Tuesday, September 12, 2017

Cerpen Tentang Wirausahawan Muda Sukses Kesepian Tanpa Cinta

Cerpen Tentang Wirausahawan Muda Sukses Kesepian Tanpa Cinta - Hampa sekali hatiku semuanya sudah ku miliki tetapi kekasih saja aku tidak punya, aku belum pernah merasakan kebahagiaan yang anak se-usiaku rasakan, pergi di malam minggu bergandengan dengan kekasihnya, mendapatkan pujian kasih sayang, ucapan sayang dari kekasih.


Nampaknya isolasi ini telah membuatku merasa bagai orang yang hidup di tengah hutan. Tidak ada satupun orang yang bisa aku ajak bersenang-senang menikmati kekayaan yang ku miliki.

Orang tuaku memang sudah meninggal sejak aku masih kecil, karena itulah aku tumbuh menjadi anak yang sangat mandiri. 

Aku bekerja siang dan malam untuk membuat hidupku menjadi lebih bahagia. Tetapi setelah ku mendapatkan semua harta yang melimpah ini aku baru sadar bahwa uang saja tidak cukup untuk membuat hidupku bahagia. Aku membutuhkan keluarga, dan kekasih.

Semenjak SMP aku sudah membuka sebuah warung yang menjual makanan, kini aku sudah mempunyai 17 cabang warung makan yang tersebar di provinsi di Indonesia. 

Aku bangga di usiaku yang baru menginjak 20 tahun ini aku sudah mempunyai kekayaan yang melimpah ini yang ku dapat dari hasil kerja kerasku. Tetapi hati tetap saja kurang bahagia karena terdapat sisi kehampaan yang sulit memang diungkapkan dengan kata-kata.

Ya cinta kasihku hanya ditunjukan untuk pekerjaan hingga aku lupa menyisakan cinta kasihku untuk prempuan. 

Aku terlalu berani hidup dengan mengisolasi diri tanpa mengenal seorang gadis yang sejatinya lebih sangat perlu dibandingkan dengan semua harta yang sudah aku dapat ini. Karena hanya wanita kehampaan dalam hatiku yang sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bisa terobati.

Tetapi meski demikian aku tidak pernah kehilangan teman, mereka para karyawanku lah yang selalu menghiburku hingga aku lupa betapa sakitnya dan tersiksanya hidup tanpa cinta seorang kekasih. 

Meski terkadang karena sering mengobrol dengan karyawanku yang rata-rata sudah menikah membuatku bertambah merasa tersiksa. Tetapi ya sudahlah hanya mereka saat ini yang bisa mengusir kesepianku.

Pak stok bahan sudah hampir habis pak. Ungkap Sartini seorang salah karyawanku yang merupakan ibu beranak satu. 

Meski sudah mempunyai anak dia tetap cantik, andai dia tidak bersuami tentu aku dengannya. Orangnya cantik, rajin dalam bekerja, dan begitu ramah denganku. Oh iya Sarti, sekarang kamu dan mang Sukir telvon supliernya ya suruh mereka kirim bahan makanan.

Iya pak – menunduk pergi dari hadapaku – sementara aku masih sibuk melihat-lihat ruangan warung makanku. Aku mencari-cari sesuatu yang kurang dalam tempat makanku, biar tidak menjadi masalah besar untuk kenyamanan pelangganku. 

Tetapi semakin ku memandang memang belum ada probotan yang minta di ganti, karena prabotan yang terpasang di warung makanku masih cukup baik dan nyaman untuk dilihat.

Aku berjalan menuju ke belakang, di sana nampak para karyawanku begitu sibuk menyiapkan makanan untuk para pelangganku yang datang pagi ini. 

Ya mereka begitu giat, dengan terampil dan penuh ketekunan mereka bekerja. Itulah mengapa aku tidak pehitungan dan berfikir panjang bila harus menaikan gaji mereka. 

Karena seorang karyawan yang bekerja dengan hati, dengan sungguh-sungguh bagi saya wajib diberi gaji lebih, karena mereka juga aku bisa kaya dan karena mereka pula aku bisa menikmati semua ini.

