Thursday, July 20, 2017

Cerpen Jomblo Sampai Halal

Cerpen Jomblo Sampai Halal - Sungguh malam minggu yang indah, ku habiskan di masjid untuk membaca al-quran dan juga meminta kemudahan dalam menjalani hidup. Di kota yang begitu sibuk dan juga begitu padat ini yang dipenuhi dengan kehidupan yang penuh gemerlapan aku merasa menjadi manusia yang sangat aneh.

Cerpen Jomblo Sampai Halal
Cerpen  Bahasa Inggris Jomblo Sampai Halal

Karena aku harus melakukan apa yang tidak aku lakukan, sementara itu orang lain selalu menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, di kala usia remaja yang katanya hanya satu kali dan tidak pernah akan kita dapatkan lagi. 

Untuk itu mereka menghabiskannya untuk bersenang-senang dengan para pasangannya masing-masing.

Tetapi meski aku bertindak tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan, karena malam minggu aku memilih untuk menghabiskan waktuku di masjid, tetap ada kebahagiaan yang tidak tergantikan. 

Karena di sini aku merasakan ketenangan mendengarkan lantunan suara AL-Quran dan membacakannya untuk diriku sendiri dan orang lain yang ada ikut menghabiskan malam minggunya denganku di masjid.

Dari orang-orang yang datang ke masjid terlihat di situlah aku yang paling muda, maka tidak tentu menjadi pemandangan yang langka di kota metropolitan ini ada gadis yang menghabiskan malam minggunya di masjid untuk membaca al-quran bersama dan mendapatkan siraman rohani.

Malam masih begitu panjang, karena ini masih jam delapan, dan belum ada separuh dari malam yang akan berjalan. 

Sementara aku baru saja menyelesaikan satu jus membaca ayat al-quran. Kini tiba saatnya pak ustad yang menyampaikan ceramahnya untuk kami semua jamaah yang datang ke masjid.

Tidak banyak jamaah yang datang ke masjid, hingga inilah yang menjadi kecemasan pak ustad yang dia sampaikan di dalam ceramahnya. 

Jaman yang sudah modern menggantikan iman di hati sehingga masjid menjadi sepi dan tidak ada lagi yang mau datang ke masjid.

Tetapi beruntung meski hanya dua puluh orang jamaah yang datang, dan akulah yang paling muda, semuanya antusias mendengarkan ceramah dan membaca al-quran bersama.

Tak lama kemudian ada ibu-ibu yang baru datang, dia masuk lewat pintu belakang khusus perempuan. Ibu-ibu tua tersebut selanjutnya berdiri mengambil barisan di sampingku.

"Assalamulaikaum, - Memperlihatkan wajah penuh senyum dan belum duduk- Maaf bapak-bapak, dan ibu-ibu sekalian, saya telat".

"Iya tidak apa-apa ibu – Ungkap Pak ustad – Silahkan duduk ibu,".

Ibu tua kemudian duduk di sampingku sambil menatap senyum ramah kepadaku. Sedikit raut wajah heran ketika dia melihatku," Adek salut masih muda rajin ke masjid", duduk sambil meletakan tangannya di lantai.

"Iya ibu, bingung di rumah enggak ada kegiatan jadi ikut pengajian rutin setiap malam minggu – Ungkapku sedikit tersipu malu dengan sang ibu tua – ibu tinggal dimana..?".

"Aku tinggal tidak jauh dari masjid dekat toko sparepart motor, kau tinggal dimana anak cantik..?", ungkapnya dengan suara sangat lembut.

"Aku tinggal di seberang jalan menuju rumah sakit Welas Asih bu – Ungkapku sambil memperlihatkan sedikit gigi depanku – ibu namanya siapa..?".

"Aku ibu Mayang, mampir ke rumah anak cantik ke tempat ibu – ungkap ramahnya – namamu siapa anak cantik".

"Aku Lestari ibu, ya kalau ada waktu pasti Lestari mampir buk", ungkapku kepada ibu Mayang.

"Kau tidak main, dan kekasihmu tidak datang malam ini, ini kan malam minggu, malanya para anak muda", ungkap ibu Mayang.

"Hehehe – Senyum tersipu – Aku tidak punya pacar ibu".
"Masa gadis cantik sepertimu tidak punya pacar –Ungkapnya tidak percaya dengan ungkapanku".

