Wednesday, July 19, 2017

Cerpen Mimpiku Dengan Ayah dalam Bahasa Indonesia

Kedekatan anak dan orang tua tentu tidak perlu diragukan lagi. Keduanya, baik ayah maupun ibu tentu sangat berharga. Nah, kali ini kita akan mengangkat sebuah cerpen tentang seorang bapak atau ayah. Cerita pendek berikut ini berjudul "mimpiku dengan ayah". Seperti apakah ceritanya?

Cerpen Mimpiku Dengan Ayah dalam Bahasa Indonesia

Ya kalau ingin tahu ceritanya seperti apa ya harus baca. Atau bisa juga, kalau tidak mau baca bisa tanya langsung sama penulisnya. He... he... he... bercanda kok. Yang jelas ceritanya adalah tentang pengalaman kedekatan seorang anak dengan sang ayah. Tentu, kalau melihat judulnya mungkin suasananya bahagia, tapi mungkin juga tidak.

Dilihat dari panjang cerpen tersebut, cerita ini termasuk singkat, hanya berkisar sekitar 100 kata, kurang lebih 1 halaman kertas. Kalau hanya satu lembar kertas kan tidak terlalu panjang ya, tidak akan membosankan juga. Ya sudah, lebih baik kita langsung ke cerpen ayah tersebut.

Cerpen Mimpiku Dengan Ayah
Cerita Oleh Arif Purwanto

Pagi ini aku begitu bahagia karena ayah akan mengajaku ke sebuah tempat yang indah untuk kita bersenang-senang. Tetapi ayahpun belum mengatakan kemana kita hendak pergi. 

Katanya, ini adalah kejutan dan hadiah karena keberhasilanku mendapatkan juara satu di kelas sekolah dasar. Hatiku bertanya-tanya dan fikiranku selalu membayangkan tentang bagaimana suasana tempat yang akan ditunjukan kepadaku.

Mobil kami sudah berjalan hilir kendaraan juga tidak terelakan karena ini adalah jalanan umum. Sementara aku, ayah, dan ibu diam sejenak tanpa obrolan karena otak sedang begitu fokus dengan perjalanan yang kami lalui.

Aku dan keluargaku menikmati huru-hara suara nyanyian kendaraan yang melintas di samping kami. Kami juga mendengar jeritan telakson mobil dan motor yang secara tidak sabar ingin mendahului kami. Tetapi untunglah tidak terjadi apa-apa dari begitu cepatnya mobil yang menyalip kami.

Ayah,"Sebentar lagi kita sampai di tempat tujuan".
Aku,"Wah yang benar, berapa jauh lagi".
Ayah,"Gak jauh paling 500 meter".

Sampailah kami di tempat yang dimaksud oleh ayahku, ternyata tempat tersebut adalah tempat taman bermain air terbesar di kota kami. Aku segera membuka pintu kiriku dan tidak sabar ingin cepat-cepat masuk ke dalamnya.

Sementara itu ibuku juga turun dari pintu kiri, sedangkan ayah keluar dari pintu kanan. Karena letak tempatnya di seberang jalan maka kami harus terlebih dahulu menyeberang, di lalu lintas kendaraan yang tidak terlalu padat tetapi begitu banyak kendaraan melintas dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Aku di gandeng oleh ibuku sementara ayahku berjalan sendiri mendahului kami menyeberang. Belum sempat aku melangkahkan kaki, aku sudah melihat ayahku tergeletak di tengah jalan dalam keadaan darah yang mengalir deras di bagian kepala. 

Mobil dengan kecepatan tinggi telah tega pergi tanpa bertanggung jawab usai menabrak ayahku. Aku dan ibuku segera berlari saja ke tengah jalan dan langsung berusaha menolongnya. Sementara wajah ibuku sudah terpenuhi dengan air mata serta suara tangis marah yang terus keluar.

"Ayah, bangun ayah", ungkap ibuku yang memeluk sang ayah yang sudah pingsan dengan berlumuran darah di kepala.

Sementara aku juga menggoyang – goyangkan tangan ayah untuk membangunkannya dengan wajah yang juga dipenuhi dengan air mata.

Tak lama masyarakat datang dan mengankat ayah membawanya ke mobil kami dan kemudian menuju ke rumah sakit. 

Tangis terus mengiringi pengantaran ayahku ke rumah sakit, sesampainya ayahku sudah mendapatkan penanganan ibuku dan aku belum kuat untuk menahan air mata kesedihan ini.

Gelisah menyelimuti wajah aku dan ibuku, ibuku terus saja memeluku sambil terus berselimutkan kesedihan menunggu jawaban dokter dari upaya menolong ayahku. Hingga lma menit berselang sang dokter keluar dengan keadaan wajah yang sudah begitu datar tanpa senyum.

Ibuku berlari dan mendekati dokter berkata,"Bagaimana dengan keadaan suami saya dokter".

