Monday, September 11, 2017

Cerita tentang Dunia Bagai Pentas Wayang

Cerita tentang Dunia Bagai Pentas Wayang - Setiap manusia yang hidup selalu di didik untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih unggul dari yang lainnya. Sehingga semua individu merasakan dirinya paling unggul di situlah terdapat saingan.

Cerita tentang Dunia Bagai Pentas Wayang

Saingan tidaklah ada masalah selama saingan berjalan secara benar dan sehat, tetapi saingan tentu menjadi masalah bila dijalankan dengan secara tidak benar dan tidak sehat.

Inilah yang menjadi masalah saat ini banyak orang yang melakukan saingan tidak secara sehat. Karena terlalu ambisius untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan,hingga mereka lupa apa peraturan dalam persaingan yang meski mereka taati. 

Saingan menjadi pemimpin, saingan mendapatkan seorang kekasih, saingan mendapatkan pelanggan, di rasa semuanya sekarang berjalan secara semrawut.

Entah manusianya yang salah, atau tujuan saingan manusia itu yang salah. Yang pasti bersaing bisa berjalan secara sehat hanya bila manusia itu mempunyai kesadaran hati saling menjalankan peraturan bersaing secara benar dan sehat. 

Itulah yang mereka luapakan saat ini, hingga mereka rela mati untuk mendapatkan ambisinya. Hidup ini bagai cerita wayang, ada kelompok-kelompok yang baik ada juga kelompok-kelompok yang berhati jahat. 

Meski di jaman sekarang sulit untuk mendapati orang-orang yang berhati baik tetapi sejatinya masih ada orang baik di dunia ini. Hanya saja tidak sebanyak jumlah orang jahat. Itulah mengapa dalam cerita pewayangan ada yang namannya Pandawa dan Kurawa. 

Pandawa hanya terdiri dari lima orang baik yang mempunyai kekuatan maha sakti hingga mereka sanggup mengalahkan Kurawa bila memang jumlahnya sepadan.

Tetapi Kurawa selalu memiliki cara jahat untuk bisa mengalahkan Pandawa, yaitu dengan menambah jumlah mereka sebanyak mungkin untuk mengalahkan para Pandawa. 

Ketika perang Yudra terjadi toh Pandawa tetap Pandawa yang mempunyai kemenangan mutlak melawan Kurawa. Dan jumlah Kurawa yang banyak dan jahat itu tetap hancur oleh kebaikan Pandawa yang hanya sedikit.

Itulah cerita wewayangan yang sejatinya mengandung pesan moral, yang mengajak kita bertanya kepada hati kita sendiri tentang seberapa berani kita menegakkan kebenaran. 

Beranikah kita menegakan kebenaran, karena kebenaran akan selalu menang melawan kejahatan sekuat apapun. Tetapi semua itu harus dimulai dari keberanian, sebesar apa keberanian kita untuk menegakan kebenaran walaupun jumlahnya sedikit.

Terlebih tentang keadilan yang menyangkut hak banyak orang yang biasanya dirampas oleh para penguasa. Itu tidak ubahnya para rakyat jelata yang selalu ditindas oleh Rahwana raja nan sangar lagi jahat. 

Sehingga ribuan rakyat jelata terpaksa hidup dalam ketidak adilan sebagai rakyat jelata. Bukan salah mereka rakyat jelata yang hidup tidak berpunya, lemah, serta miskin, tetapi sang penguasanya lah yang bagai binatang tak berfikir tentang keadilan.

Di jaman yang moderen saat inipun masih kita temui penindasan manusia lemah yang dilakukan oleh para penguasa. 

Hanya saja penindasan yang berlangsung sekarang tidak dengan menggunakan otot, tetapi penindasan menggunakan otak yang lebih rapih dan juga lebih efektif untuk membuat rakyat lemah menderita. 

Hingga kita temui saat ini yang kaya semakin kaya, sedang yang miskin semakin miskin tidak ada keadilan di sana karena yang ditimbulkan dari penindasan di jalan moderen ini.

Wah kakek lanjutkan ceritanya dong lagi asyik ni. Ungkapku mendesak kakek melanjutkan ceritanya karena berhenti bercerita. Nanti dulu ya kakek mau minum dan makan-makanan singkong. Ini adalah makanan pokok kakek dahulu. 

