Tuesday, May 16, 2017

Cerpen tentang 6 Sahabat yang Hidup di Rantau

Contoh cerpen tentang 6 sahabat berikut ini bisa dikatakan cukup menyentuh hati. Ada kehangatan diantara para sahabat. Ada juga kepedihan dan kesedihan yang tampak karena beberapa sahabat jauh dari kampung halaman. Mungkin bisa juga dikatakan sebagai sebuah pengalaman hidup jauh dari rumah. Kira-kira seperti apa ya kisah selengkapnya?


cerpen 6 sahabat
Cerpen tentang 6 Sahabat yang Hidup di Rantau
Ya dari pada penasaran anda bisa langsung membaca cerita tersebut. Cerita yang ada di bawah ini ditulis dalam bahasa Indonesia. Selebihnya, nanti atau lain waktu akan ditambahkan juga versi bahasa Inggris dari cerita tersebut. Untuk belajar, ya mudah-mudahan bisa bermanfaat. 

Obrolan Malam Pengobat Rindu Tanah Kelahiran
Cerpen tentang 6 Sahabat

Kisah ini adalah tentang kisah pertemuan di obrolan malam yang memberikan kehangatan rasa persaudaraan, dan juga keceriaan. Meskipun ke enam pemuda yang datang dari tanah Batak ini berada di daerah orang, tetapi mereka tetap merasa seperti di kampung malam berkat adanya obrolan malam yang rutin mereka lakukan. Cerita pendek ini berjudul, "Obrolan Malam Pengobat Rindu Tanah Kelahiran".

Selalu ada hal yang menyenangkan yang kami lakukan, meskipun orang lain tidak merasakan apa yang kami lakukan, dan juga orang lain tidak setuju dengan apa yang sedang kita lakukan dan dengan kebahagiaan yang kami rasakan. Tetapi itu terserah mereka karena menurut kami kehidupan adalah kami yang menentukan bukan mereka, dia, ataupun siapapun yang mempunyai kekuasaan.

Kami tetap bisa bernyanyi walaupun di banyak wilayah orang sedang pusing memikirkan kebutuhan perutnya. Kami tetap bisa tertawa meskipun di beberapa pelosok, masih ada orang-orang yang memikirkan tentang masalahnya dengan orang lain ataupun keluarganya.

Terkadang kamipun ingin membagikan kebahagiaan yang sedang kami rasakan kepada orang lain, namun nampaknya orang lain tidak ataupun enggan menerima kebahagiaan yang sedang kami rasakan.

Rumus menimbulkan kebahagiaan yang kami miliki adalah rumus yang sangat mudah untuk diperalari siapa saja, dan setiap orangpun kami yakin bisa merasakan kebahagiaan sebagaimana yang telah kami rasakan saat ini.

Tetapi perbedaan suku, ras, dan agama membuat kami yang lahir dari kalangan keluarga Batak merasa diisolasi, karena penduduk pribumi enggan untuk bergabung dan juga merasakan kebahagiaan dengan kami.

Tetapi aku beruntung di tengah-tengah kota yang besar ini yang rata-rata pribumi enggan mengenal pendatang masih kutemukan orang-orang yang juga dari kalangan keluarga Batak.

Sehingga layaknya keluarga yang sudah sangat begitu dekat, aku dan kelima temanku juga sudah seperti layaknya sebuah keluarga, kami sering melewati malam hingga larut untuk berbagi canda tawa dengan diringi dengan segelas kopi yang penuh dengan kandungan kafein.

Obrolan tiada putus, meskipun suasana malam sudah tidak semeriah dikala siang hari, tiada kantuk meskipun beberapa penduduk dekat rumah kami sudah mematikan lampu rumahnya tanda sudah tidur.

Tegar: Aku merasakan kehangatan layaknya ketika aku di Medan, ketika di Medan, siapapun andil dalam obrolan malam seperti ini. Baik yang tua dan juga yang muda semuanya ikut ambil bagian dalam meramaikan malam panjang.

Ucok: Memang di tanah kelahiran kita, kita masih merasakan betul persaudaraan yang menjadi dasar negara kita, tetapi di sini penduduk pribumi seolah enggan bergabung dengan kita, jangankan bergabung mengenalpun terlihat enggan.

Tulang: Benar kali kau Cok, aku begitu rindu tanah medan, tanah Batak, yang selalu ada keceriaan dimanapun aku berada.

