Saturday, May 27, 2017

Contoh Cerita tentang 7 Hari Mencintaiku

Cerita tentang 7 hari mencintaiku berikut ini dipersembahkan oleh seseorang yang hatinya sedang luka. Sedih mengingat seorang kekasih yang kini telah pergi jauh meninggalkan hidupnya. Mendengar cerita ini mungkin saja rekan pembaca akan menangis, meratapi kepiluan cinta yang terjadi.

7 hari mencintaiku

Bayangkan bagaimana perihnya jika seorang kekasih hanya memiliki waktu 7 hari saja untuk mencintai orang yang disayangi. Jika tahu, tentu dunia seisi-nya akan rela diberikan untuk sang kekasih. Tapi bagaimana jika tidak tahu?

Kalau dibaca dari judulnya, hal yang bisa dibayangkan pertama kali adalah penyakit mematikan yang merenggut nyawa seseorang. Tapi ini tidak. Ini bukan karena sebuah penyakit yang memisahkan dua orang kekasih. Ini adalah sebuah kejadian yang tak disangka dan tak diduga sebelumnya, sebuah kecelakaan tragis yang memilukan. Seperti apa, simak langsung!

Dia yang Hanya 7 Hari Mencintaiku
Cerita Cinta Mengharukan

Indah dunia tak seindah cerita cinta yang ku alami. Pertemuan yang tak terduga, cinta yang tumbuh begitu saja dan akhir yang menyayat hati. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang pria yang mampu meruntuhkan tembok keangkuhan cintaku.

Pertemuanku dengan pria itu terbilang cukup sederhana dan tidak begitu istimewa. Waktu itu, aku dan dua sahabatku Jini dan Tata sedang santai di sebuah café. Seperti layaknya gadis lain, kami seru-seruan di sana. Saat kami sedang asyik, tiba-tiba datang seorang pemuda sendirian.

Bukan niat, tapi mataku tak sengaja melihat sinar matanya yang liar, seperti ada bara api-nya gitu. Hal yang tidak biasa bagiku, ketika dia sudah mengambil tempat duduk aku beberapa kali berusaha mencuri pandang.

Ternyata, wajah pemuda itu cukup tampan. Apalagi postur tubuhnya juga ideal. Kalau dilihat dari wajahnya, dia seperti perawakan orang india gitu. “Uh, ganteng juga tuh cowok…” tak sadar aku bergumam sendiri.

Kedua temanku juga merasakan yang sama. Tapi aku cenderung lebih bisa menahan diri. Aku secepat mungkin mencoba menyembuyikan apa yang ada di otak kotorku… takut ketahuan. Tak di sangka, setelah beberapa kali menerima lambaian tangan dan kedipan mata dari kedua temanku, pria itu bangkit dari tempat duduknya.

Eh, tahu tidak, ternyata… bukan Jini atau Tata yang ia dekati pertama kali tapi aku. Tentu saja aku tersipu malu ketika dia menatap mataku dalam. “Hai… boleh gabung…”, ucap pria itu sambil menatap ke arahku. Aku hanya diam, menunduk. Jini dan Tata yang langsung merespon dan mempersilahkan dia bergabung.

Entahlah, kalau menceritakan dia, hatiku masih saja teriris sakit. Perih. Frustrasi rasanya kalau ingat bagaimana ia pergi begitu saja setelah merampas sebagian hidupku. Air mataku juga tak bisa berhenti mengalir kalau aku ingat detik-detik terakhir aku melepasnya.

Suparman. Ya, kamu pasti akan tertawa kalau mendengar namanya itu disebut. Tapi pasti kamu tidak akan percaya bagaimana penampilan fisiknya. Teman-temanku memanggilnya “man”, sama seperti ketika kamu mengucapkan nama pahlawan super dari amerika “superman” atau “ironman”. Btw, fisiknya memang cocok untuk menjadi manusia super.

Meski sedikit pendiam, Parman cukup usil ketika pertama kali bertemu denganku. Ia tak segan menjabat tanganku dengan erat dan juga meminta nomor kontak. Tutur katanya yang sopan dan bahasanya yang lemah lembut itu yang membuat aku tak bisa berkutik. Bahkan, dengan baik waktu itu ia sudi mengantar kami pulang satu persatu.