Sang dokter tidak langsung menjawab semacam berfikir dari kata apa dia hendak mengucap untuk menerangkan kenyataan yang telah dia lihat. "Bagaimana dokkter keadaan suami saya", ungkap ibuku terus mendesak sang dokter.

Sang dokter berbicara dengan nada yang sedikit sungkan,"Suami ibu sudah berpulang kepada yang maha kuasa, kami sudah berusaha sekuat tenaga tetapi tidak bisa membuat suami ibu tertolong", berbicara dan kemudian pergi.

Sementara hatiku begitu hancur ditinggal oleh seorang ayah yang begitu aku sayangi dan aku cintai. Baru saja aku hendak menikmati kebahagiaan dalam kebersamaan dengan sang ayah tetapi malah maut yang kemudian yang menggantikannya.

Ini sungguh hal yang berat untukku, sangat berat untuk anak seusiaku, aku masih begitu butuh kasih sayang ayah, tetapi mau yang merusak semua itu hingga kasih sayang ayah tidak sampai kepadaku.

Jasad ayah langsung di bawa ke rumah dan kemudian dimandikan dan setelah itu di kubur. Seperti aku ibupun belum begitu kuat menerima kenyataan bahwa ayah telah pergi dari dunia ini meninggalkan kami. 

Dengungan suara tangis dari mulutnya dan membeludaknya air mata dari matanya menjadi pertanda bahwa memang berat ditinggal oleh seorang yang memang dia cintai.

Usai tanah sudah membungkus jasad ayah, dan kini hanya kenangan ayah yang bisa aku lihat dan tidak untuk jasad, dengan berat hati aku meninggalkan kuburan ayahku. Aku hanya meminta kepada tuhan agar ayahku diberikan tempat yang layak di sisi tuhan, karena aku tahu ayahku adalah orang yang baik.

Malam menjelang, inilah kali pertamaku melewati malam tanpa ayah, sementara ibuku masih berselimutkan tangis membaca lantunan surat Yasin. Tubuh ini begitu lelah karena malam sudah begitu larut, dan akupun melihat ibuku sudah tertidur setelah selesai membaca al-quran.

Mulai ku memjamkan mata dengan mebaringkan tubuh di kasur yang tidak seberapa empuk, seketika aku lupa dengan dunia.

"Hey Rendi", suara seorang laki-laki sambil menepuk pundaku.

Seperti ku kenal dengan suara ini otaku berfikir keras tentang siapa yang menepuk pundaku dan memanggilku. Aku teringat dengan suara ayah, yah aku yakin itu adalah suara ayahku.

Aku berbalik badan dan ternyata benar itu adalah ayahku,"Ayah masih hidup", langsung saja aku memeluknya.

"Ya ayah masih hidup sayang, ayah ingin mengajakmu ke tempat yang sangat indah", ungkap ayahku dengan wajah yang berbinar-binar.

"Kemana ayah", senyum wah datar karena penasaran kemana ayah akan mengajaku.

Ayah menggendongku dan membawaku berjalan di permukaan lantai yang putih, tiada warna lantai yang lain selain dari pada putih. 

Selain itu aku juga melihat atap dan dinding yang juga mempunyai warna yang sama dengan lantaia, semuanya putih. Aku semakin penasaran dimanakah aku.

Di sini tidak ada pepohonan seperti halnya yang biasa ku lihat ketika di rumahku. Hingga ayah membawaku ke satu pintu, di situlah kemudian pintu itu di buka nampak di situ sungai yang mengalir deras, hutan yang begitu hijau, dan banyak hewan yang bernyanyi menyambut kami.

"Ayah ingin main denganmu di sungai ini", ungkap ayahku dengan tersenyum.
"Tentu ayah, aku juga ingin bermain dengan ayah".

Aku dan berjalan dengan ayah masuk ke dalam air yang begitu jernih itu dan sambil melempar-lempar percikan air satu sama lain. Aku begitu bahagia bisa bertemu dengan ayah dan bermain dengan ayah.

Dan mata terbuka, ternyata itu hanyalah bunga tidur yang timbul karena kerinduanku kepada ayah. Ku ucapkan kalimat istighfar, untuk memohon ampun atas hati dan fikiran yang belum bisa mengikhlaskan kepergian orang tuaku. 

Aku hanya bisa berharap  bahwa aku kelak akan bertemu dengan ayah di surga, dan bisa bermain bersama di sungai yang mengalir yang ada di surga sana. (Arif Purwanto)


--- Tamat ---

Sebenarnya cerita pendek tentang ayah di atas akan dibuat atau dibagikan dalam dua versi bahasa yaitu bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris. Tetapi karena keterbatasan waktu maka kita siapkan yang Indonesia terlebih dahulu. Rekan yang membutuhkan versi Inggris bisa download versi terjemahan dari tautan yang disediakan.