Wednesday, May 17, 2017

Contoh Cerpen tentang 17 Agustus 1945

Contoh cerpen tentang 17 Agustus 1945 ini sebenarnya berhubungan dengan paringatan hari kemerdekaan yang biasa diperingati bangsa Indonesia tercinta. Ceritanya berisi bagaimana peringatan tersebut dilaksanakan oleh warga atau masyarakat Indonesia. Tentu saja ini diharapkan bisa menjadi inspirasi sekaligus peringatan bahwa kita harus bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang sudah diraih.


cerpen 17 agustus
Contoh Cerpen tentang 17 Agustus 1945
Karya ini bisa dikatakan juga cukup sederhana. Mungkin sekilas seperti cerita curhat. Namun begitu karya ini dikemas sebisa mungkin sebagai cerpen, meski sederhana. Harapannya bisa menjadi sebuah hiburan sekaligus juga bahan belajar bahasa Indonesia yaitu membuat karangan tentang acara 17-an. Seperti apa ceritanya, silahkan dilihat langsung.

Getar Jiwa Memperingati Kemerdekaan
Cerpen 17 Agustus 1945

Terpukau kagum hati melihat gotong royong pemuda desa untuk menyambut datangnya peringatan 17 Agustus 1945. Belum pernah mata ini melihat rasa kekeluargaan yang begitu pekat, serta begitu hangat, terutama di jaman yang sudah semoderen ini. Mungkin karena mata ini selalu melihat pemandangan kota yang penuh dengan orang-orang individual, sehingga merasa kaget dan tidak mau dipejamkan ketika melihat orang-orang masih memegang teguh gotong royong.

Memang ini kali pertama aku datang ke desa Sridadi, Kec. Kalirejo, Lampung Tengah, yang bertepatan dengan akan diadakannya pawai peringatan 17 Agustus 1945. Sehingga tidak heran meski pawai masih dua hari lagi, tetapi aktivitas warga sudah terlihat begitu sibuk. Menurut warga setempat, ada yang beda bila melihat kebiasaan berpawai orang masyarakat desa Sridadi, dengan kebiasaan pawai yang ada di tempat lain.

Karena bila pawai yang berada di tempat lain tidak akan jauh-jauh dari kostum keren, mahal, yang mereka kenakan pada saat perayaan pawai, maka lain halnya bila di desa Sridadi ini. Karena di desa Sridadi ini, masyarakat akan berdandan dengan pakaian yang jauh dari kata layak, dan terkesan aneh. Tetapi itulah yang menjadi nilai jual mereka dan cukup menyita perhatian para penonton pawai di pinggi jalan.

Rasa penasaran dengan cerita warga mendorongku untuk berkeliling desa Sridadi untuk melihat persiapan masyarakat menjelang peringatan 17 Agustus 1945. Berbeda halnya bila biasa di kota aku menggunakan mobil untuk pergi berjalan-jalan keliling kota, maka kali ini aku dan saudaraku Rifki menggunakan sepeda ontel untuk berkeliling desa.  

Rifki berjalan ke belakang rumah mengambil sepeda, dengan tatap mata yang serius, dan kemudian kembali setelah satu menit. Dengan nada lembut serta tawa kecil Rifki berkata," Hey Haikal, ayo naik". Aku berlari dan langsung saja menaiki sepeda pada tempat duduk di bagian belakang.

Sepeda berjalan dengan sedikit ayunan perlahan dari kaki Rifki, sementara aku sangat menikmati dibonceng menggunakan sepeda ontel tua merek Phonik, milik saudaraku ini. Di perjalanan aku melihat pemandangan rumah di desa Sridadi yang memang tata ruangnya masih kurang teratur. Serta belum begitu padatnya penduduk yang ada di desa ini.

Sambil menahan posisi di bonceng agar tidak terjatuh aku bertanya dengan nada cukup keras,"Kenapa kita belum menemukan orang-orang yang sedang menyiapkan peringatan 17 Agustus 1945". Sambil terus mengayun dan terengah-engah, serta pandangan fokus ke depan dan badan sedikit membungkuk, Rifki menjawab," Masyarakat selalu berkumpul di tempat saudaranya pak lurah, di sana kita bisa melihat banyak orang yang sedang merias dan mempersiapkan segala perlengkapan untuk digunakan pada peringatan 17 Agustus 1945."

Hingga tak lama sepeda kami sampai di tempat kediaman pak lurah, di situ nampak begitu banyak masyarakat berkumpul menghias sepeda ontel, mobil, dan juga motor. Dari banyak riasan yang mata ini lihat nampak semuanya bagus-bagus, dan mempunyai pengerjaan dengan tingkat kerumitan yang tinggi.

