Thursday, May 4, 2017

Cerpen 7 Orang Inggris dan Bahasa Indonesia

Cerpen 7 orang yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia berikut ini sengaja disusun untuk menambah koleksi yang sudah ada. Koleksi cerpen terdahulu masih sangat terbatas, tema yang dibahas juga belum begitu beragam. Untuk itulah kita tambah lagi dengan satu judul berikut. Semoga saja dengan ditambah satu lagi maka semakin banyak bahan bacaan yang bisa dinikmati.

cerpen 7 orang inggris dan Indonesia
Cerpen 7 Orang bahasa Inggris dan Indonesia
Cerita dalam cerpen ini cukup unik dan menarik. Mungkin, mungkin saja bisa menjadi inspirasi sekaligus bahan pembelajaran bagi pembaca semua. Tidak usah diceritakan bagaimana isi ceritanya ya. Yang jelas rekan pembaca semua bisa langsung menikmati kisah tersebut dalam dua versi. Yang pertama dalam versi asli Indonesia dan yang kedua terjemahan. Sekarang silahkan dimulai dari yang bahasa Indonesia.

Petualangan di Hutan Terlarang
Cerpen 7 Orang Inggris dan Bahasa Indonesia

Keberhasilan dalam perjuangan panjang nan melelahkan adalah misi yang akan kami terus taklukan, kami tidak akan gentar melawan maut sekalipun. Karena bagi kami halangan adalah penyemangat bagi kami, masalah adalah bumbu pembangkit motivasi untuk kami.

Untuk itu kami tidak gentar melewati hutan yang dipenuhi dengan binatang buas, orang suku primitif, dan juga medan yang basah serta terjal. Bagi kami ini adalah penyemangat bagi kami untuk bisa keluar dari hutan terlarang ini.

Kami masih tidak percaya bisa masuk di hutan yang mempunyai keadaan buruk ini, begitu gelap, banyak nyamuk, banyak linta, dan banyak sekali hewan liar yang berkeliaran di sekitar kami.

Bahkan berulang kali menjadi target penyerangan dari hewan-hewan yang lapar yang ada di hutan ini, namun berkat keberanian dan kenekatan kami, kami berhasil membunuh hewan tersebut, dan sebagian lagi kami bisa menghindar dari hewan yang berbahaya tersebut.

Orang pertama: Hey kawan cadangan makanan kita semakin menipis, sedangkan kita belum pula menemukan jalan keluar untuk bisa keluar dari hutan ini.

Orang kedua: Aku mengerti kawan, untuk itu mari kita manfaatkan tanaman di hutan ini untuk kita jadikan cadangan makanan tambahan kita, agar kita tetap bisa bertahan hidup hingga akhirnya kita bisa keluar dari tempat ini.

Orang ketiga: Di sana aku melihat pohon jambu air, memang jaraknya agak jauh, kita harus melewati jurang itu dan naik ke puncak dataran tinggi untuk bisa mendapatkan buah jambu air tersebut.

Orang keempat: Tidak ada waktu lagi untuk hanya memandang jambu air yang jauh itu, karena hanya memandangnya kita tidak akan bisa mendapatkan jambu air tersebut, mari langsung saja kita ke dataran tinggi di seberang jurang untuk mendapatkan makanan.

Orang kelima: Aku sangat sejutu dengan idemu orang keempat, karena semakin cepat kita berjalan maka semakin cepat kita mendapatkan persediaan makanan, lagi pula hari sudah mulai sore.

Orang keenam: Mari kita memulai perjalan ini, dan berburu makanan untuk hidup kita.
Orang ketuju: Ayo aku sudah tidak sabar lagi ingin menikmati jambu air yang kaya dengan air dan menyegarkan itu.

Kami bertuju berjalan menuruni jurang yang penuh dengan lintah penghisap darah yang lapar, hingga berulang kali kami selalu mengecek kaki kami yang terbungkus sepatu untuk memastikan apakah ada lintah di dalam sepatu kami.

Dengan cepat kami berjalan agar kami bisa segera sampai di dataran tinggi di seberang jurang. Orang pertama: Aku begitu lelah menuruni jurang ini, dan aku masih harus mendaki dataran tinggi yang mempunyai ketinggian 500 dpl itu, (Berhenti sambil bernapas tanpa terkontrol).

Orang ketiga: Ayolah kita baru setengah perjalanan, di tempat ini bukanlah tempat yang aman untuk kita beristirahat, di sini banyak sekali lintah lapar.

Orang pertama: Tetapi sudah tidak kuat lagi, dan napas ini terasa hendak putus, kaki sudah terasa begitu gemetar, rasanya aku ingin membaringkan tubuhku di sini.
Orang keempat: Mari aku bantu, (Sambil memapah orang pertama berjalan).

