Tuesday, July 25, 2017

Cerpen Mimpiku Pergi ke Pantai Parang Tritis

Cerpen Mimpiku Pergi ke Pantai Parang Tritis - Seminggu sudah aku hanya menatap indah Parang Tritis lewat sebuah komputer melalui akses internet nir-kabel. Nampak indah untuk dilihat tanpa aku bisa membayangkan bagaimana bila aku bermain pasir, air, di sana.


Karena mungkin belum sekalipun aku bisa ke sana sehingga bayangan tentang seperti apa rasanya berlibur di sana belum ada. 

Tetapi bila di pandang dari sebuah foto yang aku dapat dari internet, Parang Tritis adalah pantai yang indah, pasirnya putih, dan lautnya bersih. Sungguh bahagia bila aku bisa menghabiskan waktuku di sana.

Gaya manja terus ku perlihatkan kepada orang tuaku, bahwa itulah sifatku ketika aku mempunyai sebuah keinginan. 

Aku ingin sekali orang tuaku mengerti bahwa Parang Tritislah tempat yang sangat ingin aku jumpai. Sehingga kalimat pujian, tutur kata santun terus ku lontarkan kepada ibu dan ayahku untuk meluluhkan hati mereka agar aku diberi izin dan diantarkannya ke sana.

Tetapi memang tidak mudah membujuk dan merayu ayah dan ibuku terlebih mereka sudah termakan dengan cerita kisah mengerikan yang tersimpan dalam pantai Parang Tritis. 

Konon di sana bersemayam seorang siluman berwujud wanita cantik, yang siap membawa siapa saja yang memakai baju hijau ke alamnya. Tetapi aku tidak percaya dengan hal itu, karena tidak bisa diserap oleh akal logikaku. 

Tetapi kepercayaan yang kolot orang tuaku yang diajarkannya secara turun-temurun membuatku tidak diberikan ijin ke sana.

Langit termendung seolah dia tahu kesedihanku tidak diberikan ijin untuk kepergianku ke Parang Tritis. Tetapi dalam hati hanya bisa berkata tidak perlulah langit bersedih melihatku seperti ini. 

Toh kesedihan langit tidak ada artinya bagiku, tetap saja aku hanya bisa di dalam kamar tanpa bisa pergi ke Parang Tristis di masa liburan ini. Mungkin liburan ini adalah liburan yang sangat jahat untukku, tidak seperti liburan kemarin keinginanku terpenuhi pada liburan kemarin.

Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, itulah benakku berbicara, sehingga Parang Tritis yang kuinginan harus bisa aku dapatkan. 

Sebuah cara tentu aku fikirkan keras dalam otaku yang hanya mempunyai ukuran beberapa senti saja. Aku belum tahu cara apa, benar atau salah, bagus atau baik, efektif ataupun tidak efektif cara yang akan ku temukan dalam otaku ini. 

Yah lampu berpijar terang dalam otakku, tanda aku mendapatkan sebuah ide untuk bisa sampai ke Parang Tritis.

Mungkin hanya pergi dengan secara diam-diam itulah cara untuk bisa sampai ke Parang Tritis. Kebetulan setahun yang lalu sampai dengan sekarang aku selalu rajin menyisihkan uang jajanku di perut ayam yang terbuat dari tanah liat itu. 

Mungkin aku bisa menghancurkan tubuh ayam itu untuk mendapatkan uangku untuk bekal perjalananku ke sana. Prak Prak – pukulan palu mengenai celengan ayam – wah ini uangnya banyak. 

Aku mengambil uangku dan menghitungnya. Terdapat jumlah keseluruhan uangku adalah 500 ribu. Ini sangat cukup untuk perjalanan dan makan ketika kepergianku ke Parang Tritis.

Mengingat Parang Tritis hanya bisa ditempuh dua setengah jam dari rumahku. Dekat sebenarnnya tetapi orang tuaku selalu enggan untuk mengantarkanku ke tempat tersebut. 

Maka dengan terpaksa aku harus pergi sendiri secara diam-diam karena aku begitu menginginkan untuk pergi ke parang tristis. Terlebih benaku sudah berkata apa yang aku inginkan selalu aku dapatkan, mungkin inilah cara menjawab kicauan benak yang selalu datang ketika keinginan hati hampir tidak terpenuhi.

Aku berdiri di samping jalan nan ramai, masih pagi tetapi cuaca sudah mendung, aku tidak tahu mendungnya langit karena tersedih melihatku atau justru ada karena secara alami. 

Kalau mendungnya langit karena tersedih tentu kurang masuk akal, seharusnya langit saat ini bergembira melihatku hendak pergi ke Parang Tritis. Tetapi kenyataannya langit masih termenung mendung tanpa ada keceriaan di wajah hingga bosan ku melihatmya.

Ya biarlah saja langit termenung memperlihatkan murung wajah yang sangat tidak enak untuk dipandang, jangankan memberikan senyum kepadaku melihatku saja sudah enggan. Sekali saja terserah kau langit, aku tidak peduli, aku hanya ingin pergi ke Parang Tritis saat ini. 

Makiku dalam hati melihat langit dengan muka jeleknya seoalah tidak suka dengan kepergianku. Langit menangis, ribuan air tertumpah turun ke bumi, debu sarang penyakit beterbangan, sementara aku berlari ke sebuah kios untuk berteduh.

Memang sulit sekali menenangkan langit yang tersedih, bagai anak kecil yang kehilangan dotnya, bahkan ku rasakan lebih sulit dari itu. 

Anak kecil bisa tenang hanya bila diberi dot, tetapi langit, bagaimana langit bisa tenang dan harus diberi apa biar langit bisa tenang. 

Itulah pertanyaan bodoh yang membuatku merasa larut dalam rasa bersalah, seolah-olah akulah penyebab kesedihan langit yang mengakibatkan ribuan bahkan jutaan liter air tertumpah ke bumi.

Kesedihan langit tambah menjadi-jadi dia berteriak-teriak lebih keras dari pada bayi, suaranya menggelegar dan menghasilkan aliran listri yang cukup besar. Tentu tubuhku akan gosong bila terkena guntur yang menyambar-nyambar tanpa melihat-lihat itu. 

Langit sungguh keparat dia berusaha mencegah kepergianku untuk ke Parang Tritis. Ya gara-gara sikap kekanak-kanakannya aku hanya bisa berwisata di kios buntut dengan cat pudar di bagian temboknya, tidak bisa ku melihat pantai dengan pasir putih bersih dan air laut yang jernih.

Hancur semua rencanaku karena hujan ini telah menghentikan aktivitas kota, dari transportasi hingga ekonomi. Saat ini aku hanya bisa dikepung oleh para bala tentara pasukan air dari langit, sedang di sana ada angin kencang yang mengendalikan air turun ke bumi. 

Yang lebih mengerikan lagi senjata maha canggih listrik dengan kapasitas daya yang sangat tinggi yang bisa merenggut nyawaku bila terkena tubuhku.

Aku bagai pecundang yang sudah tidak punya kekuatan apa-apapun, tidak punya pasukan, tidak punya senjata, tetapi menolak untuk menyerah dan bersembunyi di kios buntut. Sementara di sana musuhku langit terus melancarkan guntur-gunturnya yang mematikan itu. 

Suaraku yang lantang memaki sang langit tidak ada lagi, diganti dengan suara ketakutan melihat guntur yang mampu membungkam nyaliku. Sudah menyesal itu pasti karena ku sudah mengejek muka langit yang jelek hingga langit berubah menjadi liar dan tak terkendali.

Biarlah mimpiku ke Parang Tritis hanya sekedar mimpi, karena aku tidak berdaya melawan langit dengan ribuan bala tentarannya. Yang mungkin ini adalah pertarungan yang sangat tidak sebanding bila memang dinilai oleh wasit itupun bila ada wasitnya. 

Tetapi ini adalah pertarungan liar tanpa wasit dan tanpa peraturan, yang kuat boleh sesuka menindas yang lemah, seperti kaum kapitalis menindas para kaum proletar, tangis tidak berdaya proletar tidak sedikitpun merubah pikiran kapitalis untuk terus menindas. (Arif Purwanto)

Monday, July 24, 2017

Cerpen Pengalaman, Ceritaku di Cianjur

Cerpen Pengalaman, Ceritaku di Cianjur - Semilir hawa angin yang telah terkontaminasi dengan panas dari paparan sinar matahari, saling bergulat panas dan dingin hingga tidak cukup untuk membuatku sejuk bagai di sebuah gundukan salju.


Buku saku pun tidak luput dari genggaman dan kemudian difungsikan sebagai penambah angin untuk menyegarkan suasana dan mendinginkan tubuhku.

Sementara keadaan lalu lintas kota selalu menadapatkan puncaknya setiap hari, tidak terkecuali dengan hari ini. Dua jam lebih kami terjebak macet tanpa ada hal lain menarik yang bisa dilakukan selain dari pada mendengarkan musik di tengah panasnya Jakarta.

Pendingin mobil kami kebetulan sedang dalam keadaan rusak karena belum sempat untuk diperbaiki, sehingga kami harus menahan begitu saja rasa panas ini.

Kami bertiga hendak melakukan perjalanan ke sebuah air terjun yang ada di Cianjur, di sana kami akan berlibur untuk kurang lebih tiga hari. Sembari mendinginkan fikiran, mendinginkan tubuh, dan mendinginkan segala-segala masalah yang ada di benak kami.

Kota Jakarta yang panas, padat, dan sibuk tentulah membuat siapa saja yang tinggal di Jakarta akan muda bosan.

Karena di Jakarta tidak didapati sebuah pepohonan yang begitu hijau, sungai yang mengalir indah hingga menyejukan mata dan fikiran. Dan burung-burung-burung menyanyi yang menenangkan hati dan telinga.

