Sunday, May 28, 2017

Contoh Cerita Cinta Mengharukan Bikin Nangis

Contoh cerita cinta mengharukan bikin nangis, kira-kira seperti apa ya? Kalau sesuai tema, tentu saja kisah yang disuguhkan akan mampu membuat air mata kita mengalir. Dari tema yang dijudul di atas jelas sekali ada kepedihan dan kesedihan yang mendalam dalam kisah cerpen berikut.

cerita cinta yang mengharukan

Judulnya “kebahagiaanmu lebih berarti”. Nuansa dari judul cerpen itu sepertinya menyiratkan sebuah pengorbanan yang begitu besar. Ada suatu pertentangan yang begitu besar antara dua sisi kehidupan atau mungkin kebutuhan dan cinta. Penasaran, kalau hanya membaca judulnya tidak akan cukup.

Kehabagiaanmu Lebih Berarti
Cerita Cinta Mengharukan

“Ya Alloh… kenapa ini terjadi…” Sari duduk di sisi ranjang dengan meremas jari-jemari tangan. Gelisah. Air bening mengalir di pipi. Batinnya menjerit pilu. Kedua bibirnya terkatup kuat. Bola matanya merah, perih.

Malam semakin larut. Mata Sari masih terbuka lebar. Siksa batin tak bisa melelapkan matanya. Dilema yang ia alami begitu kuat. Angin malam menyelinap dari sela jendela. Membelai rambutnya yang hitam. Tak berarti.

Jangkrik malam bernyanyi. Burung hantu mendendangkan lagu asmara. Cicit hewan malam mencoba mengalihkan perhatian Sari. Tak mampu. Sari terkubur dalam diam. Kebimbangan dan kegelisahan menggerogoti hati. Rasa cinta menusuk-nusuk jiwa. Hampir semalaman, Sari tak sedetikpun terpejam.

Fajar mulai menjelang. Suara kokok ayam menembus dinding rumah yang tinggi. Mengusik kesadaran Sari yang diselimuti letih tak tidur semalaman.

“Bu… Ibu… sudah siang… ibu enggak ngantor?” “Hem…” “Tumben Ibu jam segini kok belum bangun… Apa ibu sedang libur ya?” Wulan bergegas ke dapur. Ia segera menyiapkan sarapan. Menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah.

“Hem… kamu sudah masak nak…”
“Iya bu… sarapan sudah siap. Sudah beres semua. Ibu baru bangun, enggak ngantor tah bu. Ibu enggak enak badan ya?”
“Iya… ibu sedikit gak enak badan nak…”
“Lo… ibu kenapa, mata ibu bengkak. Merah… ibu habis nangis… ada apa bu…”
“Enggak nak, ibu ngantuk aja tadi malam susah tidur…”
“Ya sudah, ibu sarapan dulu aja. Habis itu istirahat. Apa perlu aku panggilkan dokter bu?”
“Enggak usah nak… ibu istirahat aja. Nanti juga enakan… kamu enggak ke kampus?”
“Nanti agak siang bu… Cuma ada satu mata kuliah…”

Sari segera membersihkan diri dan mengambil sarapan. Wulan meneruskan aktivitasnya. Jam 10, Wulan sudah santai di depan tv sambil membaca sebuah buku yang cukup tebal. Tak henti-hentinya ia membolak-balik lembaran buku berwarna biru tersebut.

Tak berapa lama ia meraih ponsel dan menuliskan pesan singkat. “Mas, sore nanti jalan-jalan yuk…”, ia segera mengirim pesan itu ke nomor Lerian.

Tak lama, segera ada balasan ke ponsel Wulan. Wulan tersenyum-senyum simpul membaca pesan singkat itu. Ia kemudian menutup buku di tangannya dan segera pergi ke kamar. Siap-siap berangkat kuliah.

“Bu… aku berangkat kuliah ya Bu… Ibu istirahat aja di rumah…”
“Iya nak…”

Setelah berpamitan dengan sang Ibu, Wulan menuju kampus menggunakan taxi. Ia keluar dengan hati berbunga-bunga. Hari itu ia akan jalan-jalan dengan pria yang ia cintai. Semakin hari, Wulan memang sudah semakin cinta pada Lerian. Padahal sebenarnya belum ada ikatan apapun diantara mereka. Bahkan Lerian pun tak pernah mengungkapkan perasaannya pada Wulan. Sebaliknya, Wulan menganggap itu hanya masalah waktu. Meski Lerian belum menyatakan cinta namun sikapnya yang hangat dan pengertian sudah pasti “sesuatu”.

Jam lima sore, sepulang Lerian dari kantor, ia segera menjemput Wulan di kampus dan membawanya jalan-jalan sore. Mereka tampak begitu serasi, bahagia. Wulan begitu sumringah. Bahagia, lupa segala hal lain.