"Ya mungkin aku belum dipertemukan dengan jodohku ibu, lagi pula aku juga ingin mencari orang yang tepat yang bisa benar-benar ku jadikan imamku besok", ungkapku dengan sang ibu.

"Ya mudah-mudahan kau cepat mendapatkan jodoh ya nak – Mendoakan dengan sangat tulus ".
"Amin ibu".

Kami saling diam dan satu sama lain memperhatikan pak ustad yang sedari tadi kami tidak perhatikan karena kami terlalu asyik mengobrol. 

Tetapi setidaknya ibu Mayang ini adalah ibu yang sangat menjiwai sekali menjadi ibu dan aku merasa seperti mengobrol dengan ibuku sendiri.

Tak lama setelah kami kembali fokus menyimak ceramah dari pak ustad, ceramah telah usai, hingga sedikit ada rasa penyesalan karena tidak mendengarkan ceramah dengan baik. Tetapi ya sudahlah lain waktu tentu aku masih bisa mendengarkan ceramah dari pak ustad.

Acara pengajian usai, sementara para jamaah sibuk berjalan dengan sedikit berdesakan, tetapi tidak lama karena jumlah jamaah yang tidak terlalu banyak.

Sementara itu ibu Mayang menepuk pundakku "Kau mau mampir tempat ibu tidak..?", tanyanya sambil berjalan maju menuju pintu keluar.

"Iya ibu terimakasih, ini sudah malam, mungkin lain waktu aku akan main ke rumah ibu – Jawabku dengan sedikit senyum yang dibuat".

Hingga tak lama kedua orang tuaku yang berada di barisan lain menghampiriku yang sedang berjalan keluar,"Hey Lestari tunggu ibu nak – ungkap ibuku memanggilku menahanku untuk menghentikan langkah".

"Iya ibu, ayo – Aku menghentikan langkah dan mengajak kedua orang tuaku berjalan bersama".

Sementara ibu Mayang melihat ibuku yang memanggilku dengan sedikit tersenyum dan kemudian berkata,"Bu – tersenyum tanpa mempelihatkan gigi".

Ibukupun membalas senyum dari ibu Mayang dan kemudian berkata,"Mari bu duluan – Ungkap ibuku berjalan dengan ayah dan aku mendahului ibu Mayang".

"Iya ibu" – Ungkap ibu Mayang berjalan berlainan arah denganku dan orangtuaku.

Hati terasa lega bisa bermunajat banyak hal kepada sang pencipta malam ini. Sementara itu jalan kecilku dan orang tuaku di warnai keceriaan saling bercanda tawa dan memamerkan harmonisnya keluarga kami kepada orang-orang yang duduk di pinggir jalan.

Kami tidak memperdulikan muda-mudi yang kami lewati yang asyik dengan tawa lepas tanpa adab, yang juga terlihat saling memadu kasih di pinggir jalan di bawah atap warung makan yang tidak terlalu besar tetapi sangat ramai.

Ya bukan barang yang langka sekali di sekitar tempat tinggal kami anak-anak muda yang menghabiskan malam minggunya dengan pasangannya. 

Karena pada malam inipun kami mendapati anak perawan yang menggunakan pakaian ketat jalan dengan kekasihnya sambil berpelukan padahal mereka belum muhrim.

Tetapi beruntung ayah dan ibuku selalu mengajar dan mendidik aku dengan baik sesuai dengan nilai-nilai agama. 

Hingga tumbuhnya aku menjadi dewasa nilai-nilai agama yang ditanamkan oleh orangtuaku telah mendarah daging di dalam diriku. Karena ajaran orang tuaku itulah hingga akhirnya selalu berusaha melewati jalan yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai agama.

Tidak terkecuali dengan pacaran, yang belum pernah aku merasakan pacaran, karena memang tidak ada keinginan untuk pacaran sebagai mana para muda-mudi yang lain. 

Bahkan aku berani berkata dengan lantang kepada pemuda yang menyukaiku dengan ungkapan,"Kalau memang suka temui orang tuaku", tetapi hingga saat ini belum ada pemuda yang ku kenal berani menemui orang tuaku. 

Maka tak heran hingga saat ini pun aku belum dipertemukan dengan jodohku. Tetapi aku akan tetap bersabar dan akan menjaga setatus jombloku sampai halal. (Arif Purwanto)