Tuesday, June 6, 2017

Cerpen tentang Kasih Sayang Ibu yang Tidak Luntur

"Kasih Sayang Ibu Tidak Luntur" berikut ini memang bukan cerpen dalam bahasa Inggris tetapi cerpen dalam bahasa Indonesia. Meski begitu rencananya cerpen ini akan disediakan juga dalam versi Inggris untuk sarana belajar bagi pengunjung semua. Karena mungkin agak sedikit lama untuk menyiapkan versi bahasa Inggris maka lebih baik kita nikmati saja yang ada.

Kasih Sayang Ibu yang Tidak Luntur
Cerpen tentang Kasih Sayang Ibu yang Tidak Luntur

Karya cerita pendek ini mengetengahkan tentang kasih sayang ibu kepada anaknya. Seperti kita tahu, seperti dalam pepatah, kasih orang tua itu sepanjang jalan, tak pernah putus. Itu bukan hanya sekedar pepatah atau kata mutiara. Dalam kehidupan yang sebenarnya, orang tua memang akan mengorbankan apa saja untuk anaknya.

Kasih Sayang Ibu Tidak Luntur
Cerpen Terjemahan Bahasa Indonesia

Malam yang gelap dengan sedikit hujan dan angin yang meniup-niup tanpa etika, hingga menggoyangkan jendela dan pintuku. Sementara itu aku baru pulang ke rumah setelah selama seharian melakukan kegiatan di sekolah.

Langsung saja ku baringkan tubuhku di atas ranjang tanpa mengganti bajuku, dan juga tanpa memncuci muka dan menggosok gigiku terlebih dahulu. Tubuhku begitu lelah hingga tulangku tidak kuat rasanya mengangkat dan menopang kelelahan yang dialami oleh tubuhku.

Sekejap saja aku berbaring dengan terlentang aku lupa dan meninggalkan dunia nyataku. Masuklah aku ke dalam dunia mimpi, yang menurut orang banyak ini adalah dunia awal dari keberhasilan. Banyak orang yang kemudian bermimpi dan kemudian mimpi itu terwujud, hingga kejadian ini juga telah mempengaruhi banyak orang bahwa kita semua harus bermimpi.

Mimpi memang penting tetapi mimpi tanpa realisasi sama saja omong kosong, terlebih hanya beroda dan berdoa tanpa bekerja mewujudkan mimpi. Doa memang penting tetapi doa tidak akan menjadi apa-apa dan tidak akan membuat mimpi menjadi kenyataan tanpa bertindak untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Sementara malam yang semakin dingin karena angin yang kurang ajar itu berubah menjadi hangat. Yah tubuhku berubah menjadi hangat, aku tidak tahu mengapa tubuhku menjadi hangat, aku sangat bisa merasakan kehangatan ini tetapi aku enggan melihat apa sebenarnnya yang membuatku hangat.

Mata ini memang begitu berat untuk dibuka terlebih ketika di sepertiga malam yang biasanya digunakan umat muslim untuk bermunajat. Akupun ingin bermunajat kepada tuhan hanya saja nafsuku untuk terus menutup mata dikala malam belum bisa terkalahkan oleh imanku.

Kehangatan ini begitu lembut dan masihku bertanya-tanya dalam benar, apakah gerangan yang membuat tubuhku hangat, padahal angin semakin malam semakin kurang ajar. Memang jendela selalu ku tutup ketika malam tetapi terkadang jendela yang tertutup saja belum bisa mengusir angin yang dingin ini.

Tetapi malam, seoalah angin malam telah tertawan oleh seorang pejuang pemberani yang disebut kehangatan. Dialah pemberani yang telah menjaga tubuhku dari dinginnya malam ini.

Pagi, sang fajar mulai memperlihatkan garis ufuknya mata ini baru bisa terbebas dari kutukan lem perekat karena dingin malam. Baru sadar bahwa yang membuat hangat adalah selimut dari kain katun nan hangat yang pada malam hari yang dingin telah dikenakan ke tubuhku yang dingin.

Aku mulai beranjak dari kamar tidurku dan kemudian berjalan hendak masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu ibuku sudah dengan gigih bangun begitu pagi menyiapkan makan untukku dan ayahku. Aku anak pertama di sini dan namaku adalah Rian, yang merupakan anak semata wayang tanpa satupun saudara kandung.

Dengan sedikit air mata menetes di wajah ibuku terus memotong bawang hendak menyiapkan makanan. Dia tahan terus rasa perih melawan bawang tersebut meskipun bawang tersebut telah nampak tidak mau dipotong hingga keluarlah air mata dari ibuku.

"Riyan, bangunkan ayahmu, kopinya sudah siap..!", ungkap ibuku sedang mengiris bawang di dapur.
"Iya ibu, aku sedang mandi", ungkapku sedang menggosok rambut kepalaku.

Tak lama aku selesai dari mandiku dan kemudian masuk ke dalam kamar setelah membuka pintu,"Ayah kopinya sudah siap", sapaku dengan ucapan datar.

"Iya entar ayah ke sana", ungkapnya sambil terus melihat koran yang dia pegang dengan kedua tangannya.

Sementara itu aku berjalan ke kamar dan mengganti baju, dan kemudian beranjak ke meja makan. Di meja makan nampak di situ sudah siap segala makanan favoritku, disinilah aku merasa terharu bahwa memang pekerjaan seorang ibu begitu berat. Karena ketika malam datangpun dia mengawasiku dan memastikanku tidak terjadi apa-apa denganku.

Sementara itu ibuku juga yang telah meletakan selimut di tubuhku untuk melawan dingin malam yang jahat itu. Dan dikala pagi hari ibu harus bangun lebih awal dari kami untuk menyiapkan makanan untuk kami. Memang begitu besar tugas dan tanggung jawab seorang ibu.

Aku duduk di ruangan makan bersama dengan ibu dan ayahku, aku mulai mengambil nasi dan menaruhnya di pirng menggunakan sendok khusus nasi. Sementara itu sang ayah sedang melihatku sambil tersenyum. Aku mengambil lauk dan sayur dan kemudian melahapnya. Sementara itu ayah dan ibu juga telah mengambil nasi dan sayur dan kemudian melahapnya.

"Ibu aku hendak mengikuti kegiatan kampus hari ini di luar kota, tetapi", berhenti berbicara karena tidak mempunyai biaya dan malu hendak meminta.

"Tetapi apa", sahut ibu sambil terus mengunyah makanan yang baru saja dia masukan kemulutnya menggunakan sendok.

"Tetapi..", masih terhenti untuk berbicara karena dibebani rasa canggung untuk meminta uang kepada orang tua. Memang usia sedewasa aku begitu malu untuk meminta uang tetapi apalah daya uang gaji dariku bekerja belum keluar maka dengan terpaksa aku beranikan diri untuk meminta kepada orang tua.

"Tetapi apa Riyan", kali ini ayah yang menyaut, yang juga sambil mengunyah makanan sambil menatapku.

"Aku tidak memiliki biaya, bosku belum memberikan hak gaji kepadaku bulan ini sehingga akupun bingung", ungkapku terasa bertambah beban canggung di hati dan fikiranku.

"Kebetulan bapak juga belum gajian Riyan, bapak gajian nanti pada tanggal 26, dan sekarang baru tanggal 20", ungkap ayahku merasa bersalah.

"Tenang riyan, kebetulan ibu mempunyai sisa tabungan dari uang yang diberikan ayah pada bulan kemarin, dan kalau hanya untuk biaya kamu mengikuti kegiatan di luar kota sangat cukup", ungkap ibuku dengan wajah yang begitu tulus.

"Yang benar ibu, pasti Riyan ganti ibu", ungkapku merasa begitu berterimakasih dengan ibu.

"Sudah Riyan tidak perlu diganti, ibu ikhlas kok bantu kamu, lagian kaya sama siapa saja perlu diganti", ungkap sang ibu berhenti mengunyah.

Hingga akhirnya ibu berjalan masuk ke kamar sepertinya hendak mengambil sisa tabungan yang dimaksud. Aku dan ayah terus melanjutkan acara sarapan pagiku dengan ditemani kebahagiaan yang tiada duanya di bumi ini.

