kepada beberapa orang baru yang kita temui.

Teks Introduction Bahasa Inggris
My Name is Johny Isnanda, Teks Introduction Bahasa Inggris

Biasanya, perkenalan seperti ini dilakukan oleh para siswa atau mahasiswa atau kelas – kelas lain yang berhubungan dengan bahasa Inggris. 

Misalnya, dalam pelajaran bahasa Inggris kita akan dilatih untuk menceritakan siapa diri kita. Di kampus juga seperti itu. Untuk mahasiswa jurusan bahasa Inggris atau sastra inggris, perkenalan biasanya dilakukan saat mata kuliah speaking. Beberapa yang banyak di butuhkan antara lain sebagai berikut!

1) Memperkenalkan diri dalam bahasa inggris lengkap
2) Perkenalan diri dalam bahasa inggris saat interview
3) Perkenalan diri dalam bahasa inggris di depan kelas
4) Perkenalan diri dalam bahasa inggris untuk mahasiswa
5) Contoh perkenalan diri dan keluarga dalam bahasa inggris
6) Perkenalan diri bahasa inggris panjang
7) Perkenalan diri dalam bahasa inggris lengkap

Teks cerita di bawah ini hanya sebagai bahan belajar dan gambaran saja. Istilahnya sebagai contoh. Jadi, anggap saja ada seorang pria yang bernama Johny Isnandar yang akan memperkenalkan siapa dirinya.

Dalam perkenalan tersebut ia akan memberitahu siapa namanya, siapa ayah dan ibunya dan juga mengenai saudara-saudaranya. Selain keluarga, akan dijelaskan juga mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan hobi. Ada banyak, nanti akan diceritakan satu per satu mulai dari olahraga, makanan, minat dan seterusnya. Lebih jelas, mari langsung kita baca.

My Name is Johny Isnanda
Perkenalan dalam Bahasa Inggris Singkat

Hi all. On this occasion I will introduce my self. We may have met before. But I'm sure we haven't been acquainted. My name is Johny Isnanda. You guys can call me Johny or Isnanda. I was the oldest of five children.

I come from a small village. I come from a family of farmers. Before arriving at this place, I usually spend my time in the rice fields or in the garden.

My dad is Tarjo. He was a hard worker. He is working from morning until late at night. Everyday my father works at farm field. He is also working on rice fields and farms. Our family has quite a lot of cattle. We maintain a cow, camp and also chicken.

Every day, after work in the rice fields, my father went looking for fresh grass for the cattle. He does not work on his own. Mother always helps him work. Early morning, mother prepares breakfast. After that, she joins my father to rice fields. In addition to helping fathers, mothers also take care of the cattle, goats and chickens. He also never tired of taking care of the kids at home.

My mother’s name is Marni. She is very pretty. He was also very patient and affectionate with her children.

In the House, besides mom and dad there are my brothers and sisters. They named the Diamon, Luki, Resi and Grace. Diamon and Luki were able to help families while Resi and Grace are still small. We are living in the village happily. We don't lack anything.

Now, let's talk a little bit about hobbies and so forth. Different from most people, I love volley ball. I do not like football. The reason is simple; I think that football inspires people to have gambling. Beside voly ball, I also love chess. For me, chess is a means to train intelligence and strategy.

In addition, I also really enjoy cycling. I used to bike around the village. On weekends, I often spend time going by bike. Not only healthy, cycling is also great fun.

Besode sports, I also like eating. My favorite foods are meatballs. Yes, not unique but eat meatballs for me is so much fun. In addition I also love dogfruit. Do you know dogfruit?

I don't like instant food but I really like the noodles. Noodles only, others it is not for me. Speaking of food, I was very happy when lebaran, idul fitri. All kinds of foods there, you can imagine, one large table contains the full range of food.

The most interesting food for me is the brightly colored. Yes, I really love the bright colors such as red, yellow and green. My favorite color is yellow, the second is red.

Oh yes, how about music and movies? My favorite movie is science fiction. Nothing else, just science fiction films that I like. Comedy, no; I don't like comedy. And for music, I love romantic.

Romantic music is awesome. They can soften the soul and soothe the mind. I also love traditional music from various regions. How about you, do you like traditional music?

Actually, I have a lot of hobbies. But if I tell you here, two days will not be finished. So, let's talk about other things. Oh yes, I also love traveling and photography. Having a vacation to a new place is a great adventure for me. Capture the natural scenery in the cell phone becomes an unavoidable thing that I do.

---oOo---

These Are My Hobies

Talk about your favorite music is of course highly subjective. Each person will have their own favorites, so do I. I was the one who like soft. I don't like noisy music with fast tempo. I prefer the kind of music that could make people dreaming, thinking.

Since childhood, my favorite music type does not change. Since starting to like the music, I really enjoy the slow rock in 2009. This may be related to my personal characteristic. 

In contrast to characteristics, I like the songs that sharp and touched many themes. I don't only like love songs. I enjoy lot of songs with themes of life. Songs about politics for example, I really like it.

Other than that, I really enjoyed the songs that tell about social isues. Religious, I also love these songs.

For music, I like the song not only from within the country but also abroad. One of the local songs that I like is a song titled "samar bayangan" sung by Nicky Astrea. The song was very touched my heart, I really like and play them often.

If that from abroad, there is a song that often become my friend. That song is a song entitled "25 minutes" by MTLR. The song tells the story of a love that is very tragic. You certainly know the song isn't it?

I also sometimes observed the development of music. In the recent times, I began to doubt the quality of young musicians at this time. Many of them are “karbitan”, can not continue to work. They only appear for a moment and then disappear in the thrash. Is it true? What do you think?

Who doesn't like movie? Most people like movie. I also love movie. Science fiction became one of the genres that I like. I do not like the drama especially about love.

In my spare time, I often watch movies in theaters. Even sometimes I go to the theater alone, sometimes with a friend. The movie is important thing to me. It's not just sheer entertainment, it also gives a lesson. We can learn morality, learn ethics and so forth.

There is one movie that has always been interesting to me, that movie is “the lord of the rings”. This one for me was amazing. 

There is a series of science fiction film which I love most. There are lots of superhero movie of Marvels that I liked especially related to science. When talking about movie with friends, it's usually not enough of one or two hours. This is realistic because I really love to watch movies.

