Monday, July 17, 2017

Cerpen Sahabat Telah Pergi bahasa Indonesia dan Terjemahan

Menyambung dari pembahasan sebelumnya yang masih banyak belum memiliki kesempatan belajar bahasa Inggris, kali ini kita akan lewat media cerita. Cerita yang dimaksud adalah cerpen persahabatan dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. 


Namun, sebelum membaca cerita pendek ini, kami ingatkan bahwa cerita yang akan dimuat adalah versi asli yaitu yang dalam bentuk bahasa Indonesia. Bagi rekan yang ingin membaca atau membutuhkan cerita ini dalam bahasa lain silahkan donwload terjemahan yang dibutuhkan.

Kali ini nuansa yang akan dirasakan adalah sedih dan haru. Pasalnya kisah yang diangkat adalah tentang kepergian seorang sahabat kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kehilangan sahabat yang meninggal dunia, bagaimana rasanya coba, pasti sedih bukan?

Sahabat Telah Pergi ke Sisi-Nya
Cerpen oleh Arif Purwanto

Satu untuk semua dan semua untuk satu persahabatan kami sudah mengurat di dalam urat nadi mengalir bersama darah melalui nadi-nadi yang tersimpan di dalam tubuh kami. Di saat rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk kami. 

Saat sekolah menjadi siksaan yang amat pedih bagi kami, dan di saat kami tak dihargai oleh masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar kami, di saat itulah sahabat terus ada untuk menemani.

Setiap malam kami berkumpul bersama tertawa bersama, mengutarakan pendapat-pendapat gila. Ini konyol bagi orang lain, tetapi ini sangat menarik bagi kami bagi kebahagiaan kami dan bagi kehidupan kami. Inilah yang menjadi kami lebih berarti di bumi sebagai manusia yang tidak dihargai sama sekali bagai sampah kota.

Berbicara keluarga aku mempunyai keluarga yang sudah hancur berantakan, ibuku berselingkuh dan menjual tubuhnya kepada pengusaha, sementara ayahku suka main judi, dan main janda setiap malam. 

Karena tidak ada persamaan paham dan rasa cinta itulah hingga akhirnya pengadilan memutuskan keputusan perceraian mereka setelah terlebih dahulu sebelumnya ayahku telah mentalak tiga ibuku.

Setelah mereka bercerai mereka tidak lagi peduli dengaku, bahkan tidak sekalipun memberikan kabar kepadaku yang merupakan darah daging mereka. Hingga pada suatu ketika aku bertemu dengan kawan-kawan yang mempunyai nasib serupa dengaku kami sering berkumpul di perempatan kota yang terfasilitasi tempat duduk umum. 

Di situlah tempat mengeluh, dan tempat pelarian semua permasalahan-permasalahanku. Keasyikan dari para teman-temanku yang setiap malamnya duduk di perempatan kota itu membuatku lupa bahwa aku pernah mempunyai keluarga yang bercerai. 

Tetapi itu bukan masalah bagiku dan tidak menjadi beban fikiran untukku, karena kedua orang tuakupun tidak sedikitpun memikirkanku.

Selain perempatan jalan yang berada di tengah kota, kami juga mempunyai tempat berkumpul lain yaitu di sebuah gudang tua yang tidak jauh dari perempatan kota. Di sana kami lebih bebas untuk berteriak sekencang-kencangnya menghilangkan segala permasalahan yang menempel di kepala. 

Setelah tertawa lepas dan berteriak-teriak layaknya orang gila kata orang hatiku dan temanku merasa sangat puas. 

"Jar pinjem korek dong" ucap Rizki temanku sambil menepuk pundak dengan mengemut rokok yang belum dibakar.

Aku memberikan korekku kepada Rizki, dan Rizki menggunakannya untuk menghidupkan rokok yang sudah Rizki emut. Sementara itu aku duduk bersama tiga orang teman yang lainnya yang mereka saling mengobrol satu sama lain begitu asyik. 

Aku akrab dengan ketiga temanku yang lain tetapi tidak sedekat seperti halnya dengan Rizki yang sudah aku anggap sebagai saudara kandungku sendiri. Bercerita, mengeluh, bercurhat, bagiku dialah orang yang sangat bisa dipercaya untuk menjaga semua ceritaku. 

Sebenarnya ada teman kami yang malam ini tidak ikut berkumpul dengan kami namanya Evan, entah dimana dia malam ini hingga tidak datang menemui kami.

Sementara raut wajah gelisah mulai menyelimuti aku tidak tahu menahu apa yang sedang aku pikirkan, hingga otaku berfikiran hal-hal yang tidak menentu. 

