Saturday, June 3, 2017

Kumpulan Cerita Cinta Remaja Masa Kini

Kumpulan cerita cinta remaja yang mengangkat kisah-kisah asmara kekinian tentu saja akan menjadi bacaan yang cukup menarik. Meski bukan dalam bentuk cerpen sekalipun, kisah asmara akan menjadi hal yang bisa membuat kita terhibur. Anda pasti setuju dengan pendapat seperti itu bukan?

cerita cinta remaja

Untuk itulah, satu momen ini akan kita gunakan untuk melengkapi kumpulan cerpen yang sudah ada. Kali ini tema yang diambil adalah cinta remaja yang tentu penuh warna. Ada dua cerita sekaligus yang bisa dinikmati. Anda pasti tidak sabar untuk mengetahui bagaimana masing-masing kisah tersebut bukan?

Berawal dari Sekuntum Bunga
Cerita Cinta Remaja

Kalian pasti tidak percaya bagaimana awal pertemuanku dengan Glady. Suasana saat itu benar-benar garing. Membosankan. Hatiku juga kebetulan sedang galau, kesal, ditambah lagi ada seorang cowok di dekatku yang bertingkah menyebalkan.

Ceritanya waktu itu Glady sedang menunggu pacar. Sudah 5 jam menunggu, katanya. Kami sama-sama di taman kota. Aku duduk di satu kursi, dia pun begitu. Aku sendiri waktu itu sedang kesal dan kecewa gara-gara tidak bisa masuk ke perguruan tinggi yang aku inginkan.

Aku melepas penat di hati. Menghilangkan stress tapi justru tambah stress ketika melihat seorang cocok sesuka hati mengotori taman.

Glady memegang seikat bunga mawar putih. Duduknya tidak tenang. Sekilas aku bisa melihat hal itu. Ia bolak-balik menoleh ke kanan dan ke kiri. Menunggu seseorang. Lama kelamaan ia seperti kehabisan akal. Ia mulai membuka ikatan bunga di tangannya. Ia kemudian memetik satu persatu kuntum mawar di tangannya. Di buang ke depan, samping dan belakang.

Melihat dia yang seenak jidat mengotori taman, aku tentu saja tambah emosi dibuatnya. Aku mulai menggerutu dan mengomel sendiri. Meski sebenarnya, lantai taman menjadi sedikit berbeda dengan taburan kelopak mawar putih miliknya. Tapi tetap saja, ia memperberat tugas penjaga taman.

Aku terus menggerutu dan mengomel. Gerah. Lama-lama aku tidak tahan juga melihat lelaki itu tak kunjung menghentikan aksinya. “Mas, mas… kalau enggak berguna, bunganya lebih baik buat saya aja, dari pada ngotori taman. Bisa buat makan kambing mas di rumah…!” Aku berucap ketus tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.

Saat itu Glady tidak peduli dengan suaraku. Ia justru membalikkan badan membelakangi aku. Merasa sama sekali tak dipedulikan, aku bangkit dan melempar bekas air mineral yang sudah habis ke arahnya sembari pergi meninggalkannya.

Aku kira kisah pertemuanku dengan lelaki aneh itu tidak akan berlanjut, rupanya salah. Seminggu kemudian, saat aku sedang santai di taman, tiba-tiba laki-laki itu muncul lagi. Aku masih ingat benar bagaimana bentuk wajahnya.

Melihat dia yang seperti berjalan mendekat, aku langsung beranjak dan pindah ke tempat duduk lain. Aku membelakanginya. Penasaran juga, beberapa menit kemudian aku membalikkan badan. Betapa terkejutnya aku ketika sudah ada pria duduk di bangku yang aku tempati. Hampir saja aku melompat kaget dibuatnya.

Dengan raut curiga, aku langsung beranjak, takut. Bukannya berhenti, pria itu justru bangkit mengikutiku. Terang saja aku lansung berteriak karena takut, “hei… ngapain sih kamu ngikutin aku terus!”

Tak menjawab, pria itu justru menyodorkan sebuah tas pensil kecil berwarna merah. Pandanganku langsung tertuju pada benda itu, “ah sial… itu kan wadah pensil milikku. Ada hp jadul-ku lagi… pantas aku cari-cari enggak ada…”

Aku sempat tertegun diam, sedikit malu karena sudah salah sangka. Setelah menyadari dia tidak berniat jahat aku langsung kembali membalikkan badan menuju ke bangku taman. Aku duduk, pria itu mengikutiku dan duduk disampingku.

“Maaf, aku hanya ingin mengembalikan ini, tidak berniat jahat. Sudah satu minggu ini aku mondar - mandir menunggu kamu untuk mengembalikannya…” Boset dah, saat itu tiba-tiba perasaanku bercampur aduk tak karuan. Dengan sedikit malu, akhirnya aku minta maaf.

Begitulah, “Glady”, ia menyebutkan namanya untuk pertama kali. Terdengar sedikit aneh namanya, tapi aku lantas menyebutkan pula namaku. “Bunga… pantas kamu begitu emosional ketika aku mencampakkan setiap kelopak bunga yang aku pegang waktu itu…” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Seikat bunga itu akhirnya membuat kami lebih dekat. Pertama kali Glady main ke rumah, ia juga membawa setangkai bunga mawar. “Tidak usah repot, aku tidak suka kamu membawa bunga segala. Disini kan sudah ada bunga, bahkan lebih cantik dari bunga yang kau bawa…” Entah kenapa aku kurang suka ketika ia membawakan aku sekuntum mawar.