Awalnya biasa, tapi setelah tiga bulan ia mengatakan tak bisa lagi menolak dan mengabaikan perasaan. “Jatuh cinta pada pandangan pertama”, ia mengaku sempat mengingkari kata hatinya. Ia juga mengaku menyesal dan berkali-kali meminta maaf karena hatinya telah tak berdaya denganku.

“Ah, dia sungguh – sungguh pria yang tahu bagaimana membuat wanita tersenyum.” Awalnya aku hampir mati penasaran karena ia tidak mengatakan siapa gadis yang mengganggu hatinya. Sampai akhirnya, di malam minggu yang sedikit mendung, dengan memegang sekuntum mawar putih, ia menyatakan cinta padaku.

“Rin… aku tidak bisa berbohong lagi. Sejak aku kenal kamu, bayanganmu selalu menghantui malam-malamku. Aku selalu memimpikanmu, bahkan mulai merindukanmu. Maafkan aku Airin, aku cinta kamu… Maukah kamu menerima cintaku yang tak sempurna ini?”

Entah waktu itu mulutnya habis dipoles dengan apa, aku tak tahu. Yang jelas, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu indah, romantis. Aku tidak bisa berkata-kata selain mengangguk. Pelan.

Saat itu, aku adalah wanita paling bahagia. Saat berjalan beriringan di tepi jalan, ia langsung berada di sisi kanan melindungiku dari kendaraan. Menyiapkan kursi ketika aku akan duduk. Memberikan bunga yang indah. Aku benar-benar seperti seorang putri, bahkan nyamuk pun tak ada yang berani mengigitku saat ada dia.

Malangnya aku, malangnya Suparman. Kebahagiaan itu hanya sekejab. Ia hanya bisa 7 hari mencintaiku. Kecelakaan itu merebut kebahagiaan kami, kebahagiaanku. Semua impian dan cintaku terkubur bersama jasad kekasihku itu.

Tujuh hari sejak dia menyatakan cinta, adalah masa-masa paling indah dalam hidupku. Hari-hari setelahnya menjadi neraka dunia bagi kehidupanku.

Sore itu, kami berniat pulang setelah menghabiskan akhir pekan di puncak. Kondisi badan kami memang sedikit letih. Mungkin konsentrasi kami kurang, apalagi kami mengendarai motor. Aku tidak begitu ingat persis bagaimana awalnya. Kala itu kami sedang bercanda dan tertawa ketika tiba-tiba motor oleng dan menabrak.

Detik berikutnya ketika aku sadar, aku sudah di rumah sakit dengan kaki kanan yang tak bisa dirasakan. Kekasihku tidak bisa diselamatkan, sementara aku harus puas dan bersyukur dengan kaki kanan yang hancur.

Kini, sisa hidupku hanya berisi sesal dan tangis. Meski kondisiku sudah pulih, aku harus berjalan dengan satu kaki. Kekasihku Parman yang telah pergi pun tak kan bisa kembali lagi. Aku sendiri tak ingat sudah berapa drum air mata yang pernah ku tangiskan. Aku juga tak tahu berapa tisu yang ku habiskan.

“Rin… maaf kan aku ya sayang jika cintaku tak bisa sempurna…”, banyak kata-katanya yang selalu muncul di mimpiku. “Bahkan sampai nafas ini terhenti, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu sayang…”

Banyak kata manis dan mesra yang masih segar dalam ingatanku. Tapi kini semua kata itu tak lagi membuat aku bahagia. Sebaliknya. Kenangan manis bersama dia membuat luka ini semakin perih. Entah bagaimana aku akan melewatkan sisa hidupku yang seperti ini.

Menjadi gadis cacat tidak aku sesali, kehilangan kekasih dengan cara yang tragis seperti itu yang selalu aku tangisi. Bukan aku sendiri, keluargaku, saudaraku, semua tak henti mendukung dan memberikan semangat. Tapi jujur, separuh jiwaku telah mati bersama Suparman.

Jika mungkin, aku lebih rela menunggu seribu tahun agar bisa bersamanya yang dilahirkan kembali. Mungkinkah semua itu terjadi padaku? Mungkinkah Parman akan menjelma menjadi sosok yang memelukku kembali?

---oOo---