Sunday, May 14, 2017

Contoh Cerpen tentang 5 Sahabat dan Terjemahan

Contoh cerpen tentang 5 sahabat berikut ini cukup menarik untuk dibaca. Sudah tahu judulnya belum? "Berebut Satu Gadis", kira-kira kalau lima orang sahabat yang sudah sangat dekat terus berebut cewek bagaimana ya? Tergantung bagaimana kekuatan persahabatan mereka. Bisa saja cobaan itu diatasi tapi bisa juga menghancurkan persahabatan.


cerpen 5 sahabat tentang cinta
Contoh Kisah Cerpen tentang 5 Sahabat dan Terjemahan
Yang pasti adalah karya cerpen 5 sahabat ini sengaja ditulis untuk rekan pembaca semua yang hobi membaca kisah-kisah menarik dan masih baru. Selain untuk hiburan, diharapkan karya ini bisa juga untuk perbandingan dalam belajar menyusun atau membuat karangan fiksi.

Tentu saja dunia remaja akan menjadi isu yang cukup terasa dalam cerpen kali ini. Tapi kita belum tahu lebih jauh kalau belum membacanya sendiri. Setelah dengan santai membaca kisah tersebut nanti kita bisa berkomentar banyak. Mungkin bisa mengatakan karya ini jelek, kurang menarik atau biasa saja. Semua pendapat tentu hak pembaca sepenuhnya.

Berebut Satu Gadis
Contoh Cerpen tentang 5 Sahabat

Kegembiraan dikala malam datang melihat seorang gadis yang berjalan hendak melakukan ibadah di Masjid. Dia anggun, sopan, sholehah, nampaknya memang dia gadis yang mampu membawa serta menuntun siapa saja pasangannya ke surga. Karena aku sangat yakin bila siapa saja yang menjadi pasangan hidupnya pastilah akan mengikuti gaya hidup relegiusnya.

Gadis itu tidak banyak bicara ketika bertemu denganku, tetapi dia selalu meninggalkan senyum, senyumnya sungguh menawan. Tubuhku langsung bergetar walaupun hanya menerima sedikit senyum darinya.

Adzan isya' berkumandang kulihat dia berjalan sendirian, tanpa berfikir panjang aku mempercepat langkahku untuk bisa berjalan bersamaan dengannya.

Aku: Hey, kamu (Sapaku kepada gadis cantik berhijap di depanku).
Gadis: Abang memanggil saya..?
Aku: Iya, mau ke masjid ya, boleh bareng..?
Gadis: Iya ayok.

Kami berjalan bersamaan menuju ke masjid untuk melangsungkan ibadah wajib di kala malam ini.
Gadis: Abang orang baru ya di sini..?

Aku: Iya, kebetulan saya datang dari kota mengadakan KKN di sini.
Gadis: O iya, berapa orang..?
Aku: Ada lima orang.

Gadis: Lalu yang lain kemana kok gak ada yang ikut ke masjid.
Aku: Iya kecapeaan mungkin, sehingga tidak bisa ikut bersamaku untuk beribadah di masjid.

Aku: Oh ya, kita belum berkenalan, siapa namanya.

Gadis: Sinta, abang siapa..?
Aku: Aku mustofa, panggil saja tofa, Shita.
Gadis: Iya, (sambil tersenyum dengan begitu cantiknya).

Beruntung jarak antar rumah dan masjid sedikit jauh sehingga aku bisa mengobrol banyak dengan Shinta, dan yang lebih mengungungkan lagi aku bisa berkenalan dengan gadis manis nan sholehah tersebut.

Kami berbicara tentang pendidikan, berbicara tentang kegiatan, berbicara tentang mimpi, dan juga berbicara tentang setatus.

Tentang pendidikan aku mengetahui banyak tentangnya, bahwa diapun juga seorang mahasiswi, orang yang juga berpendidikan di bidang agama. Dalam studynya dia mengambil tentang pendidikan agama Islam. Pantas bila memang dalam beragama dia begitu rajin, bahkan berulang kali dan sangat sering aku menyaksikannya berjalan sendirian untuk menuju masjid ketika adzan di kumandangkan.

Aku: Kamu tinggal di mana Shinta..?

Shinta: Aku tinggal di dekat tempat pak Rt Selamet.

Aku:  Berarti tidak jauh dong dari pos KKN kami.

Shinta: Iya sangat dekat, mampir kerumah bang Tofa, ajak serta temanmu.

Aku: Dengan sangat senang hati aku akan berkunjung ke tempatmu.

Tak lama aku sampai di masjid dan mengikuti sholat berjamaah. Aku mengucapkan kalimat sahadat untuk menghilangkan sedikit fikiran tentang dara cantik yang aku temui tadi, dan aku ajak kenalan tadi. Aku tidak ingin dia juga hadir dalam sholatku, namun bila dia hadir dalam hidupku tentu akan sangat senang sekali.

Sholat Isya' sudah aku laksanakan, dan keluar aku dari rumah ibadah dan kualihkan pandanganku ke pintu keluar khusus perempuan. Di sanapun aku melihat Shinta sudah selesai memasukan kakinya ke dalam sandalnya.