Sejak saat itu Glady tidak pernah lagi menampakkan tangannya dengan bunga. Tapi dia punya ciri khas, tangannya tak pernah kosong. Ketika ia mampir ke rumah ditangannya selalu saja ada sesuatu. Gantungan kunci lah, coklat lah, es krim yang setengah meleleh lah dan masih banyak lagi lainnya.

Semakin hari, aku jadi semakin tidak bisa lepas dari Glady. Aku semakin rindu, dan semakin sayang dengan dia. Sampai saat ini, selama dekat, selama pacaran, ia juga tak pernah aneh-aneh. Dia tak pernah mencoba menciumku, apalagi meniduri aku. Tak pernah. Meski kadang, aku dimabuk asmara, tak kuasa menahan gelora itu.

---oOo---

Anggap saja yang diatas sudah satu judul karena sebenarnya yang kedua ini juga masih lanjutan dari kisah sebelumnya. Pada cerita pertama kita menikmati bagaimana kisah pertemuan Bunga dengan seorang yang namanya Glady hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta.

Nah, yang kedua ini adalah kisah dari secuil asmara yang sempat mereka alami. Pada cerpen lanjutan berikut ini kita akan diajak untuk mengikuti sisi lain dari kehidupan percintaan antara dua remaja tersebut. Seperti apa, silahkan dinikmati.

Antara Cinta dan Hina
Cerita Cinta Remaja

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat tanpa aku sadari. Kini usia kedekatan aku dan Glady sudah 3 tahun lebih. Di tahun ke empat pacaran, aku sudah sangat berani. Aku tak segan mulai menuntut. Minta ini, minta itu. Ingin ini, ingin itu. Banyak sekali.

Glady selalu mengabulkan keinginanku. Semua, tak terkecuali. Tapi entah kenapa aku tetap tak puas dan semakin ingin minta sesuatu yang berat dan susah untuk dikabulkan oleh Glady.

Suatu ketika, Glady sedang rapat dengan bos-nya. Aku meminta, bersikeras dan memaksa dia untuk menjemputku di rumah tepat jam 11 siang. Karena sedang rapat, menurutku tidak mungkin Glady bisa datang menjemput. Nyatanya aku salah. Jam 11 tepat ia sudah ada di depan pintu rumahku. Ajaib.

Esok harinya aku mendapat kabar dari sahabatnya bahwa ia kehilangan tender berharga. Tapi ia tidak pernah mengeluh, apalagi menyalahkan aku. Saat itulah aku sadar bahwa aku adalah satu-satunya yang berharga dalam hidupnya.

“Aku kerja keras juga untuk persiapan melamar dan menjadikanmu sebagai permaisuri di kerajaanku nanti. Jadi, saat kamu lebih membutuhkan aku dari pada pekerjaanku tentu saja aku akan hadir untukmu sayang…” begitulah penjelasan dia saat ku tanya.

Malam itu entah kenapa suasana terasa lebih romantis dari biasanya. Aroma tubuh Glady yang duduk di sisiku membuat dada ku berdegub begitu kencang. Hembus nafasnya yang terdengar begitu teratur membuatku merinding. Aku menunduk, “maafkan aku Glady…”

Melihat air mataku yang mulai meleleh, ia pun memelukku hangat. Aku tak tahan. Aku menangis lebih deras sambil memeluknya erat. Aku merasa sangat nyaman berada di pelukannya. Aku menenggelamkan kenapaku di dadanya yang bidang.

Ia pun mengecup kepalaku, “sudah, tidak apa-apa sayang, kamu tidak salah kok…”. Aku menengadah, mencoba melihat jauh ke relung hatinya. Ia pun membelaiku dan mengecup keningku.

Nafasnya yang hangat jatuh di wajahku. Dadaku mulai bergemuruh, nafasku mulai tersengal. Aku segera mendekatkan wajahku ke wajahnya. Berharap sesuatu yang lebih dalam terjadi. Sekali lagi, ia mengecup keningku dengan hangat. Melepaskan kehangatan yang masih ingin terus aku rasakan. Dengan senyum kecil di bibirnya ia berkata, “cintaku tak akan pernah terbatas untukmu. Aku akan memberikan seluruh cinta ini, tapi bukan hina atau neraka…”

Aku paham sekali maksud kata-kata Glady. Tak usah dijelaskan. Meski kadang aku merasakan kecewa tapi hal itulah yang membuat aku makin cinta pada dirinya. Untuk masalah Glady, aku adalah orang paling serakah yang pernah ada di dunia ini. Bahkan bayangannya pun sama sekali tak ku izinkan dimiliki orang lain.

“Bunga, sabar ya sayang… sedikit lagi. Aku akan melamarmu, setelah kamu wisuda… aku tidak ingin membuat orang tuamu khawatir atau kecewa”.

Glady membuat aku semakin tak sabar menunggu hari bahagia itu. Semakin hari, aku semakin gelisah dan ingin cepat-cepat wisuda dan menagih janji manis itu. Tapi masih satu tahun tersisa. Waktu yang sangat panjang untuk menantinya berbaring di sisiku.

---oOo---