Tuesday, July 25, 2017

Cerpen Mimpiku Pergi ke Pantai Parang Tritis

Cerpen Mimpiku Pergi ke Pantai Parang Tritis - Seminggu sudah aku hanya menatap indah Parang Tritis lewat sebuah komputer melalui akses internet nir-kabel. Nampak indah untuk dilihat tanpa aku bisa membayangkan bagaimana bila aku bermain pasir, air, di sana.


Karena mungkin belum sekalipun aku bisa ke sana sehingga bayangan tentang seperti apa rasanya berlibur di sana belum ada. 

Tetapi bila di pandang dari sebuah foto yang aku dapat dari internet, Parang Tritis adalah pantai yang indah, pasirnya putih, dan lautnya bersih. Sungguh bahagia bila aku bisa menghabiskan waktuku di sana.

Gaya manja terus ku perlihatkan kepada orang tuaku, bahwa itulah sifatku ketika aku mempunyai sebuah keinginan. 

Aku ingin sekali orang tuaku mengerti bahwa Parang Tritislah tempat yang sangat ingin aku jumpai. Sehingga kalimat pujian, tutur kata santun terus ku lontarkan kepada ibu dan ayahku untuk meluluhkan hati mereka agar aku diberi izin dan diantarkannya ke sana.

Tetapi memang tidak mudah membujuk dan merayu ayah dan ibuku terlebih mereka sudah termakan dengan cerita kisah mengerikan yang tersimpan dalam pantai Parang Tritis. 

Konon di sana bersemayam seorang siluman berwujud wanita cantik, yang siap membawa siapa saja yang memakai baju hijau ke alamnya. Tetapi aku tidak percaya dengan hal itu, karena tidak bisa diserap oleh akal logikaku. 

Tetapi kepercayaan yang kolot orang tuaku yang diajarkannya secara turun-temurun membuatku tidak diberikan ijin ke sana.

Langit termendung seolah dia tahu kesedihanku tidak diberikan ijin untuk kepergianku ke Parang Tritis. Tetapi dalam hati hanya bisa berkata tidak perlulah langit bersedih melihatku seperti ini. 

Toh kesedihan langit tidak ada artinya bagiku, tetap saja aku hanya bisa di dalam kamar tanpa bisa pergi ke Parang Tristis di masa liburan ini. Mungkin liburan ini adalah liburan yang sangat jahat untukku, tidak seperti liburan kemarin keinginanku terpenuhi pada liburan kemarin.

Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, itulah benakku berbicara, sehingga Parang Tritis yang kuinginan harus bisa aku dapatkan. 

Sebuah cara tentu aku fikirkan keras dalam otaku yang hanya mempunyai ukuran beberapa senti saja. Aku belum tahu cara apa, benar atau salah, bagus atau baik, efektif ataupun tidak efektif cara yang akan ku temukan dalam otaku ini. 

Yah lampu berpijar terang dalam otakku, tanda aku mendapatkan sebuah ide untuk bisa sampai ke Parang Tritis.

Mungkin hanya pergi dengan secara diam-diam itulah cara untuk bisa sampai ke Parang Tritis. Kebetulan setahun yang lalu sampai dengan sekarang aku selalu rajin menyisihkan uang jajanku di perut ayam yang terbuat dari tanah liat itu. 

Mungkin aku bisa menghancurkan tubuh ayam itu untuk mendapatkan uangku untuk bekal perjalananku ke sana. Prak Prak – pukulan palu mengenai celengan ayam – wah ini uangnya banyak. 

Aku mengambil uangku dan menghitungnya. Terdapat jumlah keseluruhan uangku adalah 500 ribu. Ini sangat cukup untuk perjalanan dan makan ketika kepergianku ke Parang Tritis.

Mengingat Parang Tritis hanya bisa ditempuh dua setengah jam dari rumahku. Dekat sebenarnnya tetapi orang tuaku selalu enggan untuk mengantarkanku ke tempat tersebut. 

Maka dengan terpaksa aku harus pergi sendiri secara diam-diam karena aku begitu menginginkan untuk pergi ke parang tristis. Terlebih benaku sudah berkata apa yang aku inginkan selalu aku dapatkan, mungkin inilah cara menjawab kicauan benak yang selalu datang ketika keinginan hati hampir tidak terpenuhi.