But don't get wrong of me. Although watching movie is my hobbies, I am one of those who do not like naruto and others. Somehow, I don't even know for sure why I don't like this type of movie. That's a little bit about my hobbies.

Now, I think you're a little closer to me, isn't it? That’s my entire introduction. Now it's your turn to tell me who you are.

---oOo---

Contoh di atas hanya sebagai pemanasan saja. Ke depan nanti akan diberikan lebih banyak teks bahasa Inggris lain yang sering dibutuhkan. Nanti pelan-pelan kita akan belajar berbagai hal menggunakan artikel-artikel pendek bahasa Inggris mengenai berbagai tema. 

Lain waktu kita akan membahas lebih detail mengenai berbagai macam hobi. Misalnya saja untuk yang hobi sepak bola nanti akan kita buat artikel tentang sepak bola, yang hobi jalan-jalan pun demikian dan seterusnya. 

Satu persatu akan kita lengkapi. Dengan begitu kita akan mendapatkan banyak sekali bahan bacaan dan juga bahan belajar dari sini. Kami sangat berharap rekan pembaca semua bisa terbantu dalam mendalami bahasa Inggris. 

Agar tidak ketinggalan berbagai kisah menarik yang ada maka ada baiknya rekan semua mencatat alamat situs ini. Ingat ya, situsnya dicatat agar mudah mencari teks bahasa Inggris yang dibutuhkan. Ya sudah, kali ini itu saja dulu. Silahkan dilanjutkan ke beberapa cerita dan contoh lain yang sudah disiapkan. 

Kalau mau mencari yang lebih sesuai silahkan gunakan kotak pencarian ya, di sisi kanan situs. Kalau yang mirip dengan yang di atas bisa dilihat langsung dibagian bawah. Paling tidak ada lima judul lain yang bisa langsung dinikmati.

Cerpen tentang Wanita Berhijab Inggris dan Indonesia

Cerpen bahasa Inggris kali ini akan mengangkat tema tentang wanita berhijab. Tema ini masuk dalam kategori religi yang bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Tentu saja ceritanya bukan saja untuk hiburan tetapi juga untuk pembelajaran menjadi pribadi yang lebih berkualitas.

cerpen wanita berhijab
Cerpen tentang Wanita Berhijab Inggris dan Indonesia

Karya sederhana ini bisa digunakan sebagai bahan latihan untuk pembaca semua dalam mengungkapkan gagasan dan pikiran dalam bentuk sebuah tulisan atau karangan. Selain itu, karya ini juga dapat berfungsi sebagai media pembelajaran bahasa Inggris. Sebegai contoh untuk terjemahan.

Seperti fokus kita, karya cerpen menarik ini akan dibahas atau dibagikan dalam dua bahasa sekaligus. Yang suka cerpen Bahasa Indonesia bisa membaca versi aslinya dan yang membutuhkan cerpen bahasa Inggris bisa membaca versi terjemahan. Yang pertama mari kita nikmati kisah tersebut dalam bahasa Indonesia.

Bukan Sekedar Menutup Anggota Badan
Cerpen tentang Wanita Berhijab

“Berhijab bukan hanya untuk gaya-gayaan, untuk tampil cantik atau sekedar menutup anggota badan atau juga hanya untuk menggugurkan kewajiban semata. Lebih dari itu nak, hijab adalah cerminan kehormatan seorang wanita.”

Markonah melontarkan kata-kata yang begitu menusuk hati. Tak disangka, Markonah berkata demikian. Menolak keinginan putrinya untuk memakai hijab.

“Apakah menurut kamu seorang wanita muslim yang memakai pakaian sesuai syariat dibenarkan berkata-kata kasar? Tidak nak. Apakah menurut kamu wanita berhijab dibenarkan berduaan dengan lelaki yang bukan suami dan tidak memiliki hubungan darah apapun?”

Sari benar-benar terdiam, tertunduk tak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Markonah. Pelan, ia mengangkat kepalanya. Mencoba mengarahkan pandangan ke mata sang ibu, mencari jawaban atas kebingungan dalam hatinya.

“Jadi, benar ibu tidak mengizinkan aku memakai hijab?” Sorot mata Sari begitu tajam. Menuntut jawaban yang logis tanpa penjelasan yang terlalu panjang, “benar atau tidak bu?”

“Tidak begitu nak. Ibu tentu sangat senang jika kamu memiliki kesadaran itu. Tapi ibu harus mengingatkan dan meyakinkan kamu atas keputusan yang akan mengubah seluruh kehidupan kamu itu Sari…”

“Tapi ibu mengizinkan aku memakai hijab bukan?”
“Iya, ibu mengizinkan. Tapi sebaiknya kamu pertimbangkan lagi. Kamu pikirkan matang-matang. Besok-besok saja pakai jilbab-nya… Kuatkan saja niatmu dulu Nak”

Sari kembali menundukkan pandangan. Ia mengarahkan tatapan mata ke lantai. Seolah mencari sesuatu yang hilang. Markonah menghela nafas sejenak, ia kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

***

Meja ruang keluarga penuh makanan. Hanya ada beberapa ruang kecil untuk meletakkan remote tv. Paijo di meja santai-nya di sisi kanan ruangan. Di meja juga terletak beberapa toples makanan kecil. Segelas teh manis di sisi kanan meja dan laptop di tengahnya. Sesekali ia tampak mengetik sesuatu dan mengalihkan pandangan ke televisi yang sedang dikendalikan istrinya.

“Duh, Pak coba lihat deh… anak zaman sekarang kok seperti itu ya. Mengerikan?”
“Apa sih Bu, memangnya ada apa dengan anak-anak?”
“Ya ini Pak, coba lihat sini geh…! Moso pake jilbab seperti itu. Pakaiannya ketat!”

“Ah, ibu ini… Mana, mana…. Itu kan enggak semua seperti itu Bu.”
“Tapi rata-rata memang seperti itu Pak…!”

