Friday, June 2, 2017

Kumpulan Cerita Horor Lucu Bikin Ngakak

Contoh cerita horor lucu bikin ngakak berikut ini sengaja dibuat untuk para pembaca yang hobi dengan cerita-cerita humor segar. Cerita yang belum pernah dibaca sebelumnya, tidak basi atau garing. Makanya sengaja dibuatkan dua cerita sekaligus untuk melengkapi kumpulan cerita yang sudah ada.

cerpen horor lucu

Dua cerita lucu tersebut yang pertama berjudul “Diganggu Setan Genit” dan yang kedua berjudul “Trio Preman Kacangan”. Kalau yang pertama jelas sekali bahwa ada tokoh yang akan diganggu dan melihat penampakan setan tengil. Sedangkan yang kedua mungkin bisa ditebak tentang preman yang takut hantu. Seperti apa, langsung ke cerita saja!


Diganggu Setan Genit

Cerita Horor Lucu

“Kemana Bang… sore gini kok jalan sendirian. Enakan jalan berdua sama cewek. Ini kan malam minggu Bang…” terdengar suara mendayu merayu dari sisi kiri jalan. Wardi yang berprofesi sebagai tukang ojek itu segera tancap gas ketika menyadari suara yang ia dengar berasal dari sebuah pohon beringin besar di samping sekolah kosong.

Sebelum mempercepat laju motor ia sempat menoleh ke suara itu berasal. Belum sempat melihat satu bayanganpun Wardi telah kehilangan nyali. “Hati-hati kalau lewat jalan Mawar, banyak hantu gentayangan disana!”, Wardi masih ingat isu-isu miring seputar jalan halus tersebut.

Jalan Mawar adalah jalan kampung yang tidak terlalu ramai. Di salah satu ruas jalan itu ada sebuah bangunan bekas sekolah yang terbakar dan kini tak dipakai. Orang di sekitar mengenal jalan mawar sebagai jalan genit. Banyak cerita-cerita miring mengenai hantu cewek yang usil sering menggangu orang yang lewat.

Yang di alami Wardi adalah satu dari sekian cerita tak jelas yang beredar disana. Banyak orang yang takut dan tidak mau ambil resiko. Kebanyakan dari mereka enggan melintas di malam hari, apalagi waktu magrib menjelang isha, banyak kejadian aneh disana.

Meski dikenal berhantu, jalan genit tak membuat nyali Simin ciut. Ia sering melintas, bahkan tengah malam tapi tak pernah diganggu seekor nyamuk sekalipun. Karena itu, ia tidak percaya kalau ada hantu cewek usil yang suka mengganggu orang di jalan itu.

“Mau kemana Min …”
“Tempat teman pakde… biasalah anak muda”
“Ini kan masih magrib Min, pamali di luar rumah…”
“Ah pakde, enggak apa-apa pakde, sudah biasa…”
“Dasar kamu Min…”

Simin bersiap kembali menjalankan motornya, pelan ia mulai berlalu menuju jalan genit. “Min… jangan lewat situ, diganggu baru tahu rasa…” ucap pakde tadi “dasar anak muda… kalau belum mengalami sendiri susah dibilangin”, lanjut pakde tadi.

Pelan dan sopan, Simin mengendarai motor tak seperti pemuda kebanyakan. Sampailah ia di jalan berhantu itu.

Tak ada perasaan apapun ketika ia melintas. Semua biasa saja, tenang. Simin mengendarai motor sambil bersiul, tak sadar melewati seorang gadis berambut panjang berdiri di pinggir jalan. “Eit… siapa tu tadi, kok gadis sendirian kasihan benar…”, Simin langsung putar balik.

“Ada apa bang… ada yang jatuh ya…”
“Enggak… kamu mau kemana kok sendirian…”
“Mau pulang bang, tadi motornya bocor jadi kakak nambal ban dulu… Abang benar tidak ada yang jatuh…”
“Iya benar…”
“La… itu pisang siapa bang?”
“Ha…pisang? Astaghfirulloh… pisang siapa ini besar benar”
“Benar kan…?”
“Bukan, bukan, ini bukan pisang abang…”
“Iya lah jelas, aku kan tahu pisang abang tidak sebesar itu…”
“Ah.. kamu…”

Simin tersipu malu. Ia langsung berputar arah dan berhenti tepat disamping wanita itu. Simin siap melancarkan rayuan pada gadis manis sendirian itu ketika ia kembali kaget dengan yang dikatakan perempuan itu.

“Bang… itu dompet abang jatoh juga…”
“Ha…. Lho, kok bisa sih…. Benar dompet aku…”
“Iya kok bisa sih bang, mungkin celana abang sobek kali…”
“Ah masak… ih… sial, maaf… maaf….”
“Tu.. kan… ih abang ini jadi gemes deh aku…”
“Anu… aku, eh… gimana kalau kamu aku anter aja. Dari pada sendirian…”
“Ah abang, malu ah….”
“Malu… malu kenapa…”
“Malu ah, celana abang lepas tuh… hi….hi hi hi hi… hi….hi hi hi hi…”
“As…as…as… astagh…. Kabur….”