Ibu kembali dari kamarnya dan kemudian memberikan uang untuk digunakan sebagai biayaku mengikuti kegiatan di luar kota.

Ketulusan kasih sayang ibu memang tidak memandang waktu, di usiaku yang sudah dewasa ini ibu juga selalu ada untuk membantuku. Memang benar banyak orang bilang bahwa kasih ibu sepanjang masa, mungkin kebaikanku dengan ibu selama masa dan sisi hidupku belum bisa menggantikan jasa ibu.

Karena ibuku yang berani mempertaruhkan nyawannya untuk melahirkanku, dan itu adalah perbuatan yang sangat mulia menurutku. Setelah melahirkan akupun dibesarkannya, dirawatnya, hingga diberikan pendidikan menjadi manusia yang lebih beradab mengenal pengetahuan dan juga mengenal agama.

Tiada yang sanggup menandingi ketulusan cinta kasihmu ibu, karena cinta kasihmu adalah sepanjang masa dan tidak mudah lekang oleh waktu. (Arif Purwanto)

---oOo---

Bagaimana, bagus juga bukan? Ya, tidak membosankan karena karya ini masuk kategori singkat dan pendek. Bagi rekan semua yang ingin menikmati cerita ini dalam bahasa Inggris bisa mendownload versi terjemahannya melalui tautan yang disediakan.

Monday, June 5, 2017

Cerpen tentang Hijab Penyelamat Inggris dan Indonesia

Cerpen bahasa Inggris dan Indonesia kali ini masuk kategori religi yang didalamnya kental dengan nuansa kehidupan agama. Ya, terlihat dalam judul, "hijab penyelamat" sangat jelas memberitahukan kepada pembaca bahwa dengan memakai pakaian hijab syar'i maka seseorang akan lebih terjaga dan terhindari dari hal buruk.

cerpen tentang hijab penyelamat
Kisah Cerpen tentang Hijab Penyelamat

Dari judulnya saja bisa ditangkap sebuah pemberitahuan dan juga peringatan agar muslim senantiasa bisa menjaga pakaian dengan baik. Menjaga pakaian bagi wanita sama artinya dengan membentengi diri sendiri dari perbuatan maksiat yang akan menghancurkan seseorang. Tentu saja tema cerita ini sangat bagus, benar tidak?

Sebagai awal, rekan semua bisa menikmati langsung cerita pendek tersebut dalam bahasa Indonesia. Versi bahasa Indonesia ini tidak terlalu panjang, hanya sekitar 100 kata, tak lebih dari 2 halaman. Cerita seperti ini tentu sangat cocok untuk teman santai di sore hari. Silahkan langsung dinikmati saja bagaimana kisah selengkapnya berikut.

Hijab sang Penyelamat
Cerpen Bahasa Indonesia

Malam yang sungguh meriah dihiasi dengan suara kendaraan yang tidak memiliki adab, serta lampu-lampu yang berjejer rapih menjadikan terang walaupun bukan siang. Sementara aku dan dua orang temanku sedang menenggak arag, untuk membuat fikiran kami menjadi lebih tenang dan tidak gelisah.

Kami memiliki 3 botol arag, dan masih-masing dari kami harus bisa menghabiskan satu botol arag. Sementara itu sebagai pelepas jenuh kami juga memperbincangkan hal-hal yang tidak penting sebagai hiburan semata. Inilah cara kami mengusir jenuh dan menjadikan suasana berkumbul tidak menjenuhkan.

"Hey, kau lihat gedung di sana, yang besar lagi indah, dihiasi dengan kelap-kelip lampu yang menawan," Ungkapku sambil menunjuk dengan tatapan mata yang liar.

"Ya aku melihatnya", ungkap Rio temanku.
"Ya aku tahu, lalu ada apa dengan gedung itu", Ungkap Ringgo temanku.

"Besok kalau aku sudah jadi orang kaya, aku akan bangun gedung yang lebih tinggi dari pada itu, lebih bagus dari pada itu. Dan di gedung yang akan aku bangun nanti akan ku isi dengan benda-benda mahal yang terbuat dari emas, serta wanita-wanita malam yang cantik-cantik untuk menemani malammu setiap malam. Dan itu tentu sangat menyenangkan bukan, dan kalian bila hendak menenggak arag maka aku yang akan belikan, aku akan belikan sepabriknya untuk kalian minum", ungkapku menghayal sambil berbicara lantang.

"Wah setuju, itu yang terpenting kalau kau kaya jangan lupakan kami, karena biar bagaimanapun kami ini sahabatmu", ungkap Rio.

"Terus bagaimana strategimu untuk bisa kaya", ungkap Ringgo begitu penasaran.

"Kaya itu soal gampang, aku hanya perlu menculik anak pejabat setelah itu aku meminta tebusan kepadanya dengan uang satu truk, dan apa aku sudah kaya bukan haha", berbicara diluar kendali karena mabuk.

"Hahahah", dua kawanku juga ikut tertawa nampak terlihat kami seperti gerobolan orang gila yang bermimpi menuju bulan.

***

Setengah jam lagi waktu kerjaku usai dan aku boleh pulang, sementara itu pekerjaanku sudah hampir selesai. Sementara itu aku masih melihat kawan-kawanku begitu gugub mengejar target mengetik karena waktu bekerja sudah hampir habis.

Tetapi aku tetap fokus dengan pekerjaanku dan jari ini tetap kuat dan cepat untuk terus mengetik hingga pekerjaan bisa terselesaikan.

"Tet...! Tet..! Tet..!", bunyi bel tiga kali tanda jam pulang sudah datang. Sementara itu ribuan orang di dalam perusahaan berbondong-bondong keluar dari pabrik. Sementara itu aku masuk ke dalam mushola kecil yang berada di perusahaan tempatku bekerja.

Dan di situlah ku lepas hijabku untuk mengambil air wudhu dan kemudian melakukan kewajiban sholat 5 waktu sebelum pulang. Dengan melakukan sholat sebelum pulang maka aku yakin perasaanku lebih tenang karena tuhan akan selalu menjagaku ketika aku berjalan dan melangkahkan kaki.

"Hey Ria, kau tidak pulang ", sapa Elin salah satu teman kerjaku.
"Aku hendak sholat dulu", ungkapku setelah mengambil air wudhu.

"Aku duluan ya", ungkapnya.
"Iya", berjalan sambil masuk ke musholah.

***

"Sudahlah ini sudah hampir jam sembilan, lebih baik kita mangkal diterowongan, tempat orang berlalu lalang pulang bekerja, siapa tahu kita dapat uang di sana, atau justru dapat gadis yang cantik hahah", ungkapku berkata kepada kepada kedua temanku.

"Oke langsung saja kita Van ke terowongan ini sudah waktunya", ungkap Rio dan Ringgo.

Ketiga preman itu berjalan dalam pengaruh minuman alkohol yang hingga menimbulkan pikiran jahat dibenaknya. Setelah berjalan selama 10 menit sampailah dia di terowongan yang tidak terlalu gelap tetapi begitu sepi.

"Nah di sini ni kita akan cari mangsa, tinggal tunggu saja kita sampai ada mangsa lewat setelah itu kita sikat", ungkap Evan yang fikirannya sudah dibutakan oleh kejahatan karena pengaruh alkohol.

***

Kekasihku nampak begitu sexsi hingga membangkitkan birahi nafsu dalam otaku. Tubuhnya berbalutkan pakaian yang begitu ketat dengan rok di atas lutut, serta lengan yang tanpa sehelai benangpun serta payudara yang sedikit terlihat belahannya.

"Sayang, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang karena orang tuaku sudah menelponku dan menyuruhku pulang", ungkap kekasih lelaki kepada Shela yang berbpakaian maha sexsi bagai pekerja sex komersil.

"Iya tidak apa-apa aku bisa pulang sendiri kok", ungkapnya dengan lembut dan senyuman manis, hingga membuat nafsu kekasihnya memuncak.

Di dalam mobil yang gelap tanpa penerangan sedikitpun, sang kekasih langsung saja merangkul Shela hendak mencumbu tubuh eloknya. Tetapi Shela enggan melayaninya dan berkata,"Sayang jangan sayang, ingat aku ini kekasihmu", mendorong tubuh kekasihnya hingga terpental setelah mendapat ciuman di bibirnya.

