Tuesday, May 30, 2017

Cerita Cerpen tentang Wartawan Indonesia Inggris

Cerpen tentang wartawan berikut ini panjangnya sekitar 770 kata, sekitar 2 lembar kertas kurang. Cerpen ini cocok untuk bahan bacaan santai saat senggang, misalnya di sore hari sambil belajar di teras rumah. Ya namanya juga pelajar kegiatan utamanya ya hanya belajar, apa lagi coba? Tapi yang ini mudah-mudahan tidak menyesal karena cerita yang diangkat cukup unik.

cerpen tentang wartawan

Pasti sebelumnya masih sangat sedikit karya fiksi seperti cerpen yang membahas mengenai kehidupan seorang wartawan. Kebetulan, tema yang diangkat pada karya sederhana berikut ini mengenai perjalanan kesuksesan seseorang yang pekerjaannya sebagai wartawan.

Mungkin jauh dari sempurna dan mungkin juga tak layak untuk dikatakan sebagai karya cerpen. Namun begitu karangan berikut ini dapat dijadikan bahan acuan untuk belajar membuat karangan. Rencananya, karya ini akan dimuat dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia. Tapi, pertama-tama mari kita nikmati dulu versi aslinya berikut!

Angan Jurnalisme Julian
Cerpen tentang Wartawan

“Pa… besok kalau sudah besar aku boleh jadi wartawan ya?” “Ha… wartawan. Apa enggak ada yang lain?” “Enggak, aku ingin jadi wartawan pokoknya…!” “Ya, yang penting pintar dan jujur” Percakapan itu pernah terjadi beberapa puluh tahun lalu. Ketika Julian masih kecil dan belum menjadi orang.

Ya, begitulah sekarang orang menyebut Julian. “Bangga ya Pak, Julian sekarang sudah jadi orang”. Kalimat tersebut sudah sangat sering terdengar di telinga kedua orang tua Julian. Istilah “jadi orang” digunakan oleh orang dari desa untuk menunjukkan bahwa seseorang sudah sukses dan mapan.

Julian kecil memang bisa dikatakan anak yang cukup beruntung. Lahir di keluarga yang berprofesi sebagai guru, Julian kecil mendobrak tatanan kebiasaan dan angan orang tua. Alih-alih menuruti keinginan orang tuanya yang ingin ia menjadi PNS, Julian justru memilih jalan terjal berliku.

“Mau jadi apa kamu nanti…!”
“Mau jadi orang sukses. Bapak bisa lihat sendiri nanti…!”
“Profesi wartawan itu sangat melelahkan Julian. Belum lagi resiko hidup di jalan setiap hari. Gaji-nya juga tidak seberapa”
“Itu kan kata bapak…”

Pernah terjadi perdebatan sengit antara bapak dan anak mengenai profesi yang akan digeluti oleh Julian. Julian muda bersikeras ingin bebas dan melakukan sesuatu yang ia sukai dan nikmati. Seperti pemuda yang belum berpengalaman lainnya, ia tidak memikirkan betapa keras jalan yang harus ditempuh.

Benar saja. Setengah tahun pertama menjalani pekerjaannya, Julian sudah pontang panting untuk mencukupi modal yang ia gunakan untuk mencari berita. Maklum, wartawan amatir, belum mahir dan belum tahu seluk beluk dunia jusnalisme.

Julian muda terus menempa kerasnya batu kehidupan. Bahkan ia sempat berpindah beberapa kali dari perusahaan surat kabar yang dinaunginya. Sampai suatu ketika, Julian mendapatkan ujian pertamanya yang menguji konsistensi dan idealism-nya.

Ia mulai beberapa kali menerima imbalan jasa atas berita-berita yang dimuat. Sampai akhirnya ia mendapatkan berita yang sangat penting dan pasti akan menghebohkan publik. Saat itulah ia mengetahui bahwa wartawan bisa juga menghadapi ujian suap dari orang yang tidak ingin kasus-nya terbongkar dan karir-nya rusak.

“Saya akan berikan berapapun yang kamu minta…” Kalimat itu menggantung di angan Julian, sampai tak sadar sang ayah dari tadi mendengarkan percakapannya di telepon. Sebelum Julian terjerembab dalam lembah yang tak mungkin ia hindari, sang ayah segera bertindak.

