Saturday, May 6, 2017

Cerpen tentang Wisata Alam Bahasa Inggris dan Terjemahan

Cerpen wisata alam, sebuah bahan bacaan yang kadang juga dibutuhkan. Kebetulan juga, kali ini ada sebuah cerita menarik yang ingin disampaikan untuk para pembaca semua. Sebuah cerita berkesan yang berasal dari perjalanan singkat menikmati alam terbuka yang asri dan sejuk. Sebuah tempat yang jauh dari deru debu kendaraan bermotor.

Cerpen tentang Wisata Alam dalam Bahasa Inggris Indonesia
Ceritanya berisi tentang kenangan perjalanan ke sebuah tempat wisata yang sama sekali belum di kenal publik. Sebuah bendungan yang cukup besar dengan debit air melimpah dan lingkungan yang asri. Menjadi sebuah cerita yang mengesankan memang, dari pada penasaran lebih baik dibaca saja ya.

Kenangan Wisata Alam di Bendungan Bukit Tua
Cerpen tentang Wisata Alam

Angina berhembus kencang. Terik matahari sama sekali tak terasa panas. Pepohonan di atas bukit terlihat melambai ke arahku. Mengajak aku dan beberapa temanku bercengkrama dibawah bayangnya yang teduh.

Aku, Riski dan Aish masih berada tepat di atas bendungan keramat yang dibangun di atas dua bukit yang menantang langit. Bangunan bendungan cukup luas. Tujuh mobil di jejer mungkin masih sisa banyak.

Sisi kanan dan kiri bangunan di beri pembatas pengaman. Di cat warna-warni, biru kuning. Pagar kokoh melindungi sisi jalan di atas bendungan keramat yang sedang ku jejaki. “Lumayan besar juga ya bangunan ini”. Aku dan kedua temanku tak henti-hentinya mengagumi keadaan bendungan di sana.

Di atas bendungan memang cocok di gunakan sebagai areal wisata alam. Kakan kirinya dipenuhi dengan tanaman bunga yang warna warni. Di depan terhampar air yang membentang memenuhi cekungan diantara dua gunung kecil itu.

Udaranya, tidak perlu di sangsikan, sangat sejuk. Pepohonan besar di kedua bukit itu tak pernah kewalahan menyuplai udara segar untuk daerah sekitar.

Di salah satu bukit, yang berada di kanan tempat kami duduk, tertera tulisan besar nama bendungan tersebut. “Bendungan Keramat” di tulis besar. Dibawahnya ada semacam monument tempat tanda tangan peresmian waktu pertama kali.

“Coba lihat ke sana. Air membentang diantara bukit-bukit yang seolah akan tenggelam. Indah, air-nya tenang tapi kadang ngeri juga kalau membayangkan seberapa dalam air di bendungan itu.

“Pasti banyak ikan disana ya?”
“Mungkin. Tapi, kenapa tidak ada orang yang memancing di bendungan ini ya kalau ada ikan-nya?”

“Bendungan ini memang lebih pantas jadi obyek wisata alam. Lihat sekeliling, suasananya asri. Coba dengarkan, masih banyak terdengar hewan-hewan liar”

Hampir satu jam lebih kami duduk santai di atas bendungan. Setelah cukup melegakan badan dari perjalanan berangkat, kami memutuskan untuk menyusuri salah satu bukit. Melihat lebih tinggi di sisi lain bendungan.

“Ris, jangan lupa minum…”
“Iya, nih sudah di tas…”
“Perlu makanan kecil enggak nih kira-kira?”
“Kalau bisa, kenapa tidak. Nanti kita santai lagi di atas. Tidak jauh ini….”

Berbekal beberapa botol air mineral, kami merangkak naik ke atas bukit. Menyusuri jalan setapak yang tampak sangat bersih. “Sepertinya banyak juga yang naik ke bukit ini ya. Coba perhatikan jalannya, halus.” “Iya benar, tapi kanan kirinya bersih ya, maksud ku tidak ada sampah aneh-aneh, hanya dedaunan kering”

Sambil menikmati suasana pepohonan yang rindang, kami pelan-pelan naik ke atas. Sesekali kami berhenti, mengamati beberapa burung yang bernyanyi menyambut kami. “Alam yang benar-benar sejuk. Tidur di sini kayaknya aku bisa dua hari tidak bangun, benar-benar sejuk!”

“Ris, tunggu. Kita ambil gambar dulu di sini. Tuh ada batu besar…”, teriak Riski tiba-tiba. Kami pun berhenti sejenak untuk foto-foto. Tak mau melewatkan kesegaran suasana hujan kecil itu. Beberapa meter ke atas, kami kembali berhenti. Aku melihat sepasang burung yang singgah di dahan yang cukup pendek.

“Nah, itu juga tak boleh dilewatkan dong…”
“Iya, jepret…jepret…”

Aku segera mengabadikan momen itu, sepasang burung yang sedang bercengkrama, santai. Ku letakkan kaki kanan di sebongkah batu, mengambil sudut yang sempurna untuk sepasang makhluk Tuhan itu. Dua tiga bidikan ponsel dapat ku abadikan sampai tiba-tiba… “Aduh … duh… duh…”

Kakiku terpeleset, lepas dari batu. Aku pun tak bisa menahan badan. Jatuh tergelincir, menggelinding sampai beberapa meter ke bawah. “Au… au …” aku berusaha meraih apa saja, akhirnya tersangkut di sebuah pohon yang akarnya dapat ku raih.

