Monday, July 24, 2017

Cerpen Pengalaman, Ceritaku di Cianjur

Cerpen Pengalaman, Ceritaku di Cianjur - Semilir hawa angin yang telah terkontaminasi dengan panas dari paparan sinar matahari, saling bergulat panas dan dingin hingga tidak cukup untuk membuatku sejuk bagai di sebuah gundukan salju.


Buku saku pun tidak luput dari genggaman dan kemudian difungsikan sebagai penambah angin untuk menyegarkan suasana dan mendinginkan tubuhku.

Sementara keadaan lalu lintas kota selalu menadapatkan puncaknya setiap hari, tidak terkecuali dengan hari ini. Dua jam lebih kami terjebak macet tanpa ada hal lain menarik yang bisa dilakukan selain dari pada mendengarkan musik di tengah panasnya Jakarta.

Pendingin mobil kami kebetulan sedang dalam keadaan rusak karena belum sempat untuk diperbaiki, sehingga kami harus menahan begitu saja rasa panas ini.

Kami bertiga hendak melakukan perjalanan ke sebuah air terjun yang ada di Cianjur, di sana kami akan berlibur untuk kurang lebih tiga hari. Sembari mendinginkan fikiran, mendinginkan tubuh, dan mendinginkan segala-segala masalah yang ada di benak kami.

Kota Jakarta yang panas, padat, dan sibuk tentulah membuat siapa saja yang tinggal di Jakarta akan muda bosan.

Karena di Jakarta tidak didapati sebuah pepohonan yang begitu hijau, sungai yang mengalir indah hingga menyejukan mata dan fikiran. Dan burung-burung-burung menyanyi yang menenangkan hati dan telinga.

"Kita sudah dua jam lebih ini di dalam mobil", ungkapku sambil mengelap kening dengan sehelai tisu dan kemudian menggulungnya serta membuangnya ke luar mobil.

"Iya ini, mau sampai kapan si", sahut Roni sambil mengkipas wajahnya yang sudah terbasuh keringat bercucuran.

"Ya sabar aja, emang lagi macet mau bagaiman lagi, masa iya kita mau terbang hehe", ucap Rian sambil tersenyum untuk mencairkan suasana, dengan posisi tangan diatas lingkaran setir.

"Argghhh", Ungkap Roni buang muka ke kanan.

Tak lama kemudian lalu lintas dapat bergerak, dan kami bisa berjalan kembali, keceriaan sedikit terlimpah kepada kami. Meskipun sedikit keceriaan tetapi hati berharap agar keceriaan ini terus berlanjut. Dan lalu lintas berhenti lagi,"Aduh, baru aja jalan udah berhenti lagi, gerah ini", ungkapku marah dengan lalu lintas yang tak kunjung jalan.

"Sabar Bima – Masih tersenyum melihatku – Pasti lalu lintasnya jalan kembali".
"Tu kan – Lalu lintas sudah mulai bergerak dengan sangat perlahan dan berhenti lagi – Bikin sabar aja lama-lama kan bisa sampai kalau terus jalan".

"Ya terserah kau sajalah Roni, aku benar-benar muak dengan jalan raya ini yang penuh mobil, mungkin bila ku kaya, ku punya kekuasaan aku enggan melintasi jalan ini – Ratap nasib tersiksa kepanasan – Aku tentu sudah memakai helikopter, lebih cepat sampai dan aman dari kemacetan".

"Ya ku doakan kau cepat kaya – Masih dengan sikap dewasa yang selalu menjadi penyejuk kemarahanku dikala kemacetan yang begitu lama ini terjadi – kan sekarang sudah jalan lagi kan".

Mobil kami mulai berjalan dengan lancar kembali, sementara itu jendela mobil kami terus dalam keadaan terbuka untuk memungkinkan udara masuk ke dalam mobil kami dan menyapu bersih rasa panas kami.

Empat jam sudah kami berjalan menggunakan perjalan darat, hingga sampailah mobil kami di tempat penginapan. Di sini adalah tempat penginapan yang akan kami gunakan untuk tinggal sementara di sini, sementara air terjunnya sudah cukup dekat dengan penginapan kami, yang dapat ditempuh perjalanan kaki selama setengah jam.

