Monday, September 11, 2017

Cerpen tentang Kisah Kematian Seorang Wartawan

Cerpen tentang kisah kematian seorang wartawan berikut ini adalah khusus untuk pengunjung setia situs ini. Sesekali, setelah sekian lama berkutat dengan karya - karya sederhana yang singkat kali ini kita ambil cerpen tentang wartawan. Ceritanya tentu saja sangat baru dan belum pernah dibagikan sebelumnya.

Cerpen tentang Kisah Kematian Seorang Wartawan

Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, kali ini kita akan membaca kisah yang sedikit lebih panjang. Kisah ini kalau ditulis dalam ketikan komputer sekitar satu atau dua halaman. Jumlah katanya sekitar 1000 kata, jadi masih bisa dikatakan singkat. Rekan pembaca yang hobi dengan kisah cerpen tentu tidak boleh melewatkannya.

Kenapa harus tema seperti ini? Tidak ada alasan khusus. Yang pasti diambilnya kisah ini bertujuan untuk menambah koleksi, agar yang sudah ada bisa tambah lengkap. Yang kali ini murni untuk bahan hiburan rekan saja. Tidak akan dibahas lebih jauh. Jika rekan ingin tahu kelebihan, kelemahan atau pun analisis cerpen bisa memberikannya sendiri. Seperti apa ceritanya, silahkan nikmati berikut.

Kematian Seorang Wartawan
Cerpen oleh Arif

Siang tampak lengang tanpa suara apapun yang bisa didengar hanya angin yang terus meniup dan mengiringi langkah kecilku menuju rumah mamang di Pandeglang Banten. Jalannya memang sangat jelek tidak bagus. 

Aku harus berhati-hati ketika melangkah bila salah dalam melangkah saja maka nyawa menjadi taruhannya. Aku berjalan terus melewati turunan yang lebar jalannya setengah meter, ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa sampai ke tempat mamang. 

Miris sekali memang Pandeglang sangat dekat dengan ibukota Jakarta tetapi malam jalannya sangat jelek seperti ini. 

Setelah berhasil menuruni jalan menurun kini aku harus menaiki jalan yang menanjak kurang lebih seratus meter, setelah itu barulah aku bisa sampai di tempat mamang. Di sini memang masih sangat pelosok. 

Jaringan hape tidak ada, tetapi lampu listrik sudah ada di sini, sehingga malamku tidak perlu khawatir akan ku lalui secara gelap. Aku mengetuk pintu mamang, sembari berucap,"Asslamualaikum" berdiri tepat di depan pintu yangg terbuat dari kayu tanpa motif ukiran terkenal. 

Rumah mamangku memang sangat sederhana hanya memakai dua jendela di depan yang dilengkapi kaca berbentuk persegi panjang yang terbagi menjadi empat. Sedang teras hanya ada dua kursi dan meja yang terbuat dari tanaman merambat yang banyak orang bilang adalah njalin. 

"Waaaikum salam" suara mamang mendengar suara salamku dan mengetahui kedatanganku. 
"Eh Agung, bagaimana kabarnya" ucap mamang begitu riang menyambutku, akupun membalas kebahagiaannya dengan senyum yang lebar. 

"Aku baik mamang mamang teh bagaimana", tuturku lebih lanjut. 
"Mamang baik, ayo atu masuk ke dalam", ucap mamang mengajakku masuk ke dalam. 

Aku di antarkan ke kamar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruang tamu, dan bagiku sangat dekat. Hingga memudahkanku untuk pergi ke kamar dan ruang tamu secara mudah. 

Aku ke sini niat hati ingin berlibur hendak menikmati desa yang sunyi dengan udara yang belum terkontaminasi ini. 

Aktivitas kuliah membuatku strees, trlebih skripsi yang sudah selesai ku garap yang membutuhkan banyak tenaga. Kini menunggu sidang aku harus merefres otaku agar aku bisa mengikuti sidang skripsi dengan baik. 

"Ya sudah ini kamarmu ya Gung, beristirahatlah mamang tinggal, kalau butuh apa-apa panggil mamang aja di belakang" ucap mamang dan kemudian pergi dari kamarku. 

Aku mengeluarkan pakaianku, seluruh pakaianku ku masukan ke dalam lemari, sedangkan di sana buku-buku bacaanku juga tidak lupa aku bawa sebagai teman dikala sepi melanda. 

Di sini di tempat mamang tentulah aku bisa banyak membaca buku, karena di sini tempat yang sangat tenang dan menenangkan sehingga tidak sulit membangun konsentrasi untuk membaca buku. 

Berbeda halnya bila rumah yang berdiri tepat di samping jalan raya, seperti rumahku di kota, suasananya begitu ramai, berisik, dan selalu membuat panik. 