"Kita sudah dua jam lebih ini di dalam mobil", ungkapku sambil mengelap kening dengan sehelai tisu dan kemudian menggulungnya serta membuangnya ke luar mobil.

"Iya ini, mau sampai kapan si", sahut Roni sambil mengkipas wajahnya yang sudah terbasuh keringat bercucuran.

"Ya sabar aja, emang lagi macet mau bagaiman lagi, masa iya kita mau terbang hehe", ucap Rian sambil tersenyum untuk mencairkan suasana, dengan posisi tangan diatas lingkaran setir.

"Argghhh", Ungkap Roni buang muka ke kanan.

Tak lama kemudian lalu lintas dapat bergerak, dan kami bisa berjalan kembali, keceriaan sedikit terlimpah kepada kami. Meskipun sedikit keceriaan tetapi hati berharap agar keceriaan ini terus berlanjut. Dan lalu lintas berhenti lagi,"Aduh, baru aja jalan udah berhenti lagi, gerah ini", ungkapku marah dengan lalu lintas yang tak kunjung jalan.

"Sabar Bima – Masih tersenyum melihatku – Pasti lalu lintasnya jalan kembali".
"Tu kan – Lalu lintas sudah mulai bergerak dengan sangat perlahan dan berhenti lagi – Bikin sabar aja lama-lama kan bisa sampai kalau terus jalan".

"Ya terserah kau sajalah Roni, aku benar-benar muak dengan jalan raya ini yang penuh mobil, mungkin bila ku kaya, ku punya kekuasaan aku enggan melintasi jalan ini – Ratap nasib tersiksa kepanasan – Aku tentu sudah memakai helikopter, lebih cepat sampai dan aman dari kemacetan".

"Ya ku doakan kau cepat kaya – Masih dengan sikap dewasa yang selalu menjadi penyejuk kemarahanku dikala kemacetan yang begitu lama ini terjadi – kan sekarang sudah jalan lagi kan".

Mobil kami mulai berjalan dengan lancar kembali, sementara itu jendela mobil kami terus dalam keadaan terbuka untuk memungkinkan udara masuk ke dalam mobil kami dan menyapu bersih rasa panas kami.

Empat jam sudah kami berjalan menggunakan perjalan darat, hingga sampailah mobil kami di tempat penginapan. Di sini adalah tempat penginapan yang akan kami gunakan untuk tinggal sementara di sini, sementara air terjunnya sudah cukup dekat dengan penginapan kami, yang dapat ditempuh perjalanan kaki selama setengah jam.

Kami mulai menurunkan tubuhku dari mobil yang benar-benar panas ini – Akhirnya, sampai juga kita – sambil mengangkat kedua tangan mengencangkan seluruh anggota tubuh, nampak suara urat yang tertarik.

Sementara itu suasana di sekitar penginapan tidaklah panas seperti ruangan di dalam mobil kami yang pengap dengan sedikit bau bahan bakar dan juga panas. Di sini nampak begitu segar hingga membuatku terpejam untuk sejenak menikmati suasana di Cianjur ini.

"Oh ini, ini enak sekali nampak ku temukan energi yang tidak pernah ku temukan di kota hingga nampak energi itu membuatku menjadi lebih nyaman – Sambil mengangkat kedua tangan bagai pemain filim kapal Titanic, hanya saja tanpa lawan pasangan yang berada di depan".

Sementara itu teman-temanku sudah masuk semua ke dalam kamar penginapan – Hey ayok masuk – Mengeluarkan kepalanya keluar pintu melihatku dan kemudian masuk ke dalam".

Sedikit terkejut, langsung saja ku menghentikan dramaku menikmati suasana maha sejuk di Cianjur ini,"Iya" – Aku berjalan masuk ke dalam penginapan.

Sementara ku lihat Roni sedang mengeluarkan isi tasnya dan kemudian menata pakaiannya di dalam lemari yang sudah disediakan. Sementara itu Rian juga melakukan hal yang sama.

Kamar yang kami pesan tidak terlalu mewah, hanya saja ini sudah cukup nyaman, dengan kasur Sprimbet dengan tiga bantal, satu buah lemari, satu televisi dan satu kamar mandi dengan pintu transparan buram.

Aku tidak tahu apakah temanku bisa melihatku ketika ku sedang bertelanjang mandi di dalam kamar mandi. Yang pasti lampu akan selalu ku matikan ketika aku mandi.

Aku mulai mengeluarkan pakaianku dari tasku – ah tidak aku melupakan baju kesayanganku – Tekejut setelah mendapati baju kesayangan tidak ada di tas.

Roni dan Rian melihatku sambil terpanah heran – Yang terpenting kan kau membawa pakaian – Ungkap Rian sambil memasukan baju ke gantungan baju kawat.

Tanpa berkata-kata dengan wajah gelisah, tetapi ya sudahlah hati coba mengihklaskan. Dan mulaiku menata baju-bajuku di lemari menggunakan gantungan pakaian. Sementara Roni dan Rian sudah duduk di atas kasur yang tidak seberapa empuknya itu sambil menonton televisi.

Hari masih siang, karena merasa begitu bosan di penginapan maka kami putuskan untuk pergi ke air terjun yang menjadi tujuan awal kami.

Kami berjalan dengan membawa perlengkapan kebutuhan saja, dan ala kadarnya saja. Tidak terlalu berlebihan, mulaiku melintasi medan-medan mennurun serta menanjak.

Di sini sudah ada jalur khusus untuk bisa sampai ke air terjun tujuan kami, sehingga kami hanya perlu mengikuti jalurnya saja untuk bisa sampai ke air terjun. Setelah menaiki tangga yang cukup curam dan melelahkan kami harus melewati turunan yang sama berbahayannya karena curam.

Sehingga kami perlu berhati-hati untuk bisa sampai ke air terjun secara selamat. Sementara itu suara air yang terjatuh secara bersamaan dari air terjun sudah nampak menyambut kami. Di sana nampak banyak orang yang juga sedang berenang di sekitar perairan air terjun.

Dan kami menjadi tidak sengaja, langsung saja kami berlari setelah melintasi turunan yang begitu curam dan tanpa berfikir panjang meletakan tas dan juga melepas baju dan kemudian masuk ke dalam air. Air ini begitu menyejukan, tetapi aku belum puas begitu saja, aku berjalan ke tengah tepat di bawah air terjun.

Dan nampak kepala ini seperti dipukul dengan benda keras, karena jumlah air yang mengenai kepalaku yang terlalu banyak. Sehingga sakit bila terkena kepala. (Arif Purwanto)

Sunday, July 23, 2017

Cerpen tentang Hadiah Valentine dari Pacar

Cerpen tentang Hadiah Valentine dari Pacar - Ramainya kota sedikit membuat kupingku berdengung kencang, sementara udara kotor berhamburan kemana-mana merasuk ke paru-paruku. Nampak sesak laju nafasku, seperti tidak ada pelumas di dalam rongga tenggorokannku.

Cerpen Hadiah Valentine dari Pacar

Sayang, panas ya..? – Tanyaku melihat kekasihku bercucuran keringat – Dengan lembut aku mengelap keringat yang berada di wajahnya.

Hmm – Tersenyum sangat sedikit seolah begitu pelit terhadap senyum. Tetapi setidaknya dia mau tersenyum kepadaku ketika aku meletakan perhatian dalam padanya. Aku mau kasih hadiah untukmu. 

Sambil meletakan tangan di belakang badan seperti ada yang di sembunyikan. Ini adalah hadiah sepesial valentine untukmu, tapi kau harus pejamkan mata. Terpanah sambil berkaca dalam bola mataku.

Tanpa banyak komentar aku memejamkan mata. Kau mau memberiku apa..? – memejam sambil membuka telapak tangan ke atas. Kau diamlah dulu nanti juga tahu – ungkapnya menambah penasaran hatiku.

Di letakanlah sebuah benda berbentuk kubus di telapak tanganku, tidak terlalu besar hanya berukuran satu jengkal anak remaja. Sekarang kau boleh membuka matamu – tersenyum dengan begitu tampannya. 

Aku membuka mataku dan aku tidak sanggup berkata-kata. Apa ini..? – tanyaku begitu terkejut dia seromantis ini. 

Aku mulai membukannya. Wah, kau membelikanku sebuah boneka beruang yang sangat cantik – merangkulnya dan melemparkan ciuman di pipinya – Terimakasih sayang aku begitu senang.

Usai diberi hadiah berupa kado, yang menurutku tempatnya kurang bagus untuk momen ini. Tetapi meski tempatnya kurang mendukung, perhatian dan kadonya sangat cukup membuatku bahagia. Selanjutnya kami berjalan pulang ke rumahku, menggunakan mobil kekasihku.

Hari ini aku begitu bahagia kau mau meluankan waktumu untukku untuk sekedar menikmati pemandangan kota yang penuh debu dan panas ini. Tuturnya dengan begitu pelan penuh kasih sayang, sambil memutar-mutar setir hendak berbalik arah untuk menyebrang jalan.

Ya aku juga mengucapkan terimakasih kepadamu, karena kau juga telah memberikan hadiah kepadaku, dan bersikap sangat romantis padaku. 

Begitu terharu dengan sikap romantis yang dimilikinya. Kau tahu bukan, bahwa wanita memang sangat senang dimengerti diberi momen-momen romantis. Tuturku sambil sedikit mencanda.

Aku tahu itu, tetapi aku romantis bukan karena kau wanita. Lalu..? untuk apa kau melakukan ini. Sahutku. 

Aku melakukan semua ini karena memang aku mencintaimu. Lagi-lagi dia melelehkan hatiku, dan wajahku merah tidak sanggup berkata apa-apa. Jantungku memompa lebih cepat dari sebelumnya, kata-katanya sungguh membuatku tidak berdaya.

Tetapi aku berusaha meenangkan diriku sendiri, sebisa mungkin untuk bisa tenang seperti tidak ada apa-apa. 