Semangat mas Parno – ungkapku kepada juru masak andalan di warung makanku. Iya pak – si bapak ngagetin aja – ungkapnya sambil terus membolak-balik masakan dengan sebuah sendok panjang. 

Aku tersenyum dan lalu pergi menyecek yang lain, di sana juga ada ibu Mira yang merupakan salah satu juru masak andalan di sini selain dari pada mas Parno. Ada enam juru masak di sini, hanya saja dua diantaranya masih belajar karena dan belum seberapa berpengalaman.

Teringat ketika dahulu belum ada mereka semua, aku harus memasak sendiri, menyajikan makanan untuk para pelanggan sendiri, dan juga mencuci piring dan gelas sendiri. 

Itulah perjuanganku dahulu sebelum aku bisa benar-benar menikmati hasilnya sekarang. Aku sangat memahami pekerjaan-pekerjaan yang sedang karyawanku lakukan, maka dari itu aku sebijak mungkin ketika menjadi pimpinan di sini.

Tetapi setelah ku mulai usahaku dengan gigih, kini aku benar-benar bisa merasakan nikmatnya berjuang dari bawah. Itulah yang selalu aku motivasikan kepada para karyawan-karyawanku bahwa berjuang memanglah harus dari bawah, dengan demikian hasil perjuangan tersebut akan terasa lebih sangat indah. 

Sebuah hasil tidak akan menghianati sebuah proses, bila proses dilewati dengan baik maka hasilnya juga akan baik.

Kehampaanku datang ketika warung makanku sudah tutup pada pukul 9 malam, di sana mulailah sepi tidak ada teman untuk menghibur hati. 

Begitu juga ketika aku pulang ke rumah tidak ada yang menyambutku dan membukakanku pintu. Ini malam yang sangat jahat bagiku, tetapi aku punya solusi, dan ini solusi terbaik untuk melawan malam yang jahat ini.

Solusinya adalah dengan tertidur, semakin cepat aku tertidur maka tentulah aku akan terhindar dari gangguan menyebalkan dari malam yang jahat. 

Ya ini hanya alternatif bukan solusi, aku juga tidak tahu sampai kapan aku harus melakukan cara bodoh ini, di sisi lain aku juga tahu sebuah solusi tetapi aku bingung cara mendapatkan solusi tersebut.

Solusinya adalah mencari seorang gadis dan kemudian aku pinang, hanya saja sampai sekarang aku juga bingung karena jodoh belum juga aku dipertemukan. 

Memang hanya tuhan yang tahu, tetapi sampai kapan aku terus merasa gelisah seperti ini merindukan seorang kekasih hati yang belum tahu aku di mana letaknya dan kapan datangnya.

Kesepianku tidak serta merta bisa dengan mulus menghantarkanku ke dalam lembah mimpi yang indah. Karena di dalam kesepianku terdapat hati yang benar terisksa, hingga menimbulkan jeritan hati yang lebih keras berisiknya dari pada suara kereta lewat. 

Ya aku begitu tersiksa dengan bisingnya suara hatiku sendiri hingga sudah sepertiga malam menjelang pagi aku juga belum bisa tidur.

Aku terbangun dari posisi terbaring dan lekas ku beranjak ke kamar mandi, di situlah ku basuh mukaku untuk meredam jeritan hati yang begitu bising itu. 

Ya hanya mukaku yang terasa segar, sedang hatiku masih terus menangis. Sungguh tidak masuk akal hanya memimpikan seorang kekasih aku lantas lemah seperti seekor singa tanpa taring dan kuku.

Aku mengambil wudhu, segera ku sujudkan kepalaku ke lantai mengucap nama sang pencipta untuk mendaptakan ketenangan hati dan jiwa. Sedikit bisa mengobati hatiku yang menjerit, di situlah hingga kemudian tidur bisa ku mulai hingga pagi menjelang aku belum juga terbangun. 

Mungkin karena menuruti hati yang menjerit hingga larut malam membuatku lelah sampai aku bangun kesiangan. Beruntung aku mempunyai seorang karyawan yang bekerja dengan dedikasi tinggi, sehingga tanpa akupun mereka sudah mengetahui pekerjaanya masing-masing. (Arif Purwanto)