Tuesday, September 12, 2017

Cerpen tentang Waktu, Bayangmu dalam Angan

Cerpen tentang Waktu, Bayangmu dalam Angan - Kau sungguh, tidak bisa ku menghentikanmu menggenggam tanganmu dan mencegahmu untuk terus berjalan. Kau terus berjalan tanpa aku bisa menghentikan langkahmu itu yang perlahan tetapi pasti dan pasti.

Cerpen tentang Waktu, Bayangmu dalam Angan

Seperti orang lumpuh ku dibuatnya, terlebih kau tidak memperdulikan suaraku yang hendak menghentikanmu dari jalanmu yang tanpa henti itu. Ya kau tuli suaraku saja kau tak mendengar, andai aku bisa menyentuhmu mungkin tangan ini akan ku layangkan ke mukamu hingga berlumurlah darah di hidung dan mulutmu.

Andai kau mendengarkanku dan mau berhenti dari langkahmu, mungkin sampai sekarang aku masih bisa bertemu dengan kekasihku. Karena kau waktu, kau terlalu egois hingga dengan semena-mena pergi membawa orang yang aku sayangi. 

Padahal jiwa dan ragaku, serta hatiku sudah sangat mencintai kekasihku, tetapi karena kau waktu, semuanya hilang hanya memori ingatan di kepala saja yang tersisa.

Entah berapa juta orang atau bahkan berapa triliun orang yang sudah mengutukmu yang terus berjalan ini tanpa kau memperdulikan suara mereka yang menginginkanmu untuk berhenti. 

Mungkin bila tuhan sudah menyembelihmu dan terjadi kiamat, maka tentulah kau akan berhenti. Tetapi itu sudah terlambat, karena berhentinya waktu maka berhentinya juga kehidupan di dunia ini.

Allah mengatakan di jaman akhir nanti Allah akan menyembelih waktu yang berwujudkan domba. Mungkin saat itu semua orang merasa lega hatinya karena waktu yang tuli itu bisa mati. 

Tetapi hal tersebut tentu tidak sepenuhnya membuat lega para manusia di bumi ini, karena yang diinginkan manusia di bumi ini adalah waktu yang berhenti bukan waktu yang mati.

Karena dengan menghentikan waktu sesuka manusia dibumi, manusia di bumi bisa menikmati momen yang indah dalam hidupnya untuk yang lama. 

Sehingga kebahagiaan tidak serta merta datang dan pergi begitu saja karena waktu yang menurut. Namun nampaknya waktu bukanlah seekor anjing buldog yang penurut dengan tuannya, sehingga tidak bisa disuruh-suruh dengan sesuka hati manusia.

Ya waktu punya kehidupannya sendiri, dia tidak perduli dengan kesedihan orang di bumi, dia tidak perduli dengan kebahagiaan orang di bumi. Yang dia tahu hanya terus berjalan dan kemana tujuan dia berjalan juga dia tidak tahu. 

Dia bertugas berjalan ya hanya tahu berjalan saja tanpa dia tahu kapan dia akan berhenti dan kapan dia mungkin ingin istirahat dan hendak minum sejenak layaknya musyafir Arab di padang pasir yang begitu lelah setelah melewati padang pasir ribuan mil.

Di kamar ku termenung bagaimana caranya aku bisa menghentikan langkah waktu dan akan ku kembalikan langkah waktu ke kebahagiaanku dengan kekasihku yang sudah meninggal. 

Aku sudah tidak sanggup lagi larut bagai butiran garam di dalam air karena keinginanku membalikan langkah waktu itu. Tetapi semakin ku bertambah sedih, maka semakin tidak perduli waktu kepadaku. 

Dia si besar yang gagu berjalan tanpa henti meski jalannya sangat pelan dan pelan. Mungkin karena bentuk tubuhnya yang besar memungkinkan dia tidak bisa berjalan dengan cepat.