Sementara itu Rizki dan beberapa temanku melihatiku dengan terheran-heran sepertinya memang mereka mengetahui bahwa memang aku mempunyai masalah. 

Tidak mau membuat mereka khawatir aku menenggak segelas arag untuk membuat pikiranku lebih segar lagi. Dan ini sangat nikmat, otakku tidak sesakit sebelumnya, kegelisahanku juga tidak segila sebelumnya, rasanya hati ingin selalu tertawa.

Sedang di sana temanku juga sudah dalam keadaan mabok, bicara tidak menentu tidak bisa dicerna dengan akal logika, tetapi mereka semua bahagia.

"Kita ke tempat Evan yok" ucapku mengajak teman-temanku ke tempat Evan, yang merupakan teman kami tetapi malam ini tidak ikut ngumpul dengan kami.

Sedang di sana Agus yang sudah dalam keadaan mabok berkata,"Mau ngapain di sana, mau minta duit..? gak bakal di kasih, orang dia aja susah kok" jawabnya karena mengira hendak meminta uang mengingat arag yang kami sajikan sudah hampir habis.

"Bukan itu, ya kita main saja ke sana, biar kita tahu kenapa malam ini dia gak keluar dari rumahnya" ucapku kepada semua temannku.

Kami mulai berdiri berjalan secara sempoyongan ke kiri dan ke kanan, serta ke depan dan belakang. Kami berjalan seperti tertiup angin kencang berusaha menahan tetapi hingga akhirnya terbawa oleh hembusan angin. 

Meski demikian kami bisa mengendalikan diri kami ketika kami sedang mabuk. Hingga difikiran kami yang sudah dipengaruhi oleh pengaruh alkohol ini masih mengingat jalan yang hendak ke rumah Evan.

Sementara ketika kami berjalan di jalan yang luas nan panjang tetapi sepi kami melihat segerombolan geng motor sedang memukuli orang dengan secara keroyokan. Kejadian itu berada di dua ratus meter dari kami berdiri. 

Kami menghampiri para geng motor tersebut dengan jalan sedikit cepat namun dengan posisi jalan yang masih sempoyongan dan hampir jatuh.

"Woy" teriaku kepada para geng motor tetapi tidak jua dihiraukan, akupun dan keempat temanku mendekatinya. Dan menderai pertikaian tersebut. Aku melihat seorang pemuda di sana dipukuli hingg hampir tak sadarkan diri, tubuhnya dilumuri darah. 

Aku melihatnya dari kedekatan, dan di sana ternyata Evan, aku coba melihatnya lebih dekat lagi, dan benar itu adalah Evan.

"Evan..!, jangan biarkan mereka lolos hajar mereka" teman-temanku bertarung satu lawan satu dengan geng motor tersebut.

Sementara Evan sudah begitu sulit untuk berbicara, karena memang lukanya begitu parah, terlebih pertunya terkena tusukan dari para geng motor tersebut.

"Hidupku tidak lama lagi Jar, aku minta tolong kepadamu agar hubungan persahabatan kalian jangan pernah pu.. tus.. – menghembuskan nafas terakhir – Evan telah pergi meninggalkan kami.

Aku berdiri dengan hati diselimuti kemarahan dendam atas meninggalnya sahabatku, aku langsung menyerang para pasukan geng motor tersebut. 

Di situlah sangat di sayangkan geng motor berhasil kabur. Sementara itu aku masih tidak rela dengan kematian Evan ini, aku ingin menuntut balas dengan geng motor yang telah membunuh Evan.

Aku dan temanku membawa jasad Evan ke rumahnya, sesampainya di rumah Evan ari mata orang tuanya tidak terbendung. 

Kami menjadi merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi Evan, tetapi aku bersumpah atas nama jasad Evan aku akan menuntut balas. Entah bagaimana caranya, dan menggunakan cara apapun aku harus bisa menuntut balas kepada geng motor tersebut.

Jasad Evan dibersihkan, dan kemudian diurus untuk kemudian memasuki proses pemakaman. Pemakaman akan dilakukan esok hari, sedang untuk malam ini jasad Evan tetap di rumahnya. 

Di sisi lain para tetangga-tetangga Evan banyak yang berdatangan untuk melihat ataupun berta'ziah. Mereka semua datang dengan wajah yang duka karena merasa kehilangan dari sosok Evan. 

Aku dan kelima temanku masih duduk di sebelah jasad Evan, seketika aku bangun dari ketidaksadaranku menjadi sadar. Tidak ada pengaruh alkohol lagi ketika aku duduk di samping jasad Evan. (Arif Purwanto)