Paijo kembali ke tempat semula. Ia kemudian menutup laptop di mejanya. Ia melangkah pelan ke sisi sang istri. Duduk disampingnya. Kakinya diangkat ke atas sofa. Tangan kanannya membenarkan posisi sarung yang di kenakan. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Anak zaman sekarang tantangannya memang lebih besar bu. Beda dengan zaman kita dulu…”
“Benar pak, Ibu juga kadang-kadang takut memikirkan putri kita. Takut kalau dia ikut-ikutan yang lain” “Semoga saja tidak bu…”

Sesaat, terdengar suara kaki melangkah mendekat ke ruang keluarga. Sari muncul dari kamar setelah menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

“Uh, bapak sama ibu tumben akrab benar, pasti lagi ngomongin Sari ya?”
“Ya… apa lagi nak. Setiap hari ya yang bapak dan ibu bahas ya cuma kamu. La wong kamu satu-satunya anak bapak sama ibu.”
“Nah, ini kalau sudah seperti ini pasti akan panjang deh nasehatnya”

Sari menatap ke arah ayah dan ibunya. Ia kemudian duduk menghimpit di tengah-tengah mereka. Seperti anak kecil. Ayahnya bergeser, ibunya mengikuti.

Mereka bertiga kemudian terdiam. Masing-masing dari mereka menatap ke arah televisi. Suasana menjadi hening. Untuk beberapa saat mereka larut dalam angan masing-masing. Ada sesuatu yang menahan mereka berbicara.

Markonah membuka tempat kue, memasukkan tangan kanannya dan mengambil beberapa keeping kue coklat di toples.

“Ah, jelek Bu… ganti sih….”
“Tuh kan Pak…. Kalau ada Sari kita pasti enggak jadi nonton. Nanti ah, lagi seru…!”
“Ah ibu…. Ada sinetron seru tuh. Udah mulai…”
“Lah… mulai deh… Bapak jadi wasit lagi nih ceritanya….”

Suara tawa kemudian pecah menyusul rengekan Sari. Mereka akhirnya terlarut dengan canda tawa memenuhi ruangan itu. Terlihat kehangatan menyelimuti ruangan, menenggelamkan gundah hati yang Sari rasakan mengingat keinginannnya yang masih belum terwujud.

***

Jumat, 05 Mei 2017, siang hari Sari pulang dari sekolah. Ia segera meletakkan tas, berganti pakaian dan menuju ke ruang makan. Disana sudah duduk sang ibu yang sedang menyiapkan makanan.

“Ibu hari ini tidak pergi kerja?”
“Hari ini ibu libur Nak. Lagi malas, agak pusing tadi.”
“Ya, ibu istirahat saja. Biar Sari menyiapkan makan sendiri aja Bu…”
“Udah kok, nih. Kamu mau makan pakai apa?”

Markonah segera mengambilkan nasi, sayur dan lauk – pauk untuk sang anak. Sari dengan lahapnya menyantap makanan yang dihidangkan oleh sang ibu. Selesai makan siang, Sari ke kamar mengambil beberapa buku cetak dan menuju ke ruang tengah.

“Istirahat dulu Nak, kamu kan baru pulang…”
“Ya ini sambil istirahat bu. Lumayan dikit-dikit sambil nunggu ngantuk…”
“Hem….”
“Bu…”
“Iya… ada apa?”
“Kapan sari boleh berhijab?”
“Oo… berhijab. Yang mau berhijab kan kamu. Ya terserah kamu dong… memang kamu sudah siap jadi wanita berhijab?"
“Ya siap Bu… memang kenapa sih Bu kelihatannya ibu tidak setuju?”
“Ya berhijab itu bukan hanya tubuhnya saja Nak, semuanya, hati, pikiran, perbuatan dan sebagainya…”
“Iya Bu… kan ada ibu yang akan membimbing Sari….”
“Iya sayang, tentu saja ibu tidak akan melepaskan sekalipun pandangan ibu dari kamu. Asal… niat kamu sudah bulat…”

Sabtu, Sari langsung berubah total dari gadis remaja yang berpakaian serba modern menjadi seorang wanita muda yang anggun tapi sedikit gerah. Hari itu, ia sukses membuat semua orang di kelasnya terkagum-kagum dengan penampilan barunya. “Sari… kamu benar-benar tambah cantik, anggun sekali”

Sari bukan hanya sukses membuat teman-temannya terpukau. Ia mampu membuat banyak guru yang melihatnya pangling, tak mengenali dirinya. Ia pulang ke rumah dengan hati yang berbunga-bunga.

Satu minggu berlalu, Sari mulai merasakan sedikit tekanan. Teman-temannya sudah mulai berkomentar mengenai tingkah laku dan perbuatannya di sekolah. Saking asyiknya, Sari lupa diri bahwa ia sekarang adalah wanita berhijab yang harus lebih mengendalikan diri dan bermoral.

“Bu… aku lepas hijab ya…!”
“Astaghfirulloh… kamu bicara apa Sari. Tidak boleh begitu…”
“Habisnya, teman-teman banyak yang mengejek aku Bu…”
“Mengejek bagaimana?”
“Katanya aku tak pantas pakai hijab…!”

Melihat putrinya yang mulai kalut, Markonah pun langsung mendekap dan menasehati Sari. Ia mengingatkan bahwa keputusannya memakai hijab memang harus merubah gaya hidupnya. Ia juga mengingatkan bahwa hijab yang ia pakai harus mencerminkan jati diri dan perbuatannya.

--- Tamat ---

Kak, mana versi bahasa Inggris cerpen ini? Ada yang bertanya seperti itu pasti ya? Sabar, untuk versi kedua tidak langsung ditayangkan di sini. Tapi bagi yang membutuhkan bisa langsung download cerpen tersebut dari tautan yang disediakan.

Kalau tidak mau repot, rekan semua juga bisa menerjemahkan cerpen di atas menggunakan terjemahan google. Tinggal mana yang lebih disukai. Semua sama saja. Lain waktu, untuk karya yang lebih singkat akan diusahakan langsung beserta terjamahan.

Saat ini, karya-karya yang panjangnya lebih dari 1000 kata akan dibagikan dengan metode yang sama. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan bacaan tambahan bagi rekan semua yang membutuhkan. Itu saja, semoga bermanfaat.