Tetapi semakin aku mencoba dan berusaha untuk tenang perasaan gugup malam menjadi-jadi. Rasa gugupmu memang telah menguasai seluruh kendali dalam tubuhku.

Sebenarnnya nanti malam aku ingin mengajakmu menonton sebuah derama komedi di bioskop, filmnya seru lo, My Stupied Bos. Oh iya – Melihatnya dan tidak menyangka ternyata kejutan dan momen romantis yang dia berikan kepadaku belum habis –.

Iya – kembali berbicara sambil menyetir – kira-kira kau ada waktu tidak nanti malam..?

Emmmm – pura-pura mikir padahal ini adalah momen yang ditunggu-tunggu. Ayolah sayang. Cetusnya memintaku menemaninya menonton film. 

Aku masih menahan aktingku untuk membuatnya semakin gelisah menunggu jawabanku. Maaf sayang. Maaf apa..? kamu gak ada waktu ya – ungkapnya dengan wajah penuh kekecewaan – bukan itu, maaf aku gak bisa nolak jalanin keromantisan lagi denganmu hehe.

Hahh – tertawa girang tidak memperdulikan keselamatan – eh sayang hati-hati dong entar nabrak gimana. Ingatkannya dengan wajah yang sangat cemas. Iya maaf sayang kan lagi bahagia. Jawabnya sambil terus menyetir tanpa mengurangi kecepatan. Ya sudah nanti malam aku jemput pukul 19:00 ya.

Hmm – sambil mengangguk tersenyum dan tidak berkata-kata lagi. 

Hingga tak lama kemudian aku smapai di pengkolan dekat rumahku. Mobil kami langsung meluncur dan melewatinya hingga akhirnya aku dan kekasihku benar-benar sampai di rumahku. 

Aku mulai membuka pintu mobilnya dan kekasihku juga membuka pintunya sendiri. Kau mau mampir dulu..?. menawarkannya. Aku langsung saja pulang nanti malam aku ke sini. Ungkapnya masih dengan sedikit senyumnya.

Ya sudah aku tunggu nanti malam. Tersenyum memandang bola matanya yang bulat. Iya – masih dengan sedikit senyum – berjalan masuk ke mobil dan menghidupnkannya. Mulailah tangannya melanbai dan mobilnya melaju keluar dari halaman rumahku.

Dari mana kamu Viona. Suara tanya dengan nada datar ibuku. Hmm – memperlihatkan senyuamn lucu untuk mencairkan suasana – habis keluar jalan-jalan ma. Itu tadi siapa, pacarmu..? tanya mamaku tanpa sedikitpun tersenyum. 

Aku hanya diam tersenyum dan tersipu. Mengapa kau tidak suruh mampir itu pacarmu, aku ingin mengobrol. Ungkap ibuku. Ah mama ini iya lain kali suruh mampir. Masuk ke dalam rumah tanpa tertarik lagi dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh mamaku.

Aku masuk ke kamar dan memandangi boneka beruang putih dengan pita cantik di kelapanya. Boneka ini akan mengabadikan momen indah kenangan keromantisan kekasihku kepadaku. Tubuh ini begitu lelah, sementara hari masih panjang, karena ini baru jam dua siang. 

Mulailah ku baringkan tubuhku di ranjang untuk sejenak merajut mimpi indah yang belum tahu bagaiman mimpi itu berjalan dan bagaimana ceritannya. Yang pasti mimpiku akan seindah hariku saat ini. 

Hemm aku masih sanggup merasa tetapi aku tidak sanggup melihat, semuanya gelap. Tetapi kulitku dan otaku masih bisa meraskaan keadaan di sekitar. Juga masih bisa merasakan hembusan nafasku.

Hey Viona bangun nak, ini sudah sore waktunya kau mandi. Panggil ibuku dua jam kemudian terhitung sejak aku berbaring. Iya ma – menjawab dengan terpejam. Mulai pelan-pelan aku membuka mataku dan ku lihati jendela di sana ada matahari yang sudah hampir pulang. Tinggal sedikit sinar yang terlihat oleh mataku.

Ketika matahari hendak pulang tiba-tiba bayang Herkules kekasihku muncul dalam benak. Tubuh yang tadinya lemas karena kekurang cairan karena kehilangan banyak cairan ketika tidur seketika menjadi bugar. Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi cantik dan mempersiapkan semuanya untuk nanti malam.

Malam datang sementara itu aku sudah sangat siap pergi menonton malam ini dengan kekasihku. Ting tung... ting tung – suara bel rumah – wah sepertinya Herkules tu. Aku langsung bergegas keluar. 

Eh bibi biar saya aja yang buka pintu. Mencegah pembantuku membukakan pintu. Eh si enon, iya non, bahagia banged si kayaknya siapa si non. Tutur katanya meledek.

Ah bibi mau tau aja udah ke belakang. Iya non dan berjalan ke belakang. Baru kemudian aku membukakan pintu dan ternyata memang benar dia Herkules. 

Halo sayang, langsung saja yuk udah malem. Ungkapku ajak kekasihku pergi tanpa menawarinya duduk di rumahku. Ayo – ungkapnya dan kemudian kami berjalan menuju mobilnya bersama.

Sepanjang jalan, langit malam seolah terikat tidak ada daya untuk bisa berbuat apa-apa. Jangankan mengeluarkan sinar memberikan pendapat tentang kemesraan kami saja tidak bisa. 

Bagai seorang pembicara yang sudah kehilangan gagasan di dalam otaknya karena sudah mati gaya. Sehingga jangankan untuk bisa memberikan wawasan kepada pendengar tersenyum saja tidak berani.

Pendapat langit bagiku tidak penting yang terpenting malam ini aku akan menikmati malam panjang dengannya sesuka hatiku dan sesuka hantinya. Tak peduli langit dan bumi membisu melihat kemesraan kami, yang terpenting bagi kami adalah kebahagiaan kami sendiri. (Arif Purwanto)

Saturday, July 22, 2017

Cerpen tentang Sahabat Pemberi Semangat

Cerpen tentang Sahabat Pemberi Semangat - Entah mengapa aku tidak merasakan ketakutan yang banyak orang rasakan ketika melihat hal-hal, tindakan-tindakan berbau kekerasan. Ya memang sedari kecil aku sudah dididik kuat oleh orang tuaku.

Contoh Cerpen tentang Sahabat

Orang tuaku adalah seorang guru karate, ya meski tubuhnya kecil dia pernah mengalahkan 5 orang yang mempunyai tubuh setengah lebih besar dari padanya. Ayahku mahir menyerang bagian vital pada organ manusia, maka tidak heran bila lawan yang lebih besar darinya bisa dikalahkannya.

Sedari kecil pus-up 100 kali adalah sarapan pagiku, dan pada siang hari aku harus mengambil air yang melewati bukit terjal, yang cukup sulit untuk dilewati dengan berjalan kaki tanpa barang bawaan apapun, dan lebih sulit bila harus membawa dua ember cukup besar menaikinya dan menuruninnya.

Sedangkan untuk sore hari, ayahku selalu mengajarkanku jurus-jurus dalam bela diri karate yang semua gerakannya didominasi dengan pernapasan. 

Terlihat di dalam gerakan karate berbeda dengan halnya gerakan di pencak silat yang mendominasikan silat dengan seni. Sehingga jurus-jurus dalam pencak silat banyak gerakan-gerakan indah seperti halnya menari.

Tetapi lain halnya di karate yang jurusnya kurang didominasi dengan seni yang berlebihan, namun yang lebih diutamakan adalah kekuatan otot ketika memukul menendang ataupun menahan. Dan kunci dari keberhasilan tersebut adalah dengan pernapasan. 

Ayahku juga mengajariku cara melemahkan lawan dengan menyerang organ-organ vital, dan juga dengan kuncian. Cara ini sangat evektif untuk melumpuhkan lawan terlebih ketika kita berhadapan dengan lawan yang cukup besar tubuhnya dari pada kita.

Selain dari pada mengajariku tehnik kuncian dan menyerang di kala menghantarkan matahari pada sore hari, ayahku juga selalu membiarkanku dengan posisi kuda-kuda selama hampir dua jam lebih. 

Dia meninggalkanku begitu saja, tetapi dia bisa tahu ketika aku hendak berdiri tegak, "Jaga posisi kuda-kudamu" – Aku tidak tahu dia dimana tetapi suara ayahku nampak begitu dekat – terpaksa aku harus menahan posisi kuda-kudaku sampai ayah membiarkanku berdiri tegak kembali.

Dan penderitaanku belum selesai, ketika malam hari aku belum diperbolehkan untuk tidur sebelum jam 11 malam. Aku diajari untuk bermiditasi belajar berkonsentrasi, karena menurut ayahku sendiri ini adalah hal yang sangat penting bagi seorang petarung. 

Karena kunci kemenangan adalah konsentrasi. Tetapi tidak terkadang meditasi dengan duduk bersila kaki kanan berada di atas kaki kiri, dan kaki kiri berada di atas kaki kanan membuatku secara tidak sadar tertidur. 

Tetapi itu tidak lama karena sang ayah langsung memanggilku. Irwan..! konsentrasi. Akupun langsung terbangun dan kembali meneruskan meditasiku serta berusaha untuk berkonsentrasi.

Setelah jam 11 malam tubuh ini merasa begitu gembira karena bisa mendapatkan kasurnya sebagai pasangan di kala malam yang tidak bisa dipisahkan. 

Pada pagi harinya pun aku harus mengulangi apa yang pagi kemarin lakukan. Itulah makanan sehari-hariku ketika aku masih kecil dan duduk dibangku sekolah dasar.

Tetapi meski orang tuaku mengajariku untuk menjadi seorang laki-laki yang tangguh, orang tuaku juga mengajariku untuk menggunakan ilmu bela diri di jalan yang benar. 

