Thursday, May 25, 2017

Cerpen tentang Wanita Berhijab Inggris dan Indonesia

Cerpen bahasa Inggris kali ini akan mengangkat tema tentang wanita berhijab. Tema ini masuk dalam kategori religi yang bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Tentu saja ceritanya bukan saja untuk hiburan tetapi juga untuk pembelajaran menjadi pribadi yang lebih berkualitas.

cerpen wanita berhijab
Cerpen tentang Wanita Berhijab Inggris dan Indonesia

Karya sederhana ini bisa digunakan sebagai bahan latihan untuk pembaca semua dalam mengungkapkan gagasan dan pikiran dalam bentuk sebuah tulisan atau karangan. Selain itu, karya ini juga dapat berfungsi sebagai media pembelajaran bahasa Inggris. Sebegai contoh untuk terjemahan.

Seperti fokus kita, karya cerpen menarik ini akan dibahas atau dibagikan dalam dua bahasa sekaligus. Yang suka cerpen Bahasa Indonesia bisa membaca versi aslinya dan yang membutuhkan cerpen bahasa Inggris bisa membaca versi terjemahan. Yang pertama mari kita nikmati kisah tersebut dalam bahasa Indonesia.

Bukan Sekedar Menutup Anggota Badan
Cerpen tentang Wanita Berhijab

“Berhijab bukan hanya untuk gaya-gayaan, untuk tampil cantik atau sekedar menutup anggota badan atau juga hanya untuk menggugurkan kewajiban semata. Lebih dari itu nak, hijab adalah cerminan kehormatan seorang wanita.”

Markonah melontarkan kata-kata yang begitu menusuk hati. Tak disangka, Markonah berkata demikian. Menolak keinginan putrinya untuk memakai hijab.

“Apakah menurut kamu seorang wanita muslim yang memakai pakaian sesuai syariat dibenarkan berkata-kata kasar? Tidak nak. Apakah menurut kamu wanita berhijab dibenarkan berduaan dengan lelaki yang bukan suami dan tidak memiliki hubungan darah apapun?”

Sari benar-benar terdiam, tertunduk tak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Markonah. Pelan, ia mengangkat kepalanya. Mencoba mengarahkan pandangan ke mata sang ibu, mencari jawaban atas kebingungan dalam hatinya.

“Jadi, benar ibu tidak mengizinkan aku memakai hijab?” Sorot mata Sari begitu tajam. Menuntut jawaban yang logis tanpa penjelasan yang terlalu panjang, “benar atau tidak bu?”

“Tidak begitu nak. Ibu tentu sangat senang jika kamu memiliki kesadaran itu. Tapi ibu harus mengingatkan dan meyakinkan kamu atas keputusan yang akan mengubah seluruh kehidupan kamu itu Sari…”

“Tapi ibu mengizinkan aku memakai hijab bukan?”
“Iya, ibu mengizinkan. Tapi sebaiknya kamu pertimbangkan lagi. Kamu pikirkan matang-matang. Besok-besok saja pakai jilbab-nya… Kuatkan saja niatmu dulu Nak”

Sari kembali menundukkan pandangan. Ia mengarahkan tatapan mata ke lantai. Seolah mencari sesuatu yang hilang. Markonah menghela nafas sejenak, ia kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

***

Meja ruang keluarga penuh makanan. Hanya ada beberapa ruang kecil untuk meletakkan remote tv. Paijo di meja santai-nya di sisi kanan ruangan. Di meja juga terletak beberapa toples makanan kecil. Segelas teh manis di sisi kanan meja dan laptop di tengahnya. Sesekali ia tampak mengetik sesuatu dan mengalihkan pandangan ke televisi yang sedang dikendalikan istrinya.

“Duh, Pak coba lihat deh… anak zaman sekarang kok seperti itu ya. Mengerikan?”
“Apa sih Bu, memangnya ada apa dengan anak-anak?”
“Ya ini Pak, coba lihat sini geh…! Moso pake jilbab seperti itu. Pakaiannya ketat!”

“Ah, ibu ini… Mana, mana…. Itu kan enggak semua seperti itu Bu.”
“Tapi rata-rata memang seperti itu Pak…!”

Paijo kembali ke tempat semula. Ia kemudian menutup laptop di mejanya. Ia melangkah pelan ke sisi sang istri. Duduk disampingnya. Kakinya diangkat ke atas sofa. Tangan kanannya membenarkan posisi sarung yang di kenakan. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Anak zaman sekarang tantangannya memang lebih besar bu. Beda dengan zaman kita dulu…”
“Benar pak, Ibu juga kadang-kadang takut memikirkan putri kita. Takut kalau dia ikut-ikutan yang lain” “Semoga saja tidak bu…”

Sesaat, terdengar suara kaki melangkah mendekat ke ruang keluarga. Sari muncul dari kamar setelah menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

“Uh, bapak sama ibu tumben akrab benar, pasti lagi ngomongin Sari ya?”
“Ya… apa lagi nak. Setiap hari ya yang bapak dan ibu bahas ya cuma kamu. La wong kamu satu-satunya anak bapak sama ibu.”
“Nah, ini kalau sudah seperti ini pasti akan panjang deh nasehatnya”

Sari menatap ke arah ayah dan ibunya. Ia kemudian duduk menghimpit di tengah-tengah mereka. Seperti anak kecil. Ayahnya bergeser, ibunya mengikuti.