Kali ini sang ayah bertindak dengan cara berbeda. Ia melakukan pendekatan khusus untuk menyampaikan pesan sesegera mungkin kepada anaknya bahwa tidak benar apa yang sudah ditawarkan orang itu kepada dirinya.

“Jadi wartawan itu harus benar dan harus jujur nak. Karena berita kamu itu menjadi rujukan banyak orang. Masih ingat pesan bapak dulu ketika kamu masih kecil?”

Lain dari biasanya, kali ini Julian tertunduk. “Kalau kau ingin jadi orang, berpegang teguhlah pada kebenaran. Jangan lupa ada Tuhan yang memperhatikan semua hal. Bapak yakin, kelak kamu akan jadi orang yang sukses. Bukan sekedar jadi kuli berita seperti itu”

Darah muda Julian mendidih. Semangatnya untuk berkarya begitu membara. Ia tak lagi memikirkan keuntungan atau pun uang semata. Ia memandang jauh ke depan. Ia melihat jelas bagaimana ia ingin menggapai masa depan hidupnya.

Pelan tapi pasti, Julian tumbuh menjadi pemuda yang memiliki prinsip dan integritas. Namanya mulai sering disebut-sebut sebagai salah satu wartawan yang cukup disegani. Lima tahun ia menjalani profesinya menjadi wartawan sampai akhirnya suatu hari ia mendapatkan tawaran yang lebih menggiurkan.

Di salah satu surat kabar nasional, Julian mulai mendirikan pondasi karir yang kokoh. Pelan, ia terus merangkak dari satu jabatan ke jabatan lain yang lebih tinggi. Sampai akhirnya di usia-nya yang menginjak 40 tahun, Julian dewasa telah memiliki nama yang cukup dikenal banyak kalangan.

Di usia tersebut, Julian mulai mendapatkan banyak tawaran posisi dan pekerjaan yang lebih tinggi. Tapi jiwanya adalah jiwa seorang jurnalis. Ia tidak bisa meninggalkan dunia itu hingga akhirnya ia menetapkan pilihan pada sebuah surat kabar lokal yang meminangnya.

Ia meninggalkan gaji yang lebih besar dengan posisi yang lebih tinggi namun penghasilan yang lebih kecil. Oleh seorang politikus terkemuka, ia diberi kepercayaan untuk merintis dan mengembangkan sebuah media berita yang masih bau kencur.

Ditangannya, nasib media itu dipertaruhkan. Banyak karyawan yang bertantung pada Julian untuk mengembangkan perusahaan tersebut.

Waktu terus bergulir. Cobaan demi cobaan Julian hadapi dengan gagah berani. Godaan tak pernah melunturkan prinsip-nya dalam menjalankan tugas dan wewenang. Darah dan jiwa wartawan yang berintegritas terus menjadi tameng dalam hidupnya.

Ia tak pernah mengambil jalan pintas. Ia terus, jalan lurus meski harus mendaki dan terjal. Bahkan sering kali ia mengabaikan kehidupan pribadinya, mendahulukan kepentingan perusahaan yang menghidupi banyak sekali karyawan.

Satu per satu anak cabang surat kabar itu muncul ke permukaan. Namanya mulai sering disebut di banyak kalangan pejabat tinggi Negara. Apalagi setelah ia sukses membawa media Koran lokal itu menjadi salah satu media terbesar nasional yang memiliki jaringan sangat luas. Hingga akhirnya, Julian dewasa jadi orang.

---oOo---

Maaf sebelumnya, sedikit tidak sesuai dengan judul karena saat ini cerita di atas belum bisa dilengkapi langsung dalam dua versi. Sebagai gantinya, bagi anda yang membutuhkan versi bahasa Inggris bisa menggunakan terjemahan google saja.

Hasilnya sama saja, sekalian bisa digunakan sebagai bahan untuk belajar menerjemahkan teks bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Lain waktu, nanti bisa disediakan juga tautan untuk download cerita versi keduanya. Jadi nanti bila ada yang membutuhkan terjemahannya bisa langsung download ceritanya dengan satu klik.

Harap maklum. Banyak sekali kendala yang harus dihadapi oleh pengelola situs. Keterbatasan waktu dan sumber daya masih menjadi poin yang terus diupayakan solusinya. Meski begitu, apapun yang kami sajikan di situs ini semoga saja bisa menjadi tambahan referensi dan informasi serta bahan belajar bagi rekan pengunjung semua. Itu saja, salam hangat dari kami.