Monday, May 29, 2017

Cerita 3 Idiot Salman Salmin Salmun

Cerita 3 idiot tentang Salman, Salmin dan Salmun ini merupakan cerita humor candaan yang super lucu dan gokil, pasti bikin ngakak kalau membaca kisah tentang mereka bertiga. Tapi yang namanya bahan bacaan tentu berbeda dengan jika kita melihat langsung bagaimana kejadiannya. Karena kadang menceritakannya tidak bisa sedetial mungkin.

cerpen lucu 3 idiot

Meski begitu, cerita berikut ini layak juga sih untuk bahan hiburan kalau sedang santai. Apalagi jika rekan semua adalah penikmat atau hobi membaca kisah-kisah seru yang unik, menarik dan lucu. Cerita ini tentu akan menjadi pelengkap kisah-kisah yang sudah ada. Seperti apa, langsung saja disimak ya.

Salman, Salmin dan Salmun
Cerita 3 Idiot

Ini adalah cerita tentang 3 orang sahabat. Sebut saja namanya Salman Salmin Salmun. Mereka bertiga ini seperti tiga serangkai. Tak terpisahkan. Dimana ada Salman, pasti ada Salmin dan Salmun. Dimana ada Salmun, pasti ada Salman dan Salmin. Begitu seterusnya, mereka saling melilit erat satu sama lain.

Untungnya, aku tak ikut dalam lilitan benang kusut mereka bertiga, kecuali kepepet. Aku kenal mereka. Cukup dekat tapi tak segila mereka. Polos, lugu, apa adanya dan sedikit pintar, banyak bego-nya. Kalau melihat tingkah mereka bertiga aku pasti selalu menahan tawa.

Pernah, suatu ketika motor yang mereka naiki bocor. Entah dari mana. Mereka mendorong motor itu bertiga hampir 1 kilo, katanya. Mereka berhenti di rumahku. Meminta peralatan tambal dan berbagai kunci motor.

“Aneh kalian itu. Motor bocor bukannya di tembal malah di dorong sampai ke sini…”
“Iya, abisnya…”
“Apa yang abis Min… emang dompet kamu gak pernah ada isinya!”
“Bukan itu maksudku Man… lagian kamu juga sih…”
“Ah kalian ini bego emang. Sudah basah kuyup mandi keringat gini mau rebut-ribut lagi.. sudah ditambal aja gih…”

Layaknya tukang tambal profesional, mereka bertiga beraksi. Salman segera memasang standar tengah. Ia segera menyiapkan alat tambal. “Min… kamu buka tu ban…”, perintah Salman pada Salmin. “Aku ngapain Man?”, tanya Salmun merasa tak berguna. “Kamu pijitin punggungku aja Mun, biar cepat…”, jawab Salman. “Oke…”, jawab Salmun.

Geli aku melihat adegan mereka bertiga. Pada bego-bego semua. Salmun ya nurut aja disuruh mijat punggung si Salman. Sudah kayak tukang pijat di emperan jalan aja. Setelah sibuk dengan motornya, mereka bertiga sudah tak menghiraukan aku lagi yang duduk di depan pintu rumah. Bahkan mereka seperti sedang di rumah sendiri. Mondar mandir, keluar masuk rumah tanpa permisi lagi.

Sepuluh menit berlalu. Salman sudah selesai menyiapkan tambalan. “Min, mana ban-nya yang bocor, buruan bawa sini…”, ucap Salman. “Buruan Min, lama amat sih, Salman sudah menunggu nih…”, timpal Salmun.

“Sabar, ni dikit lagi…”, jawab Salmin. “Uh, begitu aja lama amat. Sini aku bantu…”, Salmun langsung menghampiri Salim yang kesusahan melepas ban dalam sepeda motor.
“Apanya sih yang susah Min…”
“Enggak ada, cuma ini… gimana bawanya. Masih nyangkut…  Oh, dilepas aja semua ban-nya ya…”
“Alah… ngapain repot-repot sih Min… ini ada gunting…”
“Ha… gunting… oh iya…”

Tangan kiri Salmin kemudian memegang ban dalam motor. Tangan kanan-nya siap dengan gunting. “Eh… Min… mau dia…”, belum selesai aku berkata, Salim sudah selesai dengan niatnya. Ia memotong ban dalam motor tersebut lalu menarik keluar bannya.

Gunting segera diletakkan. Potongan ban di tangan kirinya dipegang ujungnya. Tangan kanannya memasukkan potongan ban lainnya. Ia kemudian bangkit dan meletakkan ban tersebut di dekat Salman. “Nih, sudah siap di tambal…”, ucap Salmin.

