Monday, September 11, 2017

Cerita Gadis Cantik Bengek yang Senyumnya Menggoda

Cerita Gadis Cantik Bengek yang Senyumnya Menggoda - Senyummu sungguh menggoda, laksana madu yang tertumpah mengalir secara perlahan nampak begitu lembut dan pastinya juga manis. Imanku seolah goyah ketika kau tersenyum terlebih kau nampak berkaca dalam bola mataku dengan senyumu itu.

Cerita Gadis Cantik Bengek yang Senyumnya Menggoda

Oh itukah ciptaan Tuhan – otak yang setengah sadar masih bisa bertanya tentang mahluk indah yang ada di depanku.

Sedikit punggung telapak tanganmu terlihat sedangkan punggung tanganmu tertutup pakaian panjang yang sengaja kau tutup untuk nanti hari bahagiamu. Tetapi pikiranku tidak berani sampai ke situ, biarlah kau saja dan tuhan yang tahu. 

Sedangkan di sana ada lukisan tangan dengan corak yang rumit ala-ala timur tengah. Sepertinya dibuat dengan secara terburu-buru karena ada bagian corak yang sedikit melenceng dari semestinya.

Yah kau tetap cantik sejauh mata ini memandang, dan sejauh otak ini terus berfikir bahwa kau ciptaan tuhan, dan sejauh hati ini semakin ingin tau banyak tentangmu. 

Bagai dewi laksana mengarungi awan, tidak sedikit pakaian syar'i tergoyahkan oleh angin. Meskipun nampak sekali angin tanpa sopan meniup seluruh tubuhmu. Aneh memang tetapi itu nyata dan ku lihat saat ini benar-benar nyata.

Kau duduk di bangku yang pas dengan ukuran tubuhmu, di sana kau tetap tersenyum anggun tanpa berkata-kata. Hati menjadi bertanya-tanya apa kau gagu, hingga sejauh aku berfikir tentang dirimu, dan sejauh mata ini melihatmu tak sepatah kata kau lontarkan. 

Apakah kau tidak diajarkan orang tuamu berbahasa, menyapa, sebagaimana yang dilakukan oleh para suku Jawa ketika bertemu orang lain.

Suku Jawa memang terlahir sebagai suku yang ramah, suka bercanda, dan bahkan senang unuk mengobrol. Mengobrol banyak hal tentang ide gila, ide cemerlang, dan banyak ide-ide lain yang tentunya berkaitan dengan tujuan hidup mereka. 

Mereka seperti anjing gila bila berkumpul tanpa mengobrol, tatapannya liar dan sedikit mulut yang basah karena sengaja dibasahi agar tidak menjadi kering karena terlalu lama diam.

Yang intinya berkumpul tidak bisa mereka lewati dengan hanya terdiam karena itu merubah dirinya seperti anjing gila. 

Bagi mereka ngobrol-ngobrol gak penting yang terpenting bagi mereka adalah mengobrol, di situ kemudian timbul keceriaan yang sanggup menyihir dinginnya malam menjadi malam yang hangat laksana duduk di samping bara api unggun ketika berkemah di tengah hutan.

Suku Jawa juga sangat suka sekali melewati waktu mereka dengan bercanda, seperti kawanan anak kucing yang senang berlari-larian menjauh dari induknya hingga membuat induknya cemas. 

Tetapi sejatinya anak kucing itu hanya bercanda serta tidak ada maksud untuk membuat induknya cemas. Tetapi tetap saja naluri seorang ibu yang dimiliki induknya tidak menginginkan anak-anaknya terluka ataupun hilang.

Anak kucing juga begitu gemar berkelahi dengan sesama saudarannya, dan itu adalah lumrah merupakan guyonan – Bercandaan – yang menjadi tradisi dan kebiasaan para anak-anak kucing ketika mereka semua berkumpul. 

Begitu juga dengan suku Jawa yang selalu melewati dan menghabiskan waktu mereka untuk saling mengebully, sedikit gesekan tangan, tetapi sejatinya itu adalah bercanda.

Oh tuhan, mungkin otaku dan kata hatiku yang salah karena bisa saja dia bukan orang Jawa, yang sama sekali buta dengan kebudayaan Jawa. 

Karena dari raut wajah aku begitu kenal dengan orang Jawa, tentu dia bukan orang Jawa. Bila bukan dari Suku Lampung, maka dia bisa jadi dari Suku Padang. Ya tepatnya suku Lampung, hati ini berkata dengan begitu yakin bahwa dia memang suku Lampung.