Sementara itu Shela langsung keluar dari mobil tanpa berbicara apa-apa kepada kekasihnya. Dengan pakaian yang begitu sexsi tersebut dia hendak berjalan ke trowongan yang di situ sudah ada rombongan preman yaitu Evan, Ringgo, dan Rio. Gerombolan preman yang sedang mencari mangsa.

***

Nyaman sekali hati bila sudah melakukan kewajiban sholat, kini tiba saatnya untuku berjalan pulang, karena malam juga sudah begitu larut. "Bismilah hirohman nirrohim", ungkap bibir berguman dan hati juga bersuara, dan kemudian aku berjalan.

Aku berjalan untuk bisa sampai ke rumah, karena memang di malam tidak ada lagi jasa transportasi umum yang bisa digunakan, sehingga mau tidak mau ataupun suka tidak suka aku harus berjalan.

Tibala aku sampai di terowongan yang tidak gelap tetapi sangat sepi, aku beranikan diri aku terus melangkah karena yakin tuhan pasti menjagaku. Sementara itu aku melihat 3 preman yang duduk di trowongan tersebut, dia tidak menyapa ataupun bertanya kepadaku hanya melihat sekilas saja dan kemudian menundukan kepala.

Terus ku langkahkan kakiku untuk bisa sampai ke rumah, hingga akhirnya sampailah aku di depan rumah dengan keadaan selamat. Langsung saja ku mengganti bajuku dan kemudian mebaringkan tubuhku di atas ranjang, Oh ini nikmat sekali, rasa lelahku terbayarkan ketika menikmati berbaring di atas ranjang. Dalam sekejap saja aku lupa dan langsung tertidur.

***

"Apa-apaan si Angga, asal cium gitu aja, gak mikir apa ya, untung saja aku bisa berontak, kalau tidak pastilah hilang kesucianku", ungkap Shela berbicara dalam hati sendiri di dekat terowongan.

Shela berjalan terus memasuki trowongan yang sepi tetapi tidak gelap yang didalamnya terdapat preman yang sedang mencari mangsa. Tibalah Shela melintas di depan preman, "Hey Cantik, dari mana buru-buru sekali", ungkap Evan dan kawan-kawan.

"Aku buru-buru bang", begitu ketakutan karena dicegat oleh preman berusaha melarikan diri.

"Buru-buru kenapa si, mending di sini dulu sama kita nemenin kita", ungkap Evan sambil menarik tangan Shela yang begitu halus.

"Iya dong cantik buru-buru banged si", ungkap Rio sambil menyolek pantat Shela,"Hey jangan kurang ajar ya, Tolong..! Tolong..! ada preman", triak Shela begitu ketakutan.

"Gak bakal ada yang akan dengerin triakan kamu cantik", ungkap Evan dan langsung menariknya ke belakang terowongan yang di sana sudah tertata kardus yang ditata sedemikian rupa layaknya ranjang tidur.

"Tolong bang lepaskan saya", ungkap Shela memohon sambil berusaha untuk melepaskan genggaman tangan dari sang preman.

Tanpa fikir panjang Evan langsung menarik baju Shela hingga robek hingga terlihatlah benar lekuk tubuh seksi Shela. Sementara Shela terus berontak meskipun sudah dalam keadaan telanjang. Evan langsung membekap Shela disitulah Shela tidak punya daya apa-apa untuk menolak kerusakan kesuciannya yang dilakukan oleh Evan.

Nafsu Evan terus dilimpahkan kepada Shela selama 3 jam lebih hingga membuat keduanya begitu lemas. Dan di sana Shela tergeletak tidak berdaya dengan keadaan pendaraan pada bagian kelamin. Sementara itu Ringgo juga tidak mau kalah dia juga ingin menunjukan kejantanannya kepada Shela. Mulailah dia menelanjangi diri dan kemudian melakukan hubungan intim selama kurang lebih 4 jam.

Shela nampak begitu pucat, dan hanya menangislah yang bisa dia lakukan sambil berteriak genit yang membangkitkan birahi para preman. Setelah Ringgo selesai menyalurkan nafsunya kini tinggal Rio yang juga ingin melakukan hal yang sama, tetapi mendapat penolakan dari Shela.

"Aku sudah begitu lemas bang, jadi saya mohon sudah", ungkap Shela terlentang dalam keadaan telanjang sambil menutup matanya.

"Harus adil dong, kalau teman saya aja dapat masa saya enggak", ungkap Rio langsung membekap Shela setelah pakaianya sudah dilepas.

"Jangan bang", ungkap Shela sambil mendorong tubuh gempal dari Rio, tetapi Rio tetap beresi keras mendapatkan lembut tubuh Shela. Penolakan dari Shela dan paksaan dari Rio terkesan seperti pemain gulat yang sedang bergulat di arena, saling kunci mengkunci dan mencari celah untuk melawan.

Karena tidak sabar Shela terus memberontak akhirnya Rio melayangkan lengan besarnya tersebut ke wajah gadis cantik tersebut. Hingga berdarahlah hidung cantik putih milik shela. Belum puas Rio mengambil batu besar dan kemudian menghantamkannya ke kepala Shela. Hancurlah kepala Shela dan kemudian Shela meninggal. Sementara itu Rio, Evan, dan Ringgo yang dalam keadaan telangjang itu tertidur. Dan di sana Shela juga sudah menjadi mayat yang juga dengan keadaan telanjang.

***
"Alhamdulillah lega sekali habis mandi", ungkap Ria usai Sholat dan mandi pagi dan sekarang sedang memakai hijab.

Usai memakai hijab barulah ku duduk di ruang televisi sambil menikmati hangat teh pagi nan manis. Ku ambil remot televisi, dan ku hidupkan untuk bisa mendengarkan kabar hari ini.

"Selamat pagi pemirsa, sesosok mayat perempuan ditemukan dalam keadaan telanjang di trowongan pinggiran kota, sementara itu tidak jauh dari tempat kejadian ada 3 pria yang terkena pengaruh alkohol tertidur pulas yang juga dengan keadaan telanjang". – Astahfirullah biadab sekali– ungkap hati melihat berita,"kejadian pembunuhan dan pemerkosaan ini diperkirakan terjadi pada jam 21:15".

"Loh aku juga melihat ketiga pria itu, tetapi kenapa dia tidak menggangguku, padahal pada pukul 21:00 aku juga lewat di depannya", hati bertanya-tanya tanpa ada yang menjawab.

Tanpa berfikir panjang aku langsung bersiap-siap untuk menghampiri para pelaku pembunuhan dan pemerkosaan tersebut di kantor polisi.

"Pak aku mau bertemu dengan ketiga pelaku pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi di terowongan", ungkapku kepada pihak kepolisian.

Dan disediakanlah aku ruangan khusus untuk mengobrol dengan ketiga pelaku pemerkosaan dan pembunuhan tersebut. Aku duduk di ruangan tersebut dan kemudian tidak lama datanglah petugas dengan membawa ketiga preman seperti yang ku lihat di trowongan malam tadi.

"Aku mau bertanya kepada kalian", ungkapku dengan sedikit nada tegas kepada ketiga preman.
"Katakanlah", ungkap evan.

"Tadi malam aku melihat kalian di trowongan, dan kalian juga melihatku melintasi trowongan, mengapa kalian tidak berbuat jahat kepadaku, tetapi kepada perempuan yang sudah tergeletak menjadi mayat dengan keadaan telanjang saat ini", ungkapku memandang ketiga preman penuh dengan rasa penasaran.

"Tentu kami tidak berani kepadamu, karena kau berjalan dengan seorang laki-laki besar berjubah, tentulah dari ukuran badan kami pasti kalah walaupun kami bertiga", ungkap Evan.

Hati bertanya-tanya dengan pernyataan si preman, padahal aku pulang dan melintasi trowongan itu sendirian. Yah mungkin tuhan telah mengerahkan pasukannya untuk menjagaku sehingga nasib naas yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan tidak terjadi kepadaku. Alhamdulillah ternyata iman tidak hanya menolongku di Akherat, di duniapun iman telah menjaminku terhidar dari macam mara bahaya. Merugilah orang yang tidak punya iman. (Arif Purwanto)

---oOo---

Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saat ini versi bahasa Inggris dari cerpen tersebut belum bisa dibagikan. Mohon maklum, banyak keterbatasan yang harus diatasi. Meski begitu kami akan berusaha secepatnya untuk melengkapi cerita-cerita yang ada dengan versi lain sebagai media belajar. 