Mereka bertiga kemudian terdiam. Masing-masing dari mereka menatap ke arah televisi. Suasana menjadi hening. Untuk beberapa saat mereka larut dalam angan masing-masing. Ada sesuatu yang menahan mereka berbicara.

Markonah membuka tempat kue, memasukkan tangan kanannya dan mengambil beberapa keeping kue coklat di toples.

“Ah, jelek Bu… ganti sih….”
“Tuh kan Pak…. Kalau ada Sari kita pasti enggak jadi nonton. Nanti ah, lagi seru…!”
“Ah ibu…. Ada sinetron seru tuh. Udah mulai…”
“Lah… mulai deh… Bapak jadi wasit lagi nih ceritanya….”

Suara tawa kemudian pecah menyusul rengekan Sari. Mereka akhirnya terlarut dengan canda tawa memenuhi ruangan itu. Terlihat kehangatan menyelimuti ruangan, menenggelamkan gundah hati yang Sari rasakan mengingat keinginannnya yang masih belum terwujud.

***

Jumat, 05 Mei 2017, siang hari Sari pulang dari sekolah. Ia segera meletakkan tas, berganti pakaian dan menuju ke ruang makan. Disana sudah duduk sang ibu yang sedang menyiapkan makanan.

“Ibu hari ini tidak pergi kerja?”
“Hari ini ibu libur Nak. Lagi malas, agak pusing tadi.”
“Ya, ibu istirahat saja. Biar Sari menyiapkan makan sendiri aja Bu…”
“Udah kok, nih. Kamu mau makan pakai apa?”

Markonah segera mengambilkan nasi, sayur dan lauk – pauk untuk sang anak. Sari dengan lahapnya menyantap makanan yang dihidangkan oleh sang ibu. Selesai makan siang, Sari ke kamar mengambil beberapa buku cetak dan menuju ke ruang tengah.

“Istirahat dulu Nak, kamu kan baru pulang…”
“Ya ini sambil istirahat bu. Lumayan dikit-dikit sambil nunggu ngantuk…”
“Hem….”
“Bu…”
“Iya… ada apa?”
“Kapan sari boleh berhijab?”
“Oo… berhijab. Yang mau berhijab kan kamu. Ya terserah kamu dong… memang kamu sudah siap jadi wanita berhijab?"
“Ya siap Bu… memang kenapa sih Bu kelihatannya ibu tidak setuju?”
“Ya berhijab itu bukan hanya tubuhnya saja Nak, semuanya, hati, pikiran, perbuatan dan sebagainya…”
“Iya Bu… kan ada ibu yang akan membimbing Sari….”
“Iya sayang, tentu saja ibu tidak akan melepaskan sekalipun pandangan ibu dari kamu. Asal… niat kamu sudah bulat…”

Sabtu, Sari langsung berubah total dari gadis remaja yang berpakaian serba modern menjadi seorang wanita muda yang anggun tapi sedikit gerah. Hari itu, ia sukses membuat semua orang di kelasnya terkagum-kagum dengan penampilan barunya. “Sari… kamu benar-benar tambah cantik, anggun sekali”

Sari bukan hanya sukses membuat teman-temannya terpukau. Ia mampu membuat banyak guru yang melihatnya pangling, tak mengenali dirinya. Ia pulang ke rumah dengan hati yang berbunga-bunga.

Satu minggu berlalu, Sari mulai merasakan sedikit tekanan. Teman-temannya sudah mulai berkomentar mengenai tingkah laku dan perbuatannya di sekolah. Saking asyiknya, Sari lupa diri bahwa ia sekarang adalah wanita berhijab yang harus lebih mengendalikan diri dan bermoral.

“Bu… aku lepas hijab ya…!”
“Astaghfirulloh… kamu bicara apa Sari. Tidak boleh begitu…”
“Habisnya, teman-teman banyak yang mengejek aku Bu…”
“Mengejek bagaimana?”
“Katanya aku tak pantas pakai hijab…!”

Melihat putrinya yang mulai kalut, Markonah pun langsung mendekap dan menasehati Sari. Ia mengingatkan bahwa keputusannya memakai hijab memang harus merubah gaya hidupnya. Ia juga mengingatkan bahwa hijab yang ia pakai harus mencerminkan jati diri dan perbuatannya.

--- Tamat ---

Kak, mana versi bahasa Inggris cerpen ini? Ada yang bertanya seperti itu pasti ya? Sabar, untuk versi kedua tidak langsung ditayangkan di sini. Tapi bagi yang membutuhkan bisa langsung download cerpen tersebut dari tautan yang disediakan.

Kalau tidak mau repot, rekan semua juga bisa menerjemahkan cerpen di atas menggunakan terjemahan google. Tinggal mana yang lebih disukai. Semua sama saja. Lain waktu, untuk karya yang lebih singkat akan diusahakan langsung beserta terjamahan.

Saat ini, karya-karya yang panjangnya lebih dari 1000 kata akan dibagikan dengan metode yang sama. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan bacaan tambahan bagi rekan semua yang membutuhkan. Itu saja, semoga bermanfaat.