***

Surya mulai tenggelam. Anak gadisnya belum juga pulang. Sari mulai gelisah, takut ada apa-apa dengan anak semata wayang peninggalan suaminya dahulu. Ia beranjak ke ruang tamu. Menatap tajam jam yang tergantung di dinding, “kemana ini anak, jam segini kok belum pulang…”

Ia segera meraih ponsel. “Wulan… kamu dimana nak, kok belum pulang…”, tanya Sari. “Iya bu… maaf lupa ngasih tahu, Wulan lagi nonton sama Lerian…”, jawab Wulan di seberang telepon.

Ada perasaan lega sekaligus teriris di hati Sari. Lega karena ia tahu benar bahwa Lerian adalah sosok lelaki yang bertanggungjawab dan tidak neko-neko. Sakit dan teriris manakala ia mengetahui putrinya sedang bersama pria yang ia cintai.

Sari melangkah ke depan. Menutup pintu yang sedari tadi terbuka. Ia kemudian ke ruang tengah dan menghidupkan televisi. Beberapa kali remote di pencet. Ia pun rebahan lemas di sofa.

***

“Sampai di sini aja mas…” Wulan meminta Lerian untuk menghentikan motornya. “Kenapa Wulan, kenapa enggak sampai rumah sekalian…?”, tanya Lerian. “Enggak usah mas, nanti mas Lerian kemalaman…”, jawab Wulan. “Kenapa sih, memang enggak pantas ya mas Lerian bertemu orang tua kamu…?”, tanya Lerian.

“Bukan enggak pantas mas, tapi belum saatnya, nanti aja…”
“Nanti, nanti kapan…?”
“Nanti… nanti kalau mas Lerian sudah menyatakan cinta sama Wulan…”

Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Wulan segera berlari kecil meninggalkan Lerian. Jantungnya berdetak begitu kencang. Ada perasaan takut dan juga bahagia menyelimuti hati Wulan. Ia pun bergegas menuju rumah. Baru menjejakkan kaki di pintu, ponsel Wulan berbunyi.

“Halo…”
“Udah nyampe rumah…?”
“Udah mas, kenapa?”
“Enggak… khawatir aja kamu jalan sendirian…”
“Enggak ada apa-apa kok mas, ini udah di dalam rumah…”
“Ya sudah kalau begitu ya…”
“Iya mas…”

Wulan segera masuk ke kamar, tidak menyadari keberadaan ibunya di ruang tengah yang sedang berbaring di sofa. Melihat anak perempuannya pulang dengan selamat, tak kurang satu apapun, Sari segera beranjak mengunci pintu depan. Sebelum menuju ke kamar, Sari sempat melihat putrinya sedang tersenyum – senyum sambil bernyanyi kecil di kamarnya. Ia pun membiarkan Wulan dan langsung masuk ke kamar.

***

Hari bergulir begitu saja. Tanpa terasa kedekatan Wulan dan Lerian semakin nyata. Sari semakin menyadari bahwa putrinya benar-benar menaruh hati pada sosok Lerian. Ia pun memberanikan diri mengambil keputusan paling pahit dalam hidupnya.

Pagi, seperti biasa ia berangkat ke kantor. Menjalankan rutinitas sehari-hari untuk bertahan hidup. Di sela-sela waktu, beberapa kali Lerian mencoba mencari celah untuk ngobrol berdua. Sari mencoba menghindar sebisa mungkin. Sampai sore, ketika jam kerja usai…

“Sar… tunggu…”
“Iya mas… ada apa?”
“Beberapa minggu ini kita sibuk sendiri-sendiri, gimana kalau makan malam di luar…?”
“Ah mas, aku sudah ditunggu di rumah…”
“Ah tidak apa-apa, sebentar saja… yuk…”

Lerian segera menggandeng tangan Sari. Tak berdaya. Merasakan pegangan tangan Lerian yang hangat, Sari menurut bak kerbau. Ia melangkah disamping Lerian. Menuju tempat makan biasa yang mereka datangi.

“Sar… kapan aku ke rumah. Aku sudah tidak sabar ingin mengenal Tri… kamu kan sudah janji…”
“Iya mas… maaf…”
“Loh, memang kenapa sih…?”
“Iya mas… aku ingin bicara serius sama kamu…”

“Kenapa sih Sar, kamu jangan bikin aku takut ya…”
“Mas… sepertinya hubungan kita hanya bisa sampai di sini. Aku tidak bisa mas…”
“Loh… kenapa… kenapa tiba-tiba kamu seperti itu sari. Ada apa sayang?”
“Tidak mas… aku tidak bisa… bukan karena ada orang lain, atau ada cinta lain selain kamu tapi aku punya kewajiban untuk mengurus putriku yang semata wayang… aku tidak bisa mas…”

Sambil berderai air mata, Sari berlari meninggalkan Lerian yang tak bisa berkata sepatah katapun. Ia terus berlari dan terus berlari hingga ditelan malam. “Maaf mas, sekali lagi maafkan aku…”

---oOo---