Friday, May 12, 2017

Cerpen Tentang 5 Elang bahasa Inggris dan Indonesia

Cerpen tentang 5 elang berikut ini sedianya akan dibuat dalam bahasa Inggris dan juga Indonesia. Namun karena keterbatasan maka untuk versi Inggris belum bisa dibagikan langsung dalam satu kesempatan ini. Nanti supaya bisa langsung dalam satu halaman akan diusahakan menyusul secepatnya. Namun begitu rekan yang membutuhkan bisa menggunakan cerpen aslinya dulu.

cerpen bahasa Inggris 5 elang
Cerpen Tentang 5 Elang bahasa Inggris dan Indonesia
Cerpen ini cukup unik dan menarik. Ceritanya mengangkat tema mengenai lima saudara. Judulnya "mimpi 5 bersaudara", kira-kira seperti apa ya? Untuk karya baru memang selalu saja mengundang rasa penasaran, apalagi tema yang diangkat sangat berbeda dari kebanyakan cerita-cerita yang sudah ada. Supaya tidak kebawa di dalam mimpi mari langsung kita nikmati saja.

Mimpi 5 Bersaudara
Cerpen tentang 5 Elang

Aku sangat bahagia menyaksikan anak-anaku sudah tumbuh bulu lembut di sekujur tubuh. Meskipun mereka belum sekuat aku, belum setangkas aku, belum juga sehebat aku, tetap aku percaya kelak ketika anak-anaku tumbuh dewasa mereka tentu bisa lebih hebat dari aku.

Hebat dalam memburu mangsa, hebat dalam mencium mangsa dari kejauhan, serta hebat pula menemukan mangsa dengan penglihatan yang tajam. Aku yakin itu, karena mereka dilahirkan dari darah seekor pejantan elang pemburu yang handal, gagah berani serta selalu berhasil melemahkan mangsannya.

Elang yang pertama ku beri nama dia Beri, kelak ku pastikan dia handal menaklukan semua musuhnya serta mampu memburu ikan yang berenang di dalam sungai dengan begitu tepat. Sedangkan anak elang yang kedua ku beri nama Linggo, yang kelak ku pastika dia akan mempunya paruh dan cakar yang sangat kuat dan mematikan.

Untuk anaku yang selanjutnya ku beri nama Heri, yang kelak akan ku pastikan dan kudidik dia mahir dalam mendeteksi keberadaan musuh dengan penglihatan dan penciumannya yang tajam. 

Sedangkan anaku yang selanjutnya ku beri nama Medan, yang tentunya akan seperti ayahnya yang gagah perkasa dan selalu menang melawan musuhnya. Sedangkan anaku yang terakhir adalah Beni, yang juga akan ku pastikan dia menjadi pemburu handal.

Aku ingin anak-anakku menjadi anak-anak yang kuat, serta memiliki kemapuan terbang yang cepat dan juga tangguh.

Beri: Ibu kelak aku ingin seperti ayah yang ku lihat gagah perkasa serta mampu terbang tinggi dan cepat, dan memburu musuhnya dengan sangat akurat. Apakah aku bisa seperti ayah, ibu.

Ibu Elang: Tentu, kau sangat bisa seperti ayahmu, karena kau juga telah mewarisi darah seorang jagoan dan penguasa dalam dirimu.

Heri: Berarti kamipun bisa ibu menjadi pemburu yang handal seperti layaknya ayah, (Mewakilinya dirinya sendiri dan saudaranya yang lain yaitu Lingo, Beni, dan Medan)  

Ibu Elang: Tentu kalian semua bisa, karena kalian lahir dan ada di dunia ini memang ditunjukan untuk menjadi seorang penguasa udara, tanah, dan juga air.

Linggo: Aku ingin agar sayapku bisa cepat tumbuh sehingga aku bisa terbang tinggi mengelilingi bumi serta melihat semua keadaan-keadaan di bumi. Tetapi saat ini sayapku belumlah bisa untuk digunakan, karena baru tumbuh dua helai, itupun masih mempunyai ukuran yang sangat kecil.

Heri: Aku juga ingin paruhku ini bisa kuat, dengan demikian aku bisa menembus air dan menangkap ikan di sungai yang jernih. Tetapi paruhku belum begitu kuat, paruhku masih begitu rapu, nampaknya aku harus menunggu cukup lama agar paruhku bisa bertumbuh dengan baik dan bisa memburu ikan di sungai yang jernih.

Beri: Akupun merasakan hal yang sama dengan kalian saudaraku, aku juga ingin terbang bebas, serta sekali-kali mendarat sambil menangkap seekor kelinci. Tetapi untuk bisa terbang dan menangkap seekor kelinci aku butuh sayap, paruh, cakar, yang besar. 