Aku berdiri di samping jalan nan ramai, masih pagi tetapi cuaca sudah mendung, aku tidak tahu mendungnya langit karena tersedih melihatku atau justru ada karena secara alami. 

Kalau mendungnya langit karena tersedih tentu kurang masuk akal, seharusnya langit saat ini bergembira melihatku hendak pergi ke Parang Tritis. Tetapi kenyataannya langit masih termenung mendung tanpa ada keceriaan di wajah hingga bosan ku melihatmya.

Ya biarlah saja langit termenung memperlihatkan murung wajah yang sangat tidak enak untuk dipandang, jangankan memberikan senyum kepadaku melihatku saja sudah enggan. Sekali saja terserah kau langit, aku tidak peduli, aku hanya ingin pergi ke Parang Tritis saat ini. 

Makiku dalam hati melihat langit dengan muka jeleknya seoalah tidak suka dengan kepergianku. Langit menangis, ribuan air tertumpah turun ke bumi, debu sarang penyakit beterbangan, sementara aku berlari ke sebuah kios untuk berteduh.

Memang sulit sekali menenangkan langit yang tersedih, bagai anak kecil yang kehilangan dotnya, bahkan ku rasakan lebih sulit dari itu. 

Anak kecil bisa tenang hanya bila diberi dot, tetapi langit, bagaimana langit bisa tenang dan harus diberi apa biar langit bisa tenang. 

Itulah pertanyaan bodoh yang membuatku merasa larut dalam rasa bersalah, seolah-olah akulah penyebab kesedihan langit yang mengakibatkan ribuan bahkan jutaan liter air tertumpah ke bumi.

Kesedihan langit tambah menjadi-jadi dia berteriak-teriak lebih keras dari pada bayi, suaranya menggelegar dan menghasilkan aliran listri yang cukup besar. Tentu tubuhku akan gosong bila terkena guntur yang menyambar-nyambar tanpa melihat-lihat itu. 

Langit sungguh keparat dia berusaha mencegah kepergianku untuk ke Parang Tritis. Ya gara-gara sikap kekanak-kanakannya aku hanya bisa berwisata di kios buntut dengan cat pudar di bagian temboknya, tidak bisa ku melihat pantai dengan pasir putih bersih dan air laut yang jernih.

Hancur semua rencanaku karena hujan ini telah menghentikan aktivitas kota, dari transportasi hingga ekonomi. Saat ini aku hanya bisa dikepung oleh para bala tentara pasukan air dari langit, sedang di sana ada angin kencang yang mengendalikan air turun ke bumi. 

Yang lebih mengerikan lagi senjata maha canggih listrik dengan kapasitas daya yang sangat tinggi yang bisa merenggut nyawaku bila terkena tubuhku.

Aku bagai pecundang yang sudah tidak punya kekuatan apa-apapun, tidak punya pasukan, tidak punya senjata, tetapi menolak untuk menyerah dan bersembunyi di kios buntut. Sementara di sana musuhku langit terus melancarkan guntur-gunturnya yang mematikan itu. 

Suaraku yang lantang memaki sang langit tidak ada lagi, diganti dengan suara ketakutan melihat guntur yang mampu membungkam nyaliku. Sudah menyesal itu pasti karena ku sudah mengejek muka langit yang jelek hingga langit berubah menjadi liar dan tak terkendali.

Biarlah mimpiku ke Parang Tritis hanya sekedar mimpi, karena aku tidak berdaya melawan langit dengan ribuan bala tentarannya. Yang mungkin ini adalah pertarungan yang sangat tidak sebanding bila memang dinilai oleh wasit itupun bila ada wasitnya. 

Tetapi ini adalah pertarungan liar tanpa wasit dan tanpa peraturan, yang kuat boleh sesuka menindas yang lemah, seperti kaum kapitalis menindas para kaum proletar, tangis tidak berdaya proletar tidak sedikitpun merubah pikiran kapitalis untuk terus menindas. (Arif Purwanto)