Monday, May 15, 2017

Contoh Cerpen 600 Kata tentang Mendaki Gunung

Contoh cerpen 600 kata berikut ini tentang kegiatan wisata alam yaitu mendaki gunung. Bagi yang hobi dengan kegiatan mendaki gunung tentu akan sangat menarik meski bagi sebagian orang mungkin bisa saja. Yang pasti, kisah seperti ini mungkin akan memberikan pengalaman tersendiri bagi yang belum pernah melakukan pendakian gunung.


Cerpen 600 Kata tentang Mendaki Gunung
Siapa tahu saja karangan cerpen pribadi berikut ini bisa memberikan inspirasi bagi pembaca semua. Seperti karya-karya lainnya, cerpen ini nantinya juga akan diberi terjemahan atau artinya sekaligus. Tujuannya agar karya ini sekaligus bisa menjadi bahan belajar pelajaran Bahasa Inggris bagi rekan-rekan pelajar. Sekarang, kenapa tidak membaca cerita selengkapnya lebih dulu, benar tidak?

Amatir Di Mahkota Tanggamus
Cerpen 600 Kata

Entah aku belum bisa merasakan bagaimana bermalam di pegunungan dengan kabut embun yang tebal di pagi hari, sinar Sunrice yang menawan dan juga mampu membelah kabut pekat nan dingin itu. Aku hanya bisa membayangkan kebahagiaan berada di ketinggian 2000 di atas permukaan laut (dpl). Aku juga hanya bisa membayangkan kebahagiaanlah yang akan kami rasakan dalam pendakian gunung tanggamus yang berepatan dengan hari ulang tahun Indonesia yang ke-71.

Bahkan begitu bahagianya serta tidak sabar ingin cepat mendaki gunung yang terkenal dengan medan terjalnya itu, aku rela datang lebih awal untuk mempersiapkan kebutuhan pendakian pada malam hari. Aku menyempatkan diri mencari peralatan pendakian, seperti tutup kepala, sarung tangan, spirtus (Untuk digunakan keperluan pengapian), dan beberapa makanan ringan.

Aku membelinya di pasar tradisional Pringsewu, Lampung, semua kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan guna pendakian. Usai berbelanja kebutuhan perlengkapan dalam pendakian, kami akhirnya kembali ke masjid Al-furkon untuk meletakan segala perlengkapan yang telah kami beli.

Di siang hari yang begitu terik dimana masih ada sekitar 3 jam hingga tiba waktu keberangkatan pendakian, aku singgah di tempat kawanku Andre, sembari bersantai dan memejamkan mataku untuk bekal tenaga nanti malam. Sementara kawanku yang lain Belandra pulang yang mungkin dia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang aku dan Andre lakukan, yaitu beristirahat sampai datang waktu malam.

Malam sudah diperlihatkan oleh tuhan, sementara aku dan beberapa kawanku sudah datang ke masjid Al-furkon. Di sana ada kawanku Andre, mas Hanif, dan Belandra, kami sedang menunggu 3 kawan yang belum hadir yaitu pak Habibie dan satu santrinya, serta Rahmad.

Sepuluh menit berselang Rahmad datang dengan raut muka penuh dengan semangat, dia mengendarai sepeda motornya sambil menenteng alas tikar, (Alas yang terbuat dari pelastik yang dirangkai sedemikian rupa) dan memarkirkannya di depan halaman masjid Al-Furkon.

Aku: Apakah kau sudah membaca pengumuman di BBM, beberapa hari yang lalu, (Tanyaku dengan sedikit nada tinggi dan suara berat).

Rahmad: Ya, aku membacannya, dan bahkan aku bisa menjelaskannya kepadamu bila kau mau (Dengan gaya cool, turun dari motor sambil membawa tikar dengan tangan kanannya).

Aku: Coba kau jelaskan.
Rahmad: Isi dari pemberitahuan itu adalah pengadaan pendakian gunung Tanggamus, yang menjadi program kerja Ikatan Mahasiswa Muhamadiya (IMM), yang diadakan malam ini.

Aku: Mengapa yang kau bawa tikar yang sudah lapuk, serta tidak mempunyai penampilan menarik lagi, seharusnya yang kau bawa adalah matras.

Andre, dan Belandra: Kau nampak hendak pergi ke ronda malam, hanya saja ada yang kurang sebua sarung dan topi monyet di kepala Hahaha.

Rahmad: Teruslah tertawa, aku yakin tikar berpenampilan tidak menarik ini mempunyai fungsi besar bila kita sudah di puncak Tanggamus nanti.

Aku: Ya terserah kau sajalah, asalkan kau mau membawanya, itu tidak menjadi masalah untuk kami.

Rahmad: Tentu, aku akan membawanya dipendakian nanti hingga sampai puncak.