Aku berjalan mendatangi salah satu sepeda yang dihias dengan pelastik serta kerangka bambu membentuk helikopter. Sambil terkagum-kagum aku bertanya kepada pemilik sepeda,"Berapa lama kau mengerjakan ini..?". Sambil sedikit tersenyum pemilik sepeda yang masih bujang kira-kira berumur 17 tahun itu menjawab,"Aku mengerjakannya selama dua hari". Dengan tatapan tersorot kepada pemilik tersebut aku bertanya lagi,"Kau mengerjakannya sendiri..?". Pemilik sepeda menjawab,"Ya, aku mengerjakannya sendiri", sambil menganggukan kepala dan mengedikpkan mata serta tanpa tersenyum.

Selain sepeda berbentuk helikopter aku juga melihat sepeda-sepeda lain serta motor, dan mobil yang juga dihiasi dengan karakter-karakter lucu. Mata ini dan hati ini seolah dimanjakan dengan para masyarakat yang bahu membahu dan dengan sangat kompak menghias kendaraan yang mereka akan gunakan untuk mengikuti pawai.

Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini, aku juga ingin merias sepeda milik saudaraku Rifki, untuk digunakan dalam peringatan 17 Agustus 1945. Dengan nada lembut aku membisik kepada Rifki,"Bagaimana kalau kita juga ikut pawai 17 Agustus. Rifki menatapku,"Ide yang bagus, tetapi sepeda kita belum dirias" menjawab dengan muka hambar.

"Kita bisa meriasnya sekarang", muka berkerut tangan mengankat menjelaskan kepada saudaraku. "Oke kalau itu maumu kita rias sekarang" jawabnya membuat hatiku cukup gembira.

Sebelum merias kami terlebih dahul berbelanja keperluan rias untuk membuat sepeda kami lebih menarik. Lalu dengan daya kreativitas kami satu demi satu plastik kami guntik selanjutnya kami lem di badan sepeda, ban, dan setang.

Kebahagaiaanku tak terelakan serta tidak sabar lagi menunggu hari datangnya peringatan 17 Agustus yang lain dari pada biasanya. Aku memahami betul apa itu 17 Agustus 1945, yaitu hari yang menjadi sejarah lahirnya bangsa ini. Serta hari yang mejadi sejarah bahwa lenyapnya bentuk kolonilismi, imprialisme, dan kapitalisme dari tanah ibu pertiwi ini.

Sehingga merayakan hari sejarah berdirinya bangsa Indonesia adalah hal yang wajib bagi kita semua, untuk menghormati jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan untuk kita. Sehingganya kini kita bisa hidup di negara yang merdeka dan kini tibalah saatnya tugas kita untuk meneruskan perjuangan bangsa mensejahterakan masyarakat dan juga menjadikan negara ini lebih maju dan makmur.

Dua hari berselang, sementara semuanya sudah ku siapkan untuk pawai 17 Agustus. Aku menggunakan pakaian tokoh revolusioner, yaitu bapak proklamator bangsa Indonesia Ir. Soekarno. Yang lengkap dengan jas Soekarno Look, peci, dan kaca matanya.

Sementara saudaraku Rifki berdandan ala wanita jawa lengkap dengan sanggulnya, layaknya istri Soekarno yaitu Fatmawati. Keributan pawai sudah terdengar, aku dan rifki bergegas untuk langsung mengambil barisan diantara para pengemudi sepeda ontel.

Ternyata benar ada yang menarik dari pawai peringatan 17 Agustus di desa Sridadi ini, karena ku lihat masyarakat berdandan dengan dandanan aneh hingga mampu membuat orang tidak kuat menahan tawa. Di sebelah sisi kananku aku melihat seorang pemuda yang mengenakan pakaian jerami lengkap dengan topi petani di kepala dan cangkul di pundak. Selain itu aku juga melihat hasil bumi yang di letakan di bagian tempat duduk belakang sepeda.

Sedangkan di sisi kiriku aku melihat seorang bapak tua dengan tubuh gempal berdandan sebagai anak SD, serta terlihat baju yang kekecilan tidak bisa menutup bagian pusar perutnya yang besar tersebut. Sehingga selalu menghadirkan tawa kepada setiap orang yang melihat.

Sementara aku melihat di bagian belakang ada seorang pria kurus tinggi, dengan keadaan gigi dua senti ke depan, menggunakan pakaian seksi layaknya seorang pekerja sex komersial. Meski berdandan agak tidak senonoh, tetapi ada pesan moral yang tertancapkan di sepedanya.

Pesan moral tersebut adalah,"17 tahun milik siapa saja", yang intinya dengan dandana seperti itu peria kurus, tinggi tersebut mengajak semua masyarakat yang enggan untuk mengikuti pawai. Kalau pekerja sex komersi saja mau ikut pawai, masa masyarakat yang mempunyai pekerjaan lebih mulia enggan untuk mengikuti pawai 17 Agustus ini.

Peluit sudah dibunyikan tanda keberangkatan pawai sudah dimulai. Dan aku yang membonceng saudaraku mengayun sepeda berbarengan dengan para peserta pawai. Rute pawai sendiri akan berkeliling kecamatan dan kemudian kembali ke desa Sridadi. (Arif Purwanto)