Wednesday, May 24, 2017

Cerita tentang Orang Miskin yang Jadi Kaya

Cerita tentang orang miskin yang akan dibagikan kali ini entah bisa dikatakan sebagai cerpen atau tidak. Yang jelas kisah yang diangkat dalam cerita berikut cukup mengharukan dan mungkin bisa membuat pembaca menangis. Ceritanya sedih. Bagaimana tidak, ceritanya mengangkat kesulitan hidup sebuah keluarga yang tidak mampu.

cerita petani miskin kaya
Cerita tentang Orang Miskin yang Jadi Kaya

Mungkin ceritanya bisa memberikan inspirasi dan motivasi. Berangkat dari kekurangan dan keterbatasan, seseorang bisa saja bangkit dan meraih sukses. Tidak ada yang mustahil. Semua bisa diraih oleh orang-orang yang tekun, rajin dan bekerja keras. Kita lihat langsung saja bagaimana selengkapnya.

Pasti Jadi Orang Kaya
Cerita Orang Miskin

Pernah melihat keajaiban secara langsung di depan mata? Mustahil belum pernah, karena di dunia ini banyak sekali hal ajaib yang terjadi. Banyak hal yang diluar nalar terjadi di sekitar kehidupan kita. Hanya mungkin kebanyakan kita tidak menyadari hal itu. Seperti hal yang terjadi pada adik ibuku.

Beliau adalah adik kandung ibuku pas, aku menyebutnya Paman, tapi biasa memanggilnya Man Manto.Berbeda dari keluargaku, keluarga Man Manto lebih kurang beruntung. Paman pekerja kasar, ia hanya bekerja sebagai buruh padahal anaknya banyak. 

Enggak banyak banget sih, tapi kalau dibanding keluargaku jauh lebih banyak. Keluargaku anaknya hanya dua sedangkan Paman mempunyai 4 orang anak. Anak kedua Man Manto se-usiaku, satu kelas dan satu sekolah. Ia sering sekali menceritakan bagaimana kerasnya hidup yang harus dijalani di rumahnya.

Sebenarnya, anak pertama Man Manto sudah menikah. Tapi meski sudah menikah ia masing sering menjadi tanggungan Man Manto. Suaminya juga orang kampung, petani biasa. Mereka sering kekurangan bahkan hanya untuk kebutuhan makan sekalipun.

Dulu Man Manto pernah merasakan kehidupan yang lebih mudah. Saat itu Bi Jah, istri Man Manto masih berdagang. Tapi Bi Jah akhirnya dilarang berdagang oleh paman karena pernah kerampokan di jalan. Man Manto tidak mau mengambil resiko untuk keselamatan sang istri. Beliau lebih rela kerja dua kali lipat kerasnya asal keluarganya terjamin keamanannya. 

Sejak saat itu beban hidup Paman tak pernah sedikit. Paman mati-matian berusaha menyekolahkan anak-anaknya. Ia sering bekerja sampai malam, bahkan saat menggarap sawah sekalipun. 

Man Manto punya satu lokasi sawah. Tidak luas. Semenjak kebutuhan hidup yang terus menikah, ia rela menggarap sawah orang dengan sistem bagi hasil.

Menurutku, Paman adalah sosok lelaki yang bertanggungjawab, penyayang dan tidak pernah mengeluh sedikitpun. Ia menghidupi keluarganya dengan penuh suka cita, meski sangat sulit. 

Sebagai keluarga miskin, Paman kerap kali mendapatkan musibah yang berhubungan dengan keuangan. Pernah, suatu ketika anak pertama Paman hendak lahiran tapi terpaksa harus operasi cesar. 

Biaya operasi cesar untuk melahirkan tidak sedikit bagi keluarga Paman. Ia harus membantu mencarikan biaya karena anak menantunya pun tidak memiliki uang. Tak punya tabungan, tak punya apapun untuk dijual, Paman akhirnya harus hutang dan menanggungnya sampai beberapa tahun. 

Belum sembuh luka bekas operasi anak pertamanya, Paman harus kembali pusing karena sang istri sakit. Setelah di bawa ke dokter, Bi Jah didiagnosa menderita kanker. Meski masih stadium awal dan akhirnya bisa sembuh total namun kondisi keuangan Man Manto semakin parah. Akhirnya, satu-satunya harta dan modal hidup mereka harus dilepas, Paman menjual sawah yang ia miliki. 

Meski kehilangan hak kepemilikan sawah, Paman tidak kehilangan mata pencarian. Seluruh keluarga besar ber-rembuk, Ibu dan Pakde sepakat untuk membeli sawah Paman dan membiarkan Paman mengelola sawah tersebut. Hanya seperti itu cara yang bisa ditempuh agar Paman dan keluarganya bisa selamat. 

Waktu berselang, uang hasil jual sawah itu habis untuk membayar hutang dan untuk kebutuhan sehari-hari anak sekolah. Tinggal beberapa juta yang ada pada Ibuku. 

“To, yayuk belum punya duit, jadi sisa uang kamu yang 5 juta masih belum bisa yayuk kasih…”
“Ya sudah lah yuk… mau apa lagi kalau yayuk belum ada…”
“Lagian mau buat apa lagi si To, bukannya sudah lunas semua hutang kamu?”
“Ya sudah lunas yuk, tapi ya namanya hidup kan butuh makan…”
“Ya sudah, yayuk segera carikan, tapi jangan diarepin ya…”
“Iya yuk…”

Malam itu Man Manto pulang dengan perasaan yang sedikit kecewa. Kasihan benar Paman. Aku bahkan sampai bilang ke ibu suruh cepat mencarikan uang buat Paman. Tapi rupanya, ibu punya rencana lain. 

Dua hari berselang, ibu dan ayah pergi ke rumah Paman. Kebetulan waktu itu aku sedang belajar di rumah Paman bersama Mbak Nita anak Paman yang kedua. Sayup ku dengar ibu dan ayah bicara serius dengan Paman. Yang ku dengar, ibu dan bapak tidak bisa mencarikan uang tapi ibu bapak masih punya satu ekor sapi betina dan akan diserahkan sebagai ganti hutang ibu ke Paman.

“Sapi itu harganya lebih dari 10 juta To. Itu buat kamu separo. Kamu pelihara saja, tidak usah dijual. Nanti anak pertama sapi itu buat yayuk. Setelah itu sapi babon itu untuk kamu. Dengan sapi itu kamu bisa nabung To, bisa untuk kebutuhan besar”

“Tapi yuk….”
“Sudah, enggak usah tapi-tapian. Kalau masalah kebutuhan sehari-hari nanti sambil jalan yayuk bantu. Iya kan Pak…”
“Iya benar To… sapi itu diternak aja…”
“Ya sudah yuk, kang, terima kasih atas bantuannya, sudah merepotkan yayuk dan kakang terus…”

Begitulah. Dengan sedikit paksaan, akhirnya Man Manto menerima sapi dari ayah dan ibu. Ayah dan ibu mewanti-wanti Man Manto dan Bi Jah agar merawat sapi itu dengan baik layaknya anak sendiri. Ayah meminta sapi itu jangan sampai dijual sampai anaknya banyak. 