Tak lama kemudian bapak Habibie dan satu santrinya datang, di masuk ke dalam masjid dan memberikan sedikit arahan. Usai mendengar sedikit banyaknya masukan kami berangkat menuju pendakian yang kurang lebih membutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan.

Hujan tidak menjadi pemadam semangat untuk menaklukan gunung yang terkenal dengan medan terjal tersebut. Kami terus melaju dengan hujan yang rintik, dengan kecepatan diatas 100 km/jam.

Sesampainya kami di lokasi Tanggamus, kami menitipkan motor kami ke parkir umum yang disediakan oleh masyarakat dan pemeritah setempat. Setelah itu kami memulai dengan doa serta bermunajat dalam hati meminta keselamatan, dan juga kelancaran dalam pendakian.

Belndra: Ini pengalaman pertamaku, apakah kau pernah mendaki gunung Tanggamus ini pak (Tanyannya kepada pak Habibie).

Pak Habibie: Dahulu aku pernah ke sini, tetapi hanya bermukim di kaki gunung tidak sampai puncak, mungkin ini saatnya aku sampai ke puncak dengan kalian.

Jalan mulai sedikit menanjak, hingga sedikit menyita tenaga kami, tetapi kami tetap berjalan dengan sekuat tenaga yang kami miliki. Sementara ku lihat Rahmad nampak begitu kelelahan, dan berulang kali berhenti.

Rahmad: (Hah, Hah, Hah, hembusan nafas yang tiada kontrol dari hidung dan mulutnya, sembari berhenti sejenak dengan posisi ruku, serta dengan pandangan ke bawah)

Andre: Ayolah, ini baru mendaki kaki gunung, belum mendaki puncak gunung, janganlah kau bercanda seperti ini.

Rahmad: Aku benar-benar lelah, rasanya aku ingin berbaring di sini. Mukanya terbasuh keringat, serta matanya sayup karena kelelahan.

Belandra: Jangan bodoh, kau akan jatuh ke bawah bila kau nekad berbaring di medan terjal ini.

Kami mulai berjalan, setelah berhasil menyakinkan Rahmad bahwa tempat peristirahatan bukanlah di medan terjal tersebut, tetapi di kaki gunung. Dengan sedikit tertawa sekaligus kasihan dalam hati aku melihat Rahmad yang tidak sanggup untuk mengatur nafasnya, hingga nampak betul suara keras nafasnya yang berujung membuat lemas tubuhnya.

Sementara aku, Andre, Belandra, pak Habibie, dan santrinya, terus berjalan tanpa halangan apapun melewati perkebunan kol milik warga. Kami tidak bisa melihat jelas sayuran yang di tanam warga di kaki gunung ini karena malam yang gelap.

Hanya saja kami dapat melihat kol dan beberapa kol yang ditanam dekat jalan. Sementara malam terus bejalan hingga sampailah kami di tempat perkemahan di kaki gunung Tanggamus.

Nampak sekali muda-mudi yang juga berjalan bersama kami, serta muda-mudi yang sudah membuat tenda dan api unggun sambil menikmati seduhan kopi panas serta teriakan alunan suara menyanyi bersama diiringi dengan gitar bolong.

Kami berjalan tepat di depan para muda-mudi yang sedang bernyanyi, terbesit dalam hatiku berkata," Gaya memetiknya luar biasa, terlebih ketika memainkan sebuah lagu, dia keluarkan semua tehnik-tehnik yang mempunyai tingkat kesulitan yang sangat rumit, karena memang pemuda tersebut menggunakan sekil dewa".

Sementara itu aku hanyut dalam alunan suara musik, yang diikuti oleh para muda-mudi yang berada di sampingnya. Bibir ini seolah secara otomatis melafalkan lirik yang sangat tidak asing di telingaku.

Namun kami harus melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat yang cocok untuk kami dirikan tenda. Tempat itu haruslah mempunyai ukuran yang cukup luas dan permukaannya rata. Pak Habibie mengajak kami berjalan menerabas rerumputan liar yang begitu tinggi, tidak ada yang kami cemaskan selain ular lapar yang mungkin saja tidak sengaja kami injak.

Pak Habibie: Saya kira ini tempat yang bagus, selain permukaannya rata, tempat ini juga memberikan keleluasaan kepada kita untuk melihat sunrice di pagi hari. Tetapi mohon kerjasamanya ya untuk menghilangkan rumput liar, agar lebih mudah untuk didirikan tenda.

Andre: Tenang pak, ini bagian saya, aku tau cara membersihkan rumput liar dengan baik.

Sementara aku, Belandra, Rahmad, Santri, serta pak Habibie mendirikan tenda setelah rumput liar itu bersih. Seperti apakah kelanjutan kisah pendakian menuju mahkota Tanggamus, Lampung, yang terkenal dengan medan terjalnya. Apa rintangan dan halangan yang menghadang mereka selanjutnya dalam proses perjalanan menuju mahkota Tanggamus. (Arif Purwanto)