Yaitu untuk menolong orang yang kesulitan, dan menjaga diri. Orang tuaku melarang keras menggunakan ilmu bela diri yang sudah kupelajari untuk menyakiti orang lain ataupun untuk berbuat keonaran ketika di sekolah.

Berbuat keonaran di kelas pernah aku lakukan, karena aku merasa hebat dari pada teman-temanku. 

Aku menantang satu-satu dari teman kelasku dari yang mempunyai ukuran tubuh sama denganku hingga yang mempunyai ukuran tubuh lebih besarku. 

Semua dapat kukalahkan hanya dalam satu kali pukul, tetapi karena perbuatanku itu orang tuaku di panggil ke sekolah dan diberi surat peringatan.

Belum selesai sesampainya di rumah ayahku menghukumku dengan hukuman yang sangat keras dan berat menurutku. 

Karena aku harus melakukan tidur dengan posisi menggantung dan di bawah tubuhku ada besi yang sangat panas, sehingga bila tubuhku kebawa sedikit saja maka tubuhku akan meleleh terkena besi panas tersebut. 

Sehingga aku harus menahan tidur secara menggantung dan hanya kepala dan kaki saja yang boleh bersandar sementara tubuhku menahan posisi menggantung agar tidak terkena besi panas yang ada di bawahku. Hal itu aku lakukan selama satu malam suntuk.

Hasilnya sedikit goresan besi panas di pinggangku karena begitu lelah menahan posisi tidur yang tidak biasa. 

Dari situlah hingga akhirnya aku sadar bahwa ilmu bela diri bukanlah untuk digunakan sebagai alat penindas, tetapi sebagai alat penolong dan penjaga diri. Di situ pula sifatku sudah berubah, aku tidak lagi memamerkan kepiawaianku dalam hal bela diri.

Di usiaku yang sangat muda itu akupun sudah didukung oleh orang tuaku untuk mengikuti kejuaraan bela diri tinkat kabupaten maupun nasional. Karena didikan yang sangat baik aku sering sekali mendapatkan kemenangan dan keluar menjadi juara pertama dalam sebuah kejuaraan.

Itulah kisah yang tidak biasa yang datang dari masa kecilku, yang tidak semua anak ataupun orang merasakan apa yang aku rasakan. 

Awalnya didikan yang diberikan oleh orang tuaku kurasakan sangat menyakitkan dan sangat tidak berkemanusiaan, tetapi di sisi lain aku sangat berterimakasih dengan ayah karena sudah mendidiku menjadi orang yang sangat kuat.

Di usiaku yang sudah 23 tahun ini, aku sudah menjuarai kejuaraan MMA tingkat nasional, dan internasional. 

Terakhir lawan yang bertarung denganku adalah petarung asal Amerika yang bernama Robert. Tubuhnya kekar besar, dan bahkan lebih tinggi dariku 20 cm. Aku nyaris putus asa mengalahkannya karena berulang kali aku memukulnya tidak berarti apa-apa.

Tetapi berkat dukungan dari sahabat, orang tua, dan juga kekasih, aku mempunyai semangat bertarung tinggi hingga aku sanggup mengalahkan si besar tinggi Robert dari Amerika. 

Dukungan sahabat memang menjadi dorongan penyemangat tersendiri bagiku terutama ketika di arena pertandingan. Tanpa mereka aku tidak tahu, apakah aku masih menang atau justru malah kalah.

Di usiaku yang sudah dewasa ini aku juga masih menjalankan apa yang ayahku ajarkan dahulu ketika aku masih kecil. 

Yaitu tentang tanggung jawab, dan tidak boleh untuk menyerah. Itulah yang selalu aku ingat, hingga akhirnya tanggung jawab untuk memberikan kemenangan kepada sahabatku dan pendukungku selalu timbul ketika aku di arena pertandingan.

Dan tanggung jawab itu hanya bisa ditopang dengan semangat pantang menyerah. Itulah pelajaran yang sangat berharga yang ayah ajarkan kepadaku yang sampai saat ini pun masih aku jalankan dengan baik hingga kemenangan demi kemenangan aku raih, sehingga tanggung jawabku memberikan kemenangan kepada para pendukungku bisa aku laksanakan dengan baik.

Minggu depan aku hendak bertarung kembali dalam kejuaraan MMA internasional. Kali ini lawanku bukanlah lawan yang mempunyai tubuh tinggi besar, dan tidak mempan dengan pukulan, melainkan lawan yang akan kuhadapi adalah si gesit dari China. 

Ukuran dan berat tubuhnya sama denganku, namun dalam pertandingan bela diri yang pernah dia ikuti dia belum pernah kalah. 

Akupun sedikit hati-hati dengannya, terlebih dia juga sama denganku yang sedari kecil sudah didik keras, hanya saja aliran beladirinya yang berbeda, dia kungfu, sedangkan aku karate.

Aku hanya bisa berharap dukungan sahabatku masih ada, karena lawan yang akan ku hadapi bagiku adalah lawan yang sangat berat. Tanpa dukungan sahabat aku kurang yakin bila harus mengalahkannya. (Arif purwanto)

Friday, July 21, 2017

Cerpen, Jodohku Datang di Masa Liburan

Cerpen, Jodohku Datang di Masa Liburan - Suasana yang cerah, ini kali pertamaku datang di desa yang masih mempunyai pemandangan yang begitu asri. Tetapi sebenarnya bukanlah desa tujuanku, tetapi destinasi yang ada di desa ini yang menjadi tujuan utamaku.


Tetapi pemandangan desa yang masih asri juga menjadi daya tarik tersendiri bagiku ketika bermukim di penginapan sederhana yang terletak satu kilo dari destinasi wisata alam yang akan ku datangi.

Ini adalah desa Kelinci, yang merupakan dataran tinggi berhiaskan tanaman hijau yang tertata rapih, serta sungai jernih yang mengalir tanpa saling mendahului. Musim libur seperti inilah banyak para wisatawan lokal maupun manca negara yang datang untuk berlibur dan berwisata di sini.

Di sinilah ada salah satu destinasi air terjun yang sangat indah, yang menjadi tujuan utama para wisatawan ketika berlibur di desa Kelinci ini. 

Air terjun tersebut adalah air terjun sumo ilang. Meski masyarakat setempat selalu mengkaitkan tempat tersebut dengan hal mistis, tetapi cerita mistis tersebut tidak mengurangi jumlah wisatawan yang datang.

Dan hari ini aku akan mendatangi air terjun Sumo Ilang tersebut sendirian, karena memang aku berangkat dari kota sendiri tanpa teman. 

Karena semua temanku rata-rata pulang ke kampung halamannya masing-masing, sedangkan aku yang kerja dan bersekolah di kota memilih untuk berlibur ketika hari libur datang.

Di desa Kelincilah aku menghabiskan waktu liburanku, hingga nanti akhirnya waktu libur usai. Aku yang sudah dalam keadaan segar, dan wewangian yang sedikit melekat di pakaianku, serta pakaian santai untuk berjalan-jalan, siap untuk pergi ke air terjun sumo ilang.

Aku menggunakan motor yang aku sewa dari penginapan, karena memang medan tidak memungkinkan bila harus menggunakan mobil. Medan hanya bisa dicapai dengan menggunakan motor ataupun sepeda. Karena hanya ada motor di sini maka yang kupergunakan adalah motor.

Motor Rx- King mulai ku pacu melintasi jalan sempit pedesaan yang naik dan turun. Sementara di tengah jalan aku bertemu dengan seorang gadis yang nampak berjalan sendirian. Sekilas dari belakang dia adalah gadis yang cantik, kulitnya putih, rambutnya hitam bergelombang dan tidak terlalu panjang serta tinggi.

Aku segera memelankan laju motorku dan berjalan mengiringinya di sampingnya sambil bertanya "Hey mau kemana" – Tanyaku sambil melihatnya ternyata memang dia gadis yang cantik.

Dia melihatku sambil tersenyum,"Aku mau ke air terjun, boleh aku menumpang.?" – Ungkapnya mempelihatkan gigi kelincinya.

"Tentu saja, aku juga hendak pergi ke air terjun" – Berhenti dan mempersilahkan gadis cantik tersebut menumpang motorku.

"Oh iya..?" – Ungkapnya berjalan melewati belakang motorku dan duduk di belakangku.

"Iya, sepertinya kau bukan orang sini..?" – tanyaku sambil mulai berjalan dengan suara cukup keras dari kenalpot motor dua tak ini.

"Ya kau benar, aku dari kota dan sedang berlibur di sini" – berbisik pelan di samping belakang kupingku.

"Kau sendirian..?, mana temanmu, keluargamu..?" – Tanyaku lagi sambil mengurangi kecepatan melintasi turunan.

"Aku tidak bersama mereka, karena memang aku ke sini ingin menghabiskan liburanku sendiri" Jawabnya sambil memegang punggungku menahan posisi ketika di turunan.

"Kau asli orang sini..?" – Tanyannya penasaran dengan wajah tersenyum.

"Bukan, aku juga dari kota, akupun sendiri ke sini, karena memang tidak ada teman" – Jawabku sederhana.

"Oh ya, kau tidak membawa kekasimu..?" – Tanyanya dengan nada genit.
"Tidak, aku tidak mempunyai seorang kekasih" – Jawabku tanpa ekspresi tersenyum maupun sedih.

"Kita belum berkenalan, siapa namamu..?" – Tanyannya membisik di samping belakang kupingku.
"Namaku Rehan, namamu siapa..?" – Tanyaku kepada gadis cantik yang berada di belakangku.

"Aku Sarah" Jawabnya dengan suara sangat lembut dan meleleh di dalam hatiku.

Tak kalam kemudian aku sampai di tempat tujuan dan ku mulai turun dari kendaraanku, berjalan menuruni bukit untuk bisa sampai ke air terjun.