Waktu berlalu. Satu tahun sapi paman bertambah satu ekor. Paman dan bibi benar-benar hidup prihatin, makan seadanya, tidak pernah beli baju dan tidak pernah sama sekali bersenang-senang. 

Tiga tahun berlalu, aku sudah masuk kuliah tapi Mbak Nita anak paman tidak kuliah. Ia memutuskan membantu Bibi di rumah. Sapi milik Paman sudah menjadi 3 ekor. Satu indukan dan dua yang anakan dan sudah besar. 

Suatu malam Paman dan Bibi main ke rumahku. Setelah makan, mereka kemudian ngobrol bersama di ruang tv. Saat itu Paman mengutarakan niatnya untuk menjual salah satu sapi untuk biaya memperbaiki rumah.

“Omahku wes arep rontok kang, la pie?”
“Halah To, yang penting kamu waspada. Ambruk juga enggak balan nimpa kamu sampai mati kok…”
“Maksud mas mu gini lho To. Waktunya belum tepat kalau kamu jual sapi sekarang, apalagi untuk rumah. La kalo yayuk, mending kamu jual sapi untuk buat kandang yang lebih besar…”
“Owalah yuk, omahe dewe we arep roboh kok mikiri kandang sapi to….”

“Ya itu salahnya kamu Jah, kamu mikirnya jangka pendek saja… kalau sapi yang kamu tahan, besok-besok kamu bisa buat rumah gedong magrong-magrong… opo ndak mau kamu punya rumah yang kokoh permanen?”
“Ya mau to yuk…”
“Ya itu, wes to nggugu yayuk…”

“Iya To. Itu namanya cobaan orang mau sukses. Kalau kamu jual sapi untuk rumah kamu bakal kehilangan modal. Wes gini saja, kalo kamu kekeh. Sapi kamu jual terus beli sapi pedet saja tapi yang betina ben sesok jadi babon. Sisa uangnya kamu belanjain untuk dandan rumah seperlunya saja… harus bisa, harus cukup…”

“Ha… itu kata mas mu itu bagus To. Tahun depan kamu punya babon dua. Berarti satu tahun bisa nambah dua sapi sekaligus kan… nanti kamu bisa beli sawah lagi…”
“Ngunu yuk…?”

“Iyo… wes besok kamu cari bakol, harga sapi mu berapa. Tapi jangan di kasih ke bakol, nanti mas mu yang bayarin aja, nanti di tambahin harganya. Iso kan mas…?”
“Iyo… iso asal sabar…”
“Yo wis kui, arep pie meneh… rampung to masalahmu?”
“Yo nek ngunu wes ra popo yu… aku manut saran-ne sampean… sok tak golek bakul.”

“Karo iki jah. Nek masak ojo terlalu di irit. Masak sego seng rodo akeh ben cah-cah podo wareg. Seng penting ono sego, lawuhe sak-sake wae kan keno…”
“Iyo yu, lawong beras we karo golek yu…”

“Yo ora popo, ra sah sedih, ra sah ngeluh. Yayuk percoyo uripmu podo ra bakal koyo ngene terus… Koe Nita jo mbojo ndesek yo ndok… sok nek mbokde ono rejeki akeh koe belajar jahit baju. Mbokde seng bayari…”
“Enggeh mbokde…”

Beruntung, Man Manto meski sudah punya keluarga sendiri masih mau mendengarkan nasehat kakak-nya. Bi Jah juga sangat sabar dan tidak pernah protes atau merasa hidupnya di atur oleh bapak dan ibuku. Lagi pula, memang tidak ada alasan bagi Paman dan Bibi untuk tidak mendengarkan bapak dan ibu. Semua nasehat bapak dan ibu terbukti benar.

Betapapun miskin-nya Paman, tekad dan niat Paman untuk merubah hidup sangat kuat. Itu yang membuat Paman akhirnya bisa pelan-pelan bangkit dari kondisi ekonomi yang terpuruk. 

---oOo---

Tidak ada kata "tidak mungkin", petani miskin pun bisa menjadi orang kaya, sudah banyak cerita yang terjadi seperti itu. Makanya, terus semangat dan tetap berusaha. Dan jangan lupa, pesan moral cerpen ini adalah "tidak ada salahnya membuka hati untuk menerima bantuan dari keluarga". Itu saja ya, silahkan dilanjutkan ke kisah - kisah menarik lainnya.

Cerpen tentang Yogyakarta Bahasa Indonesia dan Inggris

Karangan cerpen tentang Yogyakarta berikut ini hanya imajinatif atau fiksi. Maaf sebelumnya jika mungkin karangan tersebut tidak begitu pantas untuk dibagikan sebagai sebuah karya cerpen. Penulis hanya berharap cerita yang diangkat bisa menjadi sedikit hiburan bagi rekan pengguna internet yang mungkin kangen Jogja.

cerpen tentang yogyakarta

Inti ceritanya, cerita pendek berikut ini berisi pengalaman liburan dua orang remaja yang sahabatan dan mendapatkan cerita yang menarik di akhir liburan. Kalau berkaitan dengan remaja bisa ditebak mungkin, tak jauh-jauh dari asmara.

Tapi bagus kok. Belum lagi, rencananya cerita pendek berikut akan dimuat langsung dalam dua bahasa. Pertama menggunakan bahasa asli yaitu bahasa Indonesia dan rencananya akan disertakan juga terjemahan bahasa Inggris. Supaya tidak terlalu lama, silahkan bagi yang ingin membaca versi cerpen asli berikut.

Rindu Tertinggal di Kota Gudeg
Cerpen tentang Yogyakarta

“Plak… plak… plak….”, sepatu hak tinggi Deo berdetak, beradu dengan pelataran paping di halaman kampus. Berjalan pelan ia menuju ke taman depan sambil menenteng beberapa buku. Di bahu kirinya tergantung tas kulit modis yang serasi dengan busana kasual yang ia kenakan. Tangan kanan-nya menggenggam. Berayun ke depan dan kebelakang bergantian.