Sunday, June 4, 2017

Cerpen Bahasa Inggris Cinta Dibalas Penghianatan dan Terjemahan

Cerpen dalam bahasa Inggris kali ini akan mengambil tema asmara atau cinta. Tentunya, tema ini sangat menarik untuk diikuti sebagai bahan bacaan saat senggang. Cinta dan asmara merupakan nafas kehidupan yang tak di abaikan. Masa remaja, adalah masa paling indah dimana cinta mulai tumbuh bersemi. Cerita berikut menggambarkan sisi lain kehidupan cinta.

cerpen inggris tentang cinta
Cerpen Bahasa Inggris Cinta Dibalas Penghianatan dan Terjemahan

Anda mungkin mengalaminya, cinta seharusnya indah dan menyejukkan tetapi bukan tidak mungkin cinta juga akan memberikan penderitaan dan kepedihan. Seperti misalnya ketika sebuah rasa cinta harus berakhir dengan kata "khianat".

Tentu menyakitkan, pengkhianatan adalah sesuatu yang paling buruk dalam dunia percintaan. Seseorang yang berkhianat dalam cinta telah menginkari kesucian cinta yang tulus. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan tameng, namun begitu sebuah pengkhianatan tetap akan menimbulkan sakit hati. Nah, silahkan dibaca cerpen versi bahasa Indonesia berikut!

Rasa Cinta yang Dibalas Penghianatan
Cerpen Versi Bahasa Indonesia

Bahagia kaki melangkah menyisiri jalan yang berlika-liku dengan dirimu, hujan kemudian turun menyerang kami secara bergerombolan. Meski serangan hujan tidaklah berati apa-apa, tetapi kami lebih memilih untuk berteduh di bawah pondok di taman kota ini. Dia nampak kedinginan dan kuhangatkan dengan pelukan tubuhku, dia begitu menikmati terlebih angin yang berhembus begitu kencang.

Raisya adalah kekasihku yang dulu kutemui dia dalam keadaan tuli dan membuta dengan urusan cinta, karena masa lalu cintanya yang kelam. Bahkan masa lalunya yang kelam itu membuatnya begitu membenci kaum laki-laki dan lebih memilih hidup tanpa cinta. Tetapi kini dia membuka hantinya kembali untuk lelaki, dan akulah lelaki yang beruntung, karena hatinya yang membeku bisa kulelehkan dengan kekuatan cintaku yang tulus.

Tiga kali kekasihku menjalin hubungan cinta tetapi tiga kali juga kekasihku mengalami pahitnya cinta. Bahkan dia hampir mati karena cinta, yang sebelumnya telah sedikit membawa gelora bahagia. Sebab itulah mengapa butuh waktu yang lama butuh kesabaran yang lebih ketika aku hendak masuk ke dalam hatinya. Karena tentu aku harus telebih dahulu melelehkan hatinya yang beku terlebih dahulu sebelum aku bisa masuk ke dalam hatinya.

Cinta pertamannya dia temui pada masa SMA, ketika seorang perempuan sangat bahagia dengan janji lelaki yang hendak menjadikannya seorang kekasih sejati. Hingga janji itu melarutkannya ke dalam samudra hati yang berbunga-bunga dan tiada duanya dalam dunia ini. Sejak saat itulah Raisa mengenal cinta, dan begitu indah menurutnya ketika dia bicarakan tentang cinta dan menjalankan cinta dengan cinta pertamannya.

Tetapi hati yang tidak sepaham membuatnya patah hati karena seorang kekasih yang mengobral janji itu tidaklah serius menjalankan hubungan asmara dengan Raisa. Kekasihnya menjalankan hubungan dengan Raisa hanya untuk memanfaatkan Raisa untuk balas dendam dengan ayah Raisa, yang kebetulan mempunyai masalah dengan masa lalu dari kekasih Raisa.

Dalam hal ini kekasih Raisa sempat hendak merebut kesucian dari Raisa, tetapi beruntung ayah Raisa siap siaga mengetahui putrinya di culik di sebuah gudang tua jauh dari kota dan kemudian membawa pasukan polisi untuk menangkap kekasih pertamanya tersebut.

Dendam tidak terbalaskan tetapi tetap saja dalam hal ini Raisa begitu trauma hendak menjalan kisah cintanya lagi. Tetapi rasa cintanya sempat hilang setelah 3 tahun tidak menjalani kisah cinta dengan seorang lelaki. Di saat hati Raisa yang mulai terbuka, di situlah adalah pangeran yang kedua yang juga mengobral janji.

Dialah yang kemudian seolah tahu isi hati Raisa dan berusaha memahami segala keinginan Raisa, hingga hati yang begitu trauma dengan cinta bangun dan menjadi hati yang kuat dan tidak takut untuk menjalani cinta. Di situ Raisa seolah dihipnotis oleh kharisma dari kekasih keduanya tersebut, hingga perkenalan yang sangat singkat tidak menjadi masalah baginya untuk menjalan hubungan asmara.

Tetapi kisah cinta itu tidak lama karena kemudian Raisa tahu bahwa kekasihnya tidak benar-benar mencintainya setelah mengetahui kekasihnya sedang bercumbu mesra dengan perempuan lain. Disitulah hingga hati menjadi membeku dan nampak tidak bisa dimasuki cinta lagi.

Satu tahun kemudian disaat dia masih konsisten untuk menutup hatinya karena cinta, ada lelaki yang dengan pandai mencari celah untuk menghancurkan hatinya yang beku dan kemudian singgah di dalam hatinya. Pengalamannya disakiti belum jerah begitu saja untuk tidak mengatakan tidak dalam urusan bercinta. Dan manisnya cinta masih menggiurkan hatinya untuk kemudian disinggahi hati yang belum jelas apakah ini cinta sejati atau cinta paslu yang memakai topeng cinta sejati.

Raisa menjalani kisah cinta yang ketiga dengan orang yang belum cukuplama dia kenal, awal diajalani cinta dengan kekasihnya dengan begitu mulus. Baru pertengahan usia perkenalan mereka nampak sudah ada benih-benih perpisahan dalam hubungan mereka tetapi belum membuat hubungan ini bubar, hingga setelah lambat laun bertambah usia hubungan mereka ada duri dalam daging, karena sahabat Raisa secara dengan sengata berselingkuh dengan kekasihnya itu.

Disitulah kemudian Raisa menidurkan hatinya untuk cinta, agar hiruk pikuk cinta tidak terdengar dalam hatinya yang disebabkan karena hati yang begitu sakit. Setahun kemudian dia bertemu denganku, dalam keadaan hati yang masih keadaan tidur. Begitu sulit untuk masuk ke dalam hatinya, karena tentulah dia sudah bertekad untuk menidurkan hatinya agar tidak dimasuki oleh cinta. Laksana orang yang sudah meminum obat tidur dalam dosis besar begitu sulit untuk dibangunkan.

Tetapi aku terus bertekad bagaiman hati yang tidur dan bahkan sudah mati rasa ini bisa bangun dan bersedia menyimpan namaku. Aku lakukan pendekatan secara terus menerus dan berusaha menyakinkan bahwa akulah cinta sejati, bukan cinta palsu yang bertopengkan cinta sejati.

Usahaku menuai banyak rintangan, tetapi hingga akhirnya menghasilkan buah pencapaian yang memuaskan. Karena usahaku untuk masuk ke dalam hatinya selama dua tahun kini terbayar, karena hatinya sudah menyebut namaku, dan sudah pula menyimpan namaku ke lembaran-lembaran sajak di dalam hatinya.

"Hey, Rama, mengapa kau diam saja dari tadi, apakah yang kau fikirkan..?", ungkap Raisa, sambil mengangkat kepalanya beranjak dari dadaku.

"Tidak, aku hanya melihat hujan, yang memabawa kebahagiaan untukku dan untuk kita", ungkapku mata berkaca.

"Kau benar hujan ini membawa kebahagiaan untukku, karena aku bisa menikmati hangat pelukan tubuhmu ini", mencengram memeluk dengan lebih kuat dari sebelumnya hingga membuatku sesak nafas.

