Tuesday, September 12, 2017

Cerpen Terbaru, Wanita di Mataku

Banyak orang bilang bahwa daya tarik wanita ada di bagian fisik, seperti badan sexi, wajah yang cantik, dan juga rambut panjang. Sehingga bila orang tersebut sudah membayangkan wanita maka yang ada fikiran kotor.

Cerpen Terbaru, Wanita di Mataku

Tetapi berbeda bagi gua, gua menilai seorang perempuan bukanlah dari bentuk fisik. Tetapi lebih dalam lagi gua nilai dari keperibadian, dari situlah gua bisa tahu wanita itu benar-benar cantik.

Tentang wanita cantik karena payudaranya besar, badannya sexsi, dan pantatnya besar, gua tidak munafik boy, tetapi alangkah baiknya kita juga harus tahu kepribadian sifat dari perempuan yang hendak kita deketin. 

Biar kita benar-benar tahu, benar-benar bisa mengambil kesimpulan bahwa perempuan tersebut benar-benar cantik atau justru malah sebaliknya hanya cantik fisik tetapi tentang sikap dan keperibadadian nol besar.

Tetapi memang kebanyakan perempuan, cantik fisik lebih diprioritaskan hingga mereka lupa bahwa cantik tidak hanya dari fisik, tetapi keperibadian yang menyenangkan dan sikap yang bisa bikin kita nyaman. 

Bahkan prempuan selalu strees ketika beratnya naik satu kilo aja, tetapi tidak pernah stes ketika ilmu keperibadian, ilmu sikap kurang dan butuh ditambah dengan cara belajar.

Seperti cewe yang sedang gua deketin saat ini sekarang, kita belum pacaran si tetapi kita sudah deket banged. Bahkan sudah saling berbicara rindu, cinta, tetapi yang anehnya itu kita belum jadian. 

Gua tidak ada niatan untuk gantungin cintanya dengan tidak nembak dia, gua hanya tunggu waktu yang tepat ngungkapin semuanya. Karena sumpah walaupun hanya temen gua udah begitu suka sama dia.

Namanya Sartika orangnya cantik, keperibadian dan sikapnya juga asyik, itulah yang bikin gua kesem-sem sama dia. Ya singkat si ceritanya ketika gua bisa kenal sama dia, gua modusin dulu baru deh kita bisa kenalan, chat tiap hari sambil melemparkan perhatian satu sama lain, dan terkadang juga gua pergi makan bareng.

Beh gua bahagia banged kalau lagi dapat chat dari dia, terlebih ketika pergi jalan bareng, hati rasanya nyaman. 

Pernah gua bilang ke dia tentang perasaan gua, tetapi dia anggap gua hanya main-main. Itulah sebabnya gua harus cari waktu yang tetap, momen yang tepat buat ngungkapin semuanya biar dia tu bener-bener percaya kalo gua suka dan sayang sama dia.

Gua sendiri masih bingung momen tepat itu harus di cari atau di tunggu, bila di cari gua bingung kemana harus mencari, bila di tunggu gua juga lebih bingung sampai kapan gua harus menunggu. 

Momen tepat yang masih abstrak ini memang membuat gua gila, gila, dan segila-gilannya, seperti matahari yang di kejar anak kecil semakin anak kecil berlari semakin matahari itu jauh. 

Gua ngerasa emang seperti anak kecil yang lagi ngejar matahari di dataran bumi. Jadi sampai lebaran kuda semberani ya gak bakalan gua bisa pegang yang namnya momen tepat itu.

Tetapi gua gak boleh nyerah, terlebih setelah gua merenung sepanjang hari. Gua jadi kepikiran gini, momen tepat kitalah yang buat yang dimulai dari usaha. Berhasil atau tidaknya momen tepat itu tergantung takdir tetapi yang terpenting kita sudah berusaha. 

Mungkin besok malam gua akan ajakin jalan-jalan Sartika ke tempat yang romantis di sanalah gua akan tumpahin semua perasaan gua, dan membuat yakin Sartika bahwa memang gua benar-benar cinta sama dia.