Sementara itu aku belum mendapati paruh, sayap, dan cakar yang besar di dalam tubuhku. Bisa jadi kalau aku mendarat sekarang dan hendak memangsa Pakde kelinci sekarang tentu pakde kelinci dan bukde kelinci akan menertawakanku tanpa henti karena mencoba menggertaknya, dan berusaha untuk mencoba memangsannya.

Medan: Memang benar adanya mau tidak mau, suka atau tidak suka inilah takdir yang menujukan bahwa kita masih di bawa umur dan belum masuk sebagai elang yang ditakuti, gagah, dan perkasa.

Beni: Kalian boleh bermimpi, tetapi ingatlah bahwa untuk saat ini kita belum mempunyai kekuatan apa-apa dan daya apa-apa untuk menguasai air, laut, dan darat. Jadi bersabarlah untuk takdir kita saat ini, karena aku juga yakin hari esok adalah milik kita, dimana kita bisa menunjukan paruh kuat kita, dimana kita bisa menunjukan sayap yang besar yang kita miliki, serta dimana kita juga bisa menunjukan cakar yang kuat lagi tajam yang kita miliki. 

Di masa yang akan datang kita juga bisa menunjukan kepada penghuni air, pakde kelinci, dan bukde kelinci bahwa kita sudah datang dan dilahirkan sebagai elang yang mampu terbang cepat dan tinggi serta memangsa mereka dengan sangat akurat. Sehingga nanti tidak akan ada yang bisa menertawakan kita ataupun mencaci kita.

Ibu Elang: Yah itu terdengar sangat indah anak-anakku, tetapi yang perlu kalian ketahui kalianpun harus berusaha untuk bisa menjadi penguasa air, darat, dan udara. Amatilah ketika ayah kalian sedang berburu dengan demikian kalian memiliki gambaran bagaimana menjadi penguasa.

Anak-anak elang terdiam dan mengamati benar apa yang dikatakan oleh ibunya, tentang harus adanya upaya dan usaha menjadi pemburu sejati. Sehingga dengan ucapan sang ibu, anak-anak elang sadar bahwa sedari beum mempunyai sayap, cakar, dan paruh yang kuatpun mereka harus tahu strategi menangkap musuh.

Beni: Berhayal tentang menjadi penguasa darat, air, dan udara membuatku lapar, ibu aku sangat lapar.

"Aku juga", sahut keempat saudara Beni, yang juga meraskan lapar usai bermimpi tentang masa depannya.
Ibu Elang: Aku sudah sediakan cacing tanah untuk kalian makan.

Pak cacing: Hey enak saja kau bilang, kau mengajakku ke sini untuk menjadikanku santapan anak-anakmu yang tidak berguna ini..!, mereka tidak menakutkan sedikitpun, mereka tidak mempuyai paruh yang kuat, cakar yang tajam, akupun sanggup bila harus melawannya, (Ungkap pak cacing sambil menunjukan jurus kungfunya).

Beni: Hey pak cacing jelek, aku tidak takut dengan gertakanmu, (Sambil mematuk dengan paruh lemahnya, dan sang cacing tertelan oleh anak elang yang tidak mempunyai cakar, paruh, dan sayap yang kuat tersebut).

Ibu Elang tersenyum karena diusianya yang masih belia, Heri sudah menunjukan bahwa dirinya adalah calon pemangsa yang handal. Sang Ibu Elang berkata: Akupun masih mempunyai cacing lain untuk makan kalian, (Sambil menyajikan cacing di depan anak-anaknya.
Rombongan cacing: Tolong..!, jangan mangsa kami,.!.

Tanpa berfikir panjang dan tanpa mendengarkan teriakan, tangis, dari rombongan cacing, anak elang melahap mereka begitu saja. Nampaknya anak-anak elang tersebut juga ingin menunjukan bahwa di usia yang sangat muda inipun anak-anak elang bisa menjadi pemangsa yang kejam, dan handal.

Perut sang anak-anak elang nampak sudah terisi kembali, kini saatnya bagi mereka untuk tidur dan bermimpi menjadi pemburu handal yang menguasa tanah, udara, dan air, sebagaiman layaknya yang sering mereka dengar dari cerita ibunya dan beberapa kerabatnya.

Mimpinya itu membawa jiwanya untuk segera masuk ke masa depan, sehingga usia yang masih dinipun terkadang masih luput dari kesadaran hingga mengakibatkan anak-anak elang itu mempunyai kepercayaan diri bahwa dirinya adalah pemangsa sejati.

Ibu Elang selalu memperkenalkan dan meceritakan tentang alam liar, tetapi yang diceritakan oleh ibu Elang hanyalah tentang makanan, tentang ikan di sungai jernih, dan tentang pakde kelinci, ibu Elang lupa menceritakan bahwa di alam liar juga ada saingannya yaitu Singa, macan, buaya, dan predator pemangsa lain. (Arif Purwanto)