"Iya aku tahu, tapi tolong pelukanmu itu membuat sesak nafasmu", ucapku sambil menahan nafas.
"Heheh maaf", ucapnya sambil terus memelukku, dan meletakan kepalanya didadaku.

Hujan seolah sengaja membiarkanku saling berpelukan seperti ini, hingga dua jam berselang hujan belum juga reda, tetapi biarlah hujan tetap turun yang terpenting adalah bersamamu. Dan aku tetap bisa menikmati cinta di dinginnya hujan yang melanda, serta aku juga masih bisa memadu kasih di gemuruhnya pasukan hujan yang jatuh seperti serangan peluru kendali.

Hujan juga telah menemani kami sepanjang cerita ini, sehingga walaupun tidak ada orang sama sekali selain kami berdua, suasana tetap begitu ramai. Karena hujan menyaksikan cinta kami, dan telah dengan sengaja membiarkan kami untuk saling bercinta dalam dingin hujan ini.

Aku ucapkan terimakasih dengan hujan, dan tuhan yang telah menurunkan hujan, karena kalian cinta kami dipersatukan di pondok sederhana beratapkan jerami. Mungkin ini adalah kebahagiaan yang sangat luar biasa yang pernah kami rasakan.

Dan para dedaunan yang kering yang jatuh kami juga mengucapkan terimasih kepadamu, karena jatuhnya daun kering menambah kemeriahan suasana di taman kota ini. Daun nampak bertepuk tangan dengan sanga tanah ketika melihat kami berpelukan.

Tetapi tidak cupa daun yang gugur, karena ku lihat di sana ada burung yang berteduh yang nampak bahagia menyaksikan cinta kasih kami di pondok ini. (Arif Purwanto)

---oOo---

Nyicil ya, di atas kan sudah jelas diberikan judul cerpen bahasa Inggris dan terjemahan tetapi yang bisa dibagikan sekarang ini baru versi terjemahan atau versi bahasa Indonesianya. Untuk cerita yang bahasa Inggris akan segera menyusul.

Sebagai gantinya, untuk sementara waktu rekan pembaca bisa menerjemahkan cerita di atas secara manual dengan menggunakan terjemahan online. Tidak susah kok, tinggal buka terjemahan, disalin dan langsung dibuat versi bahasa Inggrisnya. 

Saturday, June 3, 2017

Kumpulan Cerita Cinta Remaja Masa Kini

Kumpulan cerita cinta remaja yang mengangkat kisah-kisah asmara kekinian tentu saja akan menjadi bacaan yang cukup menarik. Meski bukan dalam bentuk cerpen sekalipun, kisah asmara akan menjadi hal yang bisa membuat kita terhibur. Anda pasti setuju dengan pendapat seperti itu bukan?

cerita cinta remaja

Untuk itulah, satu momen ini akan kita gunakan untuk melengkapi kumpulan cerpen yang sudah ada. Kali ini tema yang diambil adalah cinta remaja yang tentu penuh warna. Ada dua cerita sekaligus yang bisa dinikmati. Anda pasti tidak sabar untuk mengetahui bagaimana masing-masing kisah tersebut bukan?

Berawal dari Sekuntum Bunga
Cerita Cinta Remaja

Kalian pasti tidak percaya bagaimana awal pertemuanku dengan Glady. Suasana saat itu benar-benar garing. Membosankan. Hatiku juga kebetulan sedang galau, kesal, ditambah lagi ada seorang cowok di dekatku yang bertingkah menyebalkan.

Ceritanya waktu itu Glady sedang menunggu pacar. Sudah 5 jam menunggu, katanya. Kami sama-sama di taman kota. Aku duduk di satu kursi, dia pun begitu. Aku sendiri waktu itu sedang kesal dan kecewa gara-gara tidak bisa masuk ke perguruan tinggi yang aku inginkan.

Aku melepas penat di hati. Menghilangkan stress tapi justru tambah stress ketika melihat seorang cocok sesuka hati mengotori taman.

Glady memegang seikat bunga mawar putih. Duduknya tidak tenang. Sekilas aku bisa melihat hal itu. Ia bolak-balik menoleh ke kanan dan ke kiri. Menunggu seseorang. Lama kelamaan ia seperti kehabisan akal. Ia mulai membuka ikatan bunga di tangannya. Ia kemudian memetik satu persatu kuntum mawar di tangannya. Di buang ke depan, samping dan belakang.

Melihat dia yang seenak jidat mengotori taman, aku tentu saja tambah emosi dibuatnya. Aku mulai menggerutu dan mengomel sendiri. Meski sebenarnya, lantai taman menjadi sedikit berbeda dengan taburan kelopak mawar putih miliknya. Tapi tetap saja, ia memperberat tugas penjaga taman.

Aku terus menggerutu dan mengomel. Gerah. Lama-lama aku tidak tahan juga melihat lelaki itu tak kunjung menghentikan aksinya. “Mas, mas… kalau enggak berguna, bunganya lebih baik buat saya aja, dari pada ngotori taman. Bisa buat makan kambing mas di rumah…!” Aku berucap ketus tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.

Saat itu Glady tidak peduli dengan suaraku. Ia justru membalikkan badan membelakangi aku. Merasa sama sekali tak dipedulikan, aku bangkit dan melempar bekas air mineral yang sudah habis ke arahnya sembari pergi meninggalkannya.

Aku kira kisah pertemuanku dengan lelaki aneh itu tidak akan berlanjut, rupanya salah. Seminggu kemudian, saat aku sedang santai di taman, tiba-tiba laki-laki itu muncul lagi. Aku masih ingat benar bagaimana bentuk wajahnya.

Melihat dia yang seperti berjalan mendekat, aku langsung beranjak dan pindah ke tempat duduk lain. Aku membelakanginya. Penasaran juga, beberapa menit kemudian aku membalikkan badan. Betapa terkejutnya aku ketika sudah ada pria duduk di bangku yang aku tempati. Hampir saja aku melompat kaget dibuatnya.

Dengan raut curiga, aku langsung beranjak, takut. Bukannya berhenti, pria itu justru bangkit mengikutiku. Terang saja aku lansung berteriak karena takut, “hei… ngapain sih kamu ngikutin aku terus!”

Tak menjawab, pria itu justru menyodorkan sebuah tas pensil kecil berwarna merah. Pandanganku langsung tertuju pada benda itu, “ah sial… itu kan wadah pensil milikku. Ada hp jadul-ku lagi… pantas aku cari-cari enggak ada…”

Aku sempat tertegun diam, sedikit malu karena sudah salah sangka. Setelah menyadari dia tidak berniat jahat aku langsung kembali membalikkan badan menuju ke bangku taman. Aku duduk, pria itu mengikutiku dan duduk disampingku.

“Maaf, aku hanya ingin mengembalikan ini, tidak berniat jahat. Sudah satu minggu ini aku mondar - mandir menunggu kamu untuk mengembalikannya…” Boset dah, saat itu tiba-tiba perasaanku bercampur aduk tak karuan. Dengan sedikit malu, akhirnya aku minta maaf.

Begitulah, “Glady”, ia menyebutkan namanya untuk pertama kali. Terdengar sedikit aneh namanya, tapi aku lantas menyebutkan pula namaku. “Bunga… pantas kamu begitu emosional ketika aku mencampakkan setiap kelopak bunga yang aku pegang waktu itu…” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Seikat bunga itu akhirnya membuat kami lebih dekat. Pertama kali Glady main ke rumah, ia juga membawa setangkai bunga mawar. “Tidak usah repot, aku tidak suka kamu membawa bunga segala. Disini kan sudah ada bunga, bahkan lebih cantik dari bunga yang kau bawa…” Entah kenapa aku kurang suka ketika ia membawakan aku sekuntum mawar.

Sejak saat itu Glady tidak pernah lagi menampakkan tangannya dengan bunga. Tapi dia punya ciri khas, tangannya tak pernah kosong. Ketika ia mampir ke rumah ditangannya selalu saja ada sesuatu. Gantungan kunci lah, coklat lah, es krim yang setengah meleleh lah dan masih banyak lagi lainnya.

