Saturday, July 22, 2017

Cerpen tentang Sahabat Pemberi Semangat

Cerpen tentang Sahabat Pemberi Semangat - Entah mengapa aku tidak merasakan ketakutan yang banyak orang rasakan ketika melihat hal-hal, tindakan-tindakan berbau kekerasan. Ya memang sedari kecil aku sudah dididik kuat oleh orang tuaku.

Contoh Cerpen tentang Sahabat

Orang tuaku adalah seorang guru karate, ya meski tubuhnya kecil dia pernah mengalahkan 5 orang yang mempunyai tubuh setengah lebih besar dari padanya. Ayahku mahir menyerang bagian vital pada organ manusia, maka tidak heran bila lawan yang lebih besar darinya bisa dikalahkannya.

Sedari kecil pus-up 100 kali adalah sarapan pagiku, dan pada siang hari aku harus mengambil air yang melewati bukit terjal, yang cukup sulit untuk dilewati dengan berjalan kaki tanpa barang bawaan apapun, dan lebih sulit bila harus membawa dua ember cukup besar menaikinya dan menuruninnya.

Sedangkan untuk sore hari, ayahku selalu mengajarkanku jurus-jurus dalam bela diri karate yang semua gerakannya didominasi dengan pernapasan. 

Terlihat di dalam gerakan karate berbeda dengan halnya gerakan di pencak silat yang mendominasikan silat dengan seni. Sehingga jurus-jurus dalam pencak silat banyak gerakan-gerakan indah seperti halnya menari.

Tetapi lain halnya di karate yang jurusnya kurang didominasi dengan seni yang berlebihan, namun yang lebih diutamakan adalah kekuatan otot ketika memukul menendang ataupun menahan. Dan kunci dari keberhasilan tersebut adalah dengan pernapasan. 

Ayahku juga mengajariku cara melemahkan lawan dengan menyerang organ-organ vital, dan juga dengan kuncian. Cara ini sangat evektif untuk melumpuhkan lawan terlebih ketika kita berhadapan dengan lawan yang cukup besar tubuhnya dari pada kita.

Selain dari pada mengajariku tehnik kuncian dan menyerang di kala menghantarkan matahari pada sore hari, ayahku juga selalu membiarkanku dengan posisi kuda-kuda selama hampir dua jam lebih. 

Dia meninggalkanku begitu saja, tetapi dia bisa tahu ketika aku hendak berdiri tegak, "Jaga posisi kuda-kudamu" – Aku tidak tahu dia dimana tetapi suara ayahku nampak begitu dekat – terpaksa aku harus menahan posisi kuda-kudaku sampai ayah membiarkanku berdiri tegak kembali.

Dan penderitaanku belum selesai, ketika malam hari aku belum diperbolehkan untuk tidur sebelum jam 11 malam. Aku diajari untuk bermiditasi belajar berkonsentrasi, karena menurut ayahku sendiri ini adalah hal yang sangat penting bagi seorang petarung. 

Karena kunci kemenangan adalah konsentrasi. Tetapi tidak terkadang meditasi dengan duduk bersila kaki kanan berada di atas kaki kiri, dan kaki kiri berada di atas kaki kanan membuatku secara tidak sadar tertidur. 

Tetapi itu tidak lama karena sang ayah langsung memanggilku. Irwan..! konsentrasi. Akupun langsung terbangun dan kembali meneruskan meditasiku serta berusaha untuk berkonsentrasi.

Setelah jam 11 malam tubuh ini merasa begitu gembira karena bisa mendapatkan kasurnya sebagai pasangan di kala malam yang tidak bisa dipisahkan. 

Pada pagi harinya pun aku harus mengulangi apa yang pagi kemarin lakukan. Itulah makanan sehari-hariku ketika aku masih kecil dan duduk dibangku sekolah dasar.

Tetapi meski orang tuaku mengajariku untuk menjadi seorang laki-laki yang tangguh, orang tuaku juga mengajariku untuk menggunakan ilmu bela diri di jalan yang benar. 

Yaitu untuk menolong orang yang kesulitan, dan menjaga diri. Orang tuaku melarang keras menggunakan ilmu bela diri yang sudah kupelajari untuk menyakiti orang lain ataupun untuk berbuat keonaran ketika di sekolah.

Berbuat keonaran di kelas pernah aku lakukan, karena aku merasa hebat dari pada teman-temanku. 

Aku menantang satu-satu dari teman kelasku dari yang mempunyai ukuran tubuh sama denganku hingga yang mempunyai ukuran tubuh lebih besarku. 