Ia kemudian merebahkan tubuhnya di salah satu kursi taman yang terbuat dari bambu. Masih dengan tas tersangkut di pundak, ia meletakkan beberapa buku yang ia pegang dan merah salah satu buku kecil berwarna pink. Tangannya terampil membuka halaman tengah buku tersebut yang sebagian dilipat.

Sejenak, matanya mulai mondar-mandir dari kiri ke kanan mengikuti deret tulisan yang ada di buku kecil tersebut. Deo begitu konsentrasi menikmati setiap ukiran-ukiran yang ada di kertas tersebut. Tak sedikit pun matanya berpaling ke arah lain meski banyak orang melintas bahkan menepuk pundaknya. Sesekali ia hanya melambai pada rekan lain yang menyapa dia.

“Deo….! Sudah lama?”
“Lumanyun….”
“Lumayan kale… jadi lebai deh sekarang karena sering baca roman…”
“Ah, sensi loe….”
“Udah ah, yuk ke kantin. Laper nih…!”
“Duduk dulu napa. Gue yang dari tadi nungguin loe aja enggak sewot, santai…”
“Uh… sudah, sudah yuk…”

Shally segera merebut buku yang dipegang Deo dan segera berlari kecil meninggalkannya menuju kantin. Dengan sedikit sebal Deo terpaksa beranjak, mengejar pelan. Sesampainya di kantin, Shally segera memesan dua gelas jus buah.

“Eo, mau bakso enggak kamu?” “Kamu aja lah, lagi males…”. Sembari menunggu pesanan, Deo kembali melanjutkan buku kecil yang ia baca sebelumnya.

“Eh, Shall, liburan ini enak-nya kemana ya. Bosan di sini-sini aja…”
“Ikut gue aja, tenang. Kita liburan ke Jogja aja…”
“Gila loe. Jauh amat jeng…”
“Sekali-kali Eo… kita kan udah lama tidak menikmati liburan yang sebenarnya”
“Jadilah, aku ikut. Tapi bayarin ya!”
“Uh dasar kamu ini…”

Satu minggu berselang. Deo dan Shally pun berangkat ke Jogja. Mereka berniat menghabiskan libur semester untuk beberapa hari di kota gudeg Yogyakarta. Tujuan pertama, Shally mengajak Deo berkunjung ke tempat kakaknya yang ada di Yogyakarta. Hari pertama mereka habiskan untuk menikmati suasana hangat dari keluarga kakak Shally.

Hari berikutnya, Shally jalan-jalan ke berbagai tempat menarik yang jarang dikunjungi Deo. Sampai suatu sore, setelah menghabiskan waktu santai di Malioboro Jogja, pulangnya tak sengaja dia bertabrakan dengan seorang pria yang berjalan sendiri.

Lucunya, pria itu langsung bertingkah sangat aneh, salah tingkah. Meminta maaf dan menyebutkan namanya mengajak kenalan.

“Sekali lagi maaf ya. Aku Dorant…”, ucap pria tinggi semampai itu. “Deo…” jawab Deo singkat sedikit canggung. Pria itu kemudian menolah kea rah Shally. “Shally…” ucap Shally sembari mengulurkan tangan. Sekali lagi, pria itu menyebutkan namanya.

Kebetulan satu arah, mereka kemudian menyusuri jalan dengan santai bertiga. Tak terasa, jauh, jauh, jauh, ternyata pria itu pun searah dengan rumah kakak Shally. Akhirnya mereka pun jalan bersama sambil terus berbincang kecil.

Ketika hendak berpisah, pria yang bernama Dorant tersebut memberanikan diri meminta pin bb. Pertemuan itu pun berlalu begitu saja.

***

“Santai, habis-habisin aja. Besok kita keliling Jogja lagi ya…”, ucap Shally. “Siapa takut…” jawab Deo sembari berlagak seolah mau berantem. Di hari berikutnya, Deo dan Shally kembali tak sengaja bertemu dengan Dorant. Sebuah kebetulan yang unik sehingga membuka peluang kisah fantastik.

Berjalan seperti biasa, seperti umumnya orang yang baru kenal. Ada basa-basi, ada malu-malu da nada perasaan kurang nyaman dan sebagainya. Lain hari, ketika Deo dan Shally sedang menikmati pemandangan sore, tiba-tiba datang Dorant menyapa dari belakang.

Tiga pertemuan terjadi antara Deo, Shally dan Dorant sampai akhirnya mereka pulang ke rumah. Liburan di Yogyakarta telah usai. Yang ada tinggal kenangan. Minggu sore, Shally dan Deo santai di rumah Shally. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing setelah letih bercanda ria.

“Eh, Eo, coba lihat. Ada foto kamu sama pria misterius…. Siapa ini sih?”
“Misterius apaan sih, coba lihat…”
“Ini, coba deh… siapa coba?”
“Ah, itukan anak jadul yang kenalan sama kita waktu itu….”
“Oh…iya, iya aku ingat. Dorant kayaknya ya…. Kok…”
“Kok apa sih….”
“Eh, kapan kamu foto sama nih anak. Kok gue enggak ada sih?”
“Terang aja loe enggak ada orang loe yang ngambil foto-nya… gila loe!”

Tak terasa, Shally dan Deo pun membicarakan pria yang bernama Dorant itu sampai ke akar-akarnya. “Dilihat-lihat, ganteng juga nih anak… he… he… he…”, ucap Shally. “Dasar loe….”, jawab Deo sambil menjambak rambut sahabatnya pelan.

“Eh, tapi bener kok, coba deh lihat lagi foto anak itu sama kamu… serasi abis kok….”, ucap Shally lagi. Melihat sahabatnya mulai mengejek dia, Deo pun hanya tersenyum simpul. Tak mau lebih lanjut membahas orang yang jauh di sana.

****

Waktu berlalu. Deo dan Shally mulai menjalankan rutinitas seperti biasa. Begitu juga dengan Dorant yang ada di belahan bumi lain. Tak disangka. Foto yang tertinggal di ponsel Deo mengusik hati dan perasaannya. Mulanya sekali dua kali, lama-lama hampir setiap malam Deo menyempatkan diri menikmati foto tersebut.