Semakin hari, aku jadi semakin tidak bisa lepas dari Glady. Aku semakin rindu, dan semakin sayang dengan dia. Sampai saat ini, selama dekat, selama pacaran, ia juga tak pernah aneh-aneh. Dia tak pernah mencoba menciumku, apalagi meniduri aku. Tak pernah. Meski kadang, aku dimabuk asmara, tak kuasa menahan gelora itu.

---oOo---

Anggap saja yang diatas sudah satu judul karena sebenarnya yang kedua ini juga masih lanjutan dari kisah sebelumnya. Pada cerita pertama kita menikmati bagaimana kisah pertemuan Bunga dengan seorang yang namanya Glady hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta.

Nah, yang kedua ini adalah kisah dari secuil asmara yang sempat mereka alami. Pada cerpen lanjutan berikut ini kita akan diajak untuk mengikuti sisi lain dari kehidupan percintaan antara dua remaja tersebut. Seperti apa, silahkan dinikmati.

Antara Cinta dan Hina
Cerita Cinta Remaja

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat tanpa aku sadari. Kini usia kedekatan aku dan Glady sudah 3 tahun lebih. Di tahun ke empat pacaran, aku sudah sangat berani. Aku tak segan mulai menuntut. Minta ini, minta itu. Ingin ini, ingin itu. Banyak sekali.

Glady selalu mengabulkan keinginanku. Semua, tak terkecuali. Tapi entah kenapa aku tetap tak puas dan semakin ingin minta sesuatu yang berat dan susah untuk dikabulkan oleh Glady.

Suatu ketika, Glady sedang rapat dengan bos-nya. Aku meminta, bersikeras dan memaksa dia untuk menjemputku di rumah tepat jam 11 siang. Karena sedang rapat, menurutku tidak mungkin Glady bisa datang menjemput. Nyatanya aku salah. Jam 11 tepat ia sudah ada di depan pintu rumahku. Ajaib.

Esok harinya aku mendapat kabar dari sahabatnya bahwa ia kehilangan tender berharga. Tapi ia tidak pernah mengeluh, apalagi menyalahkan aku. Saat itulah aku sadar bahwa aku adalah satu-satunya yang berharga dalam hidupnya.

“Aku kerja keras juga untuk persiapan melamar dan menjadikanmu sebagai permaisuri di kerajaanku nanti. Jadi, saat kamu lebih membutuhkan aku dari pada pekerjaanku tentu saja aku akan hadir untukmu sayang…” begitulah penjelasan dia saat ku tanya.

Malam itu entah kenapa suasana terasa lebih romantis dari biasanya. Aroma tubuh Glady yang duduk di sisiku membuat dada ku berdegub begitu kencang. Hembus nafasnya yang terdengar begitu teratur membuatku merinding. Aku menunduk, “maafkan aku Glady…”

Melihat air mataku yang mulai meleleh, ia pun memelukku hangat. Aku tak tahan. Aku menangis lebih deras sambil memeluknya erat. Aku merasa sangat nyaman berada di pelukannya. Aku menenggelamkan kenapaku di dadanya yang bidang.

Ia pun mengecup kepalaku, “sudah, tidak apa-apa sayang, kamu tidak salah kok…”. Aku menengadah, mencoba melihat jauh ke relung hatinya. Ia pun membelaiku dan mengecup keningku.

Nafasnya yang hangat jatuh di wajahku. Dadaku mulai bergemuruh, nafasku mulai tersengal. Aku segera mendekatkan wajahku ke wajahnya. Berharap sesuatu yang lebih dalam terjadi. Sekali lagi, ia mengecup keningku dengan hangat. Melepaskan kehangatan yang masih ingin terus aku rasakan. Dengan senyum kecil di bibirnya ia berkata, “cintaku tak akan pernah terbatas untukmu. Aku akan memberikan seluruh cinta ini, tapi bukan hina atau neraka…”

Aku paham sekali maksud kata-kata Glady. Tak usah dijelaskan. Meski kadang aku merasakan kecewa tapi hal itulah yang membuat aku makin cinta pada dirinya. Untuk masalah Glady, aku adalah orang paling serakah yang pernah ada di dunia ini. Bahkan bayangannya pun sama sekali tak ku izinkan dimiliki orang lain.

“Bunga, sabar ya sayang… sedikit lagi. Aku akan melamarmu, setelah kamu wisuda… aku tidak ingin membuat orang tuamu khawatir atau kecewa”.

Glady membuat aku semakin tak sabar menunggu hari bahagia itu. Semakin hari, aku semakin gelisah dan ingin cepat-cepat wisuda dan menagih janji manis itu. Tapi masih satu tahun tersisa. Waktu yang sangat panjang untuk menantinya berbaring di sisiku.

---oOo---

Friday, June 2, 2017

Kumpulan Cerita Horor Lucu Bikin Ngakak

Contoh cerita horor lucu bikin ngakak berikut ini sengaja dibuat untuk para pembaca yang hobi dengan cerita-cerita humor segar. Cerita yang belum pernah dibaca sebelumnya, tidak basi atau garing. Makanya sengaja dibuatkan dua cerita sekaligus untuk melengkapi kumpulan cerita yang sudah ada.

cerpen horor lucu

Dua cerita lucu tersebut yang pertama berjudul “Diganggu Setan Genit” dan yang kedua berjudul “Trio Preman Kacangan”. Kalau yang pertama jelas sekali bahwa ada tokoh yang akan diganggu dan melihat penampakan setan tengil. Sedangkan yang kedua mungkin bisa ditebak tentang preman yang takut hantu. Seperti apa, langsung ke cerita saja!


Diganggu Setan Genit

Cerita Horor Lucu

“Kemana Bang… sore gini kok jalan sendirian. Enakan jalan berdua sama cewek. Ini kan malam minggu Bang…” terdengar suara mendayu merayu dari sisi kiri jalan. Wardi yang berprofesi sebagai tukang ojek itu segera tancap gas ketika menyadari suara yang ia dengar berasal dari sebuah pohon beringin besar di samping sekolah kosong.

Sebelum mempercepat laju motor ia sempat menoleh ke suara itu berasal. Belum sempat melihat satu bayanganpun Wardi telah kehilangan nyali. “Hati-hati kalau lewat jalan Mawar, banyak hantu gentayangan disana!”, Wardi masih ingat isu-isu miring seputar jalan halus tersebut.

Jalan Mawar adalah jalan kampung yang tidak terlalu ramai. Di salah satu ruas jalan itu ada sebuah bangunan bekas sekolah yang terbakar dan kini tak dipakai. Orang di sekitar mengenal jalan mawar sebagai jalan genit. Banyak cerita-cerita miring mengenai hantu cewek yang usil sering menggangu orang yang lewat.

Yang di alami Wardi adalah satu dari sekian cerita tak jelas yang beredar disana. Banyak orang yang takut dan tidak mau ambil resiko. Kebanyakan dari mereka enggan melintas di malam hari, apalagi waktu magrib menjelang isha, banyak kejadian aneh disana.

Meski dikenal berhantu, jalan genit tak membuat nyali Simin ciut. Ia sering melintas, bahkan tengah malam tapi tak pernah diganggu seekor nyamuk sekalipun. Karena itu, ia tidak percaya kalau ada hantu cewek usil yang suka mengganggu orang di jalan itu.

“Mau kemana Min …”
“Tempat teman pakde… biasalah anak muda”
“Ini kan masih magrib Min, pamali di luar rumah…”
“Ah pakde, enggak apa-apa pakde, sudah biasa…”
“Dasar kamu Min…”

Simin bersiap kembali menjalankan motornya, pelan ia mulai berlalu menuju jalan genit. “Min… jangan lewat situ, diganggu baru tahu rasa…” ucap pakde tadi “dasar anak muda… kalau belum mengalami sendiri susah dibilangin”, lanjut pakde tadi.

Pelan dan sopan, Simin mengendarai motor tak seperti pemuda kebanyakan. Sampailah ia di jalan berhantu itu.

Tak ada perasaan apapun ketika ia melintas. Semua biasa saja, tenang. Simin mengendarai motor sambil bersiul, tak sadar melewati seorang gadis berambut panjang berdiri di pinggir jalan. “Eit… siapa tu tadi, kok gadis sendirian kasihan benar…”, Simin langsung putar balik.

