Sunday, July 23, 2017

Cerpen tentang Hadiah Valentine dari Pacar

Cerpen tentang Hadiah Valentine dari Pacar - Ramainya kota sedikit membuat kupingku berdengung kencang, sementara udara kotor berhamburan kemana-mana merasuk ke paru-paruku. Nampak sesak laju nafasku, seperti tidak ada pelumas di dalam rongga tenggorokannku.

Cerpen Hadiah Valentine dari Pacar

Sayang, panas ya..? – Tanyaku melihat kekasihku bercucuran keringat – Dengan lembut aku mengelap keringat yang berada di wajahnya.

Hmm – Tersenyum sangat sedikit seolah begitu pelit terhadap senyum. Tetapi setidaknya dia mau tersenyum kepadaku ketika aku meletakan perhatian dalam padanya. Aku mau kasih hadiah untukmu. 

Sambil meletakan tangan di belakang badan seperti ada yang di sembunyikan. Ini adalah hadiah sepesial valentine untukmu, tapi kau harus pejamkan mata. Terpanah sambil berkaca dalam bola mataku.

Tanpa banyak komentar aku memejamkan mata. Kau mau memberiku apa..? – memejam sambil membuka telapak tangan ke atas. Kau diamlah dulu nanti juga tahu – ungkapnya menambah penasaran hatiku.

Di letakanlah sebuah benda berbentuk kubus di telapak tanganku, tidak terlalu besar hanya berukuran satu jengkal anak remaja. Sekarang kau boleh membuka matamu – tersenyum dengan begitu tampannya. 

Aku membuka mataku dan aku tidak sanggup berkata-kata. Apa ini..? – tanyaku begitu terkejut dia seromantis ini. 

Aku mulai membukannya. Wah, kau membelikanku sebuah boneka beruang yang sangat cantik – merangkulnya dan melemparkan ciuman di pipinya – Terimakasih sayang aku begitu senang.

Usai diberi hadiah berupa kado, yang menurutku tempatnya kurang bagus untuk momen ini. Tetapi meski tempatnya kurang mendukung, perhatian dan kadonya sangat cukup membuatku bahagia. Selanjutnya kami berjalan pulang ke rumahku, menggunakan mobil kekasihku.

Hari ini aku begitu bahagia kau mau meluankan waktumu untukku untuk sekedar menikmati pemandangan kota yang penuh debu dan panas ini. Tuturnya dengan begitu pelan penuh kasih sayang, sambil memutar-mutar setir hendak berbalik arah untuk menyebrang jalan.

Ya aku juga mengucapkan terimakasih kepadamu, karena kau juga telah memberikan hadiah kepadaku, dan bersikap sangat romantis padaku. 

Begitu terharu dengan sikap romantis yang dimilikinya. Kau tahu bukan, bahwa wanita memang sangat senang dimengerti diberi momen-momen romantis. Tuturku sambil sedikit mencanda.

Aku tahu itu, tetapi aku romantis bukan karena kau wanita. Lalu..? untuk apa kau melakukan ini. Sahutku. 

Aku melakukan semua ini karena memang aku mencintaimu. Lagi-lagi dia melelehkan hatiku, dan wajahku merah tidak sanggup berkata apa-apa. Jantungku memompa lebih cepat dari sebelumnya, kata-katanya sungguh membuatku tidak berdaya.

Tetapi aku berusaha meenangkan diriku sendiri, sebisa mungkin untuk bisa tenang seperti tidak ada apa-apa. 

Tetapi semakin aku mencoba dan berusaha untuk tenang perasaan gugup malam menjadi-jadi. Rasa gugupmu memang telah menguasai seluruh kendali dalam tubuhku.

Sebenarnnya nanti malam aku ingin mengajakmu menonton sebuah derama komedi di bioskop, filmnya seru lo, My Stupied Bos. Oh iya – Melihatnya dan tidak menyangka ternyata kejutan dan momen romantis yang dia berikan kepadaku belum habis –.

Iya – kembali berbicara sambil menyetir – kira-kira kau ada waktu tidak nanti malam..?

Emmmm – pura-pura mikir padahal ini adalah momen yang ditunggu-tunggu. Ayolah sayang. Cetusnya memintaku menemaninya menonton film. 

Aku masih menahan aktingku untuk membuatnya semakin gelisah menunggu jawabanku. Maaf sayang. Maaf apa..? kamu gak ada waktu ya – ungkapnya dengan wajah penuh kekecewaan – bukan itu, maaf aku gak bisa nolak jalanin keromantisan lagi denganmu hehe.