"Wah Rehan kau dengar itu suara air terjun" – Ungkapnya mendengar air terjun begitu bahagia.
"Ya kau benar, kita hanya tinggal melewati turunan ini untuk bisa sampai ke air terjun" – Ungkapku.

Kami sampai di sungai yang mengalir tidak terlalu deras karena terhalang oleh bebatuan yang tersusun rapih yang biasa digunakan sebagai jembatan untuk mencapai air terjun. 

Sementara itu ku lihat di sebelah kanan air terjun yang sangat deras nan indah. Tidak banyak orang di sini aku hanya melihat 4 orang laki-laku dan dua prempuan yang nampak sekilas berumur dua puluh tahunan.

Aku dan sarah langsung berjalan melewati bebatuan untuk bisa berenang di bawah air terjun tepat. Kami saling bergandengan karena Sarah nampak ketakutan ketika melintasi bebatuan yang tidak rata tersebut.

Aku begitu betah berlama-lama menggenggam tangannya, tangannya begitu halus, lembut, hingga menimbulkan ketertarikan, cinta dalam fikiranku. 

Ya mungkin ini kali pertamaku bertemu dengannya tetapi hati ini sudah ada ketertarikan kepadanya, mungkin karena dia adalah orang yang mengasyikan, dan cantik.

Setelah sampai tepat di bawah air terjun, Sarah langsung berenang di bawah air terjun. Sementara aku juga mengikutinya berenang tepat di bawah air terjun. 

Kepala kami di hujani air yang tidak seberapa banyak ini, tetapi cukup panas ketika mengenai kepala. Kami menjaga jarak dari turunnya air terjun dan lebih memilih untuk berenang di sekitar air terjun.

"Airnya segar banged" – Ungkap Sarah nampak begitu bahagia menikmati dinginnya dan segarnya air terjun.

"Kau benar kita tidak akan menemui air sejernih dan menyegarkan ini di kota, mari menyelam" – teriaku dan menenggelamkan diri sementara Sarah juga menenggelamkan diri.

Kami menyelam, dan ku buka mataku di dalam air yang buram, nampak dia menahan nafas dan berterbangan gelembung dari nafasnya yang bocor. Hingga tak lama kemudian kepalanya keluar dari air.

"Hah hah" ungkapnya sedikit sesak karena terlalu lama menahan nafas.

Kami begitu puas menikmati air yang jernih lagi dingin ini dengan bercanda tawa dan berenang bersama. Hingga badan kami kemudian lelah, dan sudah terlalu dingin kami menyudahi menikmati air jernih dengan air terjun yang indah ini.

Kami kembali ke parkiran dan kemudian beranjak untuk pulang. Aku mengantarkan sarah ke penginapannya tanpa mampir, karena sadar tubuh ini semakin dingin dan membutuhkan pakaian hangat. 

Tetapi setidaknya adanya sarah di sini menambah kebahagiaanku menjalani liburan kali ini. Hati ini sedikit yakin bahwa dialah memang jodohku, aku akan memperjuangkannya, namun sebelum itu tentu kita butuh pendekatan.

Tuhan aku hanya bisa berharap bahwa aku hanya ingin dipersatukan dengan gadis yang sudah ku anggap sebagai jodohku. Restuilah langkahku untuk mendapatkan hatinya, karena hati ini begitu yakin dialah jodohku. (Arif Purwanto)

Thursday, July 20, 2017

Cerpen Jomblo Sampai Halal

Cerpen Jomblo Sampai Halal - Sungguh malam minggu yang indah, ku habiskan di masjid untuk membaca al-quran dan juga meminta kemudahan dalam menjalani hidup. Di kota yang begitu sibuk dan juga begitu padat ini yang dipenuhi dengan kehidupan yang penuh gemerlapan aku merasa menjadi manusia yang sangat aneh.

Cerpen Jomblo Sampai Halal
Cerpen  Bahasa Inggris Jomblo Sampai Halal

Karena aku harus melakukan apa yang tidak aku lakukan, sementara itu orang lain selalu menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, di kala usia remaja yang katanya hanya satu kali dan tidak pernah akan kita dapatkan lagi. 

Untuk itu mereka menghabiskannya untuk bersenang-senang dengan para pasangannya masing-masing.

Tetapi meski aku bertindak tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan, karena malam minggu aku memilih untuk menghabiskan waktuku di masjid, tetap ada kebahagiaan yang tidak tergantikan. 

Karena di sini aku merasakan ketenangan mendengarkan lantunan suara AL-Quran dan membacakannya untuk diriku sendiri dan orang lain yang ada ikut menghabiskan malam minggunya denganku di masjid.

Dari orang-orang yang datang ke masjid terlihat di situlah aku yang paling muda, maka tidak tentu menjadi pemandangan yang langka di kota metropolitan ini ada gadis yang menghabiskan malam minggunya di masjid untuk membaca al-quran bersama dan mendapatkan siraman rohani.

Malam masih begitu panjang, karena ini masih jam delapan, dan belum ada separuh dari malam yang akan berjalan. 

Sementara aku baru saja menyelesaikan satu jus membaca ayat al-quran. Kini tiba saatnya pak ustad yang menyampaikan ceramahnya untuk kami semua jamaah yang datang ke masjid.

Tidak banyak jamaah yang datang ke masjid, hingga inilah yang menjadi kecemasan pak ustad yang dia sampaikan di dalam ceramahnya. 

Jaman yang sudah modern menggantikan iman di hati sehingga masjid menjadi sepi dan tidak ada lagi yang mau datang ke masjid.

Tetapi beruntung meski hanya dua puluh orang jamaah yang datang, dan akulah yang paling muda, semuanya antusias mendengarkan ceramah dan membaca al-quran bersama.

Tak lama kemudian ada ibu-ibu yang baru datang, dia masuk lewat pintu belakang khusus perempuan. Ibu-ibu tua tersebut selanjutnya berdiri mengambil barisan di sampingku.

"Assalamulaikaum, - Memperlihatkan wajah penuh senyum dan belum duduk- Maaf bapak-bapak, dan ibu-ibu sekalian, saya telat".

"Iya tidak apa-apa ibu – Ungkap Pak ustad – Silahkan duduk ibu,".

Ibu tua kemudian duduk di sampingku sambil menatap senyum ramah kepadaku. Sedikit raut wajah heran ketika dia melihatku," Adek salut masih muda rajin ke masjid", duduk sambil meletakan tangannya di lantai.

"Iya ibu, bingung di rumah enggak ada kegiatan jadi ikut pengajian rutin setiap malam minggu – Ungkapku sedikit tersipu malu dengan sang ibu tua – ibu tinggal dimana..?".

"Aku tinggal tidak jauh dari masjid dekat toko sparepart motor, kau tinggal dimana anak cantik..?", ungkapnya dengan suara sangat lembut.

"Aku tinggal di seberang jalan menuju rumah sakit Welas Asih bu – Ungkapku sambil memperlihatkan sedikit gigi depanku – ibu namanya siapa..?".

"Aku ibu Mayang, mampir ke rumah anak cantik ke tempat ibu – ungkap ramahnya – namamu siapa anak cantik".

"Aku Lestari ibu, ya kalau ada waktu pasti Lestari mampir buk", ungkapku kepada ibu Mayang.

"Kau tidak main, dan kekasihmu tidak datang malam ini, ini kan malam minggu, malanya para anak muda", ungkap ibu Mayang.

"Hehehe – Senyum tersipu – Aku tidak punya pacar ibu".
"Masa gadis cantik sepertimu tidak punya pacar –Ungkapnya tidak percaya dengan ungkapanku".

"Ya mungkin aku belum dipertemukan dengan jodohku ibu, lagi pula aku juga ingin mencari orang yang tepat yang bisa benar-benar ku jadikan imamku besok", ungkapku dengan sang ibu.

"Ya mudah-mudahan kau cepat mendapatkan jodoh ya nak – Mendoakan dengan sangat tulus ".
"Amin ibu".

Kami saling diam dan satu sama lain memperhatikan pak ustad yang sedari tadi kami tidak perhatikan karena kami terlalu asyik mengobrol. 

Tetapi setidaknya ibu Mayang ini adalah ibu yang sangat menjiwai sekali menjadi ibu dan aku merasa seperti mengobrol dengan ibuku sendiri.

Tak lama setelah kami kembali fokus menyimak ceramah dari pak ustad, ceramah telah usai, hingga sedikit ada rasa penyesalan karena tidak mendengarkan ceramah dengan baik. Tetapi ya sudahlah lain waktu tentu aku masih bisa mendengarkan ceramah dari pak ustad.

Acara pengajian usai, sementara para jamaah sibuk berjalan dengan sedikit berdesakan, tetapi tidak lama karena jumlah jamaah yang tidak terlalu banyak.

Sementara itu ibu Mayang menepuk pundakku "Kau mau mampir tempat ibu tidak..?", tanyanya sambil berjalan maju menuju pintu keluar.

"Iya ibu terimakasih, ini sudah malam, mungkin lain waktu aku akan main ke rumah ibu – Jawabku dengan sedikit senyum yang dibuat".

Hingga tak lama kedua orang tuaku yang berada di barisan lain menghampiriku yang sedang berjalan keluar,"Hey Lestari tunggu ibu nak – ungkap ibuku memanggilku menahanku untuk menghentikan langkah".

"Iya ibu, ayo – Aku menghentikan langkah dan mengajak kedua orang tuaku berjalan bersama".

Sementara ibu Mayang melihat ibuku yang memanggilku dengan sedikit tersenyum dan kemudian berkata,"Bu – tersenyum tanpa mempelihatkan gigi".

Ibukupun membalas senyum dari ibu Mayang dan kemudian berkata,"Mari bu duluan – Ungkap ibuku berjalan dengan ayah dan aku mendahului ibu Mayang".

"Iya ibu" – Ungkap ibu Mayang berjalan berlainan arah denganku dan orangtuaku.