Kami berjalan lagi mendaki dataran tinggi yang mempunyai tinggi 500 dpl, orang pertama berjalan dengan dipapah oleh orang keempat, dan kami terus berjalan menaklukan rintangan untuk bisa berhasil sampai dataran yang kami tuju guna mendapatkan jambu air tersebut.

Nampak sekali fisik orang pertama begitu lelah, napasnya sudah tidak teratur lagi, kakinya gemetar, tubuhnya gemetar, sedangkan matanya sayup. Sesekali kami bergantian memapah orang pertama untuk bisa sampai di dataran tinggi.

Hingga akhirnya kami sampai di ketinggian 400 dpl, tetapi di sini kami semua sudah begitu lelah, hingga akhinya kami tidak sanggup berjalan dengan begitu semangat, kami harus mengirit tenaga kami untuk bisa sampai di pucak dataran yang maksud.

Orang pertama: Aku sudah sangat lelah, rasanya aku tidak sanggup lagi untuk bejalan, aku ingin istirahat.
Orang kedua: Aku juga begitu lelah, tetapi rasanya kita sudah sangat dekat dengan puncak.

Orang ketiga: lebih baik kita lanjutkan saja perjalan kita, karena perjalanan kita sudah sangat dekat, dan kita bisa lebih nyaman bila kita beristirahat di puncak, kita bisa berbaring sesuka hati, memakan buah sepuas hati. Karena sangat percuma beristirahat di sini, makanan sudah habis, airpun tidak ada.

Orang ke empat, orang ke lima, orang ke enam, dan orang ke tujuh: Mari kita lanjutkan perjalan kita (Dengan muka yang sangat lemas).

Dengan sisa tenaga yang kami punya, dan sisa semangat yang kami miliki, kami terus berjalan menaklukan pegunungan yang sejatinya tidak terlalu tinggi. Biarpun hanya tenaga sisi, biarpun hanya semangat sisa, tetapi kami tetap yakin kami akan sampai di tempat tujuan.

Setelah kami berjalan dengan susah payah, menuruni bukit, melewati sarang lintah, serta mendaki dataran tinggi yang sangat menguras tenaga kami, akhirnya kami bisa sampai di puncak dataran tinggi yang terdapat makanan.

Semangat kami, tenaga kami, dan keceriaan kami, bangkit lagi ketika kami mendapati jambu air sudah sangat dekat hanya berjarak 100 cm tersebut. Kami semua berlari dan langsung memanjat pohon jambu tersebut.

Orang ketiga: Aku akan mengambil semua jambu yang ada di pohon ini, (Bergelantung di atas pohon jambu sambil memetik jambu dan memasukannya ke dalam tas.

Orang keempat: Hey kau jangan serakah orang ketiga, (Sambil bergelantung dan memetik tidak kalah cepatnya dengan orang ketiga).

Orang ketiga: Coba saja bila kau sanggup mengalahkanku dalam perlombaan mengambil buah di pohon ini, siapa yang mengambil buah paling banyak maka dialah yang menang. Buah yang diambil juga harus buah yang sudah matang, bila ada buah yang tidak makan maka tidak masuk ke dalam hitungan.

Orang keempat: Kau menantangku, kau pikir aku akan takut, aku terima tantanganmu, (sambil memetik jambu dengan lebih cepat dari pada sebelumnya).

Sementara orang pertama masih duduk begitu lemas, ditemani oleh orang kelima, orang ke enam, dan orang ke tujuh. Mereka hanya bisa tersenyum melihat orang ke tiga, dan orang ke empat yang sedang bertanding adu cepat dalam memetik jambu.

Pohon jambu sudah kehilangan buahnya, tidak ada satupun buah masak yang bergelantung di pohon, semua pohon tidak lewat dari pandangan orang ketiga dan orang keempat. Kini saatnya mereka turun dan menghitung jumlah buah yang mereka dapatkan.

Mereka menghitung bersama-sama, nampak sekali ada keceriaan setelah sebelumnya ada persaingan yang memanas akibat perebutan buah di atas pohon. Orang ketiga memenangkan adu cepat memetik buah jambu, karena buah jambu yang didapatkannya lebih banyak dari pada buah jambu yang didapatkan oleh orang ke empat.

Meski demikian ketujuh orang tersebut kembali memperlihatkan rasa kekeluargaannya dengan memakan jambu bersama, sambil berncada, di tengah hutan yang berada di dataran tinggi kalimantan.

Meski mereka belum sanggup untuk keluar dari hutan tersebut, setidaknya tetap ada keceriaan di dalam hutan yang memwarnai hari mereka hingga akhirnya mereka tetap betah di dalam hutan.

Malam telah datang, dan mereka melewatinya dengan membuat sebuah tenda sederhana dengan memanfaatkan deaunan untuk mereka gunakan beristirahat, sedangkan perjalanan keluar dari hutan akan dilanjutkan pada pagi hari. (Arif Purwanto)