Hahh – tertawa girang tidak memperdulikan keselamatan – eh sayang hati-hati dong entar nabrak gimana. Ingatkannya dengan wajah yang sangat cemas. Iya maaf sayang kan lagi bahagia. Jawabnya sambil terus menyetir tanpa mengurangi kecepatan. Ya sudah nanti malam aku jemput pukul 19:00 ya.

Hmm – sambil mengangguk tersenyum dan tidak berkata-kata lagi. 

Hingga tak lama kemudian aku smapai di pengkolan dekat rumahku. Mobil kami langsung meluncur dan melewatinya hingga akhirnya aku dan kekasihku benar-benar sampai di rumahku. 

Aku mulai membuka pintu mobilnya dan kekasihku juga membuka pintunya sendiri. Kau mau mampir dulu..?. menawarkannya. Aku langsung saja pulang nanti malam aku ke sini. Ungkapnya masih dengan sedikit senyumnya.

Ya sudah aku tunggu nanti malam. Tersenyum memandang bola matanya yang bulat. Iya – masih dengan sedikit senyum – berjalan masuk ke mobil dan menghidupnkannya. Mulailah tangannya melanbai dan mobilnya melaju keluar dari halaman rumahku.

Dari mana kamu Viona. Suara tanya dengan nada datar ibuku. Hmm – memperlihatkan senyuamn lucu untuk mencairkan suasana – habis keluar jalan-jalan ma. Itu tadi siapa, pacarmu..? tanya mamaku tanpa sedikitpun tersenyum. 

Aku hanya diam tersenyum dan tersipu. Mengapa kau tidak suruh mampir itu pacarmu, aku ingin mengobrol. Ungkap ibuku. Ah mama ini iya lain kali suruh mampir. Masuk ke dalam rumah tanpa tertarik lagi dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh mamaku.

Aku masuk ke kamar dan memandangi boneka beruang putih dengan pita cantik di kelapanya. Boneka ini akan mengabadikan momen indah kenangan keromantisan kekasihku kepadaku. Tubuh ini begitu lelah, sementara hari masih panjang, karena ini baru jam dua siang. 

Mulailah ku baringkan tubuhku di ranjang untuk sejenak merajut mimpi indah yang belum tahu bagaiman mimpi itu berjalan dan bagaimana ceritannya. Yang pasti mimpiku akan seindah hariku saat ini. 

Hemm aku masih sanggup merasa tetapi aku tidak sanggup melihat, semuanya gelap. Tetapi kulitku dan otaku masih bisa meraskaan keadaan di sekitar. Juga masih bisa merasakan hembusan nafasku.

Hey Viona bangun nak, ini sudah sore waktunya kau mandi. Panggil ibuku dua jam kemudian terhitung sejak aku berbaring. Iya ma – menjawab dengan terpejam. Mulai pelan-pelan aku membuka mataku dan ku lihati jendela di sana ada matahari yang sudah hampir pulang. Tinggal sedikit sinar yang terlihat oleh mataku.

Ketika matahari hendak pulang tiba-tiba bayang Herkules kekasihku muncul dalam benak. Tubuh yang tadinya lemas karena kekurang cairan karena kehilangan banyak cairan ketika tidur seketika menjadi bugar. Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi cantik dan mempersiapkan semuanya untuk nanti malam.

Malam datang sementara itu aku sudah sangat siap pergi menonton malam ini dengan kekasihku. Ting tung... ting tung – suara bel rumah – wah sepertinya Herkules tu. Aku langsung bergegas keluar. 

Eh bibi biar saya aja yang buka pintu. Mencegah pembantuku membukakan pintu. Eh si enon, iya non, bahagia banged si kayaknya siapa si non. Tutur katanya meledek.

Ah bibi mau tau aja udah ke belakang. Iya non dan berjalan ke belakang. Baru kemudian aku membukakan pintu dan ternyata memang benar dia Herkules. 

Halo sayang, langsung saja yuk udah malem. Ungkapku ajak kekasihku pergi tanpa menawarinya duduk di rumahku. Ayo – ungkapnya dan kemudian kami berjalan menuju mobilnya bersama.

Sepanjang jalan, langit malam seolah terikat tidak ada daya untuk bisa berbuat apa-apa. Jangankan mengeluarkan sinar memberikan pendapat tentang kemesraan kami saja tidak bisa. 

Bagai seorang pembicara yang sudah kehilangan gagasan di dalam otaknya karena sudah mati gaya. Sehingga jangankan untuk bisa memberikan wawasan kepada pendengar tersenyum saja tidak berani.

Pendapat langit bagiku tidak penting yang terpenting malam ini aku akan menikmati malam panjang dengannya sesuka hatiku dan sesuka hantinya. Tak peduli langit dan bumi membisu melihat kemesraan kami, yang terpenting bagi kami adalah kebahagiaan kami sendiri. (Arif Purwanto)