Monday, May 22, 2017

Contoh Cerita Konyol yang Bikin Geli Bahasa Indonesia

Cerita-cerita konyol mungkin bisa menjadi hiburan yang menyegarkan ketika kita sedang penat dan letih dengan berbagai persoalan hidup. Ada unsur lucu dan menghibur yang biasanya dikisahkan dalam cerita-cerita seperti itu. Itulah sebabnya, pada kesempatan ini kita akan membagikan sebuah cerita menarik untuk anda semua.

cerita cerpen konyol lucu
Contoh Cerita Konyol yang Bikin Geli dalam Bahasa Indonesia

Cerita berikut ini bentuknya cerita pengalaman nyata tidak nyata. Kisahnya adalah tentang kejadian memalukan atau tidak mengenakkan yang terjadi dulu, waktu masa sekolah. Mungkin anda juga pernah mengalami kejadian-kejadian seperti itu bukan? Kebanyakan dari kita mungkin pernah mengalami kesalahan yang memalukan.

Untuk anak cowok, pernah tidak lupa mengancingkan resleting celana? Cewek juga mungkin pernah mengalami hal itu. Atau, pernah tidak menginjak kotoran di tengah-tengah keramaian? Banyak deh kemungkinan kesalahan kecil yang bisa membuat kita malu. Dulu, waktu kecil mungkin banyak hal seperti itu.

Yang berikut ini adalah salah satu contoh kejadian seperti itu. Ceritanya diberi judul “segelas botol minuman kemasan”. Seperti apa ceritanya sih, dari pada hanya penasaran saja sampai tidak bisa tidur lebih baik kita baca saja berikut.

Segelas Botol Minuman Kemasan
Cerita Kejadian Konyol

Kisah pengalaman kejadian ini pernah terjadi beberapa tahun yang silam. Tepatnya ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama atau smp. Hari sial, memalukan dan juga menjengkelkan bagi aku saat itu. Kurang konsentrasi, grogi atau entah apa, aku melakukan sesuatu yang tidak lucu untuk diceritakan.

Bani, aku dan Suhar adalah tiga orang sahabat yang tidak pernah berpisah. Kami selalu bermain bersama, belajar bersama dan seru-seruan bersama. Di rumah, tempat tinggal kami berdekatan, kami tetangga satu sama lain. Di sekolah kami juga satu sekolahan dan satu kelas. Wajar jika kami menjadi sahabat dekat.

Meski tidak terlalu pintar, kami termasuk anak-anak yang rajin belajar. Bukan membanggakan diri sih, tapi kenyataannya memang begitu. Pada hari libur, setengah harinya kami habiskan untuk belajar kelompok.

Sudah kebiasaan dari sd. Meski sebenarnya kami lebih banyak bermain-nya dari pada belajar. Meski begitu belajar kami yang sambil bermain itu selalu mudah dipahami, mudah diingat.

Saat itu kami naik kelas 3 smp. Kalau sekarang disebut kelas 9 smp. Secara tidak disangka, kami mendapatkan undangan belajar bersama dari salah satu teman sekelas. Namanya Iin. “Kalian besok ke rumah ya, belajar bareng”, itu katanya.

Di hari yang sudah ditentukan, kami pun ke rumah Iin. Sampai di sana kami kaget. Ternyata, rumah Iin cukup besar. Pagarnya saja mewah. Kami sempat grogi dan ragu kalau itu rumah dia. Sebab di sekolah ia tampak biasa saja, seperti bukan anak orang kaya gitu.

Dengan sedikit takut, kami memberanikan diri untuk masuk. Di rumah, Iin sudah menunggu kami dari tadi. Ia pun mengajak kami masuk rumah. “Enggak usah In, disini saja belajarnya. Kan asyik…”, ucapku menolak ajakan Iin.

Akhirnya kami belajar di teras rumah yang cukup lebar. Awalnya kami saling tanya masalah PR yang belum dikerjakan. Setelah itu kami saling main tebak-tebakan. Satu orang memberi pertanyaan dan yang lain berebut menjawab. Kadang kami terpaksa membuka buku untuk menjawab pertanyaan sulit yang Iin berikan.

“Hayo, jawabannya apa…”
“Aduh… susah amat sih In…”
“Iya susah In… ganti aja pertanyaannya…”
“Enggak, harus di jawab dong… Hayo Suhar, Bani…”
“Lorence… gimana kamu, ayo jawab…!”