“Ada apa bang… ada yang jatuh ya…”
“Enggak… kamu mau kemana kok sendirian…”
“Mau pulang bang, tadi motornya bocor jadi kakak nambal ban dulu… Abang benar tidak ada yang jatuh…”
“Iya benar…”
“La… itu pisang siapa bang?”
“Ha…pisang? Astaghfirulloh… pisang siapa ini besar benar”
“Benar kan…?”
“Bukan, bukan, ini bukan pisang abang…”
“Iya lah jelas, aku kan tahu pisang abang tidak sebesar itu…”
“Ah.. kamu…”

Simin tersipu malu. Ia langsung berputar arah dan berhenti tepat disamping wanita itu. Simin siap melancarkan rayuan pada gadis manis sendirian itu ketika ia kembali kaget dengan yang dikatakan perempuan itu.

“Bang… itu dompet abang jatoh juga…”
“Ha…. Lho, kok bisa sih…. Benar dompet aku…”
“Iya kok bisa sih bang, mungkin celana abang sobek kali…”
“Ah masak… ih… sial, maaf… maaf….”
“Tu.. kan… ih abang ini jadi gemes deh aku…”
“Anu… aku, eh… gimana kalau kamu aku anter aja. Dari pada sendirian…”
“Ah abang, malu ah….”
“Malu… malu kenapa…”
“Malu ah, celana abang lepas tuh… hi….hi hi hi hi… hi….hi hi hi hi…”
“As…as…as… astagh…. Kabur….”

Simin akhirnya tak kuasa menahan takut setelah ia mendengar tawa wanita itu dan menyadari bahwa kaki wanita itu melayang tak menapak di tanah. Tak dipedulikan sepeda motor miliknya. Ia lari tunggang-langgang sambil memegangi celana.

---oOo---

Trio Preman Kacangan
Cerpen Horor Bikin Ngakak

Langit mendung. Simin mengundang dua orang sahabatnya untuk santai di rumah. Orang tuanya tidak ada karena masih kondangan di tempat sang kakak. Mereka siap berpesta. Banyak makanan kecil, kaset game dan sepasang gitar. Hujan yang rintik turun ke bumi membuat suasana sedikit dingin.

“Jo, Tarjo… pintunya di tutup aja lah dingin…” “Ah, nanti aja Min, masih sore…” “Kenapa juga kamu ini Min, biasanya juga nongkrong di emperan…” “Ya ini lain Tur, ini kan di rumah…” “Udahlah… yuk kita main aja….”

Tiga pemuda itu dengan santai melewati sore sambil bermain video game. Mereka tak henti-hentinya bersorak dan berteriak. “Anjrit…” “Ah, dasar loe, kalah terus…” “Ess… tunggu dulu coi, ini masih pemanasan…” “Pemanasan pale lo peang… keringat udah ampek segede jagung gitu…”

Tiga jam berlalu. Jam 11 malam, mereka mulai lelah. “Ah, berhenti dulu yuk Min… capek!” “Iya Min… laper nih, ada makanan enggak?” “Ada, di kulkas tapi masih mentah…” “Buset dah nyokap loe tega bener nih…” “Udah jangan bawel, bikin mie aja sanah…” “Yuk Jo…” “Iya…”

Tarjo dan Turino masuk ke dapur membuat mie instan. Simin sendiri di depan sambil mengunyah kacang.

“Oi jangan lama-lama…”
“Sabar napa Min…”
“Eh… bukan apa-apa… curiga gua kalo loe orang bedua lama-lama…”
“Anjrit loe Min….”
“Ha ha ha…”

Belum selesai Simin tertawa, lampu di rumah tiba-tiba mati. “Mampus gua…! Woi buruan sini…” “Ah, sial mati lampu segala… iya nih udah mateng kok…” “Lilin di mana lilin, lilin Min…”

“Iya Min, parah juga rumah loe ini, masak gak ada disel acan…”
“Ah bawel… boro-boro disel lampu oto aja enggak ada… Udah bawa sini makanannya”

Berbekal lampu senter, mereka bertiga makan mie rebus. Di dalam hati, Simin mulai takut. Sebentar-sebentar ia menoleh kanan kiri.

“Jo, tutup pintu sih! Kamu yang dekat!”, ucap Simin
“Iya…” jawab Tarjo singkat

“Meong….!” Tiba-tiba terdengar suara kucing di samping rumah. Simin langsung berjingkrak kaget sampai mie di depan meja hampir tumpah.

“Apaan sih loe Min, sama kucing aja takut…”
“Bukan takut bego, kaget…”
“Makan loe orang tu dihabisin dulu baru ribut…”
“Eh… No, jangan-jangan Simin emang takut hantu ya?”
“Iya kali…”
“Busyet… jangan bawa-bawa hantu bego!”
“Napa si Min, lagian di rumah ini…”
“Loe enggak tahu ya gue pernah dikerjain hantu…!”
“Hem…. Udah pernah cerita…!”
“Iya basi…”
“Makanya…!”
“Aish… aish, aish…. Apaan di belakangmu Min…!”
“Anjrit….!”

Hordeng pintu kamar di belakang Simin tiba-tiba melambai-lambai tertiup angin. Simin kaget bukan kepalang. Ia langsung lompat menabrak Turino. Tak peduli mie dalam mangkuk berhamburan. Ia langsung duduk di belakang Tarjo dengan mendekap kedua lututnya.

Saat itu juga lampu hidup. Tarjo dan Turino menatap kompak ke arah simin yang gemetaran. Terlihat jelas mata Simin yang ketakutan. “Brak….ciet…”. terdengar suara bergemuruh dari luar rumah. Tarjo dan Turino beradu pandang. Bulu kuduk mereka langsung berdiri. “Jo…!” “Iya Tur…” mereka langsung berhambur ke pojok ruangan bersama Simin.

Selang beberapa detik diluar rumah sekelebat bayang putih melintas pelan. Tangan mereka bertiga saling meraba. Berpegangan erat. “Itu tadi….” “Iya Jo, diem…”

Mulut Turino belum tertutup ketika tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atap rumah, “duk… duk… duk…” “Apa itu Jo…” “Aku ngompol Min…” Tarjo, Simin dan Turino saling memeluk, “Min, lo ngompol…?” “Iya dikit…” “Iya… aku juga…”

---oOo---

Thursday, June 1, 2017

Cerpen tentang Wanita Malam Bahasa Indonesia dan Inggris

Contoh cerpen tentang wanita malam berikut ini adalah hasil latihan dalam membuat karangan fiksi berdasarkan inspirasi dari kehidupan nyata. Cerpen ini nantinya akan dimuat dalam dua bahasa sekaligus yaitu menggunakan bahasa Indonesia dan juga menggunakan terjemahan dalam bahasa Inggris.

cerpen tentang wanita malam

Ceritanya, seperti pada tema, berjudul “kupu-kupu hitam putih”, tentang perjalanan hidup seorang wanita yang harus menjalani kehidupan kelam. Ia mengais rejeki di malam hati saat semua orang istirahat. Tapi ada sesuatu yang berbeda jika dilihat dari watak atau karakteristik tokoh utamanya.

Ada perang batin, ada perjuangan dan ada pengorbanan dalam diri wanita tersebut. Bukan hanya itu, ada nilai-nilai relegius dan nuansa keagamaan yang coba dihadirkan oleh tokoh tersebut. Seperti apa, mari kita baca langsung.

Kupu – Kupu Hitam Putih
Cerpen tentang Wanita Malam

Mutiara, terbuang kemanapun, berada dimanapun akan tetap menjadi mutiara, meski dalam kubangan kotoran sekalipun. Pernah berpikir bahwa dalam diri seorang penjahat masih ada kebaikan di dalam hatinya? Percaya tidak kalau di hati seorang wanita malam ada kasih sayang yang begitu besar dan tiada tara?

Monja berdiri di sudut jembatan merah. Bibirnya tampak berkilap di terpa sinar lampu kendaraan yang tampak lalu lalang. Kedua tangannya mendekat lengannya yang tak tertutup kain sedikit pun. Ia tampil feminism, cantik, menggoda. Tersenyum genit ke semua mata yang mengarah ke arahnya berdiri.