Dari warna Kulit, serta hidungnya yang tidak terlalu mancung, cenderung seperti mengalir darah Tionghoa. Karena sejatinya Sumatra dan Tionghoa mempunyai keterkaitan sejarah, hingga bila kita lihat beberapa rauh muka dari Lampung memiliki kemiripan dengan orang-orang Tionghoa. 

Ya bila ku lihat gadis itu memang dia tidak memiliki mata yang sipit, tetapi bentuk hidungnya dan warna kulitnya menambah yakin bahwa memang dia adalah suku Lampung.

Tentang benar atau tidaknya dugaanku aku tidak tahu karena aku hanya manusia biasa yang tidak mempunyai kemampuan menujum – Meramal – karena memang aku bukanlah ahli nujum yang sanggup mengetahui banyak tentang dirinya. 

Tetapi tentang dugaanku dia adalah orang Lampung. Di lihat dari sebuah panca indra yang sanggup di cerna dalam akal logika hingga menimbulkan kebenaran yang materil yang tidak bisa dibantahkan itulah kata bapak Descartes.

Seorang filsuf asal Yunani yang sudah hampir gila karena memikirkan banyak hal terkait permasalahan-permasalahan yang pelik didunia ini. 

Dia ingin berkemampuan di atas rata-rata manusia pada umumnya hingga tuhan yang abstrak masih dia fikirkan. Karena dia tidak percaya dengan benda abstrak maka tentu dia berkata tidak ada tuhan di dunia ini.

Asstahfirullah, aku tidak kalah gilanya dengan Descartes bila aku hanya menggunakan mataku untuk menyimpulkan melalui otaku, seharusnya aku bertanya kepadanya tidak kemudian menyimpulkan hanya melihat bagian fisik saja. Karena teori gila Descartes aku sudah berfikir jauh dan sok tau tentangnya.

Hey mengapa kau diam saja – tanyaku sambil melempar senyuman harap-harap cemas kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya ketika aku mengatakan itu. 

Aku takut dia membalas perkataanku dengan perkataan yang tidak semestinya seperti yang dilakukan oleh orang Jawa. 

Karena bila berbicara orang Jawa, dia akan terus berbicara ketika satu kali saja kita tanya, di situlah kemudian hubungan emosional bisa sangat cepat tumbuh hanya karena komunikasi yang bagus.

Matahari begitu bahagia melihat kami yang bercucuran keringat karena kepanasan, sementara angin masih terus kurang ajar meniup-niup hijap gadis cantik yang ada di depanku. 

Ya tetapi aku rela hanya dengan itu dia merasa tidak kepanasan, tetapi di balik itu aku juga menginginkan untuk menjadi angin yang dengan sesuka hatiku meniup-niup tubuhnya hingga puas.

Dia hanya tersenyum ketika ku menanyanya tidak sedikitpun kalimat datar dia ucapkan, apalagi kalimat mengundang tawa yang biasa dikeluarkan oleh komika ketika di panggung. Dia bertingkah layaknya Charlie Caplin, mudah tersenyum tetapi berucap saja tidak pernah. 

Aku merasa diriku semakin aneh melihatnya selalu terdiam, sedang kedua temanku yang lain begitu asyik berbicara hingga mulutnya berbusa.

Hey bicaralah mengapa kau diam saja, lihatlah teman-temanmu begitu asyik berbicara, 30 menit sudah kita duduk tapi kau belum juga melemparkan kalimatmu untuk mengawali obrolan kita. Apakah kau tidak bisa berbicara – ucapku dengan hati yang begitu penasaran tentang suaranya, serta dengan sedikit nada tinggi.

Iya maaf mas – ucapnya mulai berkata-kata tetapi tidak seperti suara yang ku bayangkan, yaitu suara dewi nan merdu yang mengguncangkan istana langit. 

Suaranya bagai nenek-nenek tua peot, yang nafasnya sudah begitu terengah-engah, dan bahkan lebih jelek lagi dari pada nenek-nenek tua. 

Suaraku lagi serak mas, jadi saya hanya bisa terdiam dan tersenyum ketika mas berbicara – lanjut tuturnya, sementara itu aku tersenyum, terpaksa menahan senyum yang nampak sekali senyum itu dibuat. 

Oh tuhan ternyata memang tidak hanya produk China yang bisa menipu, wanita cantik di depankupun sanggup menipuku.

Saya terlalu banyak meminum es mas, jadi lupa meminum air putih dan suara saya yang hingga akhirnya menjadi korban mas – dia mulai lancar berkicau tetapi sayangnya suaranya seperti nenek-nenek terkena penyakit asma. Kini aku tidak tertarik lagi mengetahui dari suku mana dia berasal. (Arif Purwanto)