Kadang Deo mulai tersenyum sendiri. Tapi tiba-tiba wajahnya manyun. Sedih. Seiring waktu berjalan, timbul getir di hati Deo. Ada perasaan kuat ingin bertemu dengan sosok pemuda misterius itu.

Semakin hari, wajah itu semakin jelas dalam bayang dan angan Deo. Beberapa kali ia mencoba memberanikan diri untuk menghubungi Dorant. Tak berani, ia ciut membayangkan senyum yang pernah ia lihat.

---oOo---

Jadi, rencana untuk cerpen ini memang akan digunakan sebagai bahan belajar sekaligus bahan hiburan. Untuk yang menggunakan bahasa Indonesia harapannya bisa menjadi hiburan di kala senggang menjadi bahan bacaan yang menghibur. Sedangkan yang versi Inggris tujuannya untuk latihan bahasa Inggris.

Meski begitu. Mengingat cerita ini saja sudah cukup panjang mata versi kedua belum bisa langsung disertakan dalam satu pembahasan ini. Bagi rekan pembaca yang sudah membutuhkan cerpen bahasa Inggris tentunya bisa lebih dulu download cerpen versi inggris-nya melalui tautan yang sudah disediakan.

Lain waktu, jika sudah memungkinkan maka dua versi tersebut akan digabungkan menjadi satu sekaligus. Atau kalau tidak rekan semua bisa menyalin dua versi ceritanya dalam sekali waktu. Dengan begitu waktunya bisa lebih efektif dan tidak perlu mondar-mandir ke sana kemari mencari cerita yang dibutuhkan. Itu saja, semoga berkenan!

Tuesday, May 23, 2017

Contoh Cerita Misteri dalam Bahasa Indonesia Inggris

Contoh cerita misteri dalam bahasa Indonesia dan Inggris ini rencananya akan disusun untuk bahan belajar, seperti lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk membiasakan dan meningkatkan budaya membaca dan menulis. Membaca itu perlu keterampilan, begitu juga dengan menulis, apalagi menulis sebuah karangan yang baik.

cerita misteri
Contoh Cerita Misteri dalam Bahasa Indonesia Inggris

Cerita berikut ini bisa dikatakan dalam bentuk cerpen atau bentuk cerita curhat. Susunan kalimat dan narasi-nya juga sangat sederhana, tidak sulit untuk dicerna. Kali ini melalui cerita berikut kita akan menikmati sebuah kisah misteri yang menimbulkan banyak tanda tanya. Seperti apa kisah tersebut, mari kita simak saja.

Suara di Tengah Kesunyian Malam
Cerita Misteri dalam Bahasa Indonesia 

Cerita ini bermula ketika aku menginap di rumah seorang teman dekatku. Namanya Putra, ia adalah sahabatku dari kecil hingga sampai ke kuliah di perguruan tinggi. Sebenarnya bukan hanya Putra, aku memiliki dua sahabat karib namun sahabatku yang bernama Tama kuliah beda kampus. 

Ceritanya, seperti biasa setelah semester kami meluangkan waktu untuk santai barang beberapa hari. Saat itu aku dan Putra berencana menghabiskan waktu untuk kegiatan alam. Rencananya kami akan liburan di gunung di dekat rumah Putra dengan berbagai kegiatan. 

Singkat cerita, hari yang ditunggu tiba. Aku mulai packing dan berangkat ke ruah Putra. Sekitar jam 3 sore aku ke rumah Putra. Malam harinya aku langsung buat acara bakar-bakar ayam dengan adik-adik si Putra. Bukan hanya ayam, kami juga bakar ikan gurami. Pokoknya seru dan menyenangkan sekali waktu itu. 

Menjelang jam 10 malam, adik Putra satu per satu masuk. Aku dan putra baru pemanasan. Kami mulai berbincang ke sana ke mari mulai dari dunia pendidikan sampai hobi. Kami pun tak lupa mulai menyusun rencana untuk dua hari ke depan. 

Hari pertama akan kami habiskan untuk lebih dekat dengan alam. Rencananya kami akan ke gunung. Di hari kedua kami akan menghabiskan waktu di sawah dan ladang. Untuk persiapan, jam 12 malam kami mulai tidur.

Kenyang dengan ayam bakar dan ikan bakar, aku langsung tertidur pulas seperti di rumah sendiri. 

Sekitar jam tiga pagi, aku tiba-tiba terjaga mendengar suara-suara aneh. Pertama, aku mendengar seperti suara kaki diseret dari ruang depan ke dapur. Dua tiga kali berulang. Aku memaksa mataku terpejam. Tak mau berpikir yang macam-macam. 

Setengah sadar, aku kembali mendengar suara aneh. Kali ini suara gemericik air kran. Seperti kran bocor. Padahal sejak sore tak ada suara seperti itu sedikitpun. Lima menit aku mendengarkan suara itu. Menghilang. Karena ngantuk, akhirnya aku tertidur lagi dan lupa mengenai hal itu. 

Esoknya, pagi-pagi kami sudah bangun. Kami sarapan dengan secangkir teh dan pisang goreng. Setelah itu kami bergegas mandi dan menyiapkan beberapa hal untuk ke gunung. Niat awalnya kami ingin berkemah tapi karena tidak mau terlalu letih akhirnya kami memutuskan untuk sekedar jalan-jalan saja menikmati alam.

Sampai di gunung aku terpesona dengan pemandangan alam disana. Udaranya begitu sejuk, rindang dan masih banyak sekali hewan-hewan liar. Aku benar-benar puas menikmati setiap jengkal lahan yang aku lewati. 

Bisa dikatakan, itu sebenarnya hanya sebuah bukit tapi masih begitu asri. Siang kami sampai ke puncak dan sorenya kami menghabiskan waktu di sungai kecil yang berasal dari mata air di bukit tersebut. 

Air mengalir dari atas bukit dengan sangat jernih. Dibagian bawah bukit membentuk cekungan seperti kolam yang cukup dalam dan besar. Yang tak kalah mengagumkan, disana banyak sekali ikan-ikan kecil yang hidup. Airnya benar-benar jernih dengan banyak batu-batuan disana sini.