Boy: Tetapi setidaknya aku masih bertemu kalian yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, sehingga rasa rindu terhadap kampung halaman sedikit terobati karena adanya obrolan malam yang selalu rutin kita adakan di kala malam hari.  

Toba: Aku berharap ketika di sini aku bisa mendapatkan uang banyak, hingga aku bisa pulang dengan membawa uang banyak dan memamerkan kepada tetanggaku di Medan. Akan ku bagi uangku kepada seluruh tetanggaku, karena merekalah keluargaku.

Nababan: Bekerjalah kau Toba dengan giat, agar keinginanmu membawa uang banyak ke Medan bisa tercapai.

Toba: Pasti itu, goblok kali aku, ingin uang banyak tidak bekerja, ingin uang banyak hanya berdoa, tanpa bekerja.

Boy: hahaha, Sadar juga kau Toba, tetapi tetap kau harus berdoa kepada tuhan, tanpa restunya kau tidak akan bisa pulang membawa uang banyak.

Toba: Tentu, doaku tidak putus, siang malam, pagi, sore, dan malam, aku selalu berdoa menjadi orang kaya.

Tegar: Tapi kau jangan lupa sama kami ya, kalau kau sudah menjadi orang kaya.

Toba: Tidak lah aku bisa melupakan kalian saudaraku, kalian itu saudaraku mana mungkin aku bisa melupakan kalian.

Malam semakin larut, dan tidak ada suara satupun yang kami dengar selain dari pada teman-teman kami yang sedang mengobrol. Semuanya lengang tidak ada aktivitas manusia sebagaimana yang biasa dilakukan manusia pada malam hari.

Meski di kota tidak bisa dipungkiri dingin selalu datang dikala pada malam hari, hingga akhirnya kami memutuskan untuk menggesek korek api dan membakar tumpukan kayu yang sudah kami susun sedemikian rupa.

Dengan sedikit keahlian yang kami miliki, dan pengalaman dalam membuat api unggun ketika di Pramuka, kami berhasil membuat api unggun yang mampu menambah kehangatan malam. Kini tulang kami terasa hangat berkat adanya api unggun yang kami buat, meskipun tidak terlalu besar tetapi ini sudah sangat cukup bagi kami.

Cukup untuk menghilangkan nyamuk malam yang dengan sengaja selalu menggigit kulit kami, cukup untuk menghilangkan dingin malam yang menusuk tulang dan membuat berdiri bulu kuduk kami.

Rasa cukup tersebut juga ditunjang dengan obrolan menarik yang datang dari kami berenam, yang selalu membahas tema obrolan menarik, hingga meskipun setiap malam kami bertemu tidak sedikitpun kami bosan, karena selalu ada hal menarik yang kami obrolkan.

Waktu sudah menunjukan jam 3:20, dini hari, kini tiba saatnya untuk kami bubar, untuk tidur sekejab hingga akhirny bangun pada pagi hari untuk lanjut bekerja.

Mulai saatnya kami membuka alam mimpi dan bercengkrama kehidupan yang abstrak yang kadang mustahil kebenarannya. Kami selalu berharap, bahwa kehidupan di bahagia di dunia nyata kami juga bisa kami rasakan di kehidupan mimpi kami.

Sehingga dimanapun dan kapanpun kami berada, kami bisa merasakan kebahagiaan di dunia mimpi dan dunia nyata.

Manusia memang selalu berharap kesempurnaan dalam hidupnya, karena harapan dan ucapan adalah doa. Sehingga dengan demikian kami selalu berharap, dan berucap agar kami bisa menjadi manusia yang di atas rata-rata.

Rata-rata pendapatan tinggi, rata-rata kehidupan sejahtera, dan rata-rata dari kami mempunyai seorang istri yang cantik. Nampaknya memang indah hidup di atas rata-rata itulah yang selalu menjadi impian dan juga keinginan kami.

Tetapi kami ingin menjadi manusia yang hidup di atas rata-rata yang mampu menolong semua umat, umat yang hidup serba kekurangan, yang terdiri dari umat yang tidak mempunyai pekerjaan dan umat yang mempunyai pendapatan kurang mencukupi kebutuhannya.

Bila kami sudah menjadi orang kaya dan juga sudah hidup di atas rata-rata, maka kami akan mendermakan 50% dari kekayaan kami, sehingga bisa digunakan untuk mensekahterakan para umat-umat yang tidak mempunyai pekerjaan dan juga tidak mempunyai pendapatan cukup untuk kebutuhannya. (Arif Purwanto)