Sunday, May 21, 2017

Cerpen Eligi Benda tentang Kurikulum 2013

Contoh cerpen tentang kurikulum 2013 berikut ini cukup menarik karena masih sangat baru dan sangat jarang ada. Cerpen ini dibuat dengan sederhana untuk memberikan tambahan referensi belajar dan juga bahan bacaan bagi para pengunjung semua. Sederhana dan mungkin saja tidak sempurna. Meski begitu kami sangat berharap cerita pendek berikut bisa berkenan.

Cerpen tentang Kurikulum
Contoh Cerpen tentang Kurikulum 2013

Judulnya yaitu "elegi benda". Anda pasti penasaran melihat judulnya yang tak biasa seperti itu. Ya, kurikulum pendidikan juga merupakan hal yang jarang dimuat atau menjadi sorotan dalam karya-karya cerpen. Panjangnya sekitar satu sampai dua lembar kertas. Tidak begitu panjang. Untuk tahu lebih jauh silahkan baca saja dulu bagaimana kisah selengkapnya.

Eligi Benda
Cerpen tentang Kurikulum 2013

Kami mendapati kecemasan dengan nasib anak bangsa dengan pola pembelajaran yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ada dari salah satu dari kami tidak dilibatkan oleh guru dalam upaya memberikan pemahaman kepada para murid. Andai aku bisa berkata akan ku katakan kepada guru, bahwa aku ingin dicoret dengan ujung sepidol untuk memberikan gambaran terang kepada para murid.

Akulah papan tulis yang akan sedikit mendiskusikan tentang kurikulum 2013, yang sudah diterapkan di ruangan salah satu sekolah negeri di Jakarta. Aku tidak sendiri karena aku juga ditemani beberapa temanku yaitu Ruang kelas, Buku ajar, serta bangku guru.

Ruang kelas: "Menurut nenek moyangku, dahulu Ki Hajar Dewantara begitu aktive menjelaskan dan memberikan pemahaman kepada para anak didiknya, hingga kabar yang diceritakan oleh nenek moyangku, Ki Hajar Dewantara memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak didik untuk menyampaikan pendapat atas pemahaman suatu materi yang sudah di sampaikan. Dan itu semua di lakukan oleh bapak pendidikan negeri ini untuk memberikan kemerdekaan fikiran kepada para murid".

Bangku guru: " Tetapi mengapa guru sekarang ini lebih suka duduk di badanku dari pada menjalankan dengan baik tufoksinya sebagai guru. Apakah kurikulum pendidikan yang ada saat ini mengajarkan hal demikian".

Buku Ajar: " Aku akan menanggapi pertanyaanmu wahai bangku guru, memang ada perbedaan kurikulum antara dahulu dengan sekarang. Yang tujuan dari perubahan kurikulum itu adalah akibat tuntutan jaman sehingga sistem pendidikanpun disesuaikan dengan tuntutan zaman. Namun dari kurikulum yang ditetapkan pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan memberikan tindakan salah kaprah bagi para guru. Karena sang guru hanya menganggap bahwa tugasnya hanyalah menyampaikan materi yang sudah di tetapkan pemerintah tanpa memberikan penjelasan. Sehingga dikelaspun guru lebih banyak duduk dan menyampaikan tanpa menjelaskan untuk memberikan penjelasan lebih kepada murid. Memang tidak semua guru seperti itu, hanya guru-guru yang mempunyai rasa tanggung jawab tinggi atas tugasnya yang berperan untuk aktive menyampaikan dan memberikan penjelasan kepada para murid".

Bangku Guru: "Wah harusnya guru mau belajar agar mengerti tugas pokok dan fungsinya, karena terus terang tubuhku begitu lelah karena harus menopang guru yang tidak mau beranjak ketika mengajar. Padahal guru semestinya aktive, aktive dalam menyampaikan, menjelaskan, dan aktive mencairkan suasana dalam kelas. Bila guru hanya duduk di tubuhku maka tentu murid akan merasa cepat bosan dan tidak mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar".

Ruang kelas: " Kau benar bangku Guru, akupun begitu bosan ketika melihat guru kurang aktive dalam memberikan pembelajaran kepada murid, aku menginginkan guru yang aktive, agar ada keceriaan di dalam tubuhku".

Papan Tulis: "Kalau boleh tau, apa lagi imbas dari penetapan kurikulum 2013 ini..?".

Buku ajar:  "Ada dampak lain yang menurutku juga  cukup menghawatirkan untuk nasib guru dan nasib murid ke depannya. Dampak yang dirasakan oleh guru dan murid dari kurikulum 2013 adalah banyaknya pelajaran yang harus dikuasai, sehingga memberatkan para murid dalam proses belajar. Begitu juga dengan guru, yang juga harus menguasai banyak mata pelajaran yang hendak mereka ampu. Hal ini juga menjadi masalah serius bagi murid dan guru, karena belajar yang baik adalah sedikit demi sedikit dengan demikian pembelajaran yang disampaikan bisa dengan mudah diserap. Dan banyaknya beban pelajaran tersebut tentulah hanya akan membuat murid cepat stres dan tidak memberikan kemerdekaan fikiran lagi untuk para murid".