Semua dapat kukalahkan hanya dalam satu kali pukul, tetapi karena perbuatanku itu orang tuaku di panggil ke sekolah dan diberi surat peringatan.

Belum selesai sesampainya di rumah ayahku menghukumku dengan hukuman yang sangat keras dan berat menurutku. 

Karena aku harus melakukan tidur dengan posisi menggantung dan di bawah tubuhku ada besi yang sangat panas, sehingga bila tubuhku kebawa sedikit saja maka tubuhku akan meleleh terkena besi panas tersebut. 

Sehingga aku harus menahan tidur secara menggantung dan hanya kepala dan kaki saja yang boleh bersandar sementara tubuhku menahan posisi menggantung agar tidak terkena besi panas yang ada di bawahku. Hal itu aku lakukan selama satu malam suntuk.

Hasilnya sedikit goresan besi panas di pinggangku karena begitu lelah menahan posisi tidur yang tidak biasa. 

Dari situlah hingga akhirnya aku sadar bahwa ilmu bela diri bukanlah untuk digunakan sebagai alat penindas, tetapi sebagai alat penolong dan penjaga diri. Di situ pula sifatku sudah berubah, aku tidak lagi memamerkan kepiawaianku dalam hal bela diri.

Di usiaku yang sangat muda itu akupun sudah didukung oleh orang tuaku untuk mengikuti kejuaraan bela diri tinkat kabupaten maupun nasional. Karena didikan yang sangat baik aku sering sekali mendapatkan kemenangan dan keluar menjadi juara pertama dalam sebuah kejuaraan.

Itulah kisah yang tidak biasa yang datang dari masa kecilku, yang tidak semua anak ataupun orang merasakan apa yang aku rasakan. 

Awalnya didikan yang diberikan oleh orang tuaku kurasakan sangat menyakitkan dan sangat tidak berkemanusiaan, tetapi di sisi lain aku sangat berterimakasih dengan ayah karena sudah mendidiku menjadi orang yang sangat kuat.

Di usiaku yang sudah 23 tahun ini, aku sudah menjuarai kejuaraan MMA tingkat nasional, dan internasional. 

Terakhir lawan yang bertarung denganku adalah petarung asal Amerika yang bernama Robert. Tubuhnya kekar besar, dan bahkan lebih tinggi dariku 20 cm. Aku nyaris putus asa mengalahkannya karena berulang kali aku memukulnya tidak berarti apa-apa.

Tetapi berkat dukungan dari sahabat, orang tua, dan juga kekasih, aku mempunyai semangat bertarung tinggi hingga aku sanggup mengalahkan si besar tinggi Robert dari Amerika. 

Dukungan sahabat memang menjadi dorongan penyemangat tersendiri bagiku terutama ketika di arena pertandingan. Tanpa mereka aku tidak tahu, apakah aku masih menang atau justru malah kalah.

Di usiaku yang sudah dewasa ini aku juga masih menjalankan apa yang ayahku ajarkan dahulu ketika aku masih kecil. 

Yaitu tentang tanggung jawab, dan tidak boleh untuk menyerah. Itulah yang selalu aku ingat, hingga akhirnya tanggung jawab untuk memberikan kemenangan kepada sahabatku dan pendukungku selalu timbul ketika aku di arena pertandingan.

Dan tanggung jawab itu hanya bisa ditopang dengan semangat pantang menyerah. Itulah pelajaran yang sangat berharga yang ayah ajarkan kepadaku yang sampai saat ini pun masih aku jalankan dengan baik hingga kemenangan demi kemenangan aku raih, sehingga tanggung jawabku memberikan kemenangan kepada para pendukungku bisa aku laksanakan dengan baik.

Minggu depan aku hendak bertarung kembali dalam kejuaraan MMA internasional. Kali ini lawanku bukanlah lawan yang mempunyai tubuh tinggi besar, dan tidak mempan dengan pukulan, melainkan lawan yang akan kuhadapi adalah si gesit dari China. 

Ukuran dan berat tubuhnya sama denganku, namun dalam pertandingan bela diri yang pernah dia ikuti dia belum pernah kalah. 

Akupun sedikit hati-hati dengannya, terlebih dia juga sama denganku yang sedari kecil sudah didik keras, hanya saja aliran beladirinya yang berbeda, dia kungfu, sedangkan aku karate.

Aku hanya bisa berharap dukungan sahabatku masih ada, karena lawan yang akan ku hadapi bagiku adalah lawan yang sangat berat. Tanpa dukungan sahabat aku kurang yakin bila harus mengalahkannya. (Arif purwanto)