“Aduh, aku nyerah deh…”
“Benar-benar, nyontek di buku boleh ya….”
“Terserah…”
“Duh enggak ketemu nih… nyerah…”
“Hayo… tinggal Suhar, bagaimana?”
“Nyerah juga ah… nyerah semua…”
“Ya sudah, sekarang jawabannya apa In?”
“Ha…?”
“Jawabannya… kami tidak ada yang tahu, sekarang kamu yang jelasin deh…”
“Ah… “
“Ah apa…. Jawabannya ap?”
“Enggak tahu…”
“Hu….. dasar kamu In…”

Rupanya, Iin memberikan pertanyaan yang jawabannya tidak ia tahu. Setelah di protes, akhirnya ia minta maaf. “Ya habisnya, dari tadi isinya saling tes. Pada sok pinter semua sih…”

Belum selesai kami seru-seruan tiba-tiba Iin di panggil. Akhirnya ia pun masuk ke dalam. Di saat itu, setelah lama rebut-ribut tadi aku tiba-tiba pengen buang air kecil. “Ah sial…” pikirku.

Mau izin ke belakang malu. Iin juga belum keluar dari tadi. Coba ditahan, akhirnya tak kuat. Senjata terakhir, aku langsung mengambil botol air mineral kecil yang sudah habis dan berlari ke samping rumah.

Lega, aku kencing di botol. Setelah selesai aku baru kebingungan. “Duh… mau dibuang dimana nih…”, pikirku. “Ah, aku bawa aja, nanti masukin tas…” Aku langsung menyelipkan botol kecil yang sudah aku tutup rapat itu dan mengambil tas. Untung saja, kedua temanku masih sibuk sendiri dan tidak mempedulikan aku. Akhirnya aku bisa selamat.

Selang beberapa menit kemudian Iin keluar dengan beberapa piring kue. “waktunya makan-makan….”, ucap Iin dengan senyum sumringah. “Hore…”, kami berteriak dengan senang. Satu jam berikutnya kami habiskan untuk bermain dan bercanda. Baru setelah itu kami belajar lagi.’

Waktu belajar berlalu dengan begitu cepat. Aku sudah lupa apa yang terjadi tadi. Sampai siang, setelah zuhur saat panas terik kami pulang dari rumah Iin. Di jalan Bani dan Suhar mengajak aku bermain dulu mencari burung di kebun dekat rumah kami.

“Yuk cari-cari burung dulu yuk…”
“Lah… kan masih bawa tas sih….”
“Gak apa-apa…”

Kami pun menuju ke kebun – kebun di belakang perumahan. Lama kami mondar mandir mencari sarang burung. Akhirnya dapat. Di sebuah pohon akasia besar ada sebuah sarang burung. Kami langsung berlomba memanjat, mengambil sarang tersebut.

Beruntung, ada dua anak burung yang sudah besar. Tapi sayang mereka terbang sebelum sempat kami tangkap. Aku dan Bahar yang paling bawah segera merosot turun dan berhamburan mengejar anak burung tersebut. Suhar menyusul di belakang. “ah… akhirnya kena juga…”

Dua ekor burung kami dapatkan, satu aku tangkap dan satunya lagi ditangkap oleh Bani. Kelelahan dan kehausan, sudah pasti.

“Har… pegang nih….”, aku memberikan anak burung itu ke Suhar dan segera membuka tas kami satu persatu yang tergeletak. “Haus, bawa minum tidak ya…” pikirku. Di tas ketiga yang aku buka, aku menemukan sebuah botol air mineral kecil yang berisi air berwarna kuning, “nah ini dia…” aku segera membuka dan menenggak botol tersebut.

“Buih….  Air apaan ini… Har, kamu bawa minum apa sih ini?”
“Ha… minum?”
“Minum apaan, memang kamu bawa minum Har, kenapa tidak ngomong sih!”
“Enggak, aku enggak bawa minum kok…”
“La ini…. Air apa rasanya aneh. Bau pesing lagi, asem….”
“La… kamu ngambil dari tas siapa…”
“Tas ini…”
“La…. Itu kan tas kamu….”
“Astaghfirulloh…”

Aku yang kencing di botol, aku pula yang meminumnya sendiri. Padahal sudah satu teguk masuk dalam kerongkonganku, benar-benar menjijikkan. Aku tidak berkata apa-apa lagi dan langsung membuang botol tersebut.

Pesan untuk kita semua. Jangan deh sekali-kali seperti aku waktu itu. Kalau kencing ya di tempat yang seharusnya. Jangan salah menempatkan rasa malu. Seharusnya waktu itu aku permisi saja numpang ke belakang di rumah Iin pasti tidak akan kejadian hal seperti itu.

---oOo---

Bagaimana, bagus bukan cerita lucu konyol tersebut? Ya, masih banyak kok cerita lucu lain yang bisa anda nikmati. Silahkan lanjut ke cerita lainnya ya, dipilih sendiri saja. Kalau mau yang tema khusus anda bisa mencari langsung di kotak pencarian. Dengan begitu anda bisa lebih leluasa menikmati kisah menarik yang sesuai keinginan. Jangan lupa terus ke sini ya!