Terlebih ketika pagi datang ketika mimpi dalam tidurku belum kulewati hingga akhir baru sampai kepada bagian setengah episode, sudah ada suara kontener yang membunyikan tlakson yang menggangguku hingga aku terbangun. 

Itulah yang aku rasakan ketika aku di rumah, tetapi di sini lain, ibu dan ayahku begitu betah hidup di pinggir jalan yang begitu crewet itu. 

Ya mungkin karena hanya di sanalah tempat mencari rejeki bagi kedua orang tuaku. Ibu dan ayahku adalah buruh pabrik, sedari kecil aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan pengasuhku, sedang ayah dan ibuku selalu sibuk dengan pekerjaannya. 

Hari sudah sore, sedang di sana mamang baru pulang dari mandi. Akupun hendak mandi untuk membersihkan badanku dari kringat yang kemudian telah mengering. 

Letak sumber airnya berada di belakang rumah, di sini lain seperti halnya di rumahku, karena di sini mendapatkan air dengan cara menimba dengan menggunakan katrol yang diberi ember. Ya itung-itung ini adalah olah raga untuku, untuk mengencangkan urat-uratku sehingga terasa lebih bugar. 

Setelah mengisi bak air sebanyak lima ember aku mulai mandi, dan setelah itu mengambil wudhu dan sholat. Di sinilah ku temukan ketenangan yang tiada pernah aku merasakan damai dan damai. 

Di sana aku tidak memikirkan dosen-dosenku yang selalu menegurku karena tidak segera menyelesaikan skripsi, serta tidak ada pula lalu lalang kendaraan yang crewet. 

Usai melakukan kewajiban aku duduk di depan rumah, hingga nampak tetangga sebelah dari mamang yang datang ke rumah."Mamangnya ada den" ucap orang tersebut. 

"Ada pak, silahkan masuk biar saya panggilkan si mamang" ucapku dan kemudian masuk rumah. Belum sempat ku panggil si mamang sudah keluar dari kamarnnya. 

"Eh kang Asep, bagaimana kabarnya..?" ucap mamang begitu bahagia menemui temannya, sedang aku kembali duduk di teras depan. Sedang mamang dan tamunya berada di ruangan tamu. Duduk sendiri membuatku begitu bosan, hingga ku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar. 

Aku berjalan di jalan yang tidak ada rumah satupun dan tubuh subur ilalang di kanan dan kiriku. Ilalang ini setinggi leherku, hampir sama mempunyai tinggi melebihi aku. Di sini sangat sepi tidak ada rumah satupun, hingga tetapi di sini sangat menenangkan angin menghembus sangat tenang dan sedikit kicau burung yang berterbangan. 

Aku melangkahkan kakiku, tetapi ada sesosok mata yang mengintai di bagian samping kiriku. Aku berhenti sejenak mata pengintai itu juga berhenti sejenak tidak menampakan pergerakannya. Aku berjalan lagi mata itu juga berjalan lagi, aku berkata,"Siapa di sana..!, keluar dari ilalang". 

Tetap tidak ada jawaban, hingga sampai akhirnya aku mendengar suara seorang perempuan yang sedang mewancara, suara itu terasa di balik ilalang tersebut. 

Aku begitu penasaran di tengah tumbuhan ilalang yang begitu rumpun terdapat wartawan yang sedang mencari berita. Perlahan bulu kuduku mulai berdiri, sedikit gemetar tubuhku tetapi akupun cari aman aku berlari dengan begitu cepat menuju pulang. 

"Mamang, Mang" panggilku setelah tepat di depan rumah mamang, sementara itu tamu mamang sudah pergi. 

"Ada apa Gung" ucap mamang begitu khawatir melihatku begitu ketakutan. 
"Ada suara wartawan mang di dalam rerungkutan ilalang" ucapku kepada mamang. 
"Mengapa kau ke situ..? itu memang tempat mengerikan, dulu ada seorang wartawan, gadis cantik mati di situ dan sampai sekarang jasadnya belum diketemukan" ucap mamang. 

Aku dan mamang duduk di bangku teras depan rumah, sementara itu untuk menenangkan fikiranku aku meminum air putih yang ku tuang di dalam gelas. 

"Kenapa wartawan itu bisa mati mang" ungkapku bertanya kepada mamang. 
"Gadis cantik itu mati karena dibunuh setelah sebelumnya diperkosa secara keji, aneh memang meski pelakunya sudah diketemukan tetapi jasadnya sampai sekarang belum diketemukan" sambung mamang. 

"Mengerikan sekali, pantas saja aku mendengar suara tidak masuk akal di tengah-tengah tumbuhan ilalang" ucapku. 

"Lain kali bila ingin berjalan-jalan ajaklah mamang, bila mamang tidak ada pekerjaan mamang pasti mau" ucap mamang. "Iya mang". (Arif Purwanto)

---Tamat---