Hati terasa lega bisa bermunajat banyak hal kepada sang pencipta malam ini. Sementara itu jalan kecilku dan orang tuaku di warnai keceriaan saling bercanda tawa dan memamerkan harmonisnya keluarga kami kepada orang-orang yang duduk di pinggir jalan.

Kami tidak memperdulikan muda-mudi yang kami lewati yang asyik dengan tawa lepas tanpa adab, yang juga terlihat saling memadu kasih di pinggir jalan di bawah atap warung makan yang tidak terlalu besar tetapi sangat ramai.

Ya bukan barang yang langka sekali di sekitar tempat tinggal kami anak-anak muda yang menghabiskan malam minggunya dengan pasangannya. 

Karena pada malam inipun kami mendapati anak perawan yang menggunakan pakaian ketat jalan dengan kekasihnya sambil berpelukan padahal mereka belum muhrim.

Tetapi beruntung ayah dan ibuku selalu mengajar dan mendidik aku dengan baik sesuai dengan nilai-nilai agama. 

Hingga tumbuhnya aku menjadi dewasa nilai-nilai agama yang ditanamkan oleh orangtuaku telah mendarah daging di dalam diriku. Karena ajaran orang tuaku itulah hingga akhirnya selalu berusaha melewati jalan yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai agama.

Tidak terkecuali dengan pacaran, yang belum pernah aku merasakan pacaran, karena memang tidak ada keinginan untuk pacaran sebagai mana para muda-mudi yang lain. 

Bahkan aku berani berkata dengan lantang kepada pemuda yang menyukaiku dengan ungkapan,"Kalau memang suka temui orang tuaku", tetapi hingga saat ini belum ada pemuda yang ku kenal berani menemui orang tuaku. 

Maka tak heran hingga saat ini pun aku belum dipertemukan dengan jodohku. Tetapi aku akan tetap bersabar dan akan menjaga setatus jombloku sampai halal. (Arif Purwanto)

Wednesday, July 19, 2017

Cerpen Mimpiku Dengan Ayah dalam Bahasa Indonesia

Kedekatan anak dan orang tua tentu tidak perlu diragukan lagi. Keduanya, baik ayah maupun ibu tentu sangat berharga. Nah, kali ini kita akan mengangkat sebuah cerpen tentang seorang bapak atau ayah. Cerita pendek berikut ini berjudul "mimpiku dengan ayah". Seperti apakah ceritanya?

Cerpen Mimpiku Dengan Ayah dalam Bahasa Indonesia

Ya kalau ingin tahu ceritanya seperti apa ya harus baca. Atau bisa juga, kalau tidak mau baca bisa tanya langsung sama penulisnya. He... he... he... bercanda kok. Yang jelas ceritanya adalah tentang pengalaman kedekatan seorang anak dengan sang ayah. Tentu, kalau melihat judulnya mungkin suasananya bahagia, tapi mungkin juga tidak.

Dilihat dari panjang cerpen tersebut, cerita ini termasuk singkat, hanya berkisar sekitar 100 kata, kurang lebih 1 halaman kertas. Kalau hanya satu lembar kertas kan tidak terlalu panjang ya, tidak akan membosankan juga. Ya sudah, lebih baik kita langsung ke cerpen ayah tersebut.

Cerpen Mimpiku Dengan Ayah
Cerita Oleh Arif Purwanto

Pagi ini aku begitu bahagia karena ayah akan mengajaku ke sebuah tempat yang indah untuk kita bersenang-senang. Tetapi ayahpun belum mengatakan kemana kita hendak pergi. 

Katanya, ini adalah kejutan dan hadiah karena keberhasilanku mendapatkan juara satu di kelas sekolah dasar. Hatiku bertanya-tanya dan fikiranku selalu membayangkan tentang bagaimana suasana tempat yang akan ditunjukan kepadaku.

Mobil kami sudah berjalan hilir kendaraan juga tidak terelakan karena ini adalah jalanan umum. Sementara aku, ayah, dan ibu diam sejenak tanpa obrolan karena otak sedang begitu fokus dengan perjalanan yang kami lalui.

Aku dan keluargaku menikmati huru-hara suara nyanyian kendaraan yang melintas di samping kami. Kami juga mendengar jeritan telakson mobil dan motor yang secara tidak sabar ingin mendahului kami. Tetapi untunglah tidak terjadi apa-apa dari begitu cepatnya mobil yang menyalip kami.

Ayah,"Sebentar lagi kita sampai di tempat tujuan".
Aku,"Wah yang benar, berapa jauh lagi".
Ayah,"Gak jauh paling 500 meter".

Sampailah kami di tempat yang dimaksud oleh ayahku, ternyata tempat tersebut adalah tempat taman bermain air terbesar di kota kami. Aku segera membuka pintu kiriku dan tidak sabar ingin cepat-cepat masuk ke dalamnya.

Sementara itu ibuku juga turun dari pintu kiri, sedangkan ayah keluar dari pintu kanan. Karena letak tempatnya di seberang jalan maka kami harus terlebih dahulu menyeberang, di lalu lintas kendaraan yang tidak terlalu padat tetapi begitu banyak kendaraan melintas dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Aku di gandeng oleh ibuku sementara ayahku berjalan sendiri mendahului kami menyeberang. Belum sempat aku melangkahkan kaki, aku sudah melihat ayahku tergeletak di tengah jalan dalam keadaan darah yang mengalir deras di bagian kepala. 

Mobil dengan kecepatan tinggi telah tega pergi tanpa bertanggung jawab usai menabrak ayahku. Aku dan ibuku segera berlari saja ke tengah jalan dan langsung berusaha menolongnya. Sementara wajah ibuku sudah terpenuhi dengan air mata serta suara tangis marah yang terus keluar.

"Ayah, bangun ayah", ungkap ibuku yang memeluk sang ayah yang sudah pingsan dengan berlumuran darah di kepala.

Sementara aku juga menggoyang – goyangkan tangan ayah untuk membangunkannya dengan wajah yang juga dipenuhi dengan air mata.

Tak lama masyarakat datang dan mengankat ayah membawanya ke mobil kami dan kemudian menuju ke rumah sakit. 

Tangis terus mengiringi pengantaran ayahku ke rumah sakit, sesampainya ayahku sudah mendapatkan penanganan ibuku dan aku belum kuat untuk menahan air mata kesedihan ini.

Gelisah menyelimuti wajah aku dan ibuku, ibuku terus saja memeluku sambil terus berselimutkan kesedihan menunggu jawaban dokter dari upaya menolong ayahku. Hingga lma menit berselang sang dokter keluar dengan keadaan wajah yang sudah begitu datar tanpa senyum.

Ibuku berlari dan mendekati dokter berkata,"Bagaimana dengan keadaan suami saya dokter".

Sang dokter tidak langsung menjawab semacam berfikir dari kata apa dia hendak mengucap untuk menerangkan kenyataan yang telah dia lihat. "Bagaimana dokkter keadaan suami saya", ungkap ibuku terus mendesak sang dokter.

Sang dokter berbicara dengan nada yang sedikit sungkan,"Suami ibu sudah berpulang kepada yang maha kuasa, kami sudah berusaha sekuat tenaga tetapi tidak bisa membuat suami ibu tertolong", berbicara dan kemudian pergi.

Sementara hatiku begitu hancur ditinggal oleh seorang ayah yang begitu aku sayangi dan aku cintai. Baru saja aku hendak menikmati kebahagiaan dalam kebersamaan dengan sang ayah tetapi malah maut yang kemudian yang menggantikannya.

Ini sungguh hal yang berat untukku, sangat berat untuk anak seusiaku, aku masih begitu butuh kasih sayang ayah, tetapi mau yang merusak semua itu hingga kasih sayang ayah tidak sampai kepadaku.

Jasad ayah langsung di bawa ke rumah dan kemudian dimandikan dan setelah itu di kubur. Seperti aku ibupun belum begitu kuat menerima kenyataan bahwa ayah telah pergi dari dunia ini meninggalkan kami. 

Dengungan suara tangis dari mulutnya dan membeludaknya air mata dari matanya menjadi pertanda bahwa memang berat ditinggal oleh seorang yang memang dia cintai.

Usai tanah sudah membungkus jasad ayah, dan kini hanya kenangan ayah yang bisa aku lihat dan tidak untuk jasad, dengan berat hati aku meninggalkan kuburan ayahku. Aku hanya meminta kepada tuhan agar ayahku diberikan tempat yang layak di sisi tuhan, karena aku tahu ayahku adalah orang yang baik.

Malam menjelang, inilah kali pertamaku melewati malam tanpa ayah, sementara ibuku masih berselimutkan tangis membaca lantunan surat Yasin. Tubuh ini begitu lelah karena malam sudah begitu larut, dan akupun melihat ibuku sudah tertidur setelah selesai membaca al-quran.

Mulai ku memjamkan mata dengan mebaringkan tubuh di kasur yang tidak seberapa empuk, seketika aku lupa dengan dunia.

"Hey Rendi", suara seorang laki-laki sambil menepuk pundaku.

Seperti ku kenal dengan suara ini otaku berfikir keras tentang siapa yang menepuk pundaku dan memanggilku. Aku teringat dengan suara ayah, yah aku yakin itu adalah suara ayahku.

Aku berbalik badan dan ternyata benar itu adalah ayahku,"Ayah masih hidup", langsung saja aku memeluknya.

"Ya ayah masih hidup sayang, ayah ingin mengajakmu ke tempat yang sangat indah", ungkap ayahku dengan wajah yang berbinar-binar.

"Kemana ayah", senyum wah datar karena penasaran kemana ayah akan mengajaku.

Ayah menggendongku dan membawaku berjalan di permukaan lantai yang putih, tiada warna lantai yang lain selain dari pada putih. 