Dahulu mendapatkan beras saja susah, karena pihak belanda memonopoli hasil panen padi hingga para rakyat pribumi tidak mendapatkan beras. Sehingga sebagai gantinya para rakyat pribumi banyak yang kemudian mengkonsumsi singkong, karena mudah penanamannya dan juga membuat kenyang.

Kakek melahap singkong rebus bikinan nenek, sementara aku dan Fira adiku juga ikut memakan singkong buatan nenek. 

Fira dan kau Adi mumpung masih kecil belajarlah dengan giat agar kalian bisa menjadi orang yang mempunyai kedudukan tinggi di negeri ini. 

Tetapi ingat jangan pernah buta dengan jabatan tolonglah nasib para kaum bawah agar mereka juga mendapatkan keadilan, karena keadilan adalah milik siapa saja kaum bawah maupun kaum atas.

Iya kek – ungkapku sambil mengunyah singkong nan empuk dengan sedikit bumbu asin yang melekat hingga ke dalam teksture terdalam. 

Sang kakek selesai mengunyah singkongnya sepertinya kakek hendak melanjutkan ceritanya, akupun segera menghabiskan singkongku dan mulai mendengarkan cerita kakek. Fira juga demikian melakukan apa yang aku lakukan.

Hidup ini memang seperti pertunjukan wayang, yang dikendalikan oleh dalang, dan sesuka dalang mau membawa wayang itu kemana. Sehingga apa yang akan dilakukan wayang hanya dalang yang tahu, wayang hanya mengitui saja dan pasrah saja kemana dalang hendak mengatur cerita wayang.

Seperti layaknya di dunia sekarang ini kita diibaratkan sebagai wayang, yang di sana sudah ada tuhan pengatur sekenario. 

Sehingga karena hanya tuhan pengatur sekenario dan yang mengetahui sekenarionya maka tentu kita sebagai manusia tidak mempunyai daya apa-apa tentang takdir yang sudah ditetapkan. Di masa depan kita sebagai wayangnya tuhan tidak tahu menahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Tentang pertikaian yang sengit yang banyak terjadi saat ini karena persaingan sejatinya juga sudah menjadi sekenario dari tuhan, tuhanlah yang mengaturnya. 

Mungkin karena kita sudah mendapati dunia sudah tua hingga akhirnya problem di mana-mana dan bahkan orang lupa dengan agama karena ambisi. Itu memang sudah lumrah di jaman yang sudah tua ini.

Untuk itu kakek hanya bisa berpesan kepada cucu-cucu kakek, boleh kalian menjadi seorang presiden, polisi, tentara, bupati, gubernur, tetapi tetap mengutamakan keadilan banyak orang, hak-hak orang banyak, dan berjalanlah sesuai jalan yang benar yang menguntungkan banyak orang bukan hanya menguntungkan diri sendiri. 

Karena sejatinya semua amalan perbuatan di dunia ini yang dilakukan manusia sudah ada yang mencatatnya sesuai prilaku manusia itu sendiri.

Bila prilaku manusia itu baik maka baik juga catatan para malaikat tentang orang tersebut. tetapi bila prilaku manusia itu buruk maka buruk juga catatan malaikan tentang orang tersebut. 

Yakinlah bahwa setelah kita mati ada kehidupan yang lebih abadi dibandingkan di dunia, dan catatan amal prilaku kita menjadi penentu kehidupan kita setelah kita mati.

Bila semasa hidup kita dihabiskan tidak henti-hentinya untuk menindas para rakyat kecil maka balasannya setelah kita mati adalah neraka yang penuh dengan api yang meluap-luap jauh panasnya dibading api di dunia. 

Tetapi bila semasa hidup kita dihabiskan tidak henti-hentinya untuk menolong orang banyak maka tentu balasan yang akan kita dapatkan adalah surga.

Jadi ingat terus ya pesan kakek jangan pernah patah semangat untuk terus belajar, dan jadilah pribadi yang suka menolong karena itulah yang menjadi catatan amal baik yang akan menghantarkanmu ke surga. Iya kek – ungkap kami serentak. (Arif Purwanto)