Ruang Kelas: "Wah itu juga bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh nenek moyangku secara turun temurun tentang sistem pembelajaran yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara. Itu juga sama halnya hanya mengutamakan kuantitas pembelajaran. Sedangkan waktu proses belajar mengajar terbatas, dan itu artinya kualitas pendidikan akan digeser oleh kuantitas pendidikan. Karena dengan mengutamakan kuantitas, itu artinya guru harus menghilangkan waktu berdiskusi yang sejatinya memancing kreativitas dan keaktivan  murid, untuk mengejar penyelesaian penyampaian materi. Sedangkan untuk memberikan pemahaman kepada murid, guru di suruh mengulang dan membaca-baca sendiri di rumah, atau bila guru ada waktu mau membantu murid menjelaskannya untuk murid di luar jam pelajaran. Itupun bila guru ada waktu, dan mau, serta cakap dalam menjelaskan materi yang sudah disampaikan".  

Papan Tulis: "Dengan demikian pendidikan semacam itu bisa disebut dengan pendidikan gaya bank, guru hanya menyampaikan materi ketika ada kelas, tanpa ada penjelasan dari materi yang disampaikan dan bila sudah saatnya ujian maka ujian yang dilakukan. Murid tidak diberi bekal pemahaman lebih untuk menghadapi ujian. Lalu mau sampai kapan sistem pendidikan materi, materi, materi, ujian, (Gaya Bank), ini terus di lakukan oleh guru-guru kita..?".    

Buku Ajar:  "Ya kau benar, padahal Ki Hajar Dewantara sendiri salah satu tokoh pendidikan yang sangat memerdekakan fikiran dalam upaya memanusiakan manusia. Beliua lebih mementingkan kualitas pendididikan dari pada hanya sekedar kuantitas. Itu semua dilakukan hanya agar anak bangsa menjadi lebih cerdas".

Papan Tulis: " Lalu apa lagi dampak dari kurikulum 2013, yang sudah diterapkan di sebagian sekolah yang ada di Indonesia ini".

Buku Ajar: " Ada lagi dampak dari pendidikan yang mengutamakan kuantitas dari pada kualitas, yaitu lahirnya guru dari hasil pendidikan kuantitas yang mutunya rendah".

Bangku Guru: " Bagaimana dia bisa jadi guru, kalau kualitas mengajarnya aja tidak ada..?".
Ruang Kelas: "Sekarang uang yang berbicara dong, bangku sekolah, dengan uang semuanya beres haha".

Buku Ajar: "Ya kau benar Ruang kelas, sistem pendidikan kurikulum 2013, yang memberikan pengajaran yang sangat berat karena harus menguasai banyak pelajaran membuat sebagian guru menempuh jalan instans caranya adalah menggunakan uang ataupun kecurangan lain".

Bangku Guru: " Contohnya seperti apa itu..?".
Buku Ajar: "Dengan memplagiat karya tulis orang lain, ataupun membeli karya tulis orang lain untuk kelulusan jenjang pendidikan para kaum guru".

Bangku Guru: "Wah pantas saja guru banyak duduk di badanku dan kurang aktive dalam menjelaskan, ternyata sistemlah yang telah membuat para guru-guru menjadi pragmatis atau menempuh cara instans untuk menempuh jenjang pendidikannya".

Buku Ajar: "Ya begitulah sistem pendidikan negeri saat ini yang jauh dari upaya menecerdaskan anak bangsa".

Ruang kelas: "Lalu siapakah yang mestinya harus kita lawan, apakah pemerintah, atau guru..?, karena akupun sangat prihatin dengan nasib pendidikan saat ini yang jauh kualitasnya dari yang pernah diceritakan oleh nenek moyangku pada zaman Ki Hajar Dewantara".

Buku Ajar: "Yang harus kita lawan adalah sistem, yaitu sistem pendidikan, karena bila hanya melawan guru tentulah tidak akan bisa merubah keadaan pendidikan saat ini. Karena guru juga merupakan produk dari kebijakan sistem kurikulum 2013. Begitu juga halnya dengan melawan pemerintah juga bukan solusi yang efektif, bisa dilakukan tetapi untuk mengembalikan sistem pendidikan ke sistem yang pendidikan yang sesuai untuk benar-benar mencerdaskan anak bangsa itu susah. Karena pemerintah mempunyai kekuasaan dan mempunyai seribu langkah pembenara dengan kebijakan-kebijakannya".

Bangku Guru: "Lalu dengan apa kita bisa mengembalikan pedidikan yang bobrok ini ke pendidikan yang benar-benar mempunyai fungsi mencerdaskan anak bangsa..?".

Buku Ajar :"Jawabannya adalah dengan masuk ke dalam politik dan memenangkan pertarungan politik itu sendiri, bila kekuasaan politik sudah dalam genggaman maka bisa dengan sangat mudah mengganti sistem pendidikan ke pendidikan yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara".

Papan Tulis: "Mudah-mudah ke depannya ada orang yang mempunyai keprihatinan dengan pendidikan dalam perpolitikan bangsa, sehingga bisa merubah sistem pendidikan ke jenjang yang lebih baik lagi, sehingga pendidikan di negeri ini bisa lebih baik lagi".  

Itulah suasana diskusi para benda mati yang meratapi pendidikan negeri ini jauh dari apa yang telah diharapkan. Teranglah sudah bahwa memang masalah-masalah dalam bidang pendidikan saat ini adalah diakibatkan sistem. (Arif Purwanto)