Tanpa sungkan aku mengajaknya untuk pulang bersama lagi. Bahagianya hidupku komunikasiku dengannya sangat baik, kami mempunyai fikiran dan pandangan hidup yang sama. Meski usinya dua tahun lebih muda dariku pemikirannya sudah begitu dewasa, tidak ada bedanya denganku yang usianya lebih tua darinya 2 tahun.

Tubuh ini begitu lelah hingga sesampainya di pos, yang ada di dalam fikirannku adalah tentang ranjang. Sementara itu aku sudah lihati temanku sudah tertidur dengan begitu lelapnya. Tetapi ada salah satu temanku bernama Revi yang terbangun karena suara pintu yang ku buka.

Revi: Dari mana kau Tofa, (Tidut miring, mata sayup dengan menatapku).

Aku: Aku baru dari masjid, kau belum tidur.

Revi: Aku baru saja tidur, terbangun karena suara pintu.

Aku: Lanjutkanlah tidurmu, aku juga hendak tidur.

Revi menutup matanya kembali dan menarik selimut hingga menutup setengah lebih dari badannya. Sementara aku, aku membaringkan tubuhku dengan terlentang, nyamannya tubuh ini ketika di baringkan.

Seolah aku lupa telah berjalan cukup jauh, tetapi dibalik rasa lelahku aku masih teringat dengan Shinta. Aku bahagia bisa bertemu dan mengobrol panjang lebar dengan Shinta. Bagiku dia adalah gadis yang sangat baik, dan sholehah, tentunya aku sangat beruntung bila Shinta mendampingi hidupku kelak.

Sementara karena asyik mebayangkan Shinta aku tidak sadar bahwa aku tersenyum sendiri di dalam kamar. Revi yang melihatku tersenyum dengan sebelah mata kanannya langsung menyapaku.

Revi: Mengapa kau tersenyum sendiri.

Aku: Aku hanya masih teringat gadis cantik yang ku temui ketika hendak berangkat ke masjid, meski dia sudah pulang ke rumah, bayangnya masih hadir di fikiranku.

Revi: Ha..!, siapa gadis yang kau maksud.

Aku: Rahasia dong.

Revi: Oke, lihat saja nanti gadis itu akan jatuh cinta denganku bila dia sudah melihatku.

Aku: Hahaha, (Langsung memalingkan tubuhku bertolak dari Revi dan menutup mata).

Pagi yang cerah sudah menyambut dan kami di beri kesempatan untuk bangun pagi dan sholat subuh berjamaah. Sayang ada yang kurang Shinta gadis cantik nan sholehah tidak datang ke masjid, mungkin karena tidak ada teman.

Sementara di pagi yang cerah ini aku dan kawan-kawanku sedang menikmati hangatnya matahari pagi, dan juga seduhan teh dan kopi. Senda gurau mewarnai warna-warni pagi yang cerah dan ceria ini.

Indra: Aku dengar kau baru saja berkenalan dengan seorang gadis cantik fa, (Menatapku), siapa itu bisa kau kenalkan juga kepada kami.

Fahmi: Iya kau harus kenalkan kepada kami.

Rangga: Cantik tidak..?

Ridho: Kalau cantik, aku juga mau untuk diperkenalkan.

Aku: Kebetulan hari ini juga aku hendak ke rumah gadis itu, namanya Shinta, rumahnya sebelah pak Rt Selamet. Nanti saya akan ajak kalian untuk ke sana, tetapi ingat ya ini gadis adalah bagian saya, jadi tidak diperkenankan untuk bapak-bapak semua jatuh cinta kepada Shinta, oke.

Indra, Fahmi, Rangga, Ridho,: hahaha.

Mengobrol panjang lebar tentang Shinta sudah selesai kini saatnya aku mandi, dan nampak kawan-kawanku juga ikut mandi. Sementara itu kami mempersiapkan diri untuk ke rumah Shinta pada pagi hari.

Pintu Shinta sudah di depan mata, dan mulai ku ayunkankan tanganku mengetuk pintu untuk menyita perhatian pemilik rumah. (Tok, tok, Tok)

Penghuni rumah: Iya, sebentar.

Pintupun dibuka, nampak gadis cantik dan anggun masih tetap dengan hijabnya membukakan pintu. Sementara mata teman-temanku tidak bisa berkedip melihat kecantikan Shinta.

Shinta: Bang Mustafa, silahkan masuk.

Tangaku di tarik oleh Indra, Fahmi, Rangga, dan Ridho, mereka berkata kepadaku, (Kalau gadis cantik seperti ini kami juga mau, bagaimana kalau kita bersaing secara sehat untuk mendapatkan Shinta).

Shinta: Masuk bang, diajak juga temannya, (suara Shinta di dalam rumah).
Aku: Iya Shinta sebentar, (Teriaku kepada Shinta).
Aku: Oke bila itu mau kalian, kita tunjukan siapa yang berhak menjadi pacar Shinta.

Aku dan kawanku masuk bertamu ke rumah Shinta, sementara kawanku berkenalan dengan Shinta, nampak sekali dengan nada genit mereka berusaha merayu. Tetapi akupun tidak masalah karena sudah ada kesepakatan untuk salin berrebut cinta dari Shinta. (Arif Purwanto)