Selain itu aku juga melihat atap dan dinding yang juga mempunyai warna yang sama dengan lantaia, semuanya putih. Aku semakin penasaran dimanakah aku.

Di sini tidak ada pepohonan seperti halnya yang biasa ku lihat ketika di rumahku. Hingga ayah membawaku ke satu pintu, di situlah kemudian pintu itu di buka nampak di situ sungai yang mengalir deras, hutan yang begitu hijau, dan banyak hewan yang bernyanyi menyambut kami.

"Ayah ingin main denganmu di sungai ini", ungkap ayahku dengan tersenyum.
"Tentu ayah, aku juga ingin bermain dengan ayah".

Aku dan berjalan dengan ayah masuk ke dalam air yang begitu jernih itu dan sambil melempar-lempar percikan air satu sama lain. Aku begitu bahagia bisa bertemu dengan ayah dan bermain dengan ayah.

Dan mata terbuka, ternyata itu hanyalah bunga tidur yang timbul karena kerinduanku kepada ayah. Ku ucapkan kalimat istighfar, untuk memohon ampun atas hati dan fikiran yang belum bisa mengikhlaskan kepergian orang tuaku. 

Aku hanya bisa berharap  bahwa aku kelak akan bertemu dengan ayah di surga, dan bisa bermain bersama di sungai yang mengalir yang ada di surga sana. (Arif Purwanto)


--- Tamat ---

Sebenarnya cerita pendek tentang ayah di atas akan dibuat atau dibagikan dalam dua versi bahasa yaitu bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris. Tetapi karena keterbatasan waktu maka kita siapkan yang Indonesia terlebih dahulu. Rekan yang membutuhkan versi Inggris bisa download versi terjemahan dari tautan yang disediakan.

Tuesday, July 18, 2017

Cerita Bahasa Inggris, Kesepian di Yogyakarta

Untuk yang hobi membaca cerita, kali ini kita akan membuat cerita bahasa Inggris dari sebuah cerpen yang cukup menarik. Cerpen ini tentang sebuah perjalanan hidup seseorang yang merasa sepi padahal ia tinggal di kota besar. Yogyakarta kan kota besar, benar tidak, kok bisa kesepian?


Ya, niatnya nanti cerita yang aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia ini akan dialihkan ke bahasa Inggris. Namun begitu, sangat sayang jika kita melewatkan naskah aslinya seperti apa. Nanti kan kalau sudah dirubah bisa saja berbeda arti, benar tidak? 

Maka dari itu pertama kita akan membaca cerita ini dalam versi asli. Setelah itu, khusus untuk yang mencari cerpen bahasa Inggris, atau yang ingin membaca cerita dalam bahasa Inggris bisa mengunduh dan menerjemahkan teks ceritanya sendiri. Yuk, kita lihat seperti apa kisahnya.

Kesepian di Yogyakarta
Cerita Oleh Arif Purwanto

Minggu yang begitu ramai, jalanan, tempat wisata, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, semuanya dipenuhi oleh muda-mudi yang yang saling bergandengan satu sama lain. Sementara itu aku tidak bergandengan dengan siapapun, jangankan bersama pacar, sama teman saja tidak. 

Kalau hanya teman memang aku punya teman di Jogja ini, tetapi bicara pacar, sudah satu tahun lebih aku berada di Jogja belum jua mendapatkan seorang kekasih.

Aku bekerja sebagai oficce boy, di sebuah tempat perbelanjaan di Jogja. Tugasku sangat mulia membersihkan yang kotor, dan mengenyahkan yang kotor-kotor dari muka bumi ini. Tetapi di sisi lain orang lain memandang pekerjaan sebagai office boy adalah pekerjaan rendahan. 

Ya biarlah orang berkata apa tentang pekerjaanku ini, yang terpenting aku mengerjakannya dengan bahagia karena aku bekerja dengan niat hati tulus dan tidak mencuri.

Pelanggan yang datang ke sebuah pusat perbelanjaan hari ini memang cuku padat, sedangkan areal kekuasaanku menjadi lalu lalang yang ingin membuang hajat. Ya ini salah satu yang tidak ku suka dari pekerjaan office boy, aku bisa melihat orang datang menemuiku ditempat kekuasaanku hanya bila ada orang yang ingin buang hajat. 

Sedangkan orang yang tidak mempunyai keinginan untuk buang hajat tidak ada niatan untuk melintasi kekuasaanku dan melihat kegiatanku.

Itupun terasa gundah di hati, yang mana tidak ada perhatian dari orang-orang yang aku lihat berlalu lalang melintasi tempat kekuasaanku. Sedang di sana aku selalu mengerti mereka, dan melayani mereka dengan sepenuh hati. 

Tetapi seiring berjalannya waktu aku sangat sadar bahwa memang aku sedang menjalankan tugas yang sangat mulai, sehingga bisa atau tidak bisa sanggup atau tidak sanggup aku harus tetap bertahan. Lagi pula mau kerja apa lagi selai office boy di Jogja ini.

Terlebih aku bukan asli Jogja, hanya saja aku memiliki saudara di Jogja, sehingga merekalah yang sedikit banyaknya menghilangkan rasa kesepianku di wilayah orang ini. 

Sementara itu asalku adalah Lampung, tetapi ibu dan bapakku adalah orang Jawa yang memang berasal dari Jogja. Kini aku kembali ke tanah lahir orang tuaku, untuk mencari dan mengadu nasib baik.

Istirahat siang sudah datang waktu, tidak lama hanya satu jam, aku habiskan untuk makan dan menutup mata sejenak. Sementara itu sisa waktunya aku gunakan untuk sholat menunaikan kewajiban, menyeru dan bermunajat kepada tuhan agar jalanku dipermudah, serta diberi ridho.

Satu jam berlalu aku juga harus melanjutkan pekerjaanku, hingga nanti sampai jam tiga sore. Beruntung kerja hanya delapan jam, tetapi upah UMK, ya meski terkadang juga masih kurang tetapi aku selalu mensyukurinya. 

Ini adalah akhir pekan dimana muda-mudi banyak menghabiskan masa liburannya. Aku ingin berjalan-jalan berkeliling Jogja ke destinasi yang indah untuk membuat fikiranku lebih tenang.

Mulai ku hubungi semua temanku untuk ku ajak berlibur, dan ternyata tidak ada satupun teman yang bisa ikut denganku karena sudah mempunyai kesibukan lain. 

Kadang benak berfikir apakah ini yang dinamakan teman, sedang aku selalu ada untuk mereka tetapi mereka tidak selalu ada untuku. Ya tetapi ya sudahlah hati mencoba tegar mengihlaskan yang sudah terjadi, yang terpenting mereka semua masih mau mengakuiku sebagai teman.

Aku bisa pergi sendiri untuk menikmati hari mingguku, ya meski tidak dengan siapapun, tetapi yakin pasti aku tetap bahagia.

Malam sudah datang malam yang sangat jahat bagi para jomblo ya maka dari itu malam minggu aku habiskan untuk berbaring menunggu tidur di kamarku. Rencana pagi esok adalah Kalibiru di sanalah tempat yang asri, indah serta jauh dari hiruk pikuk dunia yang sibuk. 

Yang ada adalah orang yang berbahagian menjalani liburan dengan pasangan, keluarga, dan saudar, atau juga teman. Biarlah aku sendiri dari pada menghabiskan minggu di dalam kamarku ini.

Perlahan tapi pasti mata ini mulai berat, hingga secara tidak sengaja mata ini terpejam hingga ingatan lupa segalanya. 

Angin yang berhembus sili berganti ada yang tenang ada yang kuat dan ada yang setengah tenang dan setengah kuat. Terlebih bila waktu sudah masuk jam malam angin tenangpun begitu terasa menusuk tulangku.

Pagi menjelang begitu singkat ku rasakan aku bangun dari ranjangku dan mulai mandi untuk segera bersiap-siap. Setelah mandi aku berkumpul dengan saudaraku yang merupakan paman dan bibiku. Mereka nampak begitu bahagia hari minggun ini di sana berkumpul di meja makan.

"Paman, bibi, hari ini aku mau pergi berjalan-jalan ke kalibiru, kemungkinan pulang sore" ucapku berpamitan kepada paman dan bibiku.

"Iya Za, yang terpenting kau berhati-hati ketika dijalan jangan ngebut-ngebut" ucap bibi dan pamanku.

Usai sarapan pagi aku mulai berangkat menggunakan sepeda motorku. Hari yang cerah menambah semangat kepergianku untuk menikmati alam Jogja pagi ini. 

Sementara itu lalu lintas sedikit tenang karena tidak ada aktivitas produksi di perusahaan-perusahaan, yang ada muda-mudi yang berbahagia ria berjalan berpasang-pasangan.

Sesampainya aku di Kalibiru, aku duduk di bawah pohon yang rindang di sana pemandangan desa begitu jelas terlihat dari ketinggian. Di sisi lain udara juga masih begitu asri dan sangat memanjakan nafas. Mata juga ikut dilayani dengan baik dari berupa hamparan tanaman hijau yang berjejer secara tidak beraturan.

Aku memesan sebuah es kelapa muda dengan diberi susu kental manis dan madu, ini semakin menygarkanku di sini. Ini indah sekali anda aku bisa terbang aku bisa lebih menikmati segala keindahan dari ketinggian yang jauh lebih dekat dengan apa yang ingin ku lihat. 

Termasuk desa kecil yang hanya beberapa rumah di sana. Aku ingin melihatnya tepat dari atas, tetapi memang takdir tidak memberikanku sayanp untuk bisa terbang.

Ya sukuri apa yang ada saja, ini sudah cukup membuatku bahagia dari pada hanya sekedar menatap kamar mandi yang selalu ku bersihkan setiap hari. 