“Om… om… masih sore om, santai dulu…” suaranya lemah gemulai berderu-deru, berkejaran dengan suara mesin kendaraan. Ia terus melambai manja pada kendaraan-kendaraan licin yang melintas tepat di depannya. Sesekali ada mobil yang menepi, berbincang sebentar dan melaju cepat.

Sampai larut, Monja berjuang mendapatkan rejeki dari Tuhan. Di dalam hatinya, masih ada sedikit keyakinan bahwa semua jalan yang sedang ia lalui ini adalah kuasa-Nya. Sesuatu yang tak mungkin ia kuasa untuk menolaknya.

Malam itu sepi, tak ada satu pun tamu yang bisa ia dapat. Ia kembali dengan langkah tertatih, melambaikan tangan ke taxi yang melintas. Pulang.

***

Subuh Monja biasa pulang dari kerja. Kerja sebagai kupu-kupu hitam putih yang mengais rejeki dari lelaki hidung belang. Pulang, di rumahnya telah menunggu dua orang anak kecil. Satu lelaki yang hanya bisa merangkak karena kakinya cacat dan satu anak perempuan yang tak dapat melihat.

Dua anak Monja tersebut adalah warisan dari sang suami yang telah mati tertembak karena kedapatan merampok bank.

Di salah satu kamar, tertidur seorang anak yang masih balita, buah dari perkawinannya yang belum pernah terlaksana. Dengan sabar, Monja memberikan selimut pada masing-masing anaknya itu.

Seandainya Monja tak kenal Tuhan, sepertinya tiga anak tersebut sudah lama dibuang atau ditinggalkannya begitu saja. Tapi Monja masih memiliki hati. Meski jasad-nya sudah diperlakukan seperti binatang namun perasaannya masih sama halusnya dengan manusia lain, ibu lain dibelahan bumi lain.

***

Pagi itu, Monja kedatangan seorang tamu pria. Seorang sopir mobil yang sudah lama sering mampir ke rumahnya. Membawakan oleh-oleh atau sekedar numpang istirahat barang beberapa jam.

“Kenapa mas, pagi-pagi muka kok sudah ditekuk gitu. Apa wajah dan senyumku masih kurang cantik untuk membuang semua penatmu…”
“Tidak Monja, bahkan wajah lebih cantik dari bidadari yang biasa ku tiduri. Tapi kamu tahu aku tak pernah bisa menjangkau hatimu. Itulah yang selalu menjadi beban di hidupku…”
“Ah, kamu mulai lagi mas… Ini masih pagi, masih bagus untuk mulai hari dengan niat baik mas…”

“Loh, apa niatku itu tidak baik to Monja… aku kan tidak pernah berbohong dan tidak pernah memaksa kamu…”
“Benar mas… tapi semakin sering sampean berkunjung ke rumahku maka semakin sering sampean melupakan bidadari-bidadari kecil di rumahmu…”
“Ah, kamu bisa saja…hari ini aku kurang bersemangat, boleh aku numpang tidur barang sejenak…”
“Apa yang enggak buat mas Paijo… silahkan tidur sesuka hati mas, tapi di teras saja ya…”

Di dalam hati, Monja tahu benar bahwa tamu-nya saat itu memendam rasa yang begitu besar pada dirinya. Entah, pada pria bernama Paijo ini Monja tak pernah bisa bersikap sama dengan lelaki lain seperti yang sering ia temani di jalan. Padahal, Monja yakin bahwa Paijo pun tahu apa profesi Monja sehari-hari.

“Nja… boleh aku pinjam dadamu sebentar untuk bersandar?”
“Apa mas? Aneh-aneh aja kamu mas. Kita ini bukan suami istri, ingat itu mas. Ingat dosa…”
“Ah, Monja. Apakah kamu tidak merasakan kegelisahan hatiku ini?”
“Terasa mas, bahkan sampai ke ujung rambut. Tapi mas harus menjemput aku di jembatan itu kalau mas hanya sekedar ingin merasakan tubuhku”

Setiap kali perkataan semacam itu muncul dari bibir Monja, Paijo selalu saja terdiam dan tidak melanjutkan lagi kalimatnya. Ia tahu benar, dalam hati kecil Monja ada rasa sakit yang teramat sangat ketika ada seorang lelaki yang sering berkunjung ke rumahnya mengatakan hal seperti itu.

Ia tak mau lebih jauh melukai Monja, wanita lain yang telah meluluhkan hatinya. Di dalam hati Paijo, sebenarnya ia ingin sekali meminang dan memperistri Monja. Namun di lain sisi, Monja terlihat tak memberikan harapan lebih jauh pada dirinya.

“Aku tak mau merusak hidup dan keluargamu yang utuh mas. Biarlah perasaan pada diri kita tumbuh begitu saja seperti bunga liar. Toh nanti perasaan itu akan mati sendiri…”
“Tidakkah ada sedikit pun celah pintu hati yang bisa kau bukakan untuk ku Monja? Apakah aku sama sekali tak layak mendapatkan cinta dari hatimu yang suci itu?”
“Tidak mas, tidak. Aku benar-benar tidak bisa. Mintalah apapun dari ku, semua pasti akan kuberikan asal jangan itu…”

Mereka saling beradu pandang. Detak jantung Monja terdengar sampai ke luar. Monja tak mampu menatap mata Paijo yang berdiri tepat di hadapannya. Bibirnya tertutup rapat. “Jika memang itu keinginanmu, aku berjanji tidak akan mengganggu kamu lagi dengan hal seperti itu”.

Paijo segera meraih kedua tangan Monja. Ia kemudian mengecup kedua tangan itu dengan mesra. Perlahan tubuhnya mendekat dan pelukan itu pun jatuh ke tubuh Monja yang sintal.

Monja yang telah lama menantikan saat-saat itu tak bisa berbuat apa-apa. Darahnya berdesir mendengar nafas Paijo yang semakin memburu. Ia pun kemudian larut dalam hangat peluk lelaki bertubuh kekar tersebut.

***

Malam dingin menusuk tulang. Monja berbaring terlentang di atas kasur lantai di ruang tengah didepan televisi hitam putih yang usang. Disampingnya terlelap sesosok lelaki tinggi kekar bercambang. Sekilas diliriknya ke arah lelaki tersebut. Dadanya yang bidang dan berbulu tampak naik turun dengan teratur.

Monja segera memalingkan badannya ke sisi lain. Mengigit bibirnya yang ranum sambil menahan air mata. Terlihat jelas kepedihan dalam hatinya. Kepedihan karena harus membuang rasa cintanya kepada sosok tersebut.

Jiwa berkorban Monja memang begitu besar. Demi untuk menghidupi anak-anaknya ia rela menjual harga diri, mengorbankan cinta. Agar tidak menyusahkan, mengganggu dan menjadi sumber bencana bagi keluarga Paijo, Monja rela menahan perih sepanjang waktu. Air matanya terus mengalir, tapi sekuat tenaga ia menahan isak itu. Takut membangunkan seseorang yang begitu ia kagumi.

Dini hari, sekitar pukul 02.30, Monja akhirnya tak dapat menahan kantuk dan dingin. Sekali lagi ia bergulir ke dada bidang itu. Memeluknya erat.

***

Subuh, suara azan mulai bergema di seantero wilayah. Paijo terbangun mendapati wanitanya tertidur pulas dipelukannya. Ia segera menyingkirkan tangan Monja perlahan, menyelimutinya dan beranjak ke pintu dapur.

Dibasuhkannya air ke muka yang sudah mulai keriput. Ia kemudian kembali ke depan mengambil tas kecil miliknya. Ia membuka ta situ dan mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna merah.

Amplop putih dikeluarkannya. Dibuka dan diisi dengan lembaran-lembaran merah tersebut. Ia kemudian meletakkan amplop itu di atas tv dan pergi.

---oOo---

Namanya “Monja”, karakter dan sifatnya unik. Lalu bagaimana jika teks cerpen tersebut diubah dalam bahasa Inggris? Mungkin ada yang membutuhkan. Oleh karena itu untuk cerpen ini, dikemudian hari akan disediakan juga versi bahasa Inggris-Nya.

Sementara ini bagi yang membutuhkan cerpen bahasa Inggris bisa menerjemahkannya secara online. Atau bisa juga dengan mengikuti tautan download yang sudah disediakan. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk media belajar pembaca semua.