Kami mulai menurunkan tubuhku dari mobil yang benar-benar panas ini – Akhirnya, sampai juga kita – sambil mengangkat kedua tangan mengencangkan seluruh anggota tubuh, nampak suara urat yang tertarik.

Sementara itu suasana di sekitar penginapan tidaklah panas seperti ruangan di dalam mobil kami yang pengap dengan sedikit bau bahan bakar dan juga panas. Di sini nampak begitu segar hingga membuatku terpejam untuk sejenak menikmati suasana di Cianjur ini.

"Oh ini, ini enak sekali nampak ku temukan energi yang tidak pernah ku temukan di kota hingga nampak energi itu membuatku menjadi lebih nyaman – Sambil mengangkat kedua tangan bagai pemain filim kapal Titanic, hanya saja tanpa lawan pasangan yang berada di depan".

Sementara itu teman-temanku sudah masuk semua ke dalam kamar penginapan – Hey ayok masuk – Mengeluarkan kepalanya keluar pintu melihatku dan kemudian masuk ke dalam".

Sedikit terkejut, langsung saja ku menghentikan dramaku menikmati suasana maha sejuk di Cianjur ini,"Iya" – Aku berjalan masuk ke dalam penginapan.

Sementara ku lihat Roni sedang mengeluarkan isi tasnya dan kemudian menata pakaiannya di dalam lemari yang sudah disediakan. Sementara itu Rian juga melakukan hal yang sama.

Kamar yang kami pesan tidak terlalu mewah, hanya saja ini sudah cukup nyaman, dengan kasur Sprimbet dengan tiga bantal, satu buah lemari, satu televisi dan satu kamar mandi dengan pintu transparan buram.

Aku tidak tahu apakah temanku bisa melihatku ketika ku sedang bertelanjang mandi di dalam kamar mandi. Yang pasti lampu akan selalu ku matikan ketika aku mandi.

Aku mulai mengeluarkan pakaianku dari tasku – ah tidak aku melupakan baju kesayanganku – Tekejut setelah mendapati baju kesayangan tidak ada di tas.

Roni dan Rian melihatku sambil terpanah heran – Yang terpenting kan kau membawa pakaian – Ungkap Rian sambil memasukan baju ke gantungan baju kawat.

Tanpa berkata-kata dengan wajah gelisah, tetapi ya sudahlah hati coba mengihklaskan. Dan mulaiku menata baju-bajuku di lemari menggunakan gantungan pakaian. Sementara Roni dan Rian sudah duduk di atas kasur yang tidak seberapa empuknya itu sambil menonton televisi.

Hari masih siang, karena merasa begitu bosan di penginapan maka kami putuskan untuk pergi ke air terjun yang menjadi tujuan awal kami.

Kami berjalan dengan membawa perlengkapan kebutuhan saja, dan ala kadarnya saja. Tidak terlalu berlebihan, mulaiku melintasi medan-medan mennurun serta menanjak.

Di sini sudah ada jalur khusus untuk bisa sampai ke air terjun tujuan kami, sehingga kami hanya perlu mengikuti jalurnya saja untuk bisa sampai ke air terjun. Setelah menaiki tangga yang cukup curam dan melelahkan kami harus melewati turunan yang sama berbahayannya karena curam.

Sehingga kami perlu berhati-hati untuk bisa sampai ke air terjun secara selamat. Sementara itu suara air yang terjatuh secara bersamaan dari air terjun sudah nampak menyambut kami. Di sana nampak banyak orang yang juga sedang berenang di sekitar perairan air terjun.

Dan kami menjadi tidak sengaja, langsung saja kami berlari setelah melintasi turunan yang begitu curam dan tanpa berfikir panjang meletakan tas dan juga melepas baju dan kemudian masuk ke dalam air. Air ini begitu menyejukan, tetapi aku belum puas begitu saja, aku berjalan ke tengah tepat di bawah air terjun.

Dan nampak kepala ini seperti dipukul dengan benda keras, karena jumlah air yang mengenai kepalaku yang terlalu banyak. Sehingga sakit bila terkena kepala. (Arif Purwanto)