Mencaci waktulah yang saat ini yang sedang aku lakukan. Karena di dunia ini tidak ada lagi yang bisa disalahkan selain waktu. 

Meski waktu sendiri tidak peduli bila ku mencacinya. Semakin keras ku meneriakan cacianku kepada waktu, maka semakin menyakitkan pula hatiku karena cacianku itu tidak didengarkan oleh kupingnya yang tuli.

Masih mending berbicara dengan batu, meski dia tidak berbicara dan tidak sanggup membalas cacianku tetapi dia dapat diraba. 

Aku bisa memukulnya bila ku sudah naik darah karena begitu benci dengan batu. Tetapi setelah itupun aku harus memperban tanganku sendiri karena tubuh batu lebih kuat dari tanganku.

Kau waktu memang sudah tidak punya perasaan denganku, kau tidak hanya tuli dan gagu, tetapi kau juga telah makan semua kebahagiaanku. 

Hingga kebahagiaan yang sangat berarti bagiku kau cerna di lambung di dalam perutmu. Kebahagiaanku bagiku adalah harta yang tak ternilai bagiku, tetapi bagimu bagai sampah yang tertumpuk di tong sampah yang tidak ada nilainya sama sekali. 

Aku tidak tahu harus dengan kalimat apa lagi aku harus mencacimu, sementara sejauh ini akupun belum melihat kau merespon kata-kataku. Entah karena kau tidak berlajar berbahasa, membaca dan menulis, atau memang sudah kodratmu seperti ini. 

Mungkin percuma bila kulembarkan banyak bahasa cacian ke kupingmu ibarat berperang menggunakan lumpur sawah, yang tidak ada efeknya sama sekali untuk musuh selain hanya mengotori bajunya saja.

Tetapi fikiranku labil aku sudah tidak tahu harus kepada siapa aku mencaci. Apakah kepada bantal yang ada di belakang pundaku, dia tidak bersalah karena dia tidak tahu apa-apa. 

Begitu juga dengan kursi, meja, tembok dinding, selimut, dan jendela, mereka semua tidak tahu apa-apa, hanya kau waktu yang mengerti apa permasalahanku.

Oh tuhan, apa yang ku lakukan. Terbangun dari tidur mengelap keringat di kening dan pipiku. Kesedihanku di tinggal sang kekasih meninggalkan duka dalam hati hingga ku bermimpi untuk menyalahkan waktu. 

Aduh – sedikit pening karena kekurangan cairan – langsung saja ku mengambil air dari teko. Ku tuangkan air dan nampak molekul berputar-putar seperti arus air di sepertiga permuda yang banyak menenggelamkan kapal.

Ku termenung kembali dengan kekasihku yang sudah meninggal, bagaimana dia disana dan bagaiman keadaan dia di sana apakah bahagia ataupu malah sengsara. 

Aku paham betul dia orang baik tidak mungkin tuhan tega meletakan kekasihku di tempat yang salah. Aku sangat yakin para malaikatpun segan dengannya karena dia merupakan orang baik.

Ya bayanganmu nampak jelas meski ku tak melihat ragamu di sini, tetapi bayangmu lebih jelas dari pada kehadiran ragamu di sini. Meski ragamu sudah termakan cacing tanah yang rakus di dalam liang lahat, tetapi bayangmu tetap sempurna. 

Kau tetap tampan setapampan-tampannya, tidak ada yang melebihi ketampananmu di dunia ini. Biarkanku mencumbu ketampananmu di dalam angan karena itulah yang membuatku sangat puas dan begitu tenang.

Dengan mencubu bayangmu di angan setidaknya mimpi menyalahkan waktu tidak akan terulang lagi. Dan yang sudah ya sudah, kau tidak pergi dengan meninggalkan duka dalam hatiku, karena bayangmu yang tampan setampan-tampannya sudah mampu mengobati hatiku yang merasa kehilangan. (Arif Purwanto)