“Mun, ambil pompa itu Mun… ban-nya di pompa dulu biar ketahuan mana yang bocor…”, perintah Salman. “Oke…”, jawab Salmun sigap. Mereka bertiga seolah benar-benar tidak sadar dan tidak tahu yang sedang dilakukan. Entah bego, telmi atau apa, aku sampai tak bisa menahan tawa melihat mereka bertiga…

“Apaan sih Mad kamu ini, bukannya bantu malah ketawa-ketiwi aja…”
“Enggak… enggak… lanjutin aja deh… aku ke dalam dulu…”

Aku pura-pura masuk ke dalam rumah. Aku kemudian duduk di belakang pintu sambil terus mengamati adegan konyol dan bodoh tiga sahabat ku itu. Salmun dengan gagah perkaya mempompa ban yang sudah terpotong tersebut.

“Man… Man…”
“Apaan sih Mun…”
“Perasaan kok… sudah dipompa dari tadi kok…”
“Eh… iya…”
“Lah… iya, kenapa ya, jangan –jangan ada yang sobek lagi ban motornya?”

Salim kemudian memeriksa ban motor tersebut. Sampailah tangannya pada potongan ban yang berkerut-kerut.

“Min… apaan ini, la kok…”
“Ya itu tadi… di potong. Kan susah enggak bisa di bawa ke sini ban-nya kalau enggak dilepas semua…”
“Aduh Min… tapi kenapa di potong sih Min…”
“Lah… memang kenapa, kan mau ditambal…”
“Ya iya Min… tapi kalau begini ya gimana?”
“Ah kamu ini Man, bego amat sih. Tinggal itu ditambal dulu. Habis itu dipompa dan dicari yang bocor…”
“Oh, iya benar juga ya…”

Geli aku melihat kepolosan mereka. Masa ban motor bisa dipotong jadi dua. Aneh-aneh deh pokoknya. Akhirnya, sampai jam 5 sore mereka menyambung ban tersebut. Selesai disambung mereka kemudian memompa ban tersebut. Tetap tidak bisa masuk.

“Mad, ban ini di pompa dari tadi kok tetap enggak bisa ya Mad?”
“Ah, terang aja enggak bisa Min… la wong ban sudah rusak begini, bocor dimana-mana…”
“La terus gimana?”
“Lem biru…!”
“Ya udah… kenapa enggak ngomong dari tadi si Mad. Bawa sini lem-nya…”
“Bukan lem bego… lempar beli yang baru. Ban ini sudah tidak bisa ditambal lagi bodo”

Dengan ekspresi kecewa, Salman kemudian menoyor kepala Salmin diikuti dengan Salmun. Mereka kemudian duduk lesehan di emperan rumah dengan muka seperti anak ilang. Salman, Salmin, Salmun, tiga bocah idiot itu memang kompak kalau masalah kebodohan.

***

Salman, Salmin dan Salmun, tiga sahabat yang selalu membuat perutku mau pecah. Aku masih ingat, dulu ketika aku dan mereka masih sering main di sungai pernah ada satu kejadian sederhana yang super jorok.

Waktu itu, kami berempat memancing di sebuah sungai di dekat sawah di kampung kami. Sesampainya di sungai, aku segera mencari tempat yang paling bagus. Aku melihat batu besar di atasnya ada spot mancing yang keren. Aku segera melangkah ke sana.

Di belakangku, Salim mengikuti dengan membawa joran pancing yang panjang. Ia segera melompat ke batu kecil di sebelah batu yang cukup besar. Ia segera meletakkan pakan dan kail di batu besar itu. Bukannya memasang umpam, Salmin terlihat mau melepas celana.

“Min… ngapain kamu…?”
“Mo boker…”

Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan Salmin. Aku kemudian melihat ke arah bawah. Di bagian bawah, Salman terlihat sudah telanjang dada. “Man… ngapain?”, tanyaku penasaran. “Mandi dulu… kayaknya airnya segar…” jawab Salman.

Buset dah, mancing kalau sama mereka memang tidak beres jadinya. Belum hilang rasa kesalku dengan mereka berdua terdengar Salmun melemparkan kain ke sungai tepat di bawah tempat Salman mandi.

“Woi, gila semua loe ya… di atas Salmun boker, di tengah Salman malah mandi, eh kamu Min malah mancing tepat di bawahnya… bego semua kalian ini…!”
“Ya biarin aja sih Mad… Salmun boker kok kamu yang sewot…!”
“Bukan sewot bego… tu tai Salmun ke kamu Man… Kamu juga Min, mana ada ikan di bawah situ orang di atasnya udah diobok-obok sama Salman…”

Mendengar aku teriak-teriak, kepala Salmun menyembul dari balik batu besar. “Ngapain sih kamu orang sibut-ribut. Ganggu orang be’ol aja…!”, ucap Salmun dengan polos.

Bisa gila sendiri aku kalau sama mereka terus. Aku akhirnya meninggalkan mereka mencari spot yang lebih jauh. Ketika aku melangkah pergi, Salman tetap asyik mandi sementara Salmun melanjutkan jongkok di balik batu besar. “Sebentar lagi Salmin pasti dapat ikan besar tuh, warnanya kuning…”, pikirku kesal sambil meninggalkan mereka.

---oOo---