Gua ambil ponsel dan tombolnya gua pencet, gua ketik pesan dan kirim ke Sartika. Pesan ajakan jalan bareng dengan suasana nan romantis. Gua hanya bisa berharap malam besok dia tidak sibuk, jadi dia bisa pergi sama gua. 

Sepuluh menit kemudian dia balas pesan gua, dia bilang dia bisa jalan sama gua. Sumpah gua bahagia banged sampe-sampe gua njerit sendiri di kamar kaya orang gila. 

Pintu gua di buka ama mak gua,"Lue kenapa Ri teriak-teriak gak jelas malem-malem", ungkap ibu gue. Gak papa mak, Cuma lagi seneng aja. Kenapa – ibu gua tambah penasaran dan duduk di samping gua.

Gak ada apa-apa kok – berbaring di atas kamar menutup muka dengan selimut tebal. Udah main-main rahasia-rahasiaan ni sama emak, oke. Emak pergi dari kamar dan kemudian menutup pintu kamarku seperti semula.

Sampailah malam yang ditunggu, gua siapin penampilan gua untuk malam ini. Pokoknya gua harus totalitas, totalitas dalam gaya pakaian dan rambut, totalitas gaya berbicara, biar Sartika bisa demen ama gua haha. 

Gua keluar dari rumah dengan bau minyak wangi yang mesih tercium dari jarak dua meter, dan rambut yang kelimisnya minta ampun kaya disiram minyak goreng. 

Tapi gua pakai pomade lo, bukan minyak goreng yang sudah buat goreng ikan asin sepuluh kali yang warnannya item. Tengsin dong masa mau kencan bauk ikan asin.

Gua hidupin si kroco – nama motor antik gua CB 100 yang sudah gua modif – walaupun kelasik tetapi tarikannya tetep baik. 

Gak kalah pokoknya dengan motor produksi sekarang yang menang dari tampilan doang, soal mesin ya gak ada yang sebandel si kroco. Oke gua buktiin ni ya ketangguhan si kroco. Liatin tu king buntut dua tak yang kecepatannya tidak seberapa itu gua salip. 

Mberem, meberem, gua geber si kroco biar pengguna king buntut panas dan ngejar gua. Ni gua mau buktiin sama lo, lo semua bahwa kroco lebih unggul dari king buntut yang asepnya kaya mesin pemberantas demam berdarah (DBD).

Si king ngejar gua, gua tambah gas dan si king tertinggal lima meter, si king nampah gas lagi suara nalpotnya nambah kenceng, asepnya juga lebih banyak, tapi gak bisa gnejar gua, karena si kroco jelas terbukti lebih tanggung dari pada king buntut itu.

Hingga jarak seratus meter si king kagak ngejar gua lagi, dan gua sampailah di rumah sartika. Gua dan Sartika berangkat ke restoran cukup besar di Jakarta. 

Di situlah momen tepat gua buat untuk numpahin semua perasaan gua yang selama ini sudah membuat gua gila, segila-gilanya. Gua pegang kedua tangannya yang sedikit lebih kecil dari pada tangan gua, gua tatap matanya dengan tatap mata tulus, di situlah gua bilang I Love You.

Dia terdiam tidak ngomong apa-apa, hati gua udah panik banged kalau-kalau dia marah ketika gua nyampein perasaan gua, kalau-kalau dia gak mau berteman lagi sama gua, dan juga kalau-kalau dia gak nerima cinta gua. 

Gak ada ekspresi wajah yang menyenangkan hatiku gua yang ada di wajahnya. Tidak ada senyum, boro-boro ngelihatin lesung pipi yang membuatnya jadi tambah imut. 

Pokonya gua merasa menjadi orang yang punya fikiran merasa bersalah banged mau ngelanjutin ngomong takut salah, gak ngelanjutin ngomong dianya diem aja.

Kamu gak mau terima cinta aku ya – tanya gua dengan nada romantis hehe. Maaf – berhenti berucap sambil menghela nafas. Maaf apa..? – sahut gua. Aku gak bisa nolak kamu – tersenyum dan lesung pipi imutnya terlihat. Sepontan gua langsung meluk dia dan bahagianya gua cinta gua diterima. (Arif Purwanto)