Simin akhirnya tak kuasa menahan takut setelah ia mendengar tawa wanita itu dan menyadari bahwa kaki wanita itu melayang tak menapak di tanah. Tak dipedulikan sepeda motor miliknya. Ia lari tunggang-langgang sambil memegangi celana.

---oOo---

Trio Preman Kacangan
Cerpen Horor Bikin Ngakak

Langit mendung. Simin mengundang dua orang sahabatnya untuk santai di rumah. Orang tuanya tidak ada karena masih kondangan di tempat sang kakak. Mereka siap berpesta. Banyak makanan kecil, kaset game dan sepasang gitar. Hujan yang rintik turun ke bumi membuat suasana sedikit dingin.

“Jo, Tarjo… pintunya di tutup aja lah dingin…” “Ah, nanti aja Min, masih sore…” “Kenapa juga kamu ini Min, biasanya juga nongkrong di emperan…” “Ya ini lain Tur, ini kan di rumah…” “Udahlah… yuk kita main aja….”

Tiga pemuda itu dengan santai melewati sore sambil bermain video game. Mereka tak henti-hentinya bersorak dan berteriak. “Anjrit…” “Ah, dasar loe, kalah terus…” “Ess… tunggu dulu coi, ini masih pemanasan…” “Pemanasan pale lo peang… keringat udah ampek segede jagung gitu…”

Tiga jam berlalu. Jam 11 malam, mereka mulai lelah. “Ah, berhenti dulu yuk Min… capek!” “Iya Min… laper nih, ada makanan enggak?” “Ada, di kulkas tapi masih mentah…” “Buset dah nyokap loe tega bener nih…” “Udah jangan bawel, bikin mie aja sanah…” “Yuk Jo…” “Iya…”

Tarjo dan Turino masuk ke dapur membuat mie instan. Simin sendiri di depan sambil mengunyah kacang.

“Oi jangan lama-lama…”
“Sabar napa Min…”
“Eh… bukan apa-apa… curiga gua kalo loe orang bedua lama-lama…”
“Anjrit loe Min….”
“Ha ha ha…”

Belum selesai Simin tertawa, lampu di rumah tiba-tiba mati. “Mampus gua…! Woi buruan sini…” “Ah, sial mati lampu segala… iya nih udah mateng kok…” “Lilin di mana lilin, lilin Min…”

“Iya Min, parah juga rumah loe ini, masak gak ada disel acan…”
“Ah bawel… boro-boro disel lampu oto aja enggak ada… Udah bawa sini makanannya”

Berbekal lampu senter, mereka bertiga makan mie rebus. Di dalam hati, Simin mulai takut. Sebentar-sebentar ia menoleh kanan kiri.

“Jo, tutup pintu sih! Kamu yang dekat!”, ucap Simin
“Iya…” jawab Tarjo singkat

“Meong….!” Tiba-tiba terdengar suara kucing di samping rumah. Simin langsung berjingkrak kaget sampai mie di depan meja hampir tumpah.

“Apaan sih loe Min, sama kucing aja takut…”
“Bukan takut bego, kaget…”
“Makan loe orang tu dihabisin dulu baru ribut…”
“Eh… No, jangan-jangan Simin emang takut hantu ya?”
“Iya kali…”
“Busyet… jangan bawa-bawa hantu bego!”
“Napa si Min, lagian di rumah ini…”
“Loe enggak tahu ya gue pernah dikerjain hantu…!”
“Hem…. Udah pernah cerita…!”
“Iya basi…”
“Makanya…!”
“Aish… aish, aish…. Apaan di belakangmu Min…!”
“Anjrit….!”

Hordeng pintu kamar di belakang Simin tiba-tiba melambai-lambai tertiup angin. Simin kaget bukan kepalang. Ia langsung lompat menabrak Turino. Tak peduli mie dalam mangkuk berhamburan. Ia langsung duduk di belakang Tarjo dengan mendekap kedua lututnya.

Saat itu juga lampu hidup. Tarjo dan Turino menatap kompak ke arah simin yang gemetaran. Terlihat jelas mata Simin yang ketakutan. “Brak….ciet…”. terdengar suara bergemuruh dari luar rumah. Tarjo dan Turino beradu pandang. Bulu kuduk mereka langsung berdiri. “Jo…!” “Iya Tur…” mereka langsung berhambur ke pojok ruangan bersama Simin.

Selang beberapa detik diluar rumah sekelebat bayang putih melintas pelan. Tangan mereka bertiga saling meraba. Berpegangan erat. “Itu tadi….” “Iya Jo, diem…”

Mulut Turino belum tertutup ketika tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atap rumah, “duk… duk… duk…” “Apa itu Jo…” “Aku ngompol Min…” Tarjo, Simin dan Turino saling memeluk, “Min, lo ngompol…?” “Iya dikit…” “Iya… aku juga…”

---oOo---