Kami sempat mandi – mandi disana. Kami juga tak lupa bermain air dan mencoba menangkap ikan-ikan kecil yang kelihatan berkejaran ke sana sini. Sungguh suasana yang sangat asri dan menyenangkan. Aku seolah tak ingin pulang karena tak puas menikmati suasana disana. Baru menjelang magrib akhirnya aku mau di ajak pulang oleh Putra.

Aku benar-benar bahagia saat itu. Kepenatan dan kepusingan selama satu semester hilang sudah. Kami pulang menuju perkampungan dengan berlari-larian kecil. Karena terlalu asyik, aku sampai tak hati-hati sampai jatuh dan kaki ku terkilir. 

Aku pulang ke rumah putra dengan kaki sedikit bengkak. Untungnya tidak parah. Di rumah, ayah Putra segara segera memijat kakiku. Lumayan enak, setelah itu kaki tidak terasa sakit lagi. 

Malam harinya aku dan Putra bersama adik-adiknya sibuk melihat-lihat foto yang kami ambil. Sampai larut kami bercerita ke sana ke mari tentang perjalanan kami tersebut. Di ruang tv, akhirnya kami terkapar sendiri-sendiri setelah lelah bercerita. 

Malam kedua di rumah Putra, aku juga mendengar keanehan. Kali ini aku tidak tahu entah jam berapa. Yang jelas aku terbangun tapi tidak membuka mata. Saat itu aku mendengar seperti ada orang yang bercakap-cakap tapi dengan bahasa yang tidak aku pahami. Yang lebih aneh, aku juga sempat mendengar beberapa suara yang seperti hewan. Dua kali aku juga mencium aroma tak sedap yang menyengat.

Waktu itu aku benar-benar takut. Suasana malam begitu hening. Jangankan membuka mata, untuk berpindah posisi saja aku tak berani. Aku sudah tidak tahan. Rasa takutku itu kian tak terbendung. Aku berniat membangunkan Putra ketika aku menyadari seperti ada sesuatu yang mengawasiku dari atap rumah.

Aku mengurungkan niatku. Aku sekuat tenaga berusaha tetap terpejam. Sama sekali tak berani membuka mata. Akal sehatku sama sekali tak bekerja waktu itu. Yang tersisa hanyalah rasa takut.

Mungkin ada sekitar 1 jam keanehan malam itu masih aku rasakan. Aku mencoba bertahan dan bertahan. Tak bisa tidur lagi dan tak berani buka mata. Selang beberapa saat tiba-tiba Putra menggeliat dan terbatuk. Momen itu tak aku sia-siakan. Secepat mungkin aku segera merubah posisiku. 

Kutarik sarung yang kupakai hingga menutupi wajah. Aku dalam posisi telungkup dengan bantal di kening. Akhirnya aku bisa membuka mata barang sejenak untuk menghilangkan perih. Aku berani membuka mata karena saat itu aku langsung menghadap ke lantai. Jadi tidak khawatir akan melihat hal-hal yang aneh. Tak berapa lama, aku pun tertidur kembali.

Seperti baru sebentar sekali aku terlelak, aku sudah terbangun lagi karena aku merasa ada yang memegang pergelangan kaki ku. Reflek dan kaget aku langsung menghentakkan kakiku. Tak ada apa-apa. 

Bangun untuk yang kedua kalinya akhirnya aku tak bisa tidur lagi sampai subuh. Saat adzan subuh mulai terdengar aku baru bisa merasakan ngantuk lagi. Ku dengar ibu dan adik-adik Putra sudah mulai bangun. Karena ngantuk aku tidak ikut bangun dan melanjutkan tidurku sampai jam 6 pagi.

***

Pagi menjelang. Aku mengawali hari dengan sarapan nasi goreng plus tempe. Hari itu aku akan kembali menjelajah alam tetapi dengan tim yang berbeda. Kalau waktu ke gunung salah satu adik Putra ikut, hari itu kami menjelajah alam bersama Putra dan kedua orang tuanya. 

Kami pergi ke sawah dan ladang milik Putra. Aku berangkat berdua bersama Putra sembari membawa dua ekor sapi yang akan digembala di ladang. Waktu itu adalah pengalaman pertamaku menuntun seekor sapi putih yang besar. Awalnya sempat takut sih tapi setelah diajari oleh Putra akhirnya aku berani. 

Hal pertama yang kami lakukan selanjutnya adalah mengikat sapi di areal ladang yang banyak rumput-nya. Setelah itu kami menyusuri ladang. Ngobrol bersama orang-orang yang sedang di ladang sampai akhirnya kami sampai di persawahan. 

Pemandangan berbeda aku lihat. Biasanya kalau bercerita tentang sawah maka yang kita bayangkan adalah hamparan hijau yang luas. Aku melihat sesuatu yang lain. Kala itu aku melihat hamparan yang masih berwarna coklat. Rupanya musim panen baru selesai dan akan mulai musim tanam kedua. 

Bapak – bapak dan ibu petani sibuk mempersiapkan lahan masing-masing. Ada juga yang sudah mulai menanam benih padi di sawah. Ada yang membajak da nada juga yang merapikan lahan. Aku melihat suasana yang begitu berbeda di sana. Kalau kita melihat orang kerja di kantor semua serius, tegang dan seperti tertekan, sangat berbeda dengan petani yang bekerja di sawah. 

Para petani terlihat sangat bahagia dan senang dalam bekerja. Ada banyak canda dan tawa di sawah itu. Sesekali mereka saling berteriak dari pojok sawah yang satu ke yang lain. Ada lagi yang lebih seru. Saat istirahat siang, mereka makan bersama-sama di satu tempat. Beberapa petani yang dekat berkumpul dan makan disebuah gubuk. Indah rasanya suasana seperti itu.

Hari itu sama berharganya dengan hari sebelumnya. Aku puas bermain lumpur di sawah. Memandikan sapi bahkan sampai mencari keong. Tapi masih ada sesuatu yang membuat aku penasaran. Suara-suara malam hari yang aku dengar di rumah Putra, suara apa itu? Entahlah.

---oOo---

Masih ada cerita misteri lain yang bisa dinikmati di situs ini. Kebetulan kalau untuk kategori ini sudah banyak sekali yang dibagikan. Mudah-mudahan cerita yang di atas sudah bisa berkenan di hati rekan pembaca semua. Kalaupun kurang berkenan kami mohon maaf. Semoga kami bisa membagikan cerita lain yang lebih baik lagi.