Ini lebih indah bagiku, belum lagi kelapa muda ini begitu segar hingga mengobati dahagaku. Sedang di bawah aku lihat banyak orang yang juga berjalan untuk menikmati permainan yang disediakan oleh penyedia tempat ini.

Permaianannya berupa rumah pohon, dan masih banyak lagi, di sana kita bisa melihat pemandangan dari yang kita inginkan. Sehingga dengan menaiki rumah-rumah pohon yang disediakan kita bisa lebih banyak melihat objek pemandangan yang ada di Kalibiru ini. 

Terlebih cuaca hari ini begitu cerah sangat memanjakan para pengunjung dan aku khususnya untuk tetap berlama-lama di sini mengambil gambar dari objek pemandangan yang indah, dan menakjubkan ini. Mudah-mudahan suatu saat aku bisa kembali lagi di sini dengan membawa pasanganku.(Arif Purwanto)

Monday, July 17, 2017

Cerpen Sahabat Telah Pergi bahasa Indonesia dan Terjemahan

Menyambung dari pembahasan sebelumnya yang masih banyak belum memiliki kesempatan belajar bahasa Inggris, kali ini kita akan lewat media cerita. Cerita yang dimaksud adalah cerpen persahabatan dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. 


Namun, sebelum membaca cerita pendek ini, kami ingatkan bahwa cerita yang akan dimuat adalah versi asli yaitu yang dalam bentuk bahasa Indonesia. Bagi rekan yang ingin membaca atau membutuhkan cerita ini dalam bahasa lain silahkan donwload terjemahan yang dibutuhkan.

Kali ini nuansa yang akan dirasakan adalah sedih dan haru. Pasalnya kisah yang diangkat adalah tentang kepergian seorang sahabat kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kehilangan sahabat yang meninggal dunia, bagaimana rasanya coba, pasti sedih bukan?

Sahabat Telah Pergi ke Sisi-Nya
Cerpen oleh Arif Purwanto

Satu untuk semua dan semua untuk satu persahabatan kami sudah mengurat di dalam urat nadi mengalir bersama darah melalui nadi-nadi yang tersimpan di dalam tubuh kami. Di saat rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk kami. 

Saat sekolah menjadi siksaan yang amat pedih bagi kami, dan di saat kami tak dihargai oleh masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar kami, di saat itulah sahabat terus ada untuk menemani.

Setiap malam kami berkumpul bersama tertawa bersama, mengutarakan pendapat-pendapat gila. Ini konyol bagi orang lain, tetapi ini sangat menarik bagi kami bagi kebahagiaan kami dan bagi kehidupan kami. Inilah yang menjadi kami lebih berarti di bumi sebagai manusia yang tidak dihargai sama sekali bagai sampah kota.

Berbicara keluarga aku mempunyai keluarga yang sudah hancur berantakan, ibuku berselingkuh dan menjual tubuhnya kepada pengusaha, sementara ayahku suka main judi, dan main janda setiap malam. 

Karena tidak ada persamaan paham dan rasa cinta itulah hingga akhirnya pengadilan memutuskan keputusan perceraian mereka setelah terlebih dahulu sebelumnya ayahku telah mentalak tiga ibuku.

Setelah mereka bercerai mereka tidak lagi peduli dengaku, bahkan tidak sekalipun memberikan kabar kepadaku yang merupakan darah daging mereka. Hingga pada suatu ketika aku bertemu dengan kawan-kawan yang mempunyai nasib serupa dengaku kami sering berkumpul di perempatan kota yang terfasilitasi tempat duduk umum. 

Di situlah tempat mengeluh, dan tempat pelarian semua permasalahan-permasalahanku. Keasyikan dari para teman-temanku yang setiap malamnya duduk di perempatan kota itu membuatku lupa bahwa aku pernah mempunyai keluarga yang bercerai. 

Tetapi itu bukan masalah bagiku dan tidak menjadi beban fikiran untukku, karena kedua orang tuakupun tidak sedikitpun memikirkanku.

Selain perempatan jalan yang berada di tengah kota, kami juga mempunyai tempat berkumpul lain yaitu di sebuah gudang tua yang tidak jauh dari perempatan kota. Di sana kami lebih bebas untuk berteriak sekencang-kencangnya menghilangkan segala permasalahan yang menempel di kepala. 

Setelah tertawa lepas dan berteriak-teriak layaknya orang gila kata orang hatiku dan temanku merasa sangat puas. 

"Jar pinjem korek dong" ucap Rizki temanku sambil menepuk pundak dengan mengemut rokok yang belum dibakar.

Aku memberikan korekku kepada Rizki, dan Rizki menggunakannya untuk menghidupkan rokok yang sudah Rizki emut. Sementara itu aku duduk bersama tiga orang teman yang lainnya yang mereka saling mengobrol satu sama lain begitu asyik. 

Aku akrab dengan ketiga temanku yang lain tetapi tidak sedekat seperti halnya dengan Rizki yang sudah aku anggap sebagai saudara kandungku sendiri. Bercerita, mengeluh, bercurhat, bagiku dialah orang yang sangat bisa dipercaya untuk menjaga semua ceritaku. 

Sebenarnya ada teman kami yang malam ini tidak ikut berkumpul dengan kami namanya Evan, entah dimana dia malam ini hingga tidak datang menemui kami.

Sementara raut wajah gelisah mulai menyelimuti aku tidak tahu menahu apa yang sedang aku pikirkan, hingga otaku berfikiran hal-hal yang tidak menentu. 

Sementara itu Rizki dan beberapa temanku melihatiku dengan terheran-heran sepertinya memang mereka mengetahui bahwa memang aku mempunyai masalah. 

Tidak mau membuat mereka khawatir aku menenggak segelas arag untuk membuat pikiranku lebih segar lagi. Dan ini sangat nikmat, otakku tidak sesakit sebelumnya, kegelisahanku juga tidak segila sebelumnya, rasanya hati ingin selalu tertawa.

Sedang di sana temanku juga sudah dalam keadaan mabok, bicara tidak menentu tidak bisa dicerna dengan akal logika, tetapi mereka semua bahagia.

"Kita ke tempat Evan yok" ucapku mengajak teman-temanku ke tempat Evan, yang merupakan teman kami tetapi malam ini tidak ikut ngumpul dengan kami.

Sedang di sana Agus yang sudah dalam keadaan mabok berkata,"Mau ngapain di sana, mau minta duit..? gak bakal di kasih, orang dia aja susah kok" jawabnya karena mengira hendak meminta uang mengingat arag yang kami sajikan sudah hampir habis.

"Bukan itu, ya kita main saja ke sana, biar kita tahu kenapa malam ini dia gak keluar dari rumahnya" ucapku kepada semua temannku.

Kami mulai berdiri berjalan secara sempoyongan ke kiri dan ke kanan, serta ke depan dan belakang. Kami berjalan seperti tertiup angin kencang berusaha menahan tetapi hingga akhirnya terbawa oleh hembusan angin. 

Meski demikian kami bisa mengendalikan diri kami ketika kami sedang mabuk. Hingga difikiran kami yang sudah dipengaruhi oleh pengaruh alkohol ini masih mengingat jalan yang hendak ke rumah Evan.

Sementara ketika kami berjalan di jalan yang luas nan panjang tetapi sepi kami melihat segerombolan geng motor sedang memukuli orang dengan secara keroyokan. Kejadian itu berada di dua ratus meter dari kami berdiri. 

Kami menghampiri para geng motor tersebut dengan jalan sedikit cepat namun dengan posisi jalan yang masih sempoyongan dan hampir jatuh.

"Woy" teriaku kepada para geng motor tetapi tidak jua dihiraukan, akupun dan keempat temanku mendekatinya. Dan menderai pertikaian tersebut. Aku melihat seorang pemuda di sana dipukuli hingg hampir tak sadarkan diri, tubuhnya dilumuri darah. 

Aku melihatnya dari kedekatan, dan di sana ternyata Evan, aku coba melihatnya lebih dekat lagi, dan benar itu adalah Evan.

"Evan..!, jangan biarkan mereka lolos hajar mereka" teman-temanku bertarung satu lawan satu dengan geng motor tersebut.

Sementara Evan sudah begitu sulit untuk berbicara, karena memang lukanya begitu parah, terlebih pertunya terkena tusukan dari para geng motor tersebut.

"Hidupku tidak lama lagi Jar, aku minta tolong kepadamu agar hubungan persahabatan kalian jangan pernah pu.. tus.. – menghembuskan nafas terakhir – Evan telah pergi meninggalkan kami.

Aku berdiri dengan hati diselimuti kemarahan dendam atas meninggalnya sahabatku, aku langsung menyerang para pasukan geng motor tersebut. 

Di situlah sangat di sayangkan geng motor berhasil kabur. Sementara itu aku masih tidak rela dengan kematian Evan ini, aku ingin menuntut balas dengan geng motor yang telah membunuh Evan.

Aku dan temanku membawa jasad Evan ke rumahnya, sesampainya di rumah Evan ari mata orang tuanya tidak terbendung. 

Kami menjadi merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi Evan, tetapi aku bersumpah atas nama jasad Evan aku akan menuntut balas. Entah bagaimana caranya, dan menggunakan cara apapun aku harus bisa menuntut balas kepada geng motor tersebut.

Jasad Evan dibersihkan, dan kemudian diurus untuk kemudian memasuki proses pemakaman. Pemakaman akan dilakukan esok hari, sedang untuk malam ini jasad Evan tetap di rumahnya. 

Di sisi lain para tetangga-tetangga Evan banyak yang berdatangan untuk melihat ataupun berta'ziah. Mereka semua datang dengan wajah yang duka karena merasa kehilangan dari sosok Evan. 

Aku dan kelima temanku masih duduk di sebelah jasad Evan, seketika aku bangun dari ketidaksadaranku menjadi sadar. Tidak ada pengaruh alkohol lagi ketika aku duduk di samping jasad Evan. (Arif Purwanto)