Riski dan Aish yang sudah panik segera menghampiriku. “Waduh, hati-hati deh Ir, gimana-gimana, kamera-nya enggak apa-apa kan?”, ucap Riski sambil nyengir. “Uh, dasar loe ya Ris. Kawan jatuh bukan ditanya luka atau tidak, ini kamera yang dipikirin”

Aish segera memegang tanganku. Membantu aku bangun. “Uh, untung saja enggak apa – apa”. “Habisnya kamu juga sih Ir, kurang hati-hati. Gimana tadi kalau kamu jatuh sampai ke bawah, kan kita yang repot”

“Udah, udah, kawan sakit bukan dipijit kek, apa kek. Iya… iya, nanti lebih hati-hati.” Setelah membersihkan badan dan memeriksa kamera, kami segera melanjutkan perjalanan ke puncak. Sampai disana, tidak di sangka sudah ada juga orang lain yang bersantai menikmati sisi lain air bendungan.

“Hai semua…” aku sempat menyapa beberapa orang untuk mengambil tempat yang masih lengang. “Woi, sini-sini gabung…”, salah satu dari mereka mengajak kami bergabung. Bahkan ada yang menawari kami minuman dan beberapa makanan ringan.

Sepertinya mereka juga jiwa-jiwa petualang, seperti kami. Kami tak mau kehilangan waktu, kehilangan momen. Mereka sudah lama menikmati suasana, sedangkan kami baru datang.

Sekitar pukul 3 sore, aku lupa melihat jam waktu itu. Kami segera duduk santai dan mengeluarkan minum dan cemilan. Tak lupa, yang utama, senjata kami telah siap di tangan masing-masing. Aku dengan kamera dslr, Risk dengan kamera ponsel dan Aish dengan kamera fuji super slim miliknya.

Berbagai macam obyek tak luput dari bidikan kami. Jauh dekat, semua tak luput dari pandangan. Maklum, suasana santai di alam seperti ini cukup jarang kami miliki. Apalagi tempat yang benar-benar asri, alami dan tidak penuh pengunjung.

Air yang membentang diabadikan dalam foto. Sisi lain bukit yang jika dipikir-pikir tampak aneh. Pepohonan, dedaunan kering, batu bahkan beberapa pengunjung di atas bukit itu pun tak luput dari bidikan kamera kami.

Melihat suasana yang begitu tenang jauh dari deru kendaraan, tiba-tiba lamunan menyeruak, “coba kita bisa bermain perahu di sana ya, pasti asyik …”

“Iya benar, ada enggak ya?”
“Lah, sudah jangan mengkhayal macam-macam. Bentar lagi juga kita turun. Lain waktu mungkin, kalau tempat ini sudah lebih dikenal sebagai salah satu wisata alam yang indah…”

Setelah beberapa lama menghabiskan waktu menikmati puncak yang tak begitu tinggi itu, kami menyempatkan diri untuk bergabung dengan beberapa pengunjung lain yang tadi telah menyapa kami.

“Hei, aku Irsyat, ini temanku Riski dan ini Aish…”
“Hai, aku Hadi…”
“Jaka…”
“Ridwan…”
“Aku Mawar….”
“Melati…”

Mendengar dua nama terakhir yang disebut kami langsung tertegun. Ternyata oh ternyata, kami berkenalan dengan cewek kembar, si mawar dan melati. Mereka yang sudah duluan naik tersebut rupanya adalah anak pribumi, katakanlah begitu. Mereka berasal dari kampong tepat di bawah bendungan tersebut, yang saat berangkat kami lewati.

Sekitar kurang lebih setengah jam kami berbincang dan bercanda. Karena waktu sudah sore, akhirnya kami memutuskan untuk turun bersama-sama.

Hari itu cukup melelahkan. Meski begitu bagi kami cukup berkesan. Maklum, kami adalah anak-anak dari keluarga yang tidak begitu lebih harta. Kami hanya bisa liburan dengan menghabiskan waktu di alam terbuka, obyek wisata alam yang masih belum dikenal siapapun. Yang dekat, yang murah meriah.

Liburan di bendungan keramat bagi kami sangat memuaskan, sangat berkesan. Kenangan itu tidak akan pernah aku lupakan, apalagi kenangan itu bersama dengan sahabat terbaik yang aku miliki.

--- Tamat ---

Hampir saja lupa. Cerita ini kan sebenarnya akan dibagikan dalam dua bahasa sekaligus. Nah yang di atas adalah cerita yang ditulis dalam bahasa Indonesia, cerpen wisata dalam bahasa Indonesia. Siapa tahu nih, ada yang ingin membaca versi cerpen bahasa Inggris. Jadi tak lupa disiapkan juga.

Karena cukup panjang, cerpen versi bahasa Inggris atau terjemahan tidak disertakan langsung. Bagi rekan pembaca semua yang membutuhkan bisa membacanya melalui tautan yang sudah